Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 40: Tuhan ‘Memberkati’?


__ADS_3

Tendang!


Gol!


Inter Milan 2 - 1 AC Milan.


Grosso yang hebat, meneruskan tradisi gemilang sepak bola Italia. Facchetti dan Maldini kesurupan saat ini. Dia bukan orang yang sama! Dia bukan orang yang sama!


“Apa-apaan ini?” Dewey menatap televisi dengan alis berkerut. “Kenapa siaran Serie A mengomentari Piala Dunia?”


Dia berjalan ke sana untuk menepuk televisi, kemudian mengeluarkan sebungkus rokok dari meja kopi, menyalakannya lalu menghisapnya.


Enak… sudah lama tidak merokok. Tidak ada rokok di Kekaisaran Roland.


Hm? Apa yang aku bicarakan? Kekaisaran Roland?


Dewey tiba-tiba merasa pikirannya agak kacau, kemudian sekelebat memori masuk ke benaknya dengan cepat.


Kemudian pemandangan di depannya, ruang tamu, sofa, meja kopi, TV, lemari, tiba-tiba berputar, diikuti benda di sekitar, lalu berubah menjadi pusaran besar. Dewey berdiri di tengah pusaran dan segera dihisap.


S-sial! Derby Milan-ku! Biarkan aku tonton sampai habis...


Seperti ada ledakan di benaknya, kemudian seperti ada yang terus mengetuk kepalanya.


Dewey merasa kepalanya sakit hingga mau meledak.


“Argh….” Dewey mengerang sambil memegang kepalanya, tetapi menemukan bahwa kepalanya basah.


Apa yang terjadi?


Dewey membuka mata.


Dia akhirnya sadar.


Ruang tamu, sofa, televisi, Derby Milan… semua hanya mimpi.


Saat ini Dewey terbaring di sebuah rakit. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya berantakan. Dia juga merasa sedikit dingin.


Dia memijat kepalanya dan masih terasa sakit. Rasanya lebih buruk dari sakit kepala migrain yang Dewey alami di kehidupan sebelumnya.


Dewey mulai mencoba memijat titik akupuntur di kepala untuk menghentikan rasa sakit. Namun, dia segera menemukan masalah pada kepalanya.


Tepat di tengah atas kepalanya, ketika menyingkirkan rambut, dia dapat merasakan benjolan kecil di sana.


Itu sebuah tanduk!


Gejala sisa pingsan akhirnya menghilang. Dewey menghela napas dan mengingat kesepakatannya dengan Chris.


Dan benar, tanduk. Haha, ada tanduk di kapalaku sekarang.


Tanduk ini keras dan dingin, menyatu dengan kulit dan tulang di kepalanya. Sama sekali tidak seperti ‘transplantasi’.


Untungnya tidak terlalu panjang, hanya sepertiga jari dan setebal ibu jari.

__ADS_1


Dewey terus menyentuh tanduk di kepalanya. “Aish, entah dari bahan apa Chris membuatnya. Sepertinya bukan tulang.”


Saat ini tidak ada ombak di laut. Di sekitar mereka adalah lautan luas, mereka jelas telah jauh dari pulau kecil menakutkan itu.


Rakit di bawah tubuhnya adalah rakit yang dia buat di pulau sebelumnya. Sama persis. Bahkan jahitan di mana strip kain terhubung pun persis. Itu dijahit dengan ranting tajam kecil sebagai jarum dan kulit kayu yang digosok sampai halus sebagai benang.


Bukankah rakit ini telah tenggelam? Bisa-bisanya Chris mengembalikannya. Sungguh hebat.


Ada juga dua orang gadis.


Joanna dan Vivian juga berbaring di rakit. Mereka berpelukan dengan mata terpejam, napasnya teratur, jelas sedang tidur.


Melihat kelopak mata mereka berdua bergerak, pertanda akan bangun, Dewey segera mengacak rambutnya. Setelah berpikir, dia menarik kain di tubuhnya untuk membungkus kepala, membuat topi seperti pelaut.


Vivian sadar terlebih dulu. Dia membuka matanya, lalu menatap Dewey sejenak dengan linglung. “Hm… sudah berapa lama aku tidur?”


Dewey tersenyum. “Belum lama.”


Joanna tiba-tiba menjerit, “Argh…. Di mana ombak?! Di mana ombak?! Di mana badai?!”


Dewey mengerjapkan mata, menatap Joanna sambil menahan senyum. “Badai apa? Ombak apa?”


Joanna tampak bingung. “Aku ingat kalau kita tergulung ombak dan badai, kemudian rakit kita tenggelam.”


Dewey menatap wajah Joanna lalu menghela napas. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. “Apakah kamu demam?” Dia menunjuk sekeliling. “Lihat, bukankah kita ada di rakit dan baik-baik saja? Astaga, kamu pasti kelelahan sehingga bermimpi buruk.”


Vivian malah menimpal, “Eh… a-a-aku juga bermimpi kita tersapu ombak dan ra-rakit tenggelam.”


Dewey diam-diam mendesah. Tampaknya Chris benar, mereka tak akan mengingat apa yang terjadi setelah sadar.


Joanna berdiri, alisnya bertaut rapat. “Tidak ada badai, tapi mimpiku terlalu menakutkan dan nyata.”


Ekspresinya suram, alisnya berkerut, dia berusaha berpikir tetapi tidak dapat mengingatnya. Vivian menatap Dewey dengan mata besarnya, dia tampak bingung.


“Sudahlah….” Dewey agak bersalah. Dia tersenyum sambil berkata, “Aku rasa kalian terlalu lelah. Berbicara tentang mimpi, ternyata mimpi kalian sama. Sebenarnya aku juga bermimpi. Mimpiku ada hubungannya dengan kalian.”


“Apa?” sahut kedua gadis itu bersamaan.


Dewey tersenyum. “Aku bermimpi kalau aku berbaring di kasur yang nyaman di kastil, dengan kalian berdua di kedua sisiku.”


Dewey berkata sambil berjalan ke sana, lalu merangkul mereka.


Vivian langsung merona dan menunduk, sedangkan Joanna juga tampak malu, tetapi rasa kesal lebih mendominasi.


Plak! Dia menampar tangan Dewey, kemudian menendangnya.


Dewey hampir jatuh ke laut, dia tersenyum masam. “Itu hanya mimpi, untuk apa kamu begitu marah?”


“Diam! Jangan ungkit soal mimpi lagi!” Wajah Joanna masih merah.


Dia melihat sekeliling dan tiba-tiba berseru, “Kita sudah terlepas dari bahaya! Kita sudah pergi dari pulau itu!”


Melihat lautan luas di sekeliling, ketiga orang itu bersorak. Namun, Dewey hanya berpura-pura.

__ADS_1


“Cobai sihir kalian,” ucap Dewey.


Vivian dan Joanna mengeluarkan sihir, tetapi sepertinya masih ada sedikit masalah.


Vivian menggunakan sihir angin untuk mempercepat layar, tetapi hanya embusan angin sepoi-sepoi yang keluar, dan memberantakan rambutnya dan Joanna.


Sedangkan sifat Joanna lebih tergesa, dia ingin langsung terbang dari sini. Sayangnya, baru terbang sebentar, dia jatuh ke laut.


Dengan beberapa kundur, Dewey berenang menuju Joanna untuk menyelamatkannya. Penyihir malang ini telah menelan beberapa teguk air laut.


Air laut yang asin membuatnya tersedak. Setelah naik ke rakit, dia telungkup dan muntah.


“Sudahlah, penyihir-penyihir. Tampaknya kekuatan sihir kalian telah pulih sedikit, tetapi belum kembali normal. Hanya sedikit lebih baik ketimbang saat di pulau.” Dewey menatap Joanna sambil menahan senyum. “Joanna, kamu hanya bisa terbang sejauh belasan meter ketika di pulau. Tapi tadi kamu terbang lebih dari dua puluh meter, lho.”


“Kamu menertawai aku! Uek!” Joanna baru saja ingin membalas, tetapi sesuatu keluar dari tenggorokannya, dia telungkup dan muntah lagi.


Dewey memicingkan matanya tersenyum. “Aku rasa, efek sihir kalian ditahan masih akan bertahan untuk beberapa waktu meski kita sudah pergi dari pulau itu. Efek tersebut akan menghilang perlahan, tidak bisa dalam sekejap. Aku tebak, dua hari lagi sudah bisa kembali normal.”


“Bagaimana kamu tahu? Huh!” tanya Joanna dingin.


“Aku tebak.” Dewey mengedikkan bahu.


Sebenarnya, Chris yang memberitahunya.


Dua hari tidak terlalu sulit untuk dilewati, yang penting mereka tidak mengalami badai. Satu lagi, harus menahan lapar selama dua hari.


Mereka hanya bisa makan rimpangan tanaman ketika di pulau. Sebelum naik rakit, Dewey memikirkan segala cara untuk menggali lebih banyak untuk cadangan, tetapi jumlahnya terlalu sedikit. Hanya bisa bertahan satu hari.


Makanan mereka sudah habis petang ini.


Mereka bertiga sedang dalam masa pertumbuhan sehingga mudah lapar. Beberapa hari terakhir hanya makan sedikit, bertahan sampai sekarang sudah batasnya.


Dewey lagi-lagi mengincar sangkar yang menggantung di pinggang Vivian.


Setan Ilusi yang gemuk bak bola.


Vivian sudah memiliki pemahaman tentang Dewey. Melihat tatapan Dewey semakin sering menyapu sangkar kecilnya, bagaimana mungkin dia tidak mengetahui niatnya?


Gadis bodoh itu memeluk sangkarnya erat, tidak berhenti menatap Dewey dengan tatapan memohon.


Tuhan Yang Maha Esa, berkatilah Vivian kecil yang malang, dan juga Juju.


Pada malam ini, Tuhan Yang Maha Esa akhirnya menerima doa Vivian untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir.


Cahaya muncul di ujung laut, lalu semakin dekat. Dewey tebak kalau itu adalah sebuah kapal.


Tubuh lesunya langsung bersemangat seketika. Joanna dan Vivian juga berdiri, berteriak dan melambaikan tangan pada kapal.


Dewey dengan tenang menatap kapal itu sejenak.


Semakin dekat, terlihat sepasang layar. Kapal itu tidak besar dan agak rusak, tetapi ada hal yang membuat alis Dewey terangkat.


Bendera yang berkibar di tiang kapal itu berlatar belakang hitam, dengan gambar tengkorak dan dua pedang bersilang di bawahnya.

__ADS_1


Bendera bajak laut?


Dewey tersenyum. Tuhan sungguh baik padaku, ternyata mengantarkan sebuah kapal bajak laut!


__ADS_2