Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 11: Siapa Yang Tahu


__ADS_3

Joline memiliki pikiran untuk membenturkan kepala, tetapi untungnya, Dewey akhirnya menoleh padanya. Ia hanya bisa menggigit bibir dan melanjutkan akting, berkata dengan lembut. “Apa… apa yang akan kamu lakukan padaku?” Selesai berbicara, ia bahkan melemparkan tatapan kasihan.


Dewey tersenyum. Tatapan gelinya saat menyapu tubuh Joline membuat Joline merasakan firasat buruk. Karena ia jelas merasakan bahwa tatapan si bangsawan kecil penuh makna saat melihat tubuhnya, sama sekali tidak ada nafsu.


Kemudian sebuah bayangan melayang dan menutup Joline. Ia meronta beberapa kali dan mengeluarkan kepalanya, lalu menemukan bahwa benda yang dilempar Dewey adalah seprai. Seprai ini menutupi tubuh setengah telanjang Joline yang menggoda.


“Aku tidak bisa fokus kalau  seorang wanita setengah telanjang menatapku saat aku melakukan hal serius.” Nada Dewey masih tenang, seolah hanya mengucapkan fakta yang sederhana. Dia kemudian melihat Joline sekilas dengan datar. “Apa pun yang kamu rencanakan, aku merasa jika pertunjukanmu tadi sangat buruk. Aku masih punya hal lain untuk dilakukan. Bila kamu ingin merayuku, sebaiknya kamu gunakan waktu untuk pikirkan cara lain.”


Joline bagaikan disiram dengan air dingin.


Tatapan dan nada bicara pemuda ini, ya Tuhan, anak kecil dari mana ini? Dilihat dari tatapan tenangnya, pengalaman dia mungkin lebih banyak darinya.


Dewey telah duduk nyaman di kursi, kemudian mengeluarkan sebuah kaca pembesar kecil dan mengamati pola baju besi kulit dengan cermat. Dia bahkan mengeluarkan kertas dan pensil untuk mencatat pola sihir di baju besi kulit, lalu memejamkan mata dan berpikir sejenak.


Joline tidak berbicara selama itu. Ia memeras otak tentang niat bangsawan kecil ini, pada saat yang sama tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap anak ini lebih lekat.


Bangsawan kecil ini memiliki wajah pucat yang elegan, tetapi nada bicara dan tatapannya seolah mempunyai banyak pengalaman tentang wanita.


“Aku sangat penasaran terhadap ketiga senjatamu.” Dewey membuka mulut, tetapi tidak mengangkat kepalanya masih mengamati baju besi kulit yang disihir. Nadanya sangat tenang. “Pola pada baju besi kulit ini adalah semacam pola sihir yang memiliki kekuatan dan kelincahan tambahan. Dilihat dari permukaannya, baju besi kulit ini sudah cukup tua. Menurutku, ini lebih berharga sebagai barang antik ketimbang senjata. Dan ada sebuah lencana keluarga di sini. Kalau ingatanku tidak salah, lencana ini berasal dari keluarga tertentu di bagian utara Stuttgart. Stuttgart berasal dari sebuah keluarga kuno yang berkembang ketika kekaisaran kembali jaya 300 tahun lalu. Namun mereka mulai runtuh lebih dari 100 tahun lalu, kemudian terpecah menjadi tujuh atau delapan keluarga kelas menengah. Seharusnya baju besi kulitmu ini berasal dari keluarga bangsawan di utara kekaisaran.”


Nada Dewey yang fasih dan tenang tetapi percaya diri, membuat Joline yang duduk di kursi tercenung.


“Lalu ada parangmu. Dilihat dari teksturnya, gadis tidak cocok menggunakan parang, karena membutuhkan kekuatan lengan yang cukup besar. Hanya ras di barat laut yang akan menggunakan senjata jenis ini. Sedangkan kamu….” Dewey mengangkat kepalanya dan menyapu Joline sekilas. “Rambutmu berwarna cokelat dan mata berwarna biru. Ini menunjukan bahwa kamu adalah keturunan asli kekaisaran Roland bagian tengah selatan. Seharusnya kamu tidak memiliki darah ras barat laut. Walau aku tidak tahu bagaimana keterampilan bela dirimu, dilihat dari pertarungan tadi, kamu lebih pandai menggunakan pedang. Tapi untungnya kekuatannya tidak cukup, tetapi kamu mempunyai baju besi kulit yang disihir. Parang ini terpaksa bisa digunakan, hanya saja agak boros.” Dewey tersenyum. “Ada sebuah kristal sihir yang bisa menyimpan kekuatan sihir di bawah parang ini. Pada bilah parang juga memiliki pola sihir angin. Saat digunakan, orang dengan keterampilan seni bela diri yang tinggi dapat mengeluarkan bilah angin. Dengan levelmu sekarang, kamu tidak bisa melakukan itu.”


Joline terperangah.


Karena ucapan bangsawan kecil ini sama sekali tidak melesat.


Baju besi kulit itu diberikan oleh sang baron mesum dari utara, sementara parang berasal dari seorang kapten tentara bayaran yang mendambakan kecantikannya. Pria itu memiliki ras barat laut.


Dewey mengusap alis sembari memandang Joline. “Yang paling membuatku penasaran adalah busur dan anak panahmu itu.”


Dewey perlahan meletakkan busur dan anak panah perak itu di atas meja lalu tersenyum. “Pola bergaris pada busur adalah pola diagonal tegak. Lambangnya mewakili kekuatan bulan. Berdasarkan buku yang pernah kubaca, totem dengan kekuatan bulan seharusnya berasal dari keluarga kuno di daratan; keluarga Moon. Keluarga ini pernah berjaya 700 tahun yang lalu. Pada masa terjayanya, mereka memiliki setengah dari wilayah benua ini. Mereka menyembah Dewi Bulan, tetapi sayangnya kerajaan keluarga Moon dihancurkan di tengah perang daratan yang terjadi ratusan tahun lalu. Daratan kemudian memasuki era kekaisaran Roland yang bersatu, keluarga Moon pun punah. Dengar-dengar keluarga ini telah… um, binasa.”


Jari Dewey membelai busur perak yang licin dengan tatapan penuh makna. “Aku sangat heran, bagaimana kamu seorang pemimpin tim petualang kecil dengan keterampilan seni bela diri biasa memiliki tiga senjata berharga yang ditambahkan sihir? Satu dari utara, satu dari barat laut, satu lagi dari keluarga kuno yang sudah punah. Apa sebenarnya identitasmu?”


Jika ucapan ini didengar oleh mentor Dewey si sarjana tua Roseate, beliau akan merasa bangga pada muridnya, sekaligus merasa tidak adil karena murid seperti ini disebut ‘idiot’.


Karena ucapan Dewey yang terdengar sederhana hampir mencakup penguasaan lambang, ilmu lencana, totemologi, sejarah daratan, dan lain-lain. Selain itu, mungkin sarjana tua itu sendiri pun tidak dapat mengetahui asal usul ketiga senjata ini segera setelah melihatnya. Terlebih, Dewey mengatakannya langsung tanpa mengecek informasi apa pun, seolah semua pengetahuan itu telah tercatat dalam otaknya.


Joline hanya merasa syok sekarang.


“Ba-Bagaimana kamu mengetahui hal-hal ini?” Joline terbata-bata.


“Buku.” Dewey meletakkan busur kemudian mengulas senyum. “Buku mencatat semua pengetahuan manusia, dan pengetahuan adalah mercusuar kemajuan manusia. Aku sudah mulai membaca buku-buku itu sejak 6 tahun.”


“6 tahun?” Joline menghela napas rendah. “Kamu pasti seorang jenius. Apakah kamu telah membaca banyak buku?”


“Memang banyak.” Dewey tersenyum. “Tapi aku bukan jenius. Sebenarnya, dulu aku sama sekali tidak suka membaca buku, bahkan tidak menyukai pengetahuan.”


“Kalau begitu kenapa kamu….” Joline tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Tapi dia segera menyadari bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengobrol.


Dewey hanya tersenyum, lalu berkata dengan suara rendah yang menyerupai gumaman. “Alkisah, seorang pemilik toko porselen telah berpikir keras untuk membuat sebuah porselen baru. Sayangnya, seseorang tiba-tiba masuk dan menjatuhkannya. Orang tersebut merasa bersalah sehingga memutuskan untuk membuat porselen baru sebagai kompensasi kepada pemilik itu. Benar, seperti itu. Kompensasi.”


“Kompensasi?” Joline agak bingung.


Dewey terkekeh dan melihat tawanan wanitanya sekilas. “Sepertinya kamu lebih tertarik dengan urusan orang lain. Jika aku menjadi kamu, aku lebih memikirkan situasi sendiri sekarang.”


“Tapi kamu juga tidak peduli jika memberitahuku tentang hal-hal ini.”

__ADS_1


“Karena kamu adalah gadis cantik yang memiliki kaki indah.” Dewey mengedikkan bahu dan berkata dengan santai. “Namanya juga pria. Kebanyakan pria tidak tahan untuk tidak berbicara lebih banyak di depan gadis cantik. Ini sifat dasar kebanyakan pria.”


Joline menggigit bibirnya, tiba-tiba merasa tak berdaya. Ia merasa dirinya memang seorang gadis belia ketika menghadapi bangsawan kecil ini. Setiap ucapan, senyum, bahkan tatapannya tampak sulit ditebak. Tatapan tenangnya seolah bisa menelanjangi orang kapan saja.


“Apa yang ingin kamu lakukan padaku?” Nada Joline terdengar pasrah.


Dewey terkekeh. “Bukankah kamu berniat untuk merayu tadi? Coba lagi sekarang.”


Jantung Joline berdegup. Apa maksudnya? Melihat senyum dan tatapan sang bangsawan kecil, Joline tiba-tiba mulai bersiap.


Dewey berdiri dan beranjak perlahan ke sisi Joline. Jarinya membelai wajah Joline, merasakan lembutnya kulit wajah gadis itu.


Dengan gerakan pelan nan lembut, Dewey menelusur ke leher jenjang Joline dari pipinya, kemudian masuk ke balik seprai yang menutupi tubuh Joline, menekan pelan bahu Joline. Jari Dewey halus dan lembut, tidak kasar seperti pria lain, tetapi bermain-main dengan santai.


Betul, bermain-main! Seperti kucing mempermainkan tikus yang telah ditangkap!


Di bawah gerakan jari Dewey, Joline mulai gemetar. Dia memejamkan mata dan mendesah kecil. Kemudian, Dewey menyibak seprai di tubuh Joline. Joline telah siap untuk menyambut hal yang akan terjadi, tetapi….


Joline merasakan kedua tangannya yang terikat, terlepas. Tendon sapi telah diputuskan.


Dewey memegang sebuah pisau tajam, tersenyum tipis lalu mundur selangkah. “Nah, sekarang kamu bisa pergi kapan pun kamu mau. Bawahanku juga tidak akan mencegatmu. Temanmu yang lain boleh pergi bersamamu, tapi teman penyihirmu itu harus tinggal.”


“....” Joline menatap Dewey dengan mata membeliak. “Kamu melepaskanku?”


“Ya, benar.” Dewey tersenyum santai. “Aku hanya tertarik dengan teman penyihirmu. Adapun ketiga senjata sihirmu, aku sudah mempelajarinya dan tidak butuh lagi. Kamu boleh membawanya pergi juga.”


Joline tidak mengerti bangsawan kecil ini. “Tapi kamu tiba-tiba mempersulit kami di kedai bir.”


“Sudah kubilang, aku hanya tertarik pada sihir, bukan padamu.” Dewey berkata dengan datar. “Aku sangat sibuk dan sudah sedikit lelah. Kamu boleh pergi sekarang, jangan mengganggu istirahatku. Aku tidak suka seseorang menatapku ketika aku tidur.”


Dewey mundur dua langkah dan menunjuk pintu, sudah jelas bahwa artinya mengusir.


“Oh ya, bertemu adalah jodoh. Kalau kamu tidak keberatan, kurasa aku bisa memberimu sebuah nasihat,” tukas Dewey di belakang.


“Permisi, nasihat apa?” Nada Joline menjadi lebih hormat secara tidak sadar.


“Kamu.” Dewey tersenyum cerah. “Gadis sepertimu sebaiknya cari seorang lelaki baik untuk dinikahi. Nikahi bangsawan jujur di kampung yang damai, lalu hidup dengan aman. Hm, ada sebuah pepatah. Seorang temanku pernah mengatakan bahwa masyarakat sangat berbahaya. Melakukan hal melanggar hukum, cepat atau lambat akan menerima hukuman. Sulit bagi seorang gadis untuk bertahan sendiri. Jika tidak ingin menikah, kamu bisa mempertimbangkan pilihan lain. Wanita itu bagaikan semak, lebih baik cari pohon besar sebagai sandaran. Aku rasa anggota keluarga Moon yang hidup di dunia ini sudah sangat sedikit.”


Tubuh Joline gemetar. “Apa katamu? Suku Moon?”


“Benar, suku Moon yang percaya pada Dewi Bulan.” Dewey mengulas senyum. “Aku sempat melihat kalau jari manismu lebih panjang dari jari telunjuk. Lalu, tulang di belakang kepalamu sedikit menonjol. Ini adalah karakteristik paling standar dari orang berdarah Moon yang tercatat dalam buku. Memiliki dua karakteristik ini belum tentu suku Moon, tetapi kamu memiliki senjata totem bulan suku Moon. Apakah kamu ingin menyangkal?”


Untuk pertama kalinya dalam kehidupan ini, Joline merasa dirinya terbentur besi. Saat menghadapi para bangsawan mesum atau kapten tentara bayaran yang galak dan brutal pun, Joline tidak merasa setidak berdaya ini.


Apakah bangsawan kecil ini benar-benar bisa membaca rahasia orang dalam sekali lihat?


Selain itu, wajahnya yang pucat nan indah, dan senyum cuek yang seolah tak peduli dengan apa pun.


 Seperti iblis!


Melihat si gadis berkaki panjang keluar dengan tidak fokus, Dewey menghela napas, kemudian merapikan buku-buku yang dia bawa.


Saat ini Sia si pelayan setia mengetuk pintu lalu masuk. Dia tampak ragu. “Um, Tuan, apakah Anda akan beristirahat? Membutuhkan sesuatukah? Sepertinya Anda kurang makan di malam hari.”


Melihat raut ambigu Sia, Dewey mengulas senyum. Dia tahu bahwa Sia pasti menunggu di luar sejak tadi. Setelah melihat gadis itu keluar dari kamarnya, pelayan ini langsung masuk untuk memeriksanya.


Hm, selain ibu, pelayan ini adalah orang yang paling perhatian padanya di dunia ini.


“Tidak perlu. Oh ya, Sia. Masih ada berapa uang di dompet pribadiku?” tanya Dewey dengan sangat santai.

__ADS_1


“Seribu koin emas.” Sia langsung bersemangat saat membahas uang. “Tuan, itu diberikan oleh Nyonya yang terhormat untuk Anda sebelum pergi. Aku menjaganya dengan baik.”


Dewey berpikir sebelum berkata, “Hm, aku mendengar bahwa provinsi Cotte kaya akan sejenis safir. Bantu aku belikan beberapa buah setelah kita tiba. Aku akan mengutus orang mengantarnya untuk Ibu.”


“Nyonya pasti akan sangat senang,” ucap Sia, tapi kemudian dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, “Tuan Muda, Anda begitu cerdas. Orang lain tidak tahu, tapi lain halnya dengan aku. Jika Nyonya dan Earl mengetahuinya, mereka pasti merasa bangga untukmu. Tapi, mengapa….”


“Mengapa aku suka dianggap sebagai idiot?” lanjut Dewey.


Sia tampak gelisah, dia menunduk tetapi masih berkata, “Tuan Muda Gabriel disebut jenius, Anda malah… aish. Sebenarnya, jika bukan Anda, aku rasa mentor Tuan Muda Gabriel juga tidak hebat-hebat sekali. Aku tahu bahwa Anda sering mengunjungi Tuan Muda Gabriel. Aku juga pernah melihat Anda mengajarinya menulis. Jenius? Huh!”


“Sudah, Sia, aku lelah. Keluarlah.” Dewey mengerlingkan mata lalu tersenyum. “Kita masih harus melakukan perjalanan besok.”


Melihat pelayan setia keluar dengan sedikit tidak terima, Dewey duduk di kursi lalu merenggangkan pinggang.


Aish… idiot, ya?


Idiot ya idiot.


Ia bukan milik dunia ini.


Countess yang cantik - wanita terhormat itu - tidak tahu bahwa ia menempati tubuh putra pertamanya. Ini namanya perampasan. Biarpun bukan atas kehendaknya sendiri.


Kalau dihitung-hitung, ia berhutang pada keluarga Rollin. Terutama wanita terhormat itu. Ia berhutang seorang putra baik pada ibu yang cantik nan baik hati itu.


Dan juga ‘ayah’ Earl-nya.


Ia diam-diam menggunakan beberapa cara untuk mengembalikan seorang putra ‘jenius’ kepada keluarga mereka, kemudian pergi. Ini termasuk penebusan, kan.


Semoga Gabriel bisa memuaskan mereka. Setelah meninggalkan ibukota kekaisaran, ia tidak perlu lagi mengajari anak itu diam-diam.


Sebenarnya ia tidak memiliki kesabaran untuk mengurus anak.


Demi menjadi guru rahasia adik yang berkualitas, ia rajin belajar dan membaca buku selama beberapa tahun terakhir, lalu mencari segala kesempatan untuk mengajarkan apa yang ia pelajari kepada adik.


Ya, ia hanya bisa melakukannya secara diam-diam. Karena ayah takut jika ‘idiot’ adalah semacam penyakit menular yang akan menularkannya pada adik, sehingga kurang suka kalau dirinya mendekati adik.


Ia tidak pernah seantusias ini dalam belajar, sekalipun di kehidupan sebelumnya.


Ketika adik berusia 4 tahun dan bisa menulis nama sendiri untuk pertama kalinya, lalu memberitahu kedua orang tua, Earl yang gembira tidak tahu bahwa putra sulung idiotnya menghabiskan banyak usaha demi mengajari anak 4 tahun itu menulis.


Lalu, menggunakan segala cara mengubah sejarah daratan yang ia pelajari menjadi sebuah cerita untuk diceritakan kepada adik. Mendidik anak kecil dengan cara seperti itu. Ia sangat berbakat menjadi guru ternyata.


Idiot? Huh, apalah arti sebutan itu bagi orang yang bukan milik dunia ini.


Apakah aku peduli?


Tentu saja tidak.


Biarpun berhutang, ia tidak dapat menerima jika pasangan lain menggantikan posisi kedua orang tuanya. Jadi, setelah melakukan beberapa penebusan, pergi mungkin pilihan terbaiknya.


Sebenarnya diasingkan juga tidak buruk.


Gabriel, kamu harus berusaha, karena lain kali aku tidak akan lagi masuk ke kamarmu untuk mendongeng di tengah malam. Pun tidak akan lagi mengubah seni bela diri yang sulit dipahami menjadi lagu untuk kamu hafali.


Saat itu Dewey mengubah seni bela diri menjadi nyanyian, karena lebih mudah diingat. Ketika Gabriel menunjukkannya di depan orang tua secara tidak sengaja, Earl sangat gembira dan menyebut putranya sebagai jenius.


Dia mungkin tidak akan menyangka jika itu semua adalah hasil karya putra sulung idiotnya.


Ya, aku merebut seorang putra dari kalian. Kemudian aku memikirkan segala cara untuk mengembalikan putra ‘jenius’ kepada kalian.

__ADS_1


Keluarga Rollin, ini adalah sedikit tebusan dari aku, Dewey.


__ADS_2