Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 53: Penyihir Datang Menagih


__ADS_3

Sia sakit parah dan berbaring di kamar selama dua hari setelah insiden itu. Kedua kakinya terasa lemas ketika dia turun dari kasur.


Tetapi Dewey tetap memberikan hadiah kepada pelayan setia itu, karena saat terancam tidak dapat mendarat di balon udara pada hari itu, Sia yang panik tidak sengaja menyarankan untuk mematikan tungku.


Saran tersebut mengingatkan Dewey bahwa kekuatan balon udara terkait dengan suhu gas di dalam balon. Setelah mematikan tungku, gas mendingin, balon akhirnya mendarat.


Setelah mendarat, Sia yang malang hampir memuntahkan semua organ dalamnya. Akhirnya dia dibawa kembali oleh tim kavaleri yang datang.


Ketika semua orang menebak apa lagi yang akan dilakukan oleh Tuan Muda aneh itu, Dewey terdiam.


Dewey tidak lagi membuat apa pun selama berhari-hari. Dewey tahu betul bahwa dia tidak tertarik melakukan banyak untuk membuang energi. Baik kembang api maupun taruhan sepak bola, semua itu hanya cara menghasilkan uang untuk mengatasi kekurangan dananya.


Dewey tidak tertarik untuk melakukan hal seperti revolusi industri. Tujuannya adalah menghasilkan uang untuk eksperimen sihir yang memakan biaya.


Sekarang, untuk sementara dia tidak perlu memusingkan masalah uang lagi, Dewey pun berhenti melakukan apa-apa.


Selain pergi ke laboratorium Solskjaer untuk melihat kemajuan ilmuwan sihir itu, lalu melihat tim penelitian dan pengembangan balon udara dan kembang api, Dewey menghabiskan seluruh waktunya untuk belajar sihir.


Setiap malam dia pergi ke teras lantai tiga laboratorium sihir untuk bermalaman. Dia dan Solskjaer telah membentuk keserasian. Laboratorium tersebut digunakan Solskjaer pada siang hari dan Dewey pada malam hari. Keduanya tidak saling mengganggu.


Sudah lebih dari satu bulan, tetapi latihan ‘sihir bintang’ Dewey tidak kunjung menerobos langkah pertama. Konsep kekuatan bintang masih terlalu abu-abu. Tidak ada standar maupun deskripsi khusus. Bahkan Semel tidak bisa mengatakan secara akurat tentang kekuatan bintang. Bagaimanapun, Semel ini bukan ahli nujum itu sendiri, tetapi mewarisi salinan memori. Ada banyak pertanyaan dari Dewey yang tidak bisa dijawab oleh Semel itu.


Selain belajar sihir bintang di malam hari, Dewey juga akan mempelajari sihir ortodoks daratan di siang hari. Solskjaer sedikit membantu dalam hal ini. Bagaimanapun, dia juga termasuk seorang penyihir. Dewey bisa mendapatkan beberapa mantra sihir level rendah dari Solskjaer.


Selama satu bulan terakhir, Dewey telah menguasai beberapa mantra level rendah, seperti bola api dari sihir api, bilah angin dari sihir angin. Dewey bisa menampilkannya dengan tenang. Di antara sihir-sihir level rendah itu, Dewey paling mahir dalam ‘teknik pusing’ dan ‘teknik penambah kecepatan’.


Akhirnya, Solskjaer pun mengaku bahwa kekuatan sihir dan kekuatan merasakan Dewey sekarang telah melampauinya. Berdasarkan kekuatannya sekarang, kalau Dewey bersedia untuk berpartisipasi dalam penilaian Serikat Sihir, dia bisa dengan mudah mendapatkan kualifikasi penyihir level satu.


Itu pun hasil Dewey menyembunyikan sebagian kekuatannya.


Meskipun Dewey tidak berhasil mempelajari sihir bintang, mantra Semel sangat efektif untuk pertumbuhan kekuatan spiritualnya. Intensitas kekuatan sihirnya sudah mencapai penyihir level tiga.


Untuk kekuatan merasakan, berkat ‘antena’ pemberian Chris di kepalanya, kekuatan merasakan Dewey bahkan lebih sensitif dari banyak penyihir level menengah.


Sore ini, Sia lagi-lagi diberikan tugas penting oleh Dewey.


Sebagai pengurus Dewey, Sia bertanggung jawab mengantar hadiah yang Dewey siapkan dengan hati-hati untuk ulang tahun Countess ke ibukota kekaisaran.


Dewey menghabiskan satu malam untuk menulis surat. Dewey masih memiliki perasaan untuk Countess yang cantik dan lembut. Terutama ketika dia sakit waktu kecil, Countess berlutut selama satu malam di Kuil Cahaya, kemudian merawatnya tanpa istirahat. Biarpun setelah adiknya lahir, semua orang menelantarkannya, Countess masih sering datang ke kamarnya, menggendong dan meninabobokannya.


Dewey merasa terharu. Wanita cantik nan lembut itu menunjukkan kasih sayang ibu yang besar dan sederhana. Meskipun kasih sayangnya membuat Dewey merasa bersalah, karena dia bukan anaknya. Tetapi kasih sayang itu membuat Dewey tidak bisa melupakan ibu cantik nan lembut itu.


Hadiah ulang tahunnya adalah ‘Pengampunan Dewi Fajar’ yang Dewey siapkan dengan hati-hati.


Dewey percaya bahwa hadiah yang tak pernah dilihat sebelumnya itu akan memicu kehebohan di kediaman Earl. Dewey tidak peduli dengan kehebohan, dia berharap Countess bisa gembira di pesta ulang tahunnya.


Sia berangkat membawa beberapa pengikut. Ulang tahun Countess tinggal tujuh hari lagi. Kalau tidak terjadi sesuatu di sepanjang jalan, Sia mungkin bisa tiba dua hari sebelum ulang tahun Countess.


Setelah mengantar Sia, Dewey merasa lebih rileks. Sebenarnya dia punya tujuan lain. Bagaimanapun, dikurung sangat tidak enak. Dia tidak boleh meninggalkan area tertentu di sekitar kastil. Setelah lebih dari sebulan, dua sudah tertekan. Semoga hadiah ulang tahun luar biasa itu bisa membuat ayahnya merasa lebih baik tentang dirinya. Dewey tidak peduli dengan uang saku 300 koin per bulan. Dia hanya berharap Earl senang dan mencabut hukumannya.


Pada malam keberangkatan Dewey, bulan cerah dan bintang bersinar. Di malam yang begitu indah, Dewey mendadak bersemangat. Dia menyuruh pelayan untuk menyiapkan sebuah tungku dan meletakkannya di teras gedung laboratorium, kemudian menyuruh koki di kastil untuk menyiapkan daging sapi, daging domba dan beberapa sayuran dari pertanian di belakang kastil, ditambah sebotol anggur yang enak.


Dewey hendak mengadakan BBQ luar di sana.


Daging sapi diletakkan di besi atas api. Dewey mengambil kuas buatannya sendiri, mencelupkannya ke dalam bumbu yang telah dia siapkan, lalu mengolesi daging sapi berulang-ulang. Gerakannya sangat hati-hati, dia mencoba membuat setiap inci daging terlapisi bumbu secara merata.


Aroma barberkyu daging yang dicampur dengan rempah-rempah meluap. Dewey menarik napas dalam-dalam dengan nikmat. Dia bahkan menyenandung kecil.


Melihat Dewey begitu nyaman, Semel tampak heran.

__ADS_1


“Lagu apa yang kamu senandungkan? Seperti karya penyair, tetapi kenapa aku tidak mengerti satu kata pun?”


Dewey malas menjelaskan. Dia mendengus, kemudian mengambil garpu untuk membalikkan daging, mengambil botol anggur dan minum seteguk.


“Anggur dipadukan dengan daging.” Dewey mendesah puas. “Cuaca begitu bagus, malam begitu indah, dengan angin sepoi-sepoi, makan daging barbekyu ditemani anggur enak. Sayang sekali, andaikan ada musik.”


“Kamu cukup nyaman, ya.” Semel cemberut. “Malam ini tidak belajar sihir bintang?”


“Aku sudah belajar selama satu bulan lebih.” Dewey tersenyum masam. “Kekuatan spiritual adalah latihan yang sangat efektif, tetapi aku tidak mengerti kekuatan bintang. Bukannya aku malas, tetapi kalau tidak mengerti, dalam sehari dua hari juga tidak bisa diselesaikan. Aku sudah lelah selama sebulan lebih, tentu harus punya waktu untuk bersantai.”


Selesai berbicara, dia mengambil steak dengan garpu dan menggigitnya dengan hati-hati. Aroma dalam mulut membuat Dewey hampir menggigit lidahnya. Dia tersenyum samar. “Enak, enak! Sayang sekali, kamu tidak bisa makan makanan seenak ini.”


Semel langsung memutar bola matanya. Dia adalah makhluk sihir, hanya objek psikis. Tanpa fisik, dia hanya hantu, tidak perlu makan, minum atau tidur.


Dewey membuka segelnya sehingga rohnya telah mengingat tanda sihir Dewey. Dia hampir menjadi bayangan Dewey.


“Kamu tidak makan, minum maupun tidur. Bukankah hidup seperti itu sangat membosankan?” Dewey menghela napas sambil menatap Semel.


Semel masih mengenakan jubah merah. Setelah Dewey mengingatkan berkali-kali, dia akhirnya lebih memperhatikan tingkah lakunya, tidak lagi melompat ke pagar dan mengayunkan  kedua kaki indahnya.


Semel lagi-lagi memutar bola matanya.


“Oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu.” Dewey mengedipkan mata. “Berapa lama kamu bisa hidup?”


“Sama sepertimu.” Semel merasa sedikit tak berdaya saat mengatakan itu. “Aku dilepaskan olehmu. Mantra penyegel itu mengikat nyawaku dengan kekuatan spiritualmu. Berapa lama kamu hidup, selama itulah aku hidup. Kalau kamu mati dan kekuatan spiritualmu menghilang, aku akan ikut menghilang.”


“Kalau begitu, bukankah kita sehidup semati?” Ekspresi Dewey tampak aneh/


“Perhatikan kata-katamu, bangsawan kecil.” Semel menyeringai. “Jangan lupa bahwa aku adalah nenek buyut, buyut, buyutmu.”


Dewey langsung mendengus dan memelototi Semel. “Kamu hanya replika, bukan Semel asli. Selain itu, pernahkah kamu melihat nenek buyut yang mengekspos kedua kakinya di depan cucu buyut sendiri setiap hari?”


Dewey bersandar di kursi dengan santai, mengunyah sepotong daging sambil melihat Semel yang berdiri di pinggir pagar. Sinar bulan menyinari wajahnya. Jubah merah, rambut panjang putih. Dari samping, wajahnya terlihat lembut, tetapi ada ekspresi bingung di wajahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dewey.


“Tidak tahu, makanya aku berpikir.” Jawaban Semel sedikit aneh, tapi nadanya terdengar rendah.


Dia berbalik dan menatap Dewey dengan tatapan bingung. “Sebenarnya aku merasa diriku sangat aneh. Ketika disegel dalam lukisan, setiap hari aku berharap bisa keluar. Tapi setelah keluar, aku menemukan bahwa aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku bukan manusia, tapi Semel memberiku sebagian dari ingatannya, membuatku memiliki kemampuan berpikir seperti manusia. Beberapa hari terakhir mengikutimu membuatku merasa bingung. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Meskipun berada di sisimu sangat santai dan lebih bebas daripada disegel dalam lukisan, ini membuatku lebih bingung. Kamu adalah manusia dan masih bisa hidup selama puluhan, bahkan ratusan tahun. Apakah untuk seratus tahun ke depan, aku hanya bisa tinggal di sisimu, berbicara denganmu, menjadi bayanganmu? Setiap hari hanya melihat dan melihat sampai seratus tahun, kemudian menghilang bersama kamu yang meninggal?”


Dewey duduk tegak, ekspresinya menjadi lebih serius. Dia menatap Semel sekilas lalu menghela napas. “Aku sangat terkejut. Pikiranmu sudah mendekati manusia. Sungguh. Tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, karena masalah yang kamu pikirkan adalah pertanyaan besar yang tidak bisa dijawab oleh orang paling bijaksana di antara umat manusia sekalipun, yaitu makna kehidupan.”


“Makna kehidupan,” ulang Semel.


Melihat ekspresi sedih di wajah Semel, Dewey tiba-tiba teringat akan dongeng ‘Pinokio’ yang dia dengar di kehidupan sebelumnya.


Dewey langsung menceritakannya kepada Semel.


Makhluk sihir itu mendengarnya dengan serius, bahkan tidak menyela sekali pun.


Ketika Dewey mengatakan bahwa hidung ‘Pinokio’ akan memanjang jika berbohong, Semel tertawa lepas dengan gembira, bahkan polos.


Ketika Dewey mengatakan bahwa ‘Pinokio’ ingin menjadi manusia sesungguhnya dan memiliki tubuh manusia, Semel menunduk rendah sehingga Dewey tidak dapat melihat ekspresinya.


Setelah Dewey menyelesaikan cerita, boneka kayu akhirnya menjadi manusia sesungguhnya….


“Aku juga ingin memiliki tubuh sesungguhnya,” ucap Semel mendadak.


Suaranya sangat pelan. Namun, dalam suara selembut itu, Dewey mendengar keinginan.

__ADS_1


Ketika mendengar cerita ‘Pinokio’ sebelumnya, Dewey tidak merasakan apa-apa. Tapi malam ini, melihat makhluk sihir ini duduk di depannya dan mengatakan keinginannya dengan sedih, Dewey merasa iba. Namun, dia tidak tahu bagaimana menghibur Semel.


“Mungkin ….” Dewey berpikir. “Mungkin kita bisa mencobanya. Siapa tahu sihir bisa ….”


“Sudah malam, aku ingin istirahat.” Semel spontan menyela ucapan Dewey. Kata-katanya sangat aneh, karena makhluk sihir tidak perlu istirahat.


Dia jelas sedang lari dari penghiburan Dewey yang tak mungkin.


Sosok Semel menghilang, Dewey mendesah. Dia tahu bahwa Semel tidak ingin berbicara lagi. Ketika makhluk sihir itu tidak ingin berbicara, dia bisa merasuki benda apa pun di tubuh Dewey.


Cincin, lencana, baju, sepatu bot. Selama Semel mau, dia bahkan bisa merasuki sabuk Dewey. Kalau tidak jika dia melayang di sisi Dewey sepanjang hari, Dewey akan merasa seperti diikuti arwah gentayangan.


Dewey mendesah. Dia tidak mencegat Semel kabur. Dewey bisa memerintah Semel untuk keluar – karena Dewey membuka segelnya dengan mantra, maka makhluk sihir itu harus mendengarkan semua perintah Dewey – tapi Dewey tahu bahwa suasana hatinya sedang buruk dan tidak ingin berbicara lagi.


Setelah minum seteguk anggur, api padam, Dewey meringkuk di kursi dengan malas sambil memandang langit.


Langit masih terang, Dewey bertanya pada dirinya sendiri. “Bagiku, apa itu makna kehidupan?”


Setelah duduk untuk waktu yang lama, ketika Dewey merasa sedikit lelah dan hendak kembali untuk tidur, dia tiba-tiba terkejut. Kekuatan spiritualnya yang kuat merasakan gejolak di udara.


Gejolak selemah apa pun tidak dapat disembunyikan dari kekuatan spiritual Dewey. Dia spontan duduk dan menatap sekitar.


“Tampaknya kamu sangat sensitif.” Di tengah kegelapan, sebuah suara tiba-tiba terdengar.


Suara itu terdengar sangat tua, tetapi nadanya terdengar lembut, bahkan geli. “Setahuku, kamu tidak memiliki kekuatan spiritual seperti itu, Tuan Dewey Rollin.”


Seseorang muncul dari luar pagar balkon ke depannya.


Di tengah kegelapan, orang itu mengenakan jubah sihir putih. Wajahnya tua, janggutnya panjang, alisnya rapi, senyumnya juga lembut. Tapi tatapannya saat menatap Dewey sangat tajam.


Tatapannya membuat Dewey sedikit tidak nyaman.


“Siapa kamu?” Dewey mengernyit. “Seorang penyihir? Sepertinya aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Serikat Sihir.”


Orang tua berjubah penyihir itu melayang dari atas pagar ke beberapa langkah di hadapan Dewey. Wajahnya masih tersenyum. Harus diakui bahwa meski usianya tua, dia memiliki kulit halus dan tatapan bersinar yang tidak sesuai dengan usianya.


Dewey tidak pernah melihat orang dengan tatapan seterang itu.


“Kamu membuatku sangat terkejut. Sebelumnya aku mengira kamu hanya seorang bangsawan kecil penipu.” Penyihir tua ini memandang Dewey sambil tersenyum. “Tetapi sekarang tampaknya kamu memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Oh, apakah kamu bisa sihir juga? Tidak perlu membuat aba-aba sihir api, tidak perlu waspada terhadapku. Itu sama sekali tidak berguna terhadapku.”


Dewey menatap pria tua itu dengan semakin hati-hati. “Siapa kamu sebenarnya?


“Aku, ya….” Penyihir tua tiba-tiba berjalan ke sisi Dewey, membungkuk untuk mengambil botol anggur, kemudian meneguknya sebelum mendesah. “Anggur yang enak. Anggur keluarga Rollin selalu seenak ini. Kamu seharusnya merasa terhormat, Nak, karena kamu adalah orang pertama dari keluarga Rollin yang mentraktirku minum dalam seratus tahun terakhir.”


“Kamu mengintipku tadi?!” Ekspresi Dewey menggelap. Keberadaan Semel adalah rahasia. Dewey tidak ingin orang lain tahu bahwa dia diikuti oleh sebuah makhluk sihir.


“Tidak, aku tidak akan melakukan hal serendah itu.” Penyihir tua tersenyum. “Aku baru tiba di sini. Sudah bertahun-tahun tidak datang ke Dataran Rollin, aku hampir tersesat. Oh ya, kamu tidak ada di kamar, malah minum anggur di sini semalam ini. Apakah disiplin keluarga Rollin terhadap keturunan mereka begitu longgar dan bebas sekarang?”


Dewey mulai waspada. “Sepertinya kamu sangat memahami keluarga Rollin?”


“Tidak, tidak, tidak.” Penyihir tua tersenyum santai. “Aku hanya mengenal beberapa orang dari keluarga Rollin ketika muda. Oh, itu sudah sangat lama.”


“Baiklah,” ucap Dewey dengan hati-hati, kemudian duduk tegak. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku dan memegang gulungan sihir. “Yang Mulia Penyihir, Anda datang malam-malam bukan hanya karena lewat, kan?”


“Aku datang untuk melihatmu.” Penyihir tua berpikir seolah baru teringat tujuan kedatangannya. “Awalnya aku hanya ingin meminta beberapa barang darimu.”


“Apa?”


“Beberapa barang.” Penyihir tua menghela napas. “Kamu merebut banyak barang dari murid bodoh kecilku itu. Meskipun anak itu polos, sebagai guru, aku tidak boleh membiarkan muridku dipermainkan seperti itu.”

__ADS_1


Dewey akhirnya paham. “Kamu… kamu adalah guru Vivian?!”


__ADS_2