
Pemandangan ini memang agak aneh.
Dewey berdiri di sana. Luka di tubuhnya terlihat mengerikan. Lubang berdarah di dadanya hampir menembus ke belakang. Dia seolah tidak merasakan darahnya mengalir.
Dewey berjalan beberapa langkah. Di bawah situasi semua orang tercengang, seekor griffin mendekat lagi kemudian menjatuhkan Dewey. Tubuhnya dicakar oleh kuku tajam griffin, lalu darah menyembur.
“Tuan!”
Mata Robert memerah, lalu dia bergegas menuju Dewey tanpa memikirkan apa pun. Badan kecil Dewey telah berdiri dan terhuyung. Dia masih tersenyum. Pada saat seperti ini, Dewey masih bisa tersenyum gembira. Itu membuat orang-orang di sana merasa keanehan yang tak terdeskripsikan.
Pemuda kecil ini mengangkat kepalanya, melihat griffin yang terbang lalu berkata, “Jika ini adalah mimpi yang kamu ciptakan, aku sudah cukup bermimpi. Jika bisa, akhirilah mimpi ini!”
Robert bergegas menuju Dewey, pedang di tangannya berubah menjadi cahaya lalu menyerang seekor griffin terdekat dengan Dewey. Kesatria setia ini meledakkan semua tenaga dalamnya, yang bahkan melebihi kemampuan tubuhnya. Tubuh kesatria besar, setiap ototnya meledak, seolah akan mengeluarkan darah.
Pedang dengan tenaga dalam menembus langit dan mengenai bulu griffin yang keras, membuat seekor griffin jatuh.
Robert memeluk Dewey, memberikan punggungnya kepada griffin.
“Robert.” Dewey sesak. Dia tersenyum sambil berdarah. “Dengar, kita telah dikerjai. Ini semua palsu.” Dia menunjuk luka di tubuhnya dan tersenyum. “Lihat, orang biasa sudah mati jika terluka seperti ini. Tapi….”
Bagaimanapun, Robert bukan orang bodoh. Dia pun menyadari kejanggalan. Anak selemah Dewey terluka parah tetapi tidak mati. Prajurit kuat sekalipun, mungkin telah menjadi seonggok mayat jika terluka seperti ini.
“Kekuatan spiritualku lebih kuat dari orang biasa, jadi aku tidak bisa ditipu oleh mimpi yang diciptakan ini.” Dewey terengah. “Sayangnya, aku tidak tahu bagaimana cara menghancurkan mimpi ini. Ini mungkin semacam sihir spiritual atau ilusi.”
“Ilusi….” Robert berpikir sejenak kemudian meraung, “Solskjaer! Tuan Solskjaer!”
Penyihir, yang dilindungi oleh para tentara, menyahut saat mendengar dirinya dipanggil.
Robert menggendong Dewey pergi, menghindari serangan seekor griffin. Luka bertambah di punggungnya, bahkan baju besi pun robek dan berlumuran darah.
“Pikirkan cara! Tuan mengatakan bahwa kita menggunakan semacam sihir ilusi,” teriak Robert.
Solskjaer bersimbah keringat. Bagaimanapun, dia bukan penyihir sesungguhnya. Selain itu, sihir yang dia tiru dengan metode oportunistik farmasi hanyalah teknik bola api. Dia tidak tahu banyak tentang sihir spiritual.
Robert telah membawa Dewey kembali. Solskjaer berkata dengan suara keras. “Aku tidak punya cara lain. Menghancurkan ilusi… kurasa kita bisa habiskan makhluk-makhluk ini, seperti kita habiskan badak api dan Serigala Setan tadi.”
Robert tidak bisa menahan diri untuk tidak memaki. “Omong kosong! Jika kita punya kemampuan itu, maka perlu dikatakan!”
Dewey tiba-tiba tertawa lalu berkata, “Robert, aku tanya padamu. Dengar-dengar, setiap kesatria kekaisaran yang berlatih tenaga dalam memiliki titik kelemahan sendiri. Di mana letak titik kelemahanmu?”
“....” Robert tertegun. Dia tidak menyangka jika majikannya akan mengajukan pertanyaan seperti ini.
“Cepat katakan,” ucap Dewey rendah. “Aku punya sebuah cara.”
Setiap kesatria yang berlatih tenaga dalam memiliki titik kelemahan masing-masing. Ketika kesatria menggunakan tenaga dalam, kekuatan fisiknya bisa beberapa kali lebih kuat. Namun, titik kelemahan adalah rahasia terpenting setiap kesatria. Bagaimana boleh dikatakan?
Robert menunduk untuk melihat majikannya yang berlumuran darah sekilas. Robert menggertakkan gigi sebelum berkata, “Ada di… dada sebelah kananku, di bawah tulang rusuk keempat.”
Setelah itu kilat aneh muncul di mata Dewey. Dengan tenaga yang entah dari mana, anak lemah ini tiba-tiba keluar dari dekapan Robert. Dia dengan cepat mencabut belati yang diikat di kaki sang kesatria, kemudian menusuk dada Robert.
Robert bisa menghindar, tetapi sebagai kesatria sekaligus punggawa keluarga Rollin yang loyal, dia hanya ragu sejenak. Bagaimanapun, serangan ini bukan dari musuh, melainkan dari majikannya.
Baju besi di bagian dada telah hancur dalam pertarungan tadi. Belati yang dingin menghunus tulang rusuk ketiga sebelah kanan Robert. Robert bahkan bisa merasakan rasanya belati yang dingin menusuk otot.
__ADS_1
Semua orang tertegun melihat sang majikan tiba-tiba menghunus kesatria dengan belati.
Robert yang paling terkejut. Kesatria itu menatap majikan kecil di depannya, dia tidak menyangka jika orang, yang dia lindungi dengan setia, akan melakukan ini padanya. Namun tatapan Dewey sangat tenang, bahkan cenderung santai.
“Tenang, Robert. Aku tidak akan mencelakaimu, ini hanya mimpi buruk.”
Dewey berkata dengan suara rendah, Robert mengerang, melemas, lalu menyerah untuk melawan.
Robert memejamkan mata lalu tumbang.
Tepat ketika semua orang berseru, Dewey berdiri. Belati di tangannya masih meneteskan darah. Ketika semua prajurit keluarga Rollin menatapnya dengan mata membeliak, Dewey tersenyum dan membuang belati di tangan. “Mimpi berakhir.”
Griffin di langit melolong ketika belati Dewey menghunus dada kesatria, kemudian mereka bergegas menuju Dewey dari segala arah.
Kuku dan gigi tajamnya seolah ingin mencabik-cabik Dewey.
Semua orang memejamkan mata. Semua orang berpikir kalau mereka akan mati kali ini.
Namun hal aneh terjadi pada saat ini.
Seekor griffin yang mendekati Dewey terlebih dulu, tiba-tiba menjadi cahaya, kemudian semua griffin membeku di udara. Celah bercahaya muncul di tubuh mereka.
Kemudian, hush….
Semua orang menunduk, tidak berani melihat cahaya itu. Hanya Dewey yang menegakkan tubuhnya, melihat keanehan di langit dengan senyum dingin di wajah.
Seekor griffin hancur dan meleleh, berubah menjadi debu dan tertiup angin di tengah cahaya.
Kemudian, bom! Semuanya kembali hening.
Hutan masih hutan.
Langit masih langit.
Gunung masih gunung.
Matahari terbenam masih matahari terbenam.
Darah di tanah menghilang. Mayat-mayat yang tercabik juga menghilang.
Tergantikan oleh orang-orang yang berbaring berantakan. Kesatria Spann dan bawahannya, serta prajurit keluarga Rollin yang telah ‘mati’. Mereka memejamkan mata, tetapi bisa dipastikan jika mereka masih hidup.
Hanya saja pingsan.
Dewey melihat tubuhnya. Luka berdarah di sana juga telah menghilang.
Robert berbaring di sisi kakinya. Yang mengejutkan adalah kesatria ini juga tidak terluka.
Baik luka dari pertempuran tadi maupun tusukan Dewey, semuanya tiada.
Baju besinya baik-baik saja. Hal satu-satunya yang terlihat adalah goresan di baju besi sekitar rusuk ketiga pada sisi kanan dadanya. Itu adalah bagian yang ditusuk Dewey tadi. Bagaimana mungkin seorang anak muda lemah yang tidak punya kemampuan bela diri bisa menembus baju besi? Palingan hanya meninggalkan bekas.
Dewey menepuk wajah Robert dengan keras untuk menyadarkannya.
__ADS_1
Robert membuka mata dan melihat sang majikan sedang menatapnya. Dewey tersenyum simpul. “Maaf, aku terpaksa melakukannya tadi. Karena kamu adalah sumber dari fantasi ini. Semua griffin adalah ingatan dari pengalamanmu yang menakutkan. Dia tercipta dari ilusi di hatimu. Jadi aku hanya bisa membuatmu pingsan dalam mimpi. Setelah kamu pingsan, sumber ilusinya akan terputus lalu menghilang.”
Tusukan yang diberikan Dewey kepada Robert tadi juga hanya dalam mimpi.
Prajurit keluarga Rollin yang berdiri di sana juga melihat tubuh mereka dan rekannya dengan terkejut. Mereka tidak mengerti cara apa yang digunakan majikan kecil ini untuk membuat monster-monster menakutkan itu dan luka di tubuh mereka menghilang.
Rekan-rekan yang sudah mati, bahkan mayat yang tercabik pun berbaring dalam kondisi baik-baik saja di tanah.
Hanya Joline, si kesatria perempuan, yang terluka.
Luka pada tangan Joline adalah sungguhan. Dia menggunakan teknik rahasia suku Moon; alam penghancur sihir.
Teknik rahasianya bisa menghancurkan segala sihir. Dia telah keluar dari mimpi ini ketika menggunakan teknik rahasia tersebut. Oleh karena itu lukanya ‘benaran’.
Tidak sempat menjelaskan terlalu banyak. Hanya Solskjaer si penyihir yang mengerti. Meskipun sihirnya tidak terlalu hebat, teori tentang sihir yang dikuasai sangat luas. Dia segera mengeluarkan obat untuk membalut tangan kesatria perempuan yang pingsan.
Dewey memungut belati dari lantai lalu melihat sekilas. “Setetes darah pun tidak ada.”
Dia membawa belati ke depan. Saat ini semua orang baru menyadari bahwa sesuatu bergerak di rerumputan depan.
Ini seukuran tikus besar dan berwarna hijau muda. Sangat sulit ditemukan di tengah rerumputan jika tidak dilihat dengan teliti.
Dewey mendekat, membuat makhluk ini ketakutan. Gerakannya sangat lambat. Ketika dia keluar dari rerumputan dan mencoba untuk kabur, belati di tangan Dewey melayang, memakunya di lantai. Dewey maju lalu menginjaknya.
Semua orang baru kemudian melihat dengan jelas. Makhluk kecil ini bulat, tubuh di balik bulu hijaunya seperti bola. Ekornya besar seperti tupai.
Sebenarnya, makhluk ini mirip dengan tupai, kecuali bulu hijaunya yang aneh.
Selain itu, ada tanduk kecil di dahinya. Tanduk ini bukan tulang seperti hewan lain, tetapi mengkilap seperti kristal.
Dewey menginjak ekornya. Makhluk kecil ini meronta dan menciak, dia mengeluarkan suara kesakitan. Tiba-tiba, seberkas cahaya keluar dari tanduk di kepalanya dan mengenai Dewey.
Dewey tidak merasa kesakitan oleh cahaya ini, tetapi dia mendadak merasakan banyak ingatan muncul di benaknya.
Ketakutan?
Ya, seolah mengingat hal yang paling dia takuti semasa hidup.
Seolah ada sesuatu yang sedang memindai memorinya. Ingatan-ingatan menakutkan yang bukan berasal dari dunia ini, yang lama, dibongkar. Dewey menggeleng kuat.
Dia marah.
Sejak datang ke dunia ini, Dewey yang selalu berwajah datar, kini tampak beringas. Api amarah berkobar di matanya.
Dewey menatap makhluk kecil ini dengan dingin, kemudian dia membungkuk dan berkata dengan suara menakutkan. “Kenapa? Kamu mencari ketakutanku? Kamu akan kecewa kalau begitu.”
Mengulurkan tangan, Dewey menangkap makhluk tersebut. Jari-jarinya mencengkeram leher makhluk kecil dengan erat, mengangkatnya. Dewey mendekatinya kemudian berkata dengan suara rendah. “Kamu bisa membaca ketakutan orang lain, maka seharusnya mengerti kata-kataku, kan? Aku beritahu, jangan gunakan trik itu padaku. Meskipun aku punya ketakutan, ketakutanku tidak ada di dunia ini. Kamu bisa menciptakan mimpi, tapi seharusnya terbatas pada aturan dunia ini. Jadi maaf, karena aku bukan milik dunia ini.”
Makhluk kecil meronta, cahaya pada tanduk di dahinya terus mengenai Dewey. Namun, akhirnya matanya menunjukkan rasa takut dan putus asa. Karena cahaya itu adalah sihir untuk menciptakan ilusi. Akan tetapi tidak berefek pada orang ini.
“Tuan….”
Tepat ketika Dewey merasa marah, suara gembira penyihir terdengar dari belakang.
__ADS_1