
Harapan belajar seni bela diri musnah membuat Earl kecewa selama beberapa hari. Tapi dia akhirnya bersemangat kembali di bawah hiburan Countess cantik. Bagaimanapun, Dewey adalah putra tunggalnya.
Meskipun keluarga Rollin membangun pijakan di kekaisaran dengan seni bela diri. Namun dalam sejarah, keluarga juga pernah menghasilkan satu dua orang luar biasa yang terkenal kecerdikannya. Para pendahulu itu juga tidak pandai seni bela diri, tetapi dapat mengoordinasikan situasi keseluruhan di belakang, mengirim pasukan dan kuda, dan memenangkan wilayah sejauh ribuan mil.
Jenderal yang unggul tak harus memimpin di medan perang dengan keterampilan seni bela diri yang luar biasa. Jika bisa menjadi komandan keseluruhan yang hebat, juga bisa menambah kecemerlangan kejayaan keluarga.
Jika tidak bisa belajar seni bela diri, maka belajar sastra saja!
Tapi bagaimana anak yang bahkan tak bisa berbicara belajar sastra? Ingin mengundang sarjana terpelajar untuk mengajarinya pengetahuan pun setidaknya harus membuat anak ini berbicara dulu.
Berbeda dengan hati ibu Countess yang baik dan sederhana. Pikiran aneh muncul di benak Earl Raymond. Ia merasa anaknya bukan tunawicara, tapi tak mau bicara.
Karena semakin sering Earl Raymond mengunjungi putranya, ia semakin merasa jika putranya bukan idiot yang tidak mengerti apa pun, melainkan anak yang menolak dunia sekitar. Dari sorot matanya saja, dia jelas merasa asing, melawan, jelas, dan ada emosi. Bukan idiot yang tidak mengerti apa pun.
Jika ada dorongan, pasti ada pemberani yang mau menerima tugas.
Earl segera menawarkan hadiah di seluruh ibukota kekaisaran tanpa memandang status - baik sarjana terpelajar maupun petani rendahan, siapa pun yang bisa membuat putra berbicara akan mendapatkan hadiah sebanyak seribu koin emas.
Hal baru seperti itu langsung menyebar ke seluruh ibukota kekaisaran. Ada berbagai macam orang yang daftar. Bahkan beberapa penyair yang datang dari jauh juga mendaftar. Ide orang-orang ini sangat beragam. Ada yang meniup seruling di depan Dewey sepanjang sore, ada yang memukul gong di telinga Dewey, ada pula yang berteriak di belakang Dewey ketika anak itu lengah. Bahkan ada yang berani mengajukan ide berupa melempar putra Earl ke sungai sebab Dewey akan meminta tolong. Tapi orang yang mengajukan ide tersebut langsung dipatahkan kakinya oleh pengawal Earl, lalu diusir dari kediaman Earl.
Bercanda! Idiot sekalipun, itu putraku! Lempar ke sungai? Aku yang akan melemparmu ke sungai dulu!
Tepat ketika seluruh ibukota kekaisaran menyebarkan ini sebagai hal baru, masalah terbesar ini secara tidak sengaja diselesaikan oleh pelayan di kediaman Earl.
Pelayan yang menyelesaikan masalah ini adalah Sia - pelayan yang ‘dipilih sendiri’ oleh Dewey saat dia mengigau.
Mantan pemberi makan kuda itu adalah orang jujur berhati baik. Ide yang terpikir olehnya adalah membawa Dewey ke kandang kuda di kediaman Earl. Biasanya, anak seusia ini akan penasaran dan gembira bila melihat hewan. Walaupun ide tersebut agak kuno, Earl setuju karena tidak ada salahnya mencoba.
Alhasil, Sia menggendong majikan kecilnya ke kandang kuda.
__ADS_1
Kebetulan pelayan yang menggantikan Sia sebagai pemberi makan kuda itu tidak membersihkan kotoran kuda hari ini. Jadi begitu masuk ke kandang kuda, bau kotoran kuda yang menjijikan langsung tercium. Aroma itu sangat menyengat. Sia hampir berlari keluar ketika membuka pintu dengan majikan kecil di tangannya.
Dan pada saat ini, Dewey kecil dalam gendongan Sia refleks bergumam rendah.
“Bau sekali!”
Hasil dari kejadian tersebut adalah Sia mendapat seribu koin emas, bahkan pemberi makan kuda yang tidak membersihkan kotoran kuda itu pun tak disalahkan, justru memperoleh dua puluh koin emas.
Melihat putranya yang tampak kalah, Earl Raymond kian yakin jika anak ini sengaja tidak berbicara.
“Mulai hari ini, dia adalah gurumu.” Sambil menunjuk orang tua berjubah putih di samping, Earl menatap putranya. “Ini Tuan Roseate. Dia memegang gelar ahli perbintangan kekaisaran, sekaligus sarjana yang fasih dalam sejarah. Dia akan menjadi mentormu.”
Pada awalnya, sarjana Roseate yang terpelajar ini melakukan pekerjaan dengan sangat baik.
Setelah satu tahun mentutor, Tuan Muda Dewey yang baru berusia 4 tahun, sudah bisa menulis huruf kekaisaran. Bisa menulis pada usia 4 tahun bukan hal yang hebat sekali, tetapi juga relatif langka.
Namun, ketika Tuan Muda Dewey menginjak usia 5 tahun, Tuan Roseate yang unggul pun mengalami kesulitan.
Tepat ketika Tuan Muda Dewey berusia lima setengah tahun, Earl dan Tuan Roseate berbincang lama di ruang kerja saat petang.
“Earl, tolong cari orang yang lebih pintar.” Ahli perbintangan tua tampak stres. “Putra Anda terlalu cerdas, orang tua seperti aku tidak punya energi untuk mendidik murid seperti itu.”
Melihat ekspresi sarjana tua ini, hati Earl merasa dingin. Orang bodoh pun tahu bahwa ‘cerdas’ yang dikatakan si sarjana tua adalah omong kosong. Jangan-jangan putraku memang idiot? Tuan Roseate sepintar ini pun tidak dapat mendidiknya?
“Tapi, Tuan Roseate….” Earl berkata dengan wajah muram.
“Tidak, tidak, Earl yang terhormat.” Sarjana tua tampak gelisah. “Tolong jangan menahanku. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan seberat ini.”
Ucapan sarjana tua terdengar tegas dan membuat Earl tersenyum masam. Apakah mendidik putraku benar-benar pekerjaan yang ‘berat’? Ahli perbintangan tua saja tidak dapat melakukannya. Orang lain mungkin lebih tidak bisa diharapkan lagi.
__ADS_1
Melihat raut suram sang Earl, sebenarnya Roseate juga merasa takut.
Huft, jika hanya mendengar ucapan aneh seperti ‘matahari dan bulan adalah dua bola besar’ bisa dianggap sebagai ocehan ngawur anak-anak. Tapi kalau mendengar anak lima tahun mengatakan hal seperti ‘terlalu fokus pada kekuatan kekaisaran adalah akar penyebab korupsi’, jantung sarjana tua hampir berhenti berdetak.
Sebenarnya, setelah mendidik Tuan Muda Dewey selama satu tahun penuh, sarjana tua sudah tahu bahwa muridnya ini bukan ‘idiot’ seperti yang dirumorkan. Justru sebaliknya, anak itu sangat pintar, bahkan lebih pintar dari anak sebayanya. Tetapi, anak sepintar apa pun tidak akan mengomentari tentang ‘kekuatan kekaisaran’.
Oleh karena itu, sarjana tua otomatis berpikir jika pandangan menakjubkan itu tak diragukan lagi dibocorkan oleh Earl di rumah dan secara tak sengaja dikatakan oleh anak yang tidak mengerti. Earl Raymond memiliki kedudukan tinggi, merupakan orang nomor dua di komando militer, dan memiliki jaringan luas di angkatan laut kekaisaran. Orang yang begitu berpengaruh mencemooh kekuatan kekaisaran di rumah jelas bentuk ketidakpuasan terhadap keluarga kekaisaran. Jika berpikir lebih jauh….
Ia hanya seorang sarjana tua, tidak ingin terlibat dalam pertikaian politik. Lebih baik menjauh secepat mungkin.
Keputusan mengundurkan diri sang sarjana tua telah disetujui oleh Earl. Dia segera membereskan barang lalu meninggalkan kediaman Earl. Earl hanya bisa tersenyum pahit melihat itu.
Jangan-jangan putranya tak tertolong lagi?
Dewey diam-diam melihat guru yang menemaninya selama lebih dari setahun pergi. Dia berdiri di depan jendela loteng, menyaksikan sarjana tua itu mengemasi barang-barangnya dan masuk ke kereta.
“Tuan Muda,” panggil Sia yang melihat raut majikan kecil agak buruk. Sejak berhasil membuat Tuan Muda berbicara, dia menjabat sebagai pelayan pribadi Tuan Muda Dewey.
“Sia.” Dewey tidak menoleh, tapi dari suaranya bisa diketahui bahwa mood-nya tak baik. “Menurutmu, apakah ketidaktahuan itu hal yang membahagiakan?”
“Huh?” Sia tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Sebenarnya, mantan pemberi makan kuda ini kurang pintar. Pertanyaan yang diajukan oleh majikan kecil jelas membuatnya kebingungan dalam menjawab. Ketidaktahuan? Apakah majikan kecil sedang memusingkan dia sendiri? Namun, Sia tidak berani membicarakan topik seperti itu.
“Lupakan.” Dewey berbalik. Sepertinya dia tersenyum. Tipis. Tapi sepertinya ada jejak lelah di wajah mudanya.
Aku tahu terlalu banyak dibandingkan dengan penghuni bumi ini.
Aku tahu mengapa ada matahari dan bulan di langit. Aku tahu mengapa ada pergantian siang dan malam. Aku tahu mengapa ada pergantian musim. Aku tahu mengapa waktu berjalan.
Tapi karena mengetahui hal-hal itulah dia merasa pusing. Mungkin ketidaktahuan adalah semacam kebahagiaan di dunia ini.
__ADS_1