
Penyihir lebih keras kepala dari yang dibayangkan, tapi Dewey memiliki cara untuk melawannya.
“Jaga dia, jangan sampai dia kabur. Jalan lupa bahwa dia adalah seorang penyihir, cukup tidak membiarkan kekuatan sihirnya kembali. Penyihir yang kehilangan kekuatan sihir bahkan lebih lemah dari orang biasa.” Dewey berpesan pada dua ksatria yang bertanggung jawab menjaga tawanan. “Ingat, siram dia dengan air dingin setiap beberapa saat. Pastikan penyihir ini tidak memiliki waktu untuk tidur maupun bermeditasi. Rangsang dia setiap saat agar dia dalam kondisi sadar.”
Kekuatan sihir adalah kekuatan spiritual. Ketika manusia kelelahan, cara paling umum untuk memulihkan tenaga adalah tidur. Penyihir juga bisa melakukannya dengan bermeditasi. Selama tidak membiarkannya punya kesempatan untuk memulihkan kekuatan spiritual, maka penyihir tak lebih hanya orang biasa yang lemah.
Dewey kemudian kembali ke kamarnya, tapi di depan pintu, dia bertemu Sia,- pelayannya yang setia, dan dua ksatria yang berekspresi ambigu.
“Ada apa?” tanya Dewey tersenyum lembut.
“Tuan Muda, sudah siap. Apakah Anda akan masuk sekarang?” Seorang ksatria tampak menyanjung.
Dewey mengerucutkan bibir. Dia tidak mengerti maksud ksatria itu, hanya mengibaskan tangan, lalu masuk ke kamarnya. Di belakang, pelayan segera menutup pintu dari luar.
Kedai bir murah ini tentu tidak akan ada kamar mewah. Tapi kamar ini termasuk bersih setelah dirapikan. Dewey agak terkejut, dia segera mengerti makna dari senyum ambigu bawahannya tadi.
Gadis berkaki panjang itu duduk di sebuah kursi di kamar, dengan ekspresi lelah dan tangan kaki diikat. Demi memastikan kesenangan majikannya tidak terganggu, bawahan yang teliti mengingat gadis ini dengan tendon sapi.
Melihat si bajingan kecil berderap masuk selangkah demi selangkah, Joline barulah benar-benar merasa takut.
Anak ini terlihat masih sangat kecil. Anak seusia itu mungkin tidak akan melakukan hal menakutkan padanya. Akan tetapi, Joline tahu pasti ‘godaan’ macam apa yang bisa dia timbulkan kepada pria.
Sebenarnya, Joline tidak takut jika Dewey akan mendambakan penampilan seksinya. Dia justru khawatir karena bangsawan kecil ini terlalu kecil dan tampaknya bukan orang yang menyukai wanita cantik. Ini membuat Joline tidak dapat memiliki kesempatan untuk menggunakan senjata terhebatnya.
Dia mengerti daya mematikan dari penampilannya bagi pria. Penampilan seksi selalu menjadi senjata yang pandai Joline gunakan. Ada banyak tim petualang dan organisasi tentara bayaran di kekaisaran, sedangkan dia hanya anggota dari tim petualang kecil. Joline bisa mempertahankan tim ini dan independensi tanpa ditelan karena dia adalah senjata berbakat yang pandai memanfaatkan wanita.
Saat diperlukan, dia tidak keberatan untuk dirugikan sesekali. Tapi syaratnya harus ada pertukaran yang setimpal. Misalnya, parang yang terakhir kali diberikan oleh kapten tentara bayaran, dan penyihir yang kali ini direkrut dengan susah payah. Itu semua berkat penampilan seksinya.
Joline yang kini berusia 20 tahun adalah rubah kecil yang terjun di masyarakat. Dia pandai memanfaatkan penampilannya untuk memikat pria yang mendekatinya dengan tujuan tertentu, juga pandai melindungi dirinya - tidak akan terlalu merugi.
__ADS_1
Contohnya kali ini, dia tak menyangka jika dirinya dapat menarik seorang penyihir untuk bergabung yang mana merupakan bisnis paling membanggakan dalam karir petualangan singkat Joline. Dengan bergabungnya penyihir cukup untuk meningkatkan kekuatan tim petualang kecilnya setidaknya dua level.
Kali ini dia melakukan perjalanan ke selatan provinsi Cotte sebenarnya untuk bersembunyi saja. Terakhir kali dia merayu seorang baron di utara wilayah bangsawan. Baron itu terpesona setengah mati pada Joline sampai-sampai memberikan baju besi kulit yang disihir kepadanya. Alhasil, rubah kecil ini melarikan diri sebelum sang baron mendapatkan keuntungan sesungguhnya.
Sialnya malah mengalami hal semacam ini di perjalanan menuju selatan! Tak sangka akan bertemu bangsawan yang membawa banyak pengawal di pedalaman seperti ini! Tak sangka jika bangsawan ini akan menggodanya di depan umum tanpa memikirkan status sendiri! Lebih tak sangka lagi jika tim petualangnya yang memiliki penyihir akan dikalahkan oleh anak buah bangsawan!
Heran, bukankah penyihir itu membual tentang kehebatannya ketika tergiur padanya? Akhirnya malah dikalahkan oleh seorang anak kecil!
Kalau dari awal tahu, seharusnya ia bersabar ketika Dewey bersiul padanya.
Ia memang lupa diri setelah penyihir bergabung.
Melihat pemuda bangsawan yang mendekatinya, Joline menghela napas dalam hati dan memutuskan, baiklah! Jika dia memang ingin… melecehkan dirinya, ia akan memejamkan mata dan menganggap ditindih sekali oleh hantu.
Dibandingkan dengan ini, yang membuat Joline sakit hati justru ketiga senjata sihir yang jatuh ke tangan Dewey. Parang itu diberikan oleh seorang kapten tentara bayaran yang mendambakan kecantikannya. Baju besi kulit diberikan oleh baron dari utara yang bodoh. Ini semua bukan apa-apa.
Tapi busur dan anak panah penghancur iblis itu… itu warisan leluhur!
Joline berpikir cepat dalam hati. Mempertimbangkan usia Dewey, Joline memutuskan untuk berpura-pura polos. Ya, begitu! Sedikit ekspresi malu, ditambah sedikit tatapan takut dan polos. Ini semua sangat menarik bagi lelaki usia belia. Siapa tahu tak hanya bisa menipu Dewey untuk melepaskannya, justru bisa mendapat sedikit keuntungan?
Joline telah memulai pertunjukannya. Dia memejamkan mata, sedikit membuka mulut, bulu mata panjangnya bergetar, seperti kelinci kecil yang ketakutan dan kasihan. Meskipun umur 20 tahun berpura-pura sebagai gadis kecil agak tak cocok, pemuda sekecil ini pasti tidak memiliki banyak pengalaman tentang wanita. Selain itu pengikut dan pelindung yang dia bawa juga tidak banyak, seharusnya bukan bangsawam dari keluarga terkemuka. Mungkin hanya lelaki kaya pedesaan dengan beberapa gelar leluhur.
Joline sangat percaya diri dengan ekspresinya. Dia percaya jika hati Dewey akan melunak setelah melihat tampilannya, atau mungkin memperlihatkan sedikit rasa iba. Membangkitkan gairahnya juga pilihan yang bagus.
“Aku mohon, jangan….” Merasakan tangan Dewey telah menyentuh bahunya dan menelusur ke belakang, Joline langsung mengeluarkan ‘permohonan’ yang lembut dan lemah. Pada saat yang sama, tubuhnya bergerak kecil. Dia sangat berpengalaman. Gerakan seperti ini akan semakin memancing rasa posesif bagi pemuda yang tak berpengalaman.
Tangan itu meloloskan kancing baju besi kulit dari belakang, kemudian membuka tendon sapi. Joline merasa tubuhnya menjadi ringan. Baju besi kulit itu telah meninggalkan badannya. Lekuk tubuhnya yang indah sepenuhnya dipertontonkan.
Joline sangat memahami pesona tubuh sendiri, juga pandai memamerkannya. Jadi di balik baju besi kulit, dia hanya mengenakan pelindung dada yang tipis. Dada yang bulat nan kencang membusung angkuh. Dia bahkan diam-diam membusungkan dada, lalu sedikit membuka mata untuk mengintip Dewey.
__ADS_1
Kedua tangan Dewey terulur ke bawah tulang rusuk Joline untuk melepaskan tali. Joline mulai gugup setelah baju besi kulit dilepas sepenuhnya. Apa yang akan anak ini lakukan selanjutnya? Langsung memeluknya? Menindihnya? Atau mendaratkan kedua tangan itu di dadanya?
Selain gugup, Joline samar-samar merasa sedikit mengharapkan. Hm, anak ini agak kecil, namun tidak jelek.
Tepat saat pikiran Joline berkelana, hatinya tiba-tiba berdegup.
Sepertinya… terlalu tenang.
Benar, terlalu tenang!
Gerakan tangan Dewey sangat stabil dan lembut, terutama ketika membuka baju besi kulitnya. Dia sama sekali tidak berniat mengambil kesempatan dalam kesempitan. Setiap gerakan jarinya sangat bersih. Napasnya bahkan tidak memburu ketika sesekali menyapu bagian sensitif dari tubuh wanita.
Joline akhirnya tidak tahan untuk tidak membuka mata. Dia menemukan bahwa pemuda bangsawan ini berdiri di hadapannya, tetapi yang membuatnya frustrasi adalah aktingnya tadi jelas sia-sia. Karena Dewey tengah mengamati baju besi kulitnya dengan penuh minat. Ia begitu fokus sampai-sampai tubuhnya pun tak dilirik.
Aneh! Sialan! Apakah dia tidak melihat penampilanku sekarang? Joline tiba-tiba merasa jengkel.
Ia membusungkan dadanya yang naik turun di balik pelindung dada. Reaksi fisiologis yang terpicu oleh emosi membuat dua tonjolan kecil di dadanya samar-samar terlihat.
Ditambah separuh dada putihnya yang terekspos dan belahan itu…. Apakah anak ini bukan pria? Atau dia buta?!
Joline berdeham mencoba menarik perhatian Dewey. Tapi kemarahannya tampak sia-sia. Bangsawan kecil itu masih tidak melihatnya, justru membawa baju besi kulit menjauh, mencari sebuah kursi untuk duduk dan mengamatinya dengan tenang.
Joline terus berdeham. Suara dehamannya kian keras, hingga akhirnya tenggorokan terasa sakit. Ia mulai merasa konyol. Bangsawan kecil ini tidak sakit, kan?
Meskipun dia terlihat masih sangat kecil, seharusnya dia sudah mengerti beberapa ‘hal’ di usianya, bukan?
Akhirnya ketika tenggorokan Joline hampir pecah….
“Apakah tenggorokanmu sakit?” tanya Dewey dengan sangat santai.
__ADS_1
Dewey akhirnya mengangkat kepalanya dan melabuhkan tatapan pada Joline.
Hanya saja tatapannya jelas terlihat geli.