
Hal yang membuat Dewey sedih adalah pamitnya Vivian kecil.
Gadis bodoh ini akhirnya pergi ke Serikat Sihir di Pelabuhan Walker untuk menyelesaikan beberapa prosedur.
Jubah, bahkan lencana penyihirnya hilang di laut.
Vivian pergi ke Serikat Sihir di sana untuk mendaftar. Setelah identitasnya keluar, staf Serikat Sihir memeriksa daftar level penyihir. Dua penyihir level rendah yang bertanggung jawab atas pekerjaan dokumen tercengang.
Kedua orang itu langsung bersikap hormat, karena kedatangan seorang penyihir hebat sangat langka.
Dalam Serikat Sihir, semua penyihir hebat yang sudah lama terkenal bersikap sombong dan arogan. Tidak berhati-hati terhadap orang-orang sekuat itu mungkin akan menyebabkan masalah besar.
Para penanggung jawab Serikat Sihir di Pelabuhan Walker sebenarnya bertanggung jawab membeli persediaan yang dibutuhkan di kota pelabuhan. Orang-orang di sana hampir tidak pernah menerima penyihir level tinggi.
Tak lama kemudian, Vivian sudah mengganti jubah penyihir baru dan mendapat lencana emas yang dibuat ulang.
“A-aku akan pergi.”
Setelah kembali dan menghela napas, itulah kalimat pertama yang gadis bodoh itu katakan kepada Dewey.
Dewey tidak mengatakan apa pun untuk sejenak. Dia tahu bahwa sesaling-bergantung apa pun mereka di pulau terpencil itu. Setelah kembali, mereka akan kembali ke kehidupan masing-masing.
“Aku… aku benar-benar akan pergi.” Wajah dan mata Vivian agak merah, kedua tangan kecilnya meremas ujung bajunya. “Ka-kalau dihitung-hitung … Guru su-sudah mau pu-pulang.”
Dewey mengangkat kepalanya untuk menatap gadis bodoh itu. “Di mana aku bisa menemukanmu?”
Vivian terdiam sejenak, lalu menatap Dewey dengan hati-hati dan terdengar suara gugupnya. “Guru ti-tidak mengizinkan aku me-mengatakan alamat ka-kami.”
“Aku pun tidak boleh diberi tahu?” tanya Dewey dengan suara lembut.
Air mata Vivian nyaris menetes. Dia tiba-tiba cemberut, tangisannya pecah, kemudian memeluk Dewey tanpa menjaga citranya. Dengan air mata berlinang, dia berkata dengan suara bergetar. “A-aku tidak rela berpisah denganmu. A-aku tidak ingin pulang. Na--nagaku hilang, Guru akan memarahiku ….”
Dewey, yang dipeluk oleh Vivian, merasa geli mendengar kata-katanya yang kekanakan. “Sudahlah, kamu bisa memberitahuku secara diam-diam. Kalau punya waktu luang, aku bisa mengunjungimu. Kamu juga bisa menyelinap keluar untuk mencariku ketika gurumu pergi lain kali. Bukankah itu sangat bagus? Kita sudah saling kenal selama beberapa hari, aku sudah menganggapmu sebagai sahabat. Kamu tidak lagi kecil. Apakah gurumu akan mengurungmu di tempat tersembunyi itu dan tidak membiarkanmu bergaul selamanya? Kamu membutuhkan beberapa teman.”
Vivian berpikir sebentar, dia jelas merasa bimbang. Dia telah melanggar banyak peraturan saat kali ini keluar. Setelah dipikir-dipikir, melanggar satu peraturan lagi juga tidak masalah.
Bisa kita lihat bahwa Vivian kecil yang polos sudah terpengaruh oleh tabiat buruk Dewey.
Dulu, Vivian kecil tidak akan memiliki pikiran seperti itu.
“A-aku tinggal di ….” Vivian membisikkan sebuah alamat di telinga Dewey. Dewey mengingatnya dengan cermat, kemudian tersenyum sambil berkata, “Oke, kalau ada waktu, aku pasti akan mengunjungimu.”
Raut Vivian menjadi muram. “Tem-tempat itu sangat sulit ditemukan, mau masuk juga tidak mudah. Ter-terakhir kali Ka-Kakakku pergi, dia ber-berputar selama satu hari di luar se-sebelum masuk.”
__ADS_1
Jangan-jangan ada semacam sihir menghilang? pikir Dewey lalu berkata, “Sudahlah, pasti ada cara.”
Vivian menatap Dewey lekat sebelum mengeluarkan selembar kertas perkamen dari jubahnya, lalu memasukkannya ke dalam tangan Dewey. “Ini … ini adalah barang yang kujanjikan padamu.”
Dewey membuka dan melihatnya sekilas. Ada beberapa baris teks yang ditulis dengan tinta hitam. Teksnya aneh dan sulit dimengerti.
Itu tak lain adalah beberapa kalimat mantra sihir!
“To-total ada tiga kalimat.” Wajah Vivian merona. “A-aku sudah berjanji padamu.”
Dewey menatap kertas perkamen di tangannya. “Kamu seharusnya tahu kalau aku menipumu saat itu, kan”
“Tahu.” Vivian menunduk, tidak berani menatap Dewey. Suaranya semakin kecil. “Ini adalah e-enam mantra ter-terhebat yang aku bisa. Kalau ke-kekuatan sihirmu ti-tidak cukup, jangan gunakan.”
Dewey menyimpan kertas perkamen itu dengan baik, kemudian memandang gadis di depannya. Melihat wajah merona, tatapan menghindar serta ekspresi malunya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benak Dewey.
Pikiran tersebut membuat Dewey merasa dirinya jahat. Setelah mengambil banyak barang darinya, apakah dia akan mengambil hati gadis muda nan polos ini juga?
Dewey menggeleng. Dia mengantar Vivian ke luar dan menyuruh orang menyiapkan seekor kuda.
“Aku … aku pergi.” Vivian tampak lebih sedih.
Dewey tiba-tiba berkata dengan serius. “Kamu harus mengingat satu hal.”
Vivian mengangguk. “A-aku tahu. Ta-tapi guruku mungkin akan pergi.”
Dewey menghela napas tak berdaya.
Dia mendengar Chris si pelayan iblis mengatakan bahwa monster raksasa itu bisa bergerak, bukan hanya diam di suatu tempat. Beberapa saat kemudian, ia mungkin akan berpindah ke tempat lain. Dengan kata lain, lokasi pulau itu tidak menetap.
Ketika guru Vivian mencari ke sana, pulau itu mungkin sudah hilang, hanya ada lautan luas.
Satu lagi, Vivian bersikeras tidak mengungkapkan siapa gurunya. Tapi Dewey tebak kalau gurunya pasti seorang master yang sangat hebat. Kalau tidak, dia tak akan mengajari Vivian hingga menjadi penyihir level tinggi di usia muda.
Ketika Dewey sedang berpikir, Vivian tiba-tiba menunjuk ke sebuah arah dan bertanya dengan penasaran. “A-apa yang sedang mereka lakukan?”
Di arah yang Vivian tunjuk, para pelaut yang hendak berlayar sedang pamit dengan para wanita. Ada yang pamit kepada istri sendiri, ada yang pamit kepada kekasih, ada juga yang pamit kepada pelacur yang hanya berbagi kehangatan selama satu malam.
Karena orang yang mencari nafkah di laut sangat berisiko. Sebelum para pria melaut, para wanita, bahkan pelacur, akan mendoakan mereka tanpa pelit.
Jadi, di tempat yang jauh dari Dewey dan Vivian, ada beberapa pasangan yang sedang ciuman sebagai ucapan perpisahan.
“Mereka … sedang pamit,” ucap Dewey asal.
__ADS_1
Ekspresi aneh melintas di wajah Vivian. Dia tiba-tiba merona, kemudian mencondongkan tubuhnya dengan cepat, mengecup pipi kiri Dewey.
Setelah itu, napas Vivian pun menjadi tak beraturan. Dia buru-buru naik ke atas kuda, kemudian pergi tanpa berani mengatakan apa pun.
Dewey menyentuh pipinya yang dikecup oleh gadis penyihir itu sambil memandang jalan tak berujung.
Di bawah pengawalan seribu tentara pribadi keluarga Rollin, Dewey dan rombongannya meninggalkan Pelabuhan Walker dengan heboh, dan kembali ke Dataran Rollin yang ada di utara.
Ketika pasukan mereka melewati Ibukota Provinsi Lille, gubernur Provinsi Lille menemui Dewey dan menghiburnya dengan kata-kata hangat, kemudian memberi Dewey banyak hadiah sebelum pergi.
Dia sekarang dalam masa hukuman, pemberian uang saku 300 koin emas per bulan juga dihentikan. Dia bisa dikatakan sebagai bangsawan termiskin di seluruh kekaisaran sekarang.
Joanna pergi lebih awal dan membawa Joline untuk bergabung dengan Kapten Jack Sparrow. Setelah mengisi persediaan di pelabuhan, mereka berangkat untuk melancarkan aksi perampokan terhadap bajak laut.
Memikirkan Armada McDonald-nya di kemudian hari dan beberapa aktivitas jahil, Dewey yang berbaring di dalam kereta kuda tersenyum.
Coba bayangkan suatu hari kapten bajak laut itu memperkenalkan diri kepada orang lain. “Aku Jack Sparrow, Kapten Mutiara Hitam dari armada McDonald.”
Perkenalan diri seperti itu akan membuat semua orang tertawa terbahak-bahak di kehidupan sebelumnya.
Setelah berpikir, Dewey spontan bangun duduk dari kereta kuda.
Dia merasa bersemangat dan penuh minat.
Dunia ini bagaikan selembar kertas putih bagi Dewey. Kertas putih yang bisa dia coret sesuka hati.
Aku bisa mendirikan sebuah Armada McDonald, maka masih ada banyak hal menarik yang bisa aku lakukan!
Saat ini, tokoh utama dalam buku ini akhirnya menemukan tujuan hidupnya. Meskipun tujuannya sangat jahil.
Setengah bulan kemudian, Dewey tiba di kastil keluarga Rollin yang terletak di tepi anak Sungai Zamrud, Dataran Rollin.
Orang yang menyambutnya kali ini lebih sedikit. Seribu kavaleri pribadi yang mengawal Dewey dan rombongannya tidak masuk ke kastil, melainkan langsung pergi setelah menyelesaikan tugas.
Dewey lagi-lagi melihat Hill, pengurus rumah tua yang dia kurang sukai. Ketika melihatnya kali ini, pria tua itu tampak senang sekali.
Sebenarnya wajar. Bila sesuatu terjadi pada Dewey, pengurus rumah tua yang tinggal di kastil itu juga harus menanggung akibatnya.
“Akhirnya Anda pulang, Tuan Muda.” Wajah pengurus rumah tua itu seperti bunga mekar. Hanya saja senyumnya terlihat senang atas penderitaan Dewey di mata Dewey. “Aku sudah menerima surat dari Earl Raymond.”
“Aku sudah tahu. Dilarang keluar selama satu tahun, uang saku juga berhenti diberikan, kan? Sudah, Tuan Pengurus Rumah. Jadi, di mana kamu akan mengurungku?”
Pengurus rumah tua terkejut dan segera berkata, “Um … Tuan Muda, ucapan Anda membuatku terkejut. Siapa yang berani mengurung Anda? Anda masih boleh melakukan apa pun yang Anda suka di dalam kastil, hanya tidak boleh keluar dari kastil selama satu tahun. Itu adalah perintah dari Kepala Keluarga Earl.”
__ADS_1
“Baiklah.” Dewey tertawa, kemudian melihat pengurus rumah tua sekilas. “Aku baru pulang, jadi aku tinggal di ruang kerja malam ini sesuai tradisi. Pengurus rumah tersayang, tolong suruh pelayan persiapkan.”