Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 47: Elemen Api Solskjaer


__ADS_3

Keesokan paginya, ketika matahari terbit dan Dewey tengah menikmati sarapan, seseorang datang mencarinya.


Dia adalah Solskjaer si penyihir penipu.


Setelah semua orang mengira Dewey diculik, Solskjaer menerima beban yang besar. Dia adalah satu-satunya penyihir Dewey, tapi tidak ada bekas luka apa pun di tubuhnya.


Di saat semua orang terluka, hanya dia yang baik-baik saja.


Solskjaer juga menerima tekanan besar dari rekan-rekannya.


Sebenarnya dia juga merasa malu atas insiden pingsan karena takut pada penyihir level delapan itu sebelum mulai bertarung.


Tapi dia tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Bagaimana bisa seorang penyihir level satu, level yang diperoleh dengan cara menipu pula, bertarung dengan seorang penyihir level delapan?


Itu bukan bertarung, tapi bunuh diri.


“Oh, Tuan kecilku, aku senang sekali melihat Anda baik-baik saja.” Begitu masuk ruang kerja, Solskjaer langsung tersenyum.


Respons yang dia terima adalah tendangan Dewey.


Dewey menendang penyihir itu hingga telungkup, kemudian menatapnya dengan mata memicing dan berkata dengan suara rendah. “Solskjaer-ku sayang, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama.”


Solskjaer berdiri dan membenarkan letak topinya dengan canggung. “Tuan kecilku….”


“Mengingat tampilanmu hari itu, aku benar-benar merasa malu.” Ekspresi Dewey tampak muram. “Tuan Penasihat Sihirku, bisa-bisanya kamu pingsan dalam pertarungan. Keberanianmu bahkan lebih kecil daripada kelinci!”


Hari itu Solskjaer adalah satu-satunya orang yang tersisa di sisi Dewey. Namun, pria memalukan ini pingsan sebelum menunjukkan kekuatan apa pun. Dewey kesal sekali.


“Ya Tuhan, wanita itu adalah penyihir level delapan! Level delapan, Tuan Muda Dewey!” Solskjaer menjelaskan. “Aku hanya seorang penyihir yang memiliki kualifikasi level satu, kekuatanku sesungguhnya tidak lebih kuat dari seorang murid sihir. Anda tahu betul akan hal itu. Apakah Anda berpikir bahwa aku bisa menghalangi penyihir level delapan itu?”


“Biarpun begitu, kamu tidak boleh pingsan. Itu memalukan sekali!” Dewey menggeleng. “Sebagai majikanmu, aku sangat kecewa padamu. Oh ya, kamu pergi ke mana saja selama ini?”


“Aku membawa beberapa orang ke selatan untuk memindahkan barang-barang di laboratoriumku ke sini.” Jawaban Solskjaer membuat Dewey sedikit puas.


“Kamu sudah memindahkan laboratoriummu ke sini?” Dewey agak terkejut. “Apa kamu tidak takut jika aku tidak bisa kembali? Kalau tidak ada aku, apakah menurutmu keluarga ini masih akan menerimamu?”


Solskjaer merasa tak berdaya dan hanya bisa berkata jujur. Dia mendapat kabar bahwa Tuan Muda keluarga Rollin sudah ditemukan sehingga bergegas ke sini.


“Oh, ternyata begitu. Kalau aku tidak kembali, kamu berencana untuk pergi, benar?” Dewey menatap pria licik itu. “Membawa barang rampasan yang aku lempar kepadamu hari itu, benar?”


Solskjaer tidak bisa berkata-kata.


“Sudahlah, keluarkan barangnya.” Maksud Dewey, barang-barang yang dia dapatkan dari Vivian.


Secara tidak sadar, Dewey merasa bahwa itu adalah barang-barang Vivian. Dia tidak ingin menyerahkannya kepada orang lain, hanya ingin menyimpannya sendiri.


Solskjaer agak cemas. “Tuan Muda Dewey, Anda bukan penyihir. Benda-benda itu hanya berguna di tangan penyihir.”


Tidak mau menyerahkannya?”


Dewey mendengus. Dia melirik pintu yang tertutup, kemudian tersenyum sebelum mengangkat tangan dan memanggil.


Beberapa lilin di kedua sisi menyala. Api melayang ke telapak tangan Dewey dan memadat menjadi bola api.


Solskjaer membelalakkan mata. “Sihir? Ya Tuhan, Anda sudah bisa menggunakan sihir?”


“Memangnya kamu pikir aku sedang melakukan akrobat? Cara ini diajarkan oleh penyihir delapan.” Dewey mendengus. “Serahkan.”

__ADS_1


“Bolehkah aku meminta satu kristal ajaib?” tanya Solskjaer. “Satu saja. Eksperimenku membutuhkan kristal ajaib berkualitas bagus untuk menyimpan elemen api.”


Dewey hanya mengulurkan telapak tangannya tanpa berbicara.


Solskjaer merasa tak berdaya, hanya bisa menyerahkan kantong, lalu menghela napas.


“Sudah, jangan hela napas, Tuan Pernasihat Sihirku.” Dewey merasa lebih senang setelah mendapatkan barang Vivian. “Aku jamin kamu akan akan segera mendapatkan barang yang kamu inginkan.”


“Sepotong kristal sihir kelas menengah saja bernilai setidaknya beberapa ratus koin emas.” Solskjaer jelas sudah mengetahui hukuman yang diterima Dewey. Kebanyakan orang di kastil sudah mengetahuinya.


"Tenang saja, kita akan segera punya koin emas." Dewey sama sekali tidak mengkhawatirkan itu.


Rencana perampokan bajak laut sudah berlangsung, jadi akan segera ada banyak uang. Selain itu, jangan lupakan harta peninggalan Semel di ruang rahasia yang ada di bawah ruang kerja.


“Oh ya, Solskjaer. Ayo, aku tunjukkan laboratorium barumu yang ada di hutan luar kastil.”


Ketika dia meninggalkan ruang kerja, pengurus rumah tua datang untuk melihat Dewey. Dewey menunjuk abu yang terbakar di lantai, tersenyum sambil berkata, “Pengurus Rumah tersayang, maaf sekali. Ketika aku membaca buku semalam, entah kenapa lukisan di dinding itu jatuh dan kebetulan mengenai tempat lilin, lalu terbakar. Kurasa kamu akan menyuruh pelayan untuk membersihkannya, kan?”


Pengurus rumah tua memandang tempat kosong di deretan lukisan pada dinding, lalu melihat tumpukan abu di lantai.


Ya Tuhan, itu barang antik!


Kata ‘anak boros’ disebut berkali-kali oleh pengurus rumah tua dalam hati, tapi tidak berani dilontarkan. Dia hanya menggigit bibirnya sejenak sebelum mengiyakan dengan tak berdaya.


Dewey membawa Solskjaer keluar dari ruang kerja, kemudian pergi ke hutan yang ada di sebelah kastil.


Di dalam hutan, rumah kayu sudah dibangun di tepi sungai.


Rumah kayu tiga lantai terlihat kuat, jelas terbuat dari bahan yang bagus.


“Apakah kamu puas? Lain kali ini adalah laboratorium. Laboratorium kita.”


Lantai dua adalah deretan lemari besi yang digunakan untuk menyimpan berbagai bahan mentah.


Sedangkan lantai tiga adalah tempat Dewey, ada teras yang luas untuk mengamati bintang.


Dewey bahkan hendak membuat teleskop sendiri untuk diletakkan di sini.


“Apakah kamu puas?” Dewey menatap Solskjaer sambil tersenyum.


Solskjaer tampak sangat gembira. “Sangat bagus! Tempat sebesar ini cukup untukku melakukan banyak eksperimen.”


Sambil tersenyum, Dewey menariknya ke belakang rumah dan menunjuk tanaman di tanah.


Itu semua adalah bahan paling dasar dalam ramuan sihir. Ada banyak bahan sihir tidak dapat dibeli oleh Dewey karena tidak ada di toko. Dia hanya bisa sesekali membelinya dari tim petualang atau dari Serikat Sihir.


Namun, Serikat Sihir tidak terbuka untuk umum. Orang-orang yang tidak memenuhi syarat sebagai penyihir tidak dapat membeli apa pun dari Serikat Sihir.


“Tanaman dasar sudah kusiapkan. Untuk sisanya, kita hanya bisa membelinya di Serikat Sihir. Kamu tahu peraturan Serikat Sihir, kan? Jadi kamu yang harus membelinya. Uang akan ada, tenang saja. Kita akan segera punya uang.”


Solskjaer menatap semua benda di sini dalam diam.


Dia sudah sangat puas.


Laboratorium penyihir adalah pemborosan uang bagi orang biasa.


Bahan-bahan berharga itu bisa saja terbakar atau hancur dalam eksperimen yang gagal.

__ADS_1


Dulu Solskjaer tidak punya banyak uang untuk membeli bahan-bahan itu dan mengujinya. Kebanyakan bahan yang dia miliki ‘dikumpulkan secara diam-diam’ dari gurunya. Selain itu, dia juga harus bekerja untuk tim petualang, bekerja paruh waktu, atau mendapatkan beberapa inti sihir monster.


Sekarang setelah bangsawan kecil ini berjanji, lain kali dia tidak perlu memusingkan uang lagi dan bisa melakukan eksperimen sesuka hati.


Dewey masih memiliki harapan terhadap Solskjaer.


Orang ini menemukan cara untuk mensimulasikan sihir dan bisa dianggap genius. Kalau membiarkannya terus belajar, siapa tahu dia bisa menciptakan sesuatu lagi.


“Oh ya, coba tunjukkan barang yang kamu bawa dari laboratoriummu di selatan.”


Dibandingkan dengan laboratorium Dewey, barang-barang yang dibawa Solskjaer lebih menyedihkan.


Dia membawa beberapa botol dan toples yang setengahnya terbuat dari tanah liat. Penyihir miskin ini jelas tidak punya uang lebih untuk membeli kaca cantik.


Botol-botol itu berisi elemen sihir dari berbagai sistem yang diekstraksi oleh Solskjaer, terutama elemen api, yaitu bubuk kuning yang Solskjaer bilang dia ekstrak.


Dewey paling tertarik pada elemen api.


Di bawah persetujuan Solskjaer, dia membuka sebuah toples, kemudian melihat bubuk kuning.


Begitu melihat benda ini dan mencium baunya yang familier, Dewey tertegun.


Dia menjulurkan dua jari untuk mengambil sedikit bubuk, kemudian mencondongkan tubuh untuk mencium baunya.


“Ini adalah elemen api yang kamu buat?” Dewey menoleh dan menatap Solskjaer dengan serius.


“Ya.”


Menahan rasa semangatnya, Dewey perlahan berkata, “Secepat apa kamu dalam mengekstrak benda ini?”


“Tergantung pada bahannya. Bahan utama yang dibutuhkan adalah bubuk skala api dan harus diekstrak enam kali. Dalam proses pengekstrakan harus sangat hati-hati, tidak boleh ada api di sekitar. Aku pernah hampir terbakar dalam sebuah kecelakaan.”


“Bagaimana jika aku menyediakan bahan-bahannya?”


Solskjaer berpikir dan menghitung sebentar. “Aku rasa kalau bahannya lengkap bisa membuat tiga botol dalam sehari.”


Tiga botol?


Botol yang ditunjuk oleh Solskjaer berukuran botol bir di kehidupan sebelumnya yang Dewey tahu.


Tiga botol sehari sudah cukup cepat.


Dewey menahan tawanya dan tiba-tiba memeluk Solskjaer dengan kuat. “Tuan Penasihat Sihirku, aku sangat puas dengan elemen apimu. Aku akan menambah gajimu setelah aku punya uang. Hahaha!”


Sesaat kemudian, Dewey bertanya dengan suara rendah. “Dengar, kita harus merahasiakan resep elemen api, paham?”


“Tentu saja,” jawab Solskjaer cepat.


Untuk sementara laboratorium ini dimiliki oleh Solskjaer. Solskjaer sibuk memajang botol-botol serta peralatan seperti kuali, toples ekstrak, peralatan bakar dan sebagainya yang dia bawa di laboratorium.


Dewey keluar sendiri.


Dua pelayan yang mengekorinya melihat Tuan Muda mereka terus tersenyum.


Setelah berjalan jauh, Dewey akhirnya tidak menahan suasana hatinya lagi. Dia langsung tertawa terbahak-bahak.


Senyumnya penuh dengan rasa gembira seakan hanya dia seorang yang mendapat durian runtuh.

__ADS_1


Ia tertawa. ”Elemen api? Itu jelas-jelas bubuk mesiu! Haha, tidak sangka aku sudah memiliki bubuk mesiu!”


__ADS_2