Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 46: Semel Si Penggosip


__ADS_3

Dewey sempat membayangkan apa yang disegel dalam lukisan minyak ini.


‘Video’ yang ditinggalkan oleh Semel dengan formasi sihir sudah menyatakan bahwa ini adalah makhluk sihir yang ditinggalkan oleh Semel.


Mungkin hantu? Monster? Kalaupun Semel meninggalkan skeleton yang bisa berbicara, Dewey tidak akan terkejut.


Namun, semua tebakannya salah.


Semel sendiri yang keluar dari lukisan minyak.


Melihat wanita berjubah merah dan berambut putih di depannya, Dewey menghirup napas dalam-dalam sebelum bergumam, “Tidak sangka … tidak sangka ….”


“Tidak sangka apa?” ucap Semel. Seperti dalam video sihir yang pernah Dewey lihat, suaranya lembut, merdu, dan serak-serak seksi.


“Tidak sangka kamu menyegel dirimu dalam lukisan.” Dewey tersenyum masam. Karena dia sudah mengalami banyak hal aneh dan di luar nalar, dia segera pulih dari pukulan tak seberapa. Dia menatap wanita di dalamnya. “Aku harus memanggilmu apa? Ahli Nujum Semel yang terhormat? Atau nenek buyut, buyut, buyut?”


Semel tertawa. Matanya melengkung saat tertawa, seperti bulan.


“Dua-duanya salah.” Wanita berambut perak ini menatap Dewey. Dia terlihat sangat baik. “Aku bukan Semel, tapi hanya sebuah replika.”


Dewey menatapnya dengan bingung.


“Semel meninggalkan aku untuk menjadi pedoman bagi generasi mendatang. Aku adalah makhluk sihir yang mewarisi sebagian ilmunya. Lebih tepatnya, aku adalah makhluk cenayang. Aku tidak punya tubuh, tubuh fisik. Aku hanya sebuah bayangan, tidak nyata.” Dia menatap Dewey sambil mengulas senyum, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Dewey.


Tangan putih nan lembut itu menembus kepala Dewey.


“Lihat, tubuhku tak berwujud. Aku hanya salinan memori Semel. Sedangkan penampilanku….” Dia tiba-tiba mengerjapkan mata. “Aku memilihnya sendiri. Semua memoriku adalah memori Semel. Memori seorang wanita. Dan Semel adalah satu-satunya wanita yang pernah kulihat. Dari segi mana pun, aku adalah Semel, hanya sebagian kecil dari Semel. Jadi, aku akhirnya memilih penampilan Semel untuk bertemu denganmu.” Ketika berbicara sampai di sini, si ‘Semel’ menatap Dewey sambil berbisik, “Tuanku.”


Demi Tuhan, tatapan licik melintas di mata bayangan ini ketika menyebut kata ‘tuan’.


Dewey langsung sadar bahwa makhluk sihir yang dia bebaskan ini mungkin tidak biasa, juga tidak seperti orang yang 100% patuh.


Bukan Semel sendiri.


Fakta tersebut membuat Dewey menghela napas lega. Masalah yang harus dia hadapi sudah cukup banyak.


Kalau benar-benar ditambah seorang nenek buyut, buyut, buyut yang hidup kembali, itu akan membuatnya sangat pusing.


“Bisakah kamu mengubah penampilanmu?” Dewey menghela napas. “Penampilanmu sekarang memberiku tekanan yang sangat besar. Selain itu, kalau penampilanmu ini terlihat oleh orang lain….”

__ADS_1


“Jangan khawatir. Aku dilepaskan olehmu dengan mantra, jadi aku hanya berhubungan dengan kekuatan spiritualmu. Orang lain tidak bisa melihatku.” Dia masih tersenyum.


“Kalau begitu, aku harus memanggilmu apa? Kamu harus punya nama, kan?”


“Semel,” jawabnya setelah berpikir. “Aku menyukai nama ini. Panggil aku Semel saja.”


Dewey menyeka keringat. Lebih baik nenek buyut, buyut, buyut.


“Kamu sudah bisa mengajariku sihir bintang, kan?” Dewey mengernyit.


Mungkin karena disegel terlalu lama, Semel sangat penasaran terhadap apa pun sekarang.


Dia duduk di atas meja Dewey dan mengayunkan kedua kaki putihnya. Ya Tuhan, apakah dia tidak tahu bahwa ujung jubahnya tidak terlalu panjang?


Mengayunkan kaki seperti itu bisa membuat dia terekspos.


Seorang wanita cantik terekspos di depanmu adalah hal yang menyenangkan.


Tapi kalau dia bagai pinang dibelah dua dengan nenek buyut, buyut, buyutmu, itu tidak menyenangkan, tapi aneh.


Meskipun mirip dengan Joanna juga, bagaimanapun mereka ada dua orang yang berbeda. Biarpun mirip, karakter yang berbeda tidak membuat Dewey merasa kikuk.


“Sudah, turunlah.” Dewey memalingkan wajahnya dan berjalan ke sudut lain di ruang kerja, mengambil selimut, lalu melemparnya. “Pakai ini.”


Dewey akan tidur di sini malam ini, selimut itu disiapkan oleh pelayan untuknya.


Semel tidak tertutup oleh selimut, melainkan menembus. Dia berkata dengan nada jahil. “Oh, anak muda, kenapa kamu merona? Apakah aku jelek?”


“Tidak, aku hanya merasa canggung.” Dewey mendatarkan ekspresinya. “Kamu sangat cantik, tapi aku terus menganggapmu sebagai nenek buyut, buyut, buyutku.”


Semel tertawa senang, kemudian mengedipkan mata. “Itu mungkin menarik juga!”


Dewey sudah mulai pusing.


Semel ini bukan alat yang tidak punya pikiran. Dia sudah seperti manusia asli. Setelah diciptakan oleh Semel asli, dia awalnya hanya merupakan salinan memori. Namun, setelah disegel hampir dua ratus tahun, dia sudah tercekik terlalu lama.


Karakter makhluk sihir ini mungkin polos ketika baru diciptakan. Tetapi, dua ratus tahun kemudian, karakternya tak diragukan lagi telah diisi dengan beberapa hal.


“Apa kamu tahu, Tuan Kecilku yang imut nan tampan?” Semel akhirnya turun dari meja, kemudian melayang ke arah Dewey layaknya hantu. Tatapannya penuh dengan senyuman. “Aku hidup di ruang kerja ini selama dua ratus tahun. Aku menyaksikan banyak hal dalam ruang kerja ini, lho!”

__ADS_1


Dewey tergerak untuk mengetahuinya. “Hal apa?”


Nenek moyang keluarga Rollin dari semua generasi membuat keputusan penting di sini. Banyak hal penting yang berkaitan dengan kemakmuran keluarga juga dibuat di ruangan ini.


Pasti ada banyak rahasia keluarga juga!


Namun, Dewey harus kecewa.


Semel ini tidak mengatakan rahasia atau hal penting keluarga, melainkan gosip!


Ya, gosip berstandar.


Misalnya, tuan muda dari suatu generasi pernah bergumul dengan seorang pelayan cantik di ruang kerja ini. Kepala keluarga dari suatu generasi pernah menulis surat cinta untuk kekasihnya di meja ruang kerja ini. Dewey juga mengetahui tentang kakeknya, ayah dari Earl saat ini, mantan kepala keluarga sekaligus pria yang dianggap serius dan kuno, dari Semel. Katanya, setelah suatu perjamuan di kastil, beliau membawa dua gadis bangsawan untuk mengadakan rapat tanpa halangan di ruang kerja ini.


“Aku menyaksikan semua itu dengan mata kepalaku sendiri, lho!” Ketika berbicara, ada rasa penasaran dan semangat di mata Semel. “Aku juga tahu ada beberapa buku terlarang disembunyikan di rak suatu rak dalam ruang kerja ini. Apakah kamu ingin melihat koleksi pribadi yang ditinggalkan oleh leluhurmu, Tuan Kecilku yang imut dan tampan?”


Dewey tersenyum canggung. Dia menatap Semel yang menyeringai, lalu menghela napas. “Aku tidak tertarik. Dengar baik-baik, Tuan Kecilmu yang imut nan tampan hanya tertarik pada sihir bintang sekarang. Aku ingin mempelajari sihir bintang yang ditinggalkan Semel, paham?”


“Sihir bintang lagi, sihir bintang lagi ….” Ekspresi Semel tiba-tiba muram. “Kenapa orang-orang suka belajar sihir? Apakah sihir seasik itu?”


Senyum jahil di wajah wanita itu menghilang, tatapannya menggelap. “Kamu ingin mempelajari sihir, ya? Kalau begitu, aku harus mengingatkanmu. Jangan menyesal di kemudian hari, ya. Aku beri tahu, Semel tidak akan mati secepat itu kalau bukan karena sihir bintang.”


Dewey terkejut. “Apa katamu? Bukankah Semel bunuh diri karena terlalu sedih atas meninggalnya suami dia?”


“Maaf, ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kuberi tahu.” Semel mengedipkan mata. “Aku dilarang memberitahumu tentang itu sebelum kamu mempelajari sihir bintang hingga mantra tersulit terakhir.”


Dewey sudah tidak sabar. “Sudahlah, aku juga kurang tertarik. Apakah kita sudah bisa mulai belajar?”


“Maaf, bukan malam ini.” Semel menggeleng. “Sihir bintang berbeda dari sihir biasa. Kita tidak bisa berlatih di sini. Di menara putih yang ditinggalkan oleh Semel di kastil ini dapat mengamati bintang dengan jelas. Di sanalah tempat yang tepat untuk berlatih. Di ruang kerja ini tidak bisa melihat langit, tidak cocok untuk mempelajari sihir bintang.”


Menara putih.


Dewey mengernyit. “Harus di menara putih?”


Semel berpikir. “Kalau tidak ada menara putih, lebih baik di tempat yang terbuka dan tenang di mana kita bisa melihat langit dengan jelas. Kuncinya adalah harus bisa melihat langit.”


Dewey melihat waktu. “Kalau begitu kita hanya bisa mulai besok. Sampai jumpa besok.”


Dewey tidak berniat untuk berbicara panjang lebar dengan Semel ini. Melihat nenek buyut, buyut, buyut sendiri berjalan ke sana, ke sini dengan kaki terekspos bukanlah hal yang menarik.

__ADS_1


__ADS_2