Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 9: Teknik Instan


__ADS_3

“Ah.” Dewey mengangguk paham. “Carikan sebuah kamar untuknya, biarkan dia buka sendiri kalau begitu.” Dewey tersenyum menatap gadis berkaki panjang itu. “Aku tidak punya maksud lain, hanya tertarik dengan baju besi kulitmu.”


“Anak sialan! Kalau kamu berani menyentuhku, aku akan membuatmu….” Gadis itu memaki.


Dengan wajah datar, Dewey berjalan ke depannya lalu mengulurkan satu jari dan menusuk wajahnya keras. “Aku sudah menyentuhmu, apa yang akan kamu lakukan padaku?”


Yang lain telah diikat dengan tali, prajurit banteng itu bahkan dirantai dengan rantai hewan yang entah ditemukan dari mana oleh dua ksatria.


Sedangkan si gadis berkaki panjang telah dibuat pingsan oleh penjaga keluarga Rollin, kemudian dimasukkan ke kamar Dewey. Sepertinya majikan kecil tertarik dengan gadis ini. Sebagai bawahan, kenapa mereka harus menolak kesempatan untuk menyanjung majikan?


Tidak memikirkan urusan kotor tentang ************, Dewey mengumpulkan semangat untuk memeriksa penyihir itu.


Penyihir yang telah dilucuti jubah abu-abunya, berdiri di depan Dewey hanya dengan pakaian dalam. Kaki tangannya diikat dengan tali. Awalnya, dia mencoba mengancam bangsawan kecil ini. “Apa kamu tidak takut menyinggung masyarakat sihir dengan memperlakukan penyihir seperti ini?”


Jawaban yang diberikan adalah sebuah tamparan. Tamparan tersebut membuat si penyihir bungkam.


Dewey mengusap tangannya yang sakit. Tampaknya tubuhnya ini masih terlalu lemah.


“Jika kamu menjawab beberapa pertanyaanku dengan patuh, aku akan mempertimbangkan untuk melepaskanmu.” Dewey duduk di kursi dan menatap penyihir yang diikat layaknya bakcang. “Aku tidak melihatmu melantunkan mantra ketika kamu menghasilkan bola api tadi. Apakah kamu sudah menguasai keahlian ‘instan’?”


Inilah yang membuat Dewey paling penasaran.


Ketika menggunakan sihir, penyihir pasti mengucapkan mantra. Itulah pengetahuan yang diberitahu buku-buku yang pernah Dewey baca.


Meskipun sudah ada beberapa penyihir top yang menguasai mantra pikiran cara melafalkan mantra dalam hati tanpa perlu mengeluarkan suara. Keahlian ini adalah ‘instan’ yang dilegendakan. Tapi keahlian sehebat itu memerlukan dukungan berupa kekuatan spiritual yang besar, serta pemahaman yang tepat tentang keahlian sihir.


Tapi hampir semua penyihir yang bisa melakukan itu adalah penyihir hebat di daratan. Keahlian instan ini tidak mungkin dikuasai oleh seorang penyihir dengan level terendah.


Tentu, selain mengandalkan kemampuan sendiri untuk menyelesaikan keahlian ‘instan’. Ada juga cara lain untuk menyelesaikannya. Metode yang paling dikenal adalah gulungan sihir.


Gulungan sihir yaitu gulungan mantra yang telah ditulis lebih dulu, dibuang ketika penyihir perlu bertarung. Setelah itu bisa langsung meledakkan sihir yang telah disimpan dalam gulungan sebelumnya.


Tapi gulungan mantra adalah bahan habis pakai sihir yang sangat berharga. Selain itu, semakin tinggi level sihirnya, semakin sulit pula untuk membuat gulungan. Saat ini gulungan sihir yang paling banyak digunakan hanyalah beberapa sihir level rendah. Kemampuan membuat mantra level menengah menjadi gulungan sihir telah menjadi harta berharga. Jarang terdengar jika mantra level atas dapat dibuat menjadi gulungan.


Oleh karena itulah Dewey sangat tertarik pada penyihir level satu ini. Karena dia tidak melafalkan mantra saat bertempur tadi. Sepertinya itu ‘instan’ yang dilegendakan.


Biarpun ‘instan’ penyihir itu hanyalah bola api dengan level terendah.

__ADS_1


Pada dasarnya, di dunia ini, level penyihir ditentukan secara ketat. Yang paling kentara adalah kuat lemahnya kekuatan sihir dan penguasaan keterampilan sihir.


Di antaranya penggunaan mantra adalah kriteria untuk menilai kualitas seorang penyihir.


Perlu merapal mantra saat menggunakan sihir adalah pengetahuan umum. Seringkali ketika mantra yang sama digunakan oleh penyihir berbeda akan terjadi situasi berbeda. Beberapa penyihir level tinggi telah meneliti berbagai cara menggunakan mantra. Bisa melafalkan mantra-mantra esoterik itu dengan cara cepat. Bahkan satu dua suku kata dapat dipersingkat, sehingga dalam pertempuran bisa melemparkan mantra lebih cepat dari musuh, maka di atas angin.


Hasil penelitian dari mantra sihir seringkali menjadi rahasia terbesar penyihir itu sendiri. Mereka tidak akan mengajarkannya kepada orang lain. Kalau tidak maka akan kehilangan keuntungan sendiri.


Adapun ‘instan’... itu benda yang bisa membuat penyihir mana pun menjadi gila atau rela mengorbankan apa pun demi mendapatkannya.


Dewey tidak bodoh. Dia tidak benar-benar berpikir bahwa keterampilan ‘instan’ ini dapat dikuasai oleh penyihir level satu yang hanya sedikit lebih tinggi dari murid penyihir. Dia menebak kalau penyihir ini telah menguasai cara yang mirip dengan teknik instan, atau metode pengganti yang mendekati teknik instan.


Karena jika penyihir di depannya memang orang kuat yang bisa teknik ‘instan’, dia tidak akan berakhir diikat seperti bakcang. Dan hasil pertarungan tadi seharusnya pihak Dewey yang kalah.


Penyihir ini pasti memiliki rahasia. Itulah yang membuat Dewey tertarik.


Menghadapi pertanyaan Dewey, raut penyihir ini agak jelek. Tatapannya agak menghindar. Dia masih bungkam, tak mau berbicara.


Dewey mengerutkan bibir. Dia tidak berharap si penyihir mengatakan rahasianya dengan patuh.


Dia mulai memeriksa jarahan yang diperoleh dari penyihir.


Sehelai jubah penyihir. Dewey melihatnya sekilas lalu melemparnya ke kompor. Jubah penyihir terbakar seperti kayu bakar. Lencana daun perak dimainkan sebentar oleh Dewey sebelum akhirnya berakhir di kompor juga. Lencana ini adalah tanda sertifikat kualifikasi penyihir sesungguhnya yang dikeluarkan oleh Masyarakat Sihir. Selain itu, menurut Dewey si manusia yang berasal dari dunia lain, lencana ini juga memiliki sifat khusus, yaitu anti-pencurian dan anti-hilang.


Setelah disertifikasi oleh Masyarakat Sihir, lencana ini hanya bisa dipakai oleh penyihir yang memilikinya dan tidak boleh meninggalkan tubuh penyihir lebih dari jarak tertentu. Kalau tidak akan meleleh. Selain itu, lencana ini juga bisa memancarkan gelombang sihir yang tercetak di sana. Itu adalah tanda anti-pemalsuan yang bikin orang biasa sulit untuk membuat lencana serupa lalu berpura-pura menjadi penyihir.


Jadi, lencana tersebut tidak berguna bagi Dewey. Melihat lencana dibuang ke kompor, penyihir yang diikat seperti bakcang tampak sakit hati.


“Lihat, sebenarnya aku tidak punya niat jahat.” Dewey tersenyum. Senyum bak iblis menghiasi wajah mudanya yang pucat. “Aku hanyalah seorang pemuda yang sangat tertarik dengan sihir. Jika kamu mau menjawab beberapa pertanyaan dariku, aku akan melepaskanmu.”


Penyihir masih membisu.


Dewey hanya bisa lanjut memeriksa barang rampasan.


Sebuah tas kecil juga ditemukan dari jubah si penyihir. Tas dituang, beberapa permata dengan kualitas berbeda-beda jatuh. Bagi orang biasa, ini adalah harta. Namun bagi penyihir, ini hanyalah alat untuk menyimpan kekuatan sihir. Dewey melihat sekilas, lalu memasukkannya ke dalam saku tanpa sungkan.


Dua lembar perkamen tercatat beberapa mantra sihir level rendah. Dewey melihat sekilas dan matanya berbinar.

__ADS_1


Meski dia sering membaca buku-buku terkait pengetahuan sihir, karena peraturan ketat di bidang penyihir, mantra sihir sungguhan tidak mungkin di catat di buku. Buku hanya berisi pengetahuan teoritis tentang sihir, tidak mungkin ada mantra beneran berlevel terendah sekalipun.


Mantra bola api level terendah pun tidak ada!


Dengan kata lain, siapa pun bisa memahami sihir melalui buku, tetapi tak mungkin menjadi penyihir.


Misalnya, Dewey. Dia sekarang memiliki banyak pengetahuan teoritis dan umum tentang bidang sihir. Tapi tidak mengetahui satu mantra pun.


Ini semua menjaga tradisi kuno bidang penyihir. Warisan penyihir hanya boleh disampaikan kepada murid oleh penyihir tua sendiri. Tidak boleh disebarluaskan.


Sedikit mirip dengan ‘kontrol senjata’ di dunia itu. Begini analisis Dewey, di dunia itu, semua orang bisa mengetahui karakteristik, model, dan prinsip senjata melalui Internet atau buku. Tapi tak mungkin membuat senjata asli dengan kekuatan perorangan.


“Oh, apa ini?”


Setelah membersihkan barang rampasan, tersisalah beberapa botol transparan kecil. Mulut botol disegel dan ada sedikit bubuk warna berbeda di dalamnya.


Dewey tidak berani membuka botol-botol itu dengan babi buta. Karena kebanyakan barang bawaan penyihir berbahaya. Mungkin saja botol tertentu adalah barang berbahaya yang dapat mengubah manusia menjadi batu.


“Tampaknya tebakanku benar.” Dewey duduk tegak, menatap tawanannya sambil tersenyum. “Kekuatanmu yang sesungguhnya tidak kuat. Kamu hanya penyihir level rendah. Ini sudah tidak diragukan lagi. Keahlian instan yang kamu tunjukkan dalam pertarungan tadi adalah metode pengganti oportunistik, kan? Sekarang aku memberimu dua pilihan. Katakan dengan patuh untuk menuntaskan rasa penasaranku, lalu aku akan melepaskanmu. Atau tidak… kamu akan menderita.”


Penyihir masih mencoba bermain trik. “Kamu seorang bangsawan! Apa kamu tidak merasa jika memperlakukan seorang penyihir seperti ini merendahkan harga dirimu?”


Dewey diam.


Bangsawan lalu kenapa?


Sebenarnya, Dewey tidak terima dirinya datang ke dunia ini. Dia merasa dirinya tidak memiliki tujuan hidup di dunia yang sepenuhnya asing ini. Ketika kehilangan segala-galanya dari dunia itu; impian, teman, keluarga, cinta….


Lalu datang ke dunia yang benar-benar asing dan mendekati ‘putus’. Beberapa tahun sebelumnya, Dewey merasa kehidupannya berantakan. Dia tidak menemukan tujuan hidup sedikit pun.


Hal satu-satunya yang bisa menarik minatnya sekarang adalah bidang ‘sihir’ di dunia asing ini.


Untuk hal lain… Dewey tidak peduli!


Dan demi menuntaskan rasa penasarannya terhadap sihir, Dewey menghasut bawahannya untuk menyerang beberapa orang asing ini di kedai bir. Apakah tindakan ini bermoral? Dewey lebih-lebih tidak peduli!


Dia, sebagai Dewey Rollin maupun seseorang dari kehidupan sebelumnya, tidak pernah menjadi orang baik.

__ADS_1


__ADS_2