Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 56: Hutan Beku, Dunia Monster 2


__ADS_3

Langit sudah sepenuhnya gelap, kereta luncur memasuki Hutan Beku. Hanya ada sedikit pepohonan di tepi hutan, kereta luncur bisa melewati celah-celah di hutan.


Cara penyihir tua mengemudikan anjing penarik kereta yang luar biasa membuat Dewey terkejut. Dia tidak menggunakan cambuk atau slogan seperti penjinak hewan lainnya, tetapi hanya memberi perintah sederhana, seperti lari, berhenti, bahkan hanya siulan dan gerakan tangan. Anjing salju seakan mengerti bahasa dan gerakan tangan manusia, mereka mematuhi setiap perintah penyihir tua.


“Kamu tidak menggunakan sihir yang sama denganku kepada mereka, kan?” tanya Dewey penasaran. Setelah beberapa hari bersama, Dewey suka menanyakan beberapa pertanyaan meski sebagian besar pertanyaannya tidak akan dijawab. Dewey tahu bahwa selama dia tidak kabur dan membuat pria tua itu marah, dia tidak akan memperlakukannya dengan buruk.


“Bagaimana menurutmu?” jawab penyihir dengan mengejek. “Mereka jauh lebih patuh daripada kamu.”


Setelah itu kereta luncur mulai melambat. Hutan di depan semakin sempit sehingga kereta luncur sulit untuk bergerak maju.


Penyihir menghentikan kereta luncur dan menendang Dewey pelan. “Turun, Nak. Jangan diam saja di sini. Apakah kamu tidak pernah diberitahu bahwa semakin takut dingin dan tidak bergerak di musim dingin, semakin mudah untuk mati kedinginan?”


Setelah Dewey berdiri, penyihir tua melihat sekeliling sebelum berkata dengan datar. “Kita tinggal di sini malam ini.”


“Tinggal di sini?” Dewey tidak bisa tidak mengeluh. “Kota kecil sebelumnya nyaman, kamu malah melakukan perjalanan untuk tinggal di hutan? Aku pikir kamu terburu-buru untuk pergi ke sebuah tempat. Kalau tidak ada rencana itu, kenapa kita tidak tinggal di kota kecil sebelumnya?”


“Karena aku suka. Apakah kamu puas dengan jawaban itu?” jawab penyihir tua sembari tersenyum. Dia menatap Dewey, nada dan ekspresinya masih ramah. “Ada tenda di dalam tas yang kamu duduki. Kalau kamu masih tidak bangun, aku jamin mulutmu akan sakit lagi.”


Sakit mulut. Pria tua itu akan memerintahnya untuk menampar diri lagi! Dewey gemetar. Biarpun cerdas, Dewey tidak bisa apa-apa ketika menghadapi pria tua yang tidak mengerti bahasa manusia dan memiliki kekuatan di atasnya ini.


Sambil memaki dalam hati, Dewey berdiri untuk membuka tas dan mulai membangun tenda.


Belakangan ini, Dewey sangat terampil dalam membangun tenda setelah latihan di sepanjang jalan.


Akhirnya kali ini penyihir tua tidak hanya duduk dan menunggu Dewey menyelesaikan tugasnya seperti tuan besar, tetapi ikut membantu.


Dewey melirik gerak-gerik penyihir tua. Pria tua itu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam jubah, kemudian menaburkan bubuk hijau secara merata.


Bubuk hijau yang ditaburkan di sekitar membentuk lingkaran besar, melindungi mereka berdua serta kereta luncur dan tenda.


Entah terbuat dari apa bubuk itu. Setelah ditaburkan, es dan salju di sekitar langsung meleleh, juga memancarkan cahaya hijau samar di malam yang gelap. Terlihat seperti api hantu.


Selain itu, Dewey menemukan bahwa beberapa ekor anjing salju seperti takut pada bubuk hijau ini. Anjing salju yang awalnya jinak tiba-tiba menjadi tegang, meringkuk dan gemetar, sesekali melolong sedih dan takut.


Setelah melakukan semuanya, penyihir melihat lingkaran hijau di sekitar dengan puas, lalu mendekat untuk menepuk-nepuk beberapa ekor anjing itu dengan telapak tangannya yang lebar dan kuat, kemudian terkekeh. “Sudah, sudah. Tenang saja, tidak ada apa-apa.”


Anjing-anjing itu telungkup lagi.


Setelah tenda selesai dibangun, Dewey mendekat. “Benda apa ini?”


“Pencegah masalah.” Penyihir tua menyimpan botol itu. Dia hanya mengenakan jubah, entah di mana biasanya botol-botolnya disimpan. Pokoknya begitu meraba, dia bisa mengeluarkan salah satunya.


“Masalah?”


Penyihir tua tersenyum sambil berkata, “Nak, ini di Hutan Beku. Bukan pohon yang banyak di sini, tetapi monster. Monster yang belum pernah kamu dengar maupun lihat. Terutama pada malam hari. Monster suka menyerang mangsa yang tidur tanpa jaga-jaga. Ada banyak petualang yang tidur di malam hari menjadi makan malam monster, kemudian berubah menjadi tinja keesokan paginya.”


“Penyihir hebat seperti kamu takut pada monster juga?” Dewey tertawa.

__ADS_1


“Aku tidak takut.” Penyihir tua menggeleng. “Tetapi kita berdua di hutan ini bagaikan dua potong daging yang dilempar ke kerumunan lalat, paham? Pasti akan menarik banyak monster. Meskipun mereka tidak terlalu mengancam kita, datang-usir, datang-usir cukup merepotkan. Selain itu, aku sudah bilang kalau aku harus menjaga kekuatan sihirku sebelum tiba di tempat tujuan. Nyalakanlah api sekarang, kita akan tidur. Jangan lupa lakukan gerakan yang sudah kuajarkan, kalau tidak kamu menjadi batu es di tengah malam pun, aku tidak akan peduli.”


Dewey merasa tak berdaya. Dia tidak ingin diperintahkan layaknya manusia robot lagi sehingga menurut.


Meskipun tubuhnya masih merasa sakit saat memutar peregangan, Dewey tahu manfaat dari melakukan gerakan-gerakan itu sehingga dia menahannya.


Penyihir tua tampak puas setelah melihat Dewey menyelesaikan tugas. Dia mengeluarkan sebuah gulungan dari dalam jubah, kemudian membukanya perlahan.


Itu adalah gulungan sihir angin. Penyihir tua menggunakannya untuk membuat penghalang tahan angin di sekitar, kemudian menunjuk tenda. “Sudah, tidurlah.”


“Aku ingin bertanya, apa sebenarnya bubuk hijau itu?”


“Penasaran sekali? Aku khawatir kamu tidak bisa tidur setelah mengetahuinya.” Penyihir tua menyeringai.


“Katakanlah,” ucap Dewey. “Aku orang yang penasaran. Kalau kamu tidak mengatakannya, aku lebih tidak bisa tidur.”


“Baiklah. Itu adalah tinja naga.” Penyihir tua mengedikkan bahu. “Kamu tidak keberatan untuk berbaring di tinja naga, kan?”


“...”


Tinja naga?


Pantas saja. Ada banyak hewan yang mengandalkan aroma tinja dan air seni untuk membedakan wilayah. Naga tak diragukan lagi adalah hewan paling besar dan kuat dalam dunia.


Menaburkan tinja naga di sini, monster lain pasti mengira ada seekor naga di sini.


Meskipun cara ini bagus, Dewey menggeleng, untung saja tinjanya tidak bau.


Tengah malam, Dewey terbangun. Lebih tepatnya, terbangun karena dingin.


Di dalam tenda, penyihir tua tidur dengan nyenyak, napasnya teratur. Sebenarnya ada bola kristal kecil yang tergantung di atas tenda. Penyihir tua berbaik hati, menggunakan gulungan sihir api untuk mengubah bola kristal menjadi alat penghangat sehingga tenda menjadi lebih hangat.


Namun, tengah malam, panas pada bola kristal telah menghilang. Tangan kaki Dewey dingin. Dia terpaksa bangun dan membuka tenda, mengulangi gerakan itu lagi di salju.


Setelah menyelesaikan gerakannya, Dewey merasa lebih hangat, tangan kakinya juga menghangat. Dia mendesah. Fleksibilitas tubuhnya menjadi semakin baik. Gerakan dari penyihir tua memang efektif.


“Kalau kamu bertemu denganku beberapa tahun lebih awal dan melakukan gerakan itu setiap hari, tubuhmu tidak akan selemah ini sekarang.” Penyihir tua yang memejamkan mata tiba-tiba berkata di dalam tenda.


Dewey sama sekali tidak terkejut. Pria tua itu terlihat tidur nyenyak, tetapi gerakan apa pun terdengar olehnya. Dewey sudah memastikan hal tersebut ketika beberapa malam sebelumnya mencoba kabur.


“Tidak sangka keturunan keluarga Rollin yang kuat menghasilkan keturunan selemahmu.” Selesai berbicara, penyihir tua membalik badan dan lanjut tidur.


Dewey menghela napas, berdiri di salju dan memandang langit malam.


Bulan sudah muncul. Sinar rembulan menyinari hutan dan salju. Salju menjadi indah.


Di hutan, satu dua lolongan terdengar samar dari jauh. Beberapa ekor anjing salju tidur pulas, Dewey berjalan ke samping dengan hati-hati.

__ADS_1


Bangun di tengah malam, dia ingin buang air kecil, lantas dia mencari akar pohon besar di dalam lingkaran tinja naga, membuka celana dan membuang air, lalu menggigil.


Dengar-dengar, lebih jauh ke utara, cuaca lebih dingin lagi. Saking dinginnya, membuang air kecil pun berbahaya. Pada cuaca sedingin itu, siapa pun yang berani membuang air di alam liar dijamin alat kelaminnya akan membeku.


Dewey menghela napas, lalu menoleh ke arah tenda. Kapan hari seperti ini akan berakhir?


Pria tua itu menculiknya tetapi tidak menjawab pertanyaan apa pun. Dewey sudah memiliki banyak pertanyaan. Dia bahkan tidak tahu alasan dia diculik.


Membalas dendam untuk muridnya? Demi Tuhan, selain memeras peralatan sihir Vivian, Dewey memperlakukan gadis bodoh itu dengan cukup baik. Ketika di pulau terpencil, dia juga sangat merawatnya.


Kalau mau balas dendam, dia sudah cukup menderita sepanjang jalan. Seharusnya sudah cukup, kan?


Kalau untuk memeras keluarga Rollin?


Dewey terkekeh. Penyihir itu pasti orang luar biasa. Meskipun keluarga Rollin berkuasa, dia belum tentu menganggapnya hebat. Jadi, apa lagi yang dia inginkan?


Jangan-jangan untuk Chris yang dikurung di pulau terpencil? Tetapi pria tua itu pasti tahu lebih banyak daripada Dewey. Apa gunanya dia menculiknya?


Dewey berpikir sebentar dan tidak menemukan jawabannya. Ketika dia hendak kembali tidur …


Sebuah suara di hutan yang gelap mengejutkannya.


Siuh!


Dewey tersentak. Kekuatan spiritualnya sangat kuat sekarang, dia sangat sensitif terhadap gerakan di sekitar. Dia menghabiskan banyak waktu di kamp militer sebelah kastil sehingga dia langsung tahu bahwa itu adalah suara panah saat mendengarnya.


Kemudian, jeritan manusia tiba-tiba terdengar.


Raungan diikuti jeritan pada malam hari, lalu ada lebih banyak jeritan.


Jauh di arah timur laut, Dewey samar-samar melihat lampu merah berkedip di kegelapan seolah terjadi kebakaran.


Samar-samar terdengar suara gemuruh, lalu suara langkah kaki manusia di dalam hutan. Suaranya terdengar sangat panik, seperti melarikan diri.


Dewey mengernyit, kemudian berjongkok dan mendengar dalam diam.


Satu … dua … tiga … sepertinya ada lima atau enam langkah kaki. Napas mereka tersengal-sengal, berlari dengan panik ke arahnya.


Raungan terdengar lagi, sepertinya raungan monster, kemudian jeritan terdengar lagi. Sepertinya monster mengejar orang.


Suara langkah kaki berkurang satu, pasti seseorang mati.


Tak lama kemudian, suara langkah kaki sudah tiba di depan. Dewey melihat dalam hutan, ada empat orang berlari mendekat. Mereka mengenakan jaket kulit dengan baju besi kulit, memegang golok yang tersisa setengah.


Orang paling belakang paling mengenaskan. Setengah sisi tubuhnya merah, entah darah dia sendiri atau darah rekannya. Dia memegang sebuah busur, berlari sambil berteriak, “Lari! Lari! Ia sudah datang! Sudah datang! Ia membunuh kapten! Cepat lari!”


Orang di depan sudah melewati deretan pohon dan melihat Dewey. Dia sontak berteriak, “Ada orang di sini.”

__ADS_1


Sebelum Dewey berbicara, empat ekor anjing salju di belakangnya sudah berdiri dan menggonggongi orang yang datang di belakang Dewey.


__ADS_2