
Melihat penyihir kecil mengisi botol dengan cairan beracun monster bangkai, Dardanelle dan dua orang lainnya memalingkan wajah. Penyihir kecil itu mengisi benda menjijikan itu hingga penuh, lalu menyimpannya dengan hati-hati seakan itu benda berharga.
Melihat tumpukan daging busuk menjijikan itu, semua orang menghela napas. Penyihir memang bukan orang biasa.
Samurai bergolok dan pria yang muntah darah terluka parah sehingga akan meninggalkan hutan dengan kereta Dewey. Dewey memberikan keempat ekor anjing salju kepada mereka untuk menarik kereta. Lagi pula, semua itu milik penyihir tua. Dewey bersikap murah hati. Selain itu, jalan di depan akan semakin sulit, jadi kereta tidak akan terpakai.
Sebelum kedua orang itu pergi, Dewey tampak ragu untuk melakukan sesuatu. Bila bertemu monster lagi di jalan pulang, mereka yang terluka jelas tidak bisa melindungi diri sendiri.
Dewey berpikir sejenak, kemudian mengumpulkan bubuk tinja naga yang ditaburkan oleh penyihir tua di tanah tadi malam, membungkusnya dengan perkamen dan menaburkan sebagian di pakaian kedua orang itu tanpa mengindahkan tatapan heran mereka.
“Setelah ini, kalian bisa kembali tanpa perlu khawatir akan diserang oleh monster.” Nada Dewey terdengar santai. “Kalian terluka dan berdarah, takutnya memancing monster keluar.”
“Benda apa ini?” Dardanelle melihat bubuk hijau itu dan bertanya dengan ekspresi yang sama dengan Dewey ketika bertanya pada penyihir tua tadi malam.
“Itu ….” Dewey menyeringai. “Itu tinja. Tinja naga.”
“Oh ….” Ketiga orang itu langsung mengerti. Selain terkejut, tidak ada ekspresi tidak nyaman atau jijik di wajah mereka.
Samurai bergolok itu bahkan tersenyum senang. “Ide bagus! Ketika berada di barat laut, kami menaburkan urin singa di tenda untuk mencegah serigala. Tinja naga? Haha, penyihir memang penyihir. Barang seberharga itu pun bisa didapatkan!”
Orang itu seolah merasa tinja naga di tubuhnya kurang banyak, ingin Dewey menaburkan lebih banyak di tubuhnya.
Setelah kedua orang terluka itu pergi, Dewey membereskan barang-barang yang tersisa. Penyihir tua pergi tanpa alasan, meninggalkan tas yang berisi banyak ramuan sihir, bahkan kristal sihir kecil. Dewey menelitinya sejenak dan menyimpulkan bahwa itu mungkin sepotong bahan yang digunakan untuk mengatur lingkaran sihir. Dewey tersenyum, kemudian menyimpan semuanya.
Dardanelle membawa Dewey kembali ke kamp mereka sebelumnya. Setelah kamp diserang oleh monster bangkai, yang tersisa hanyalah kekacauan.
Dardanelle mengambil dua anak panah dan menyimpannya kembali ke tas punggung, lalu mengambil dua pisau dari dua rekannya yang sudah mati, kemudian menggali lubang dan mengubur mereka.
Ketika berangkat, mereka berdelapan. Sekarang tersisa tiga orang.
Ada sebuah kereta luncur di sini, tetapi anjing salju penarik kereta luncur sudah kabur karena penyerangan tadi malam. Ada seekor anjing yang setengah tubuhnya digigit oleh monster bangkai tadi malam. Setelah tengah malam, separuh mayatnya sudah menjadi es batu.
Tenda sudah hancur. Tanpa sungkan, Dewey mencari barang yang bisa digunakan bersama Dardanelle. Kemudian Dewey memperhatikan kereta luncur.
Kereta luncur sudah rusak, mungkin diinjak oleh monster bangkai tadi malam.
Di bawah tatapan bingung Dardanelle, Dewey mencabut pisau dan membongkar tempat duduk kereta luncur menjadi beberapa papan, kemudian mengikat dua papan persegi panjang ke sol sepatu dengan tali yang dipotong dari tenda.
“Untuk apa ini?” tanya Dardanelle penasaran.
“Berjalan di salju. Kamu boleh mencobanya, sangat berguna.” Dewey tersenyum.
Dardanelle sangat menghormati penyihir kecil tak terduga itu. Walaupun tidak mengerti, dia meniru Dewey dengan mengikat papan ke sol sepatu.
Saat berjalan di salju, dia langsung mengagumi penyihir kecil itu.
Semakin ke dalam hutan, salju semakin tebal. Begitu menginjak, tumpukan salju bahkan mencapai lutut. Papan lebar di bawah kaki membuat kaki mereka tidak tenggelam ke dalam salju saat berjalan.
Selain itu, Dewey bahkan mengajari Dardanelle untuk meluncur dengan papan di bawah kaki mereka.
Bermain ski adalah salah satu olahraga kesukaan Dewey di kehidupan sebelumnya.
Dengan ‘papan seluncur’ sederhana itu, mereka jauh lebih mudah dalam berjalan.
“Oh ya, Dardanelle. Semalam, aku melihat orang yang berlari paling depan dari kalian berlima kabur. Apakah dia orang keluarga Liszt juga?” tanya Dewey asal dalam perjalanan.
“Huh! Keluarga Liszt tidak memiliki sampah penakut seperti itu.” Dardanelle terdengar kesal. “Dia adalah pedagang bulu di kota selatan hutan. Kami memberinya sejumlah uang agar dia menjadi pemandu kami, tetapi si bodoh itu malah membawa kami berkeliling selama tiga hari tanpa hasil. Setelah kembali, aku akan mengupas kulitnya hidup-hidup!”
Dardanelle terdiam sejenak sebelum berkata, “Kami berbeda dengan petualang lain. Kami adalah orang keluarga Liszt, jadi tidak boleh menerobos penjaga patroli perbatasan. Kami tidak boleh membuat masalah untuk keluarga Liszt. Oleh karena itu, dengan relasi pedagang itu, kami menyogok petugas tim patroli agar kami diizinkan masuk ke hutan. Tetapi sekarang tampaknya orang itu sudah mengambil uang yang kami bayarkan untuk menyuap petugas.”
Kedua orang itu berjalan dari subuh hingga siang di sepanjang salju. Biarpun Dewey membuat papan ski, masih ada jalan yang sulit dilewati di salju pada iklim dingin ini.
__ADS_1
Dardanelle adalah samurai sehingga jauh lebih kuat daripada Dewey. Namun, karena terluka – meskipun lukanya sudah rapat setelah diobati, darah yang hilang tidak dapat pulih dalam sekejap – tubuhnya jadi lebih lemah.
Dewey juga kelelahan. Tubuhnya sudah jauh lebih baik karena latihan aneh yang diajarkan oleh penyihir tua belakangan ini. Namun, seorang pemuda berusia 13 tahun bisa sekuat apa? Kalau tidak ada papan ski, Dewey sudah tumbang dari tadi.
Andai saja bisa terbang dengan sihir angin, pikir Dewey. Tetapi melihat angin dingin di sini, Dewey menghela napas.
Bisa terbang sekalipun, kalau terbang di angin sedingin, kekuatan sihirnya akan habis terkuras tak lama setelah terbang.
Mereka berjalan menuju ke dalam hutan di utara. Dardanelle jelas lebih paham akan kehidupan di alam liar daripada Dewey. Dalam percakapan mereka, Dewey tahu bahwa Dardanelle dulunya adalah seorang tentara bayaran ketika masih muda, tetapi dia tidak pernah datang ke Hutan Beku. Saat muda, dia pernah menjadi pengawal untuk penyelundup bulu di padang rumput wilayah barat laut.
Dia sudah terbiasa dengan kehidupan di alam liar seperti ini.
Karena gelas Marchioness Liszt bukan gelar turun temurun, dia tidak memiliki wilayah dan prajurit pribadi. Apalagi, merekrut sejumlah besar prajurit pribadi dan angkatan bersenjata seperti bangsawan lainnya.
Jadi, orang-orang yang diutus untuk datang ke hutan adalah pengawal Marchioness. Dardanelle adalah wakil kapten. Kapten sudah mati demi melindungi rekan dalam penyerangan tadi malam.
“Kami tidak membawa banyak orang karena orang biasa datang ke tempat sebahaya ini hanya akan mati dan menjadi beban.” Hidung Dardanelle sudah merah karena dingin. Dia berhenti sejenak untuk istirahat. Sebenarnya dia tidak lelah, tetapi memikirkan penyihir muda itu.
Komunikasi di sepanjang jalan membuat Dewey merasa bahwa Dardanelle sangat baik dan hangat, juga hormat padanya. Dewey yang tidak memiliki banyak teman setelah datang ke dunia ini segera memiliki kesan baik terhadap samurai ini.
Dardanelle mengambil segenggam salju dan memasukkannya ke dalam mulut. Setelah panas dalam mulut melelehkan salju, dia baru menelannya sedikit demi sedikit.
Setelah mengatasi kehausan, Dardanelle melihat matahari sekilas. “Yang Mulia Penyihir ….”
“Panggil namaku saja.” Dewey tersenyum sambil berkata, “Tidak perlu terlalu kaku, Dardanelle. Hanya ada kita berdua di sini, kita adalah rekan sekarang. Selain itu, aku masih kecil.”
“Baiklah, Harry.” Dardanelle tersenyum senang. “Sekarang sudah siang. Di tempat utara ekstrem begini, langit menggelap dengan cepat. Sebaiknya kita mencari tempat untuk berkemah sebelum langit gelap. Apakah tinja naga masih ada?”
“Masih banyak,” sahut Dewey tersenyum.
“Baguslah kalau begitu.” Tatapan Dardanelle meredup, lalu berkata dengan suara rendah. “Sayang sekali. Kalau bisa bertemu kamu yang memiliki tinja naga sehari lebih awal, kami tidak akan mengalami serangan monster di tengah malam, kapten pun tidak akan mati.”
“Orang mati tidak hidup kembali, Dardanelle,” hibur Dewey. “Waktu terus berlalu. Orang yang hidup harus lebih meneruskan semangat mereka. Kalau kita menemukan Piton bermata emas, mereka tidak mati dengan sia-sia.”
Dewey membisu.
Dia mulai menyesal telah menyembunyikan identitasnya kepada pria ceria ini. Dewey merasa malu ketika melihat senyumnya. Dia hanya menjawab seadanya, kemudian mengalihkan topik tentang dia sendiri.
Ketika matahari hampir terbenam pada sore hari, mereka berdua akhirnya menemukan tempat dengan permukaan yang sedikit lebih rendah, di mana mereka bisa berkemah dan melindungi diri dari angin.
Namun, kedua orang itu menemukan bahwa tempat tersebut sudah ditempati ketika melewati hutan dan tiba di sana.
“Peringatan!”
Suara siulan tiba-tiba terdengar dari, kemudian dua orang melompat dari pohon. Dewey melihat dengan teliti. Kedua orang itu mengenakan jaket kulit putih, kemudian belasan orang bersenjata lengkap ada di belakang hutan. Beberapa di antara mereka mengenakan jaket kulit, beberapa mengenakan baju besi kulit. Senjata mereka juga beragam, ada yang memegang pedang, ada yang memegang pisau, ada yang memegang kapak.
Beberapa orang yang memegang busur di belakang, mengarahkan panah ke Dewey dan Dardanelle.
Melihat bahwa kedua orang itu bukan monster, mereka jadi tenang.
“Ternyata dua orang. Sepertinya kita bertemu teman.” Seseorang yang seperti ketua berjalan mendekat sambil tersenyum. “Oh, jarang sekali ada orang yang berani berjalan sedalam ini ke Hutan Beku dengan jumlah sedikit.”
Dardanelle memegang gagang pisau dan menatap mereka dengan waspada. Dewey tersenyum, lalu berkata dengan suara keras. “Siapa ketua di antara kalian?”
“Aku.” Pria yang berbicara tadi melihat Dewey sekilas dengan ekspresi meremehkan. “Oh, seorang bocah. Aku tahu. Kalian mencari tempat untuk kamp, kan? Maaf sekali, tempat ini sudah ditempati oleh kami. Kalau kalian tidak keberatan, kami mengizinkan kalian untuk berkemah di hutan sebelah kamp kami. Hati-hati, jangan masuk ke lingkaran peringatan kami.”
“Tidak, tidak, tidak.” Dewey menggeleng. “Kami tidak ingin menjadi santapan binatang buas dengan berkemah di hutan. Biarkanlah kami masuk. Bolehkah kami bergabung dengan kamp kalian? Kami hanya berdua, tidak akan memakan banyak tempat. Kalian adalah tentara bayaran yang memburu monster, kan? Mungkin kita bisa saling membantu.”
Mereka saling memandang dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ketua itu menatap Dewey dengan tatapan meremehkan. “Bocah, apa yang bisa kamu bantu? Membuang air seni kami di tengah malam? Haha …. Cepat pergi! Karena kita sama-sama berpetualang di Hutan Beku, aku tidak akan mempersulit kalian. Yang penting kalian tidak mencari masalah.”
Dewet justru melangkah maju. “Tidak, aku bersikeras dengan permintaanku.
__ADS_1
Ekspresi si ketua menggelap. “Oh, ingin mencari masalah, bocah?”
Dardanelle menarik Dewey pelan, kemudian membisik. “Aku mengenal lencana mereka. Mereka adalah Tentara Bayaran Serigala Salju. Mereka berjumlah banyak, sebaiknya kita tidak membuat masalah.” Dardanelle melihat lencana di dada kapten, lalu berbisik lagi. “Kita ganti tempat saja.”
Dardanelle memiliki pengalaman berpetualang ketika muda sehingga dia cukup familiar dengan beberapa kelompok tentara bayaran terkenal di daratan. Selain itu, dia juga tahu bahwa para penjahat itu tidak bisa diusik.
Mereka bahkan akan berkelahi dan saling menjatuhkan di tengah aktivitas petualang. Semua itu hal biasa.
Untungnya, Dewey dan Dardanelle tidak membawa apa pun. Melihat kedua orang itu tidak membawa barang berharga, mereka pun tidak terlalu memikirkannya.
Kalau Dewey dan Dardanelle membawa hasil buruan berharga, mereka mungkin akan memiliki niat buruk.
Berkelahi dengan mereka bukan tindakan bijaksana. Meskipun penyihir kecil ini memiliki sedikit kemampuan, belasan orang itu jelas hanya penjaga keamanan di pinggiran. Penjaga saja belasan orang, itu berarti ada setidaknya seratus orang di kamp mereka.
Mereka hanya berdua, jadi sebaiknya tidak mencari masalah.
“Hei, Dardanelle. Dengarkan aku saja.” Dewey tidak takut membuat kekacauan. Selain itu, dia yakin bahwa penyihir tua itu masih berada di sekitarnya.
Dewey sengaja menatap pria di depannya dengan ekspresi sombong. Orang itu mengenakan baju besi kulit, senjata di tangannya juga terlihat luar biasa. Dia seharusnya bukan orang biasa. “Kalian adalah Tentara Bayaran Serigala Salju, kan? Sedangkan kamu seharusnya hanya seorang kapten. Bisakah kamu mewakili semangat kelompok tentara bayaran kalian?”
Dewey benar. Pria itu hanya seorang kapten yang bertanggung jawab atas keamanan sekitar. Dia mengernyit sambil berkata, “Bocah, apa yang ingin kamu lakukan? Kalau kamu ingin menderita, aku tidak keberatan untuk melakukannya.”
Setelah itu, dia mencabut pedang dan mendekati Dewey dengan senyum aneh.
Namun, beberapa langkah kemudian, dia langsung berhenti.
Dewey masih berdiri di sana dengan senyum tipis, tetapi tangan kanannya terangkat. Bola api muncul di telapak tangannya.
Semua orang dalam kelompok tentara bayaran berpengetahuan luas yang melakukan perjalanan ke mana-mana. Mereka melihat bocah itu tersenyum, kemudian sebuah bola api muncul di telapak tangannya.
“Begitulah Tentara Bayaran Serigala Salju memperlakukan seorang penyihir?” Dewey tersenyum mengejek. “Baiklah, aku akan mengingatnya.”
Selesai berbicara, Dewey menarik Dardanelle. “Ayo, temanku. Sepertinya mereka sudah cukup kuat sehingga tidak membutuhkan penyihir. Mereka bahkan tidak mengerti untuk saling membantu di tempat terkutuk ini.”
Penyihir! Anak itu adalah penyihir.
Semua orang, termasuk si kapten, tertegun. Ketika menatap Dewey, tatapan mereka tidak lagi mengejek, tetapi hormat dan takut.
“Semuanya mundur, bodoh!” Teriakan marah terdengar dari dalam hutan, kemudian seorang pria bertubuh tinggi besar berjalan keluar.
Orang itu mengenakan baju besi kulit badak. Di tempat sedingin ini, dia mengenakan jubah putih yang memperlihatkan lengan dan otot. Jenggotnya berwarna cokelat, dia terlihat perkasa. Dia tidak memegang senjata, tetapi semua orang mundur ketika dia melangkah keluar. “Ketua kelompok!”
Kapten itu segera maju, tetapi ketua kelompok hanya memelototinya sekilas. “Kamu memperlakukan kami, dik. Mundurlah.”
Selesai berbicara, ketua kelompok berjalan ke hadapan Dewey tanpa menghiraukan bawahannya. Dengan senyum di wajah, dia berkata dengan suara keras. “Yang Mulia Penyihir, bawahanku tidak tahu sopan santun. Aku minta maaf atas ketidaksopanan mereka.”
“Ini adalah pemimpin kelompok Tentara Bayaran Serigala Salju, Ketua Beinrich.” Seorang tentara bayaran di sebelahnya berkata dengan suara keras dan bangga.
Mata Dardanelle berbinar, lalu dia berkata, “Orang itu punya nama lain, yaitu Mata Badai. Dia adalah orang yang luar biasa di lingkaran tentara bayaran wilayah utara daratan, dan dikenal sebagai salah satu dari tiga tentara bayaran utara yang hebat. Aku pernah mendengar namanya.”
Beinrich tertawa lalu berkata, “Mata Badai hanya nama yang diberikan oleh orang lain. Aku sudah selesai memperkenalkan diri. Bolehkah Anda memberitahu nama Anda, Yang Mulia Penyihir?”
“Harry Potter,” jawab Dewey tersenyum. “Aku tidak memakai jubah penyihir maupun lencana. Tetapi itu adalah hal biasa di tempat ini. Anda pasti bisa mengerti.” Dewey melihat mata ketua itu, lalu perlahan berkata, “Aku dan temanku tidak punya niat jahat. Kami memiliki urusan sendiri di Hutan Beku. Aku percaya jika penyihir bisa bergabung dengan kelompok kalian di tempat ini, biarpun hanya beberapa hari, pasti menguntungkan kedua belah pihak, kan?”
“Tentara Bayaran Serigala Salju sangat menyambut kedatangan penyihir.” Beinrich tertawa. “Aku sedang bingung. Setiap kali datang ke sini, binatang-binatang buas menyebalkan sangat merepotkan. Kalau ada bantuan penyihir akan lebih mudah.”
Sambil berbicara, Beinrich menatap Dewey, menunggu jawabannya.
“Aku sangat senang untuk membantu.” Jawaban Dewey membuat Beinrich sangat senang. “Ketua, Anda lihat, kan, bahwa kami hanya berdua. Bertambah orang di tempat terkutuk ini adalah hal baik, bukan?”
“Silakan, Yang Mulia Penyihir. Kamp kami ada di depan. Ada dua botol anggur di tendaku.” Beinrich tertawa dan memimpin jalan dengan antusias.
__ADS_1
Dardanelle mengernyit. Dewey menariknya ke samping sebelum berbisik, “Dardanelle, jangan banyak bicara. Kita pertama kali datang ke Hutan Beku, tidak akrab dengan tempat ini. Tetapi mereka sudah sering datang ke sini. Mereka familiar dengan lahan dan lingkungan di sini. Bergabung dengan mereka lebih mudah untuk mencari daripada kita berkeliling tidak jelas di hutan.”