
Konvoi kereta kuda berjalan selama sehari. Ksatria perempuan yang baru bergabung ini jelas menarik perhatian para rekan. Tentu bukan hanya karena dia adalah perempuan satu-satunya di antara mereka, tetapi karena hubungannya dengan majikan kecil.
Dia keluar dari kamar majikan kecil tadi malam. Dalam semalam, dia menyatakan untuk mengabdikan diri.
Sebenarnya perhatian ini mengandung sedikit… rasa iri.
Benar, iri.
Karena wanita ini memperoleh gelar ‘ksatria’ yang sesungguhnya.
Harus dicatat bahwa ‘ksatria pelindung keluarga’ tidak benar-benar dianggap sebagai ksatria sejati. Ksatria pelindung keluarga sebenarnya hanya gelar dengan nama ‘ksatria’. Seperti kuda laut yang meskipun memiliki kata ‘kuda’ dalam namanya, tidak ada yang benar-benar berpikir bahwa kuda laut dan kuda adalah spesies yang sama.
Sebenarnya mereka hanya termasuk sekelompok ‘kavaleri’, bukan ksatria sesungguhnya. Seorang wanita yang baru kenal selama satu hari dengan keterampilan seni bela diri cetek tiba-tiba mendapatkan hal yang didambakan para pria. Bagaimana mereka bisa tidak iri?
Diasingkan ke pedalaman miskin bersama majikan kecil yang tak berguna ini sudah cukup sial. Harapan satu-satunya mereka adalah dipandang penting oleh majikannya, diangkat sebagai ksatria kehormatan suatu hari. Hanya itu.
Semua orang tahu bahwa majikan kecil ini tidak mungkin memperoleh gelar earl. Kelak dia palingan hanya menjadi baron. Dan baron hanya diberi wewenang untuk merekrut sepuluh ksatria. Ini baru sehari, sebuah gelar yang berharga telah dimiliki oleh seorang wanita tidak jelas. Ini cukup membuat mereka merasa tidak adil.
Penjelasan paling masuk akal adalah majikan berusia 13 tahun ini belum mengerti apa yang disebut ‘ksatria kehormatan’. Dia menjadikan benda berharga itu sebagai mainan anak-anak yang bisa diberikan kepada siapa saja.
Dan yang paling penting, siapa suruh wanita itu berparas cantik dan memiliki kaki montok yang indah?
Terima sajalah!
Joline telah merasakan tatapan tidak setuju yang dilontarkan para rekan barunya. Sepertinya kedua temannya juga tidak mengerti. Namun Joline tetap memutuskan untuk memercayai pandangannya.
Majikan barunya, tuan muda kecil bernama Dewey ini,tidak akan menjadi orang biasa di kemudian hari. Memilih untuk mengabdi padanya tak mungkin keputusan yang salah.
Ketika matahari terbenam lagi, konvoi kereta Dewey baru saja menyeberangi sungai. Jembatan yang terbuat dari batu bulat telah berusia hampir seratus tahun. Batu-batu di dekat sungai diselimuti lumut hijau, air yang jernih dan deras menjadi warna zamrud yang indah.
Nama sungai ini adalah ‘Sungai Zamrud’. Dia memiliki nama lain yang lebih resmi, yaitu Sungai Rollin.
Sungai ini dinamai berdasarkan nama keluarga Rollin.
Sungai Rollin melintasi selatan provinsi Cotte kekaisaran membelah provinsi Cotte yang kaya di selatan kekaisaran menjadi dua. Dengan sungai ini sebagai garis batas, jika menyeberangi sungai ini, maka telah menginjakkan kaki di wilayah keluarga Rollin. Setengah dari provinsi Cotte di selatan sungai milik keluarga Rollin.
Selatan sungai merupakan tanah datar. Dari permukaan daerah perbukitan di bagian selatan, luas tanah datar ini cukup mengesankan. Ada tanah subur, hutan hijau, pertanian di mana-mana, iklim hangat, sinar matahari dan hujan yang cukup di sini.
Ini adalah salah satu tanah terkaya di kekaisaran, sekaligus lokasi penting kekaisaran untuk memproduksi makanan. Kebetulan tanah datar ini setengah ukuran provinsi Cotte, dan memiliki nama resmi juga: Tanah Datar Rollin.
Ya, ini juga dinamai berdasarkan keluarga Rollin.
Penamaan aneh ini dimulai sekitar dua ratus tahun yang lalu. Dua ratus tahun lalu, kekaisaran Roland mengalami perang patriotik yang hebat. Menurut catatan sejarah, suku di utara dataran yang ada di selatan menyerbu, menyeret kekaisaran Roland ke dalam rawa perang, dan terjadi pemberontakan dalam kekaisaran yang runtuh. Kekaisaran pernah di ambang kehancuran.
Selama perang muncul sekelompok orang luar biasa. Di antaranya adalah seorang jenderal keluarga Rollin yang kemudian mengumpulkan prestasi dan akhirnya menjadi marshal kekaisaran. Ini juga marshal satu-satunya kekaisaran dalam sejarah 300 tahun keluarga Rollin. Dan yang patut diungkit adalah, Kaisar menikahkan saudarinya dengan marshal yang hebat dalam eksploitasi militer ini demi memenangkannya.
__ADS_1
Tepat sebelum pertarungan penentuan yang penting dilakukan, untuk mendorong adik iparnya membunuh musuh, Yang Mulia Kaisar menunjuk tepi selatan Sungai Emerald dengan cambuk dan mengumumkan. “Jika kamu pulang membawa kemenangan, aku akan memberimu tanah di bagian selatan provinsi Cotte dengan sungai ini sebagai batasnya. Dan kelak sungai dan tanah datar ini akan diubah menjadi nama keluargamu, untuk menyoroti keluarga Rollin yang luar biasa dan kontribusi besarnya bagi kekaisaran.
Dorongan itu meningkatkan keberanian sang marshal. Dia akhirnya memenangkan perang penentuan itu. Menyelamatkan nasib kekaisaran dan memenangkan janji Kaisar pada saat yang sama.
Setelah itu nama Sungai Zamrud diganti menjadi Sungai Rollin, demikian pula dataran di bagian selatan. Dua ratus tahun telah berlalu, sekarang orang-orang bahkan telah melupakan nama tanah datar ini sebelumnya.
Karena pada semua dokumen resmi dan daftar lokal kekaisaran, semua tertulis ‘Sungai Rollin’ dan ‘Tanah Datar Rollin’.
Walaupun dua ratus tahun telah berlalu, sebagai anggota keluarga Rollin, para kavaleri pengawal level rendah ini tidak bisa tidak merasa senang saat menyeberangi sungai dan menginjakkan kaki di tanah datar ini.
Ini adalah rasa memiliki dan kehormatan terhadap keluarga.
Lihat, ini adalah wilayah keluarga Rollin di mana nenek moyang keluarga Rollin mengukir nama. Di sini, keluarga Rollin yang hebat mengukir namanya di sejarah kekaisaran, juga di tanah ini.
Dewey yang duduk di kereta merasa kereta melambat dan ada pergerakan di luar. Dewey membuka jendela dan mendapati para ksatria yang ada di depan melepas topi mereka dan bersorak. Ekspresi frustrasi yang menghiasi wajah mereka selama beberapa hari terakhir, menghilang. Setiap wajah memancarkan rasa gembira dan mulia yang tulus. Dan juga… memuja.
“Pulang! Anggota keluarga Rollin sudah pulang! Pulang ke tanah kita sendiri!”
Para kavaleri bersorak, beberapa orang bahkan melupakan disiplin dan menunggang kuda bolak-balik, membiarkan kuku kuda menginjak-injak tanah hitam dengan senang. Atasan mereka pun tidak berniat untuk mengganggu kesenangan mereka, melainkan menyaksikannya dengan senyum tipis di atas kuda.
Tidak seperti keluarga lain di kekaisaran, keluarga Rollin mempertahankan tradisi yang sangat kuno, yaitu ksatria dan samurai (kelas prajurit) keluarga hanya direkrut dari orang yang berasal dari wilayah keluarga.
Kebanyakan dari kavaleri pengawal yang kembali bersama Dewey lahir di Tanah Datar Rollin. Mereka adalah rakyat asli keluarga Rollin, orang-orang yang telah tinggal di sini selama beberapa generasi.
Menurut tradisi, setiap prajurit teritorial, kavaleri pengawal, bahkan tentara pribadi keluarga Rollin dipilih dari ‘anggota keluarga sendiri’ yang berasal dari Tanah Datar Rollin. Karena setiap kepala keluarga berpikir bahwa cara ini dapat memastikan kesetiaan bawahan dan hati menjorok ke dalam terhadap keluarga. Misalnya, kapten penjaga Earl, kepala keluarga saat ini, mentor seni bela diri Tuan Muda Gabriel, dan Pendekar Pedang Alfa. Mereka semua lahir di Tanah Datar Rollin.
Duduk di kereta, Dewey tertegun melihat para kavaleri yang bersorak. Dia segera mengerti alasannya kemudian tersenyum. “Sia, apakah kita sudah melewati Sungai Rollin?”
“Ya, Tuanku.” Sia segera turun dari kuda lalu bergegas ke sisi kereta. Dia juga tampak gembira. “Kita sudah tiba di rumah.”
Dewey melihat Sia sekilas. “Oh. Sia, beritahu aku, apakah kamu lahir di provinsi Cotte juga?”
“Ya, meskipun aku lahir di kekaisaran, ayahku adalah rakyat yang berasal dari keluarga Rollin.” Sia mengulas senyum. “Ayahku telah menjadi pemberi makan kuda di keluarga Rollin sepanjang hidupnya. Dan aku mewarisi pekerjaannya.”
Terdiam sejenak, Sia melihat sang majikan kecil sekilas, lalu berkata dengan suara pelan. “Tuanku, aku harus mengingatkan Anda satu hal. Um….”
“Apa?”
“Kata-kata Anda tadi, cara pengucapan Anda agak tidak pantas.” Raut Sia menjadi serius.
“Apa yang tidak pantas?” Dewey tersenyum. “Tunjukkan saja kesalahanku.”
“Tadi Anda bertanya apakah aku lahir di ‘provinsi Cotte’. Penyampaian ini agak kurang pantas.” Sia menilai ekspresi majikan sambil berkata dengan hati-hati. “Meskipun Tanah Datar Rollin berada di provinsi Cotte, kami para rakyat Rollin tidak akan mengatakan bahwa kami dari provinsi Cotte ketika menyebut tempat asal kami. Ketika menyebut tempat kelahirannya, rakyat keluarga Rollin akan mengatakan ‘aku dari Tanah Datar Rollin’. Rakyat keluarga Rollin merasa bangga akan identitasnya sebagai anggota keluarga Rollin. Tuanku, jadi ketika menghadapi rakyat keluarga Rollin yang lain di lain waktu, tolong jangan mengatakan ‘berasal dari provinsi Cotte’, tetapi ‘berasal dari Tanah Datar Rollin’. Kalau tidak mereka mungkin akan merasa terluka karena ucapan Anda. Selain itu, Anda adalah putra sulung keluarga sehingga tidak boleh melukai perasaan para rakyat Rollin dalam ucapan.”
Melihat mantan pemberi makan kuda ini berkata dengan bangga, Dewey tidak bisa tidak merasa terkejut.
__ADS_1
Mungkin aku telah meremehkan keluarga ini.
Melihat para kavaleri yang bersuka cita, rasa bangga di wajah yang berasal dari lubuk hati. Hanya keluarga yang benar-benar luar biasa yang bisa melakukan ini.
Kalau begitu bisa dibayangkan kekecewaan dan kecemasan dari Earl di ibukota kekaisaran - sebagai earl yang bertanggung jawab atas keluarga dan sebagai ayah yang mewarisi kehormatan keluarga - yang saat itu menaruh harapan pada putra sulungnya yang ternyata seorang idiot.
Meskipun perlakuan dingin ayah itu terhadap dirinya tidak bisa dibenarkan, saat ini Dewey tiba-tiba memahami suasana hati Earl.
Sebagai seorang ayah, dia mungkin bisa menerima bahwa putranya adalah orang tak berguna. Tapi sebagai pemimpin keluarga, dia tidak bisa menoleransi jika pewarisnya adalah orang tak berguna. Karena dia harus bertanggung jawab atas masa depan keluarga sebesar ini.
Tampaknya, Earl yang membuang dan memperlakukannya dengan dingin, bisa dimaafkan.
Dewey melamun seketika.
Melihat raut kosong sang majikan kecil, Sia agak terkejut. Karena sejak menjadi pelayan pribadi Dewey, dia melihat wajah majikan kecil ini selalu datar, tenang dan cuek semenjak usia 6 tahun. Mana pernah ada ekspresi bingung dan kosong di wajah majikannya?
“Um… Tuanku, apakah kita sudah boleh pulang?” tanya Sia berhati-hati.
“Pulang… oh, pulang.” Dewey menyahut tanpa sadar. Kemudian sebuah pikiran tak terbendung muncul di benaknya.
Pulang!
Pada saat ini, seberkas cahaya akhirnya mekar di hati Dewey yang linglung selama bertahun-tahun.
Ya, pulang!
Bagi dia yang bukan milik dunia ini, dia kekurangan rasa memiliki terhadap dunia ini. Penyebab sesungguhnya dari sikap dinginnya, ketidaksukaan dalam mengekspresikan perasaan, bahkan menekan perasaan secara sengaja adalah dia tidak menganggap dirinya sebagai penghuni dunia ini. Karena dia sering melihat banyak hal dan dunia ini dari sudut pandang pengamat. Dan pikiran seperti itu menciptakan sikap dingin dalam hati.
Pulang… sebuah kata yang begitu indah.
Bukankah ia sekarang kekurangan rasa memiliki terhadap dunia ini?
Dewey yang selama ini merasa datar terhadap hal apa pun, tiba-tiba merasa sedikit tidak sabar untuk kembali ke properti leluhur keluarga Rollin.
Melihat para kavaleri yang bangga itu….
Hm, Tanah Datar Rollin, ya? Entah ia bisa atau tidak menemukan rasa memiliki di dunia ini?
Semoga bisa!
Karena pulang sesungguhnya sudah mustahil, seharusnya ia mencari rumah baru agar hatinya memiliki tempat berpulang, bukan?
Bagaimanapun, ia telah datang ke dunia ini, maka kehidupan mesti terus dijalani.
Dengan sisa-sisa cahaya matahari terbenam, Dewey Rollin membuka pintu dan keluar dari kereta, beranjak dari gerbong yang gelap dan tertutup, dari bayang-bayang, berdiri di bawah matahari terbenam yang indah.
__ADS_1
Sinar mentari menyinari wajahnya, seolah menghilangkan semua kabut. Pemuda ini akhirnya tersenyum. Selain itu, akhirnya ada emosi yang telah lama hilang dalam ekspresinya.
Emosi ini adalah berharap.