
Rumah leluhur keluarga Rollin terletak di barat daya Tanah Datar Rollin. Sebuah anak Sungai Rollin mengalir lewat sini, tanah di tepiannya subur. Ada beberapa cabang peternakan dan kota di sekeliling. Menyusuri anak sungai ini akan melewati lembah yang indah.
Di sinilah keluarga Rollin yang hebat pertama kali berasal. Beberapa ratus tahun lalu ketika leluhur keluarga Rollin hanya bangsawan tingkat rendah di wilayah desa kecil, keturunan keluarga Rollin mulai menyebar di negeri ini.
Kereta melewati hutan hitam dengan pepohonan hijau subur di kedua sisi dan udara segar. Di sepanjang jalan datar, dari dalam kereta bisa melihat lembah kecil di sebelah kiri dan menara tinggi yang merupakan rumah leluhur keluarga Rollin di sebelah kanan.
Setelah ratusan tahun kemuliaan keluarga, desa kecil ratusan tahun dulu sudah tiada. Rumah leluhur sebelumnya telah mengalami banyak renovasi dan rekonstruksi setelah berabad-abad, sudah berukuran cukup besar.
Dinding batu merah mengelilingi kastil yang dibangun dengan batu-batu putih yang digali dari lembah di sebelah. Dengar-dengar, awalnya ada sebuah bukit di sana, tetapi penambangan batu selama ratusan tahun telah mengubahnya menjadi lembah.
Putra tertua kepala keluarga datang ke sini tentu menarik perhatian ekstra. Tiga ratus pasukan teritorial yang tinggal di belakang kastil telah mengenakan peralatan dan berbaris di bawah tembok merah di luar kastil. Gerbang berbentuk persegi panjang dan setengah lingkaran membuat Dewey yang duduk di kereta merasa sangat mengesankan. Dilihat dari pandangannya, dinding batu tebal ini dapat digunakan sebagai pertahanan yang kokoh bila diperlukan.
Ini memang keluarga seni bela diri kekaisaran. Tiga ratus pasukan teritorial yang tinggal di kastil jelas terlatih dengan baik. Mereka duduk tegak di atas kuda, dan cukup terampil dalam menangani kuda, peralatannya juga bagus. Dewey baru kemudian tahu bahwa ketiga-ratus pasukan yang tinggal di kastil leluhur keluarga Rollin ini adalah yang terbaik yang dipilih dari pasukan swasta di seluruh wilayah Tanah Datar Rollin. Pelatihan mereka cukup bagus, bahkan tidak kalah dari pasukan lokal kekaisaran.
Hutan hitam di luar kastil merupakan tempat berburu alami. Beberapa acara berburu akan diadakan di sini setiap tahun, yang merupakan latihan terselubung bagi para prajurit ini.
Bangunan utama kastil memiliki dua menara, salah satunya sangat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari bukit kecil yang berada jauh dari sana. Dewey yang pernah mempelajari sejarah keluarga tahu bahwa ini karena kepala keluarga Rollin generasi sebelumnya, aneh. Kepala keluarga itu seorang komandan militer, tetapi ia sangat tertarik pada astrologi. Ia bahkan menikahi seorang ahli nujum. Menara tinggi itu dibangun untuk memudahkan istrinya mengamati bintang di langit pada malam hari.
Karpet merah terbentang dari gerbang kastil ke tempat kereta Dewey berhenti. Dewey baru saja membungkuk dan hendak turun ketika seorang lelaki tua berambut putih yang telah lama menunggu muncul di sebelahnya. Pria tua ini tinggi dan kurus, dalam seragam abu-abu, dengan tata krama kolot dan serius, konservatif dan hormat.
Begitu Dewey turun kereta dan baru menginjak tanah, pria tua ini membungkuk dalam kemudian berkata dengan suara rendah dan lambat. “Tuan Muda, aku adalah Hill Rollin, pengurus rumah yang tinggal di sini. Aku sudah mengetahui kabar kedatangan Anda tiga hari yang lalu. Semua orang di kastil telah siap untuk menyambut Anda. Tolong ikut aku.”
Selesai berbicara, pengurus rumah tua ini berbalik lalu membawa Dewey ke tangga. Tidak ada yang salah dari etikanya, hormat dan sopan, rendah hati tapi tidak menyanjung. Membawa Dewey ke karpet merah di tangga, dia sendiri berjalan di luar karpet, membiarkan Dewey menikmati kehormatan semacam ini.
Dewey tidak sempat untuk melihat detail dekorasi interior kastil. Hal satu-satunya yang membuat Dewey terkesan adalah ada bendera besar seperti api di dinding setelah memasuki gerbang kastil.
Bendera setinggi tujuh atau delapan meter, dengan lebar enam meter, menempati bagian depan dinding. Ini adalah bendera keluarga. Dua pedang tajam disilangkan dengan iris melilit bilahnya. Api merah menyala dengan mahkota di sana.
Masuk ke aula di lantai pertama kastil, di depannya ada bendera yang begitu megah, segera melapisi suasana khusyuk di sini.
Kemudian semua pelayan di kastil berdiri di kedua sisi aula dengan seragam rapi, menyambut kedatangan Dewey. Dewey tidak terlalu tertarik dengan ‘ritual’ aneh ini. Dia mengangguk santai lalu berbisik, “Pengurus Rumah, tolong bawa aku ke ruang kerja sekarang. Sedangkan yang lain bubar saja, teruskan pekerjaan kalian.”
Pengurus Rumah Hill segera melaksanakan perintah Dewey. Dewey segera dibawa ke ruang kerja.
Jika bisa, Dewey lebih suka menyebutnya sebagai perpustakaan.
Karena tempat ini terlalu besar.
Di ruangan bundar, bagian atas juga berbentuk persegi panjang dan bundar, serta dihiasi beberapa pola plester aneh. Ada juga beberapa patung plester berdiri ke kedua sisi. Banyak di antaranya adalah beberapa tokoh terkemuka yang muncul dari sejarah keluarga.
Ruangan ini dikelilingi oleh rak buku yang tinggi. Heran! Rak-rak buku ini setinggi dua lantai. Di sana penuh dengan semua jenis buku. Dewey perkirakan ada setidaknya puluhan ribu buku yang disimpan di sini. Selain itu, ada banyak lemari besi yang menyimpan beberapa benda penting, seperti peta keluarga, atau beberapa dokumen kuno dan penting.
Tentu saja, sebagai keluarga seni bela diri, bahkan ruang kerja pun ada aura seni bela diri. Dinding tepat di seberang pintu ruang kerja tergantung pedang dua tangan besar dan kapak pemotong besar. Kedua senjata itu menggantung di dinding. Dilihat dari cahaya dingin yang berkilau pada bilah, jelas sering ada pelayan yang membersihkan dan merawatnya.
Pada rak buku di salah satu sisi dinding terdapat beberapa lemari besar yang sengaja dikosongkan. Lemari berisi berbagai senjata. Tapi dilihat dari modelnya, ini semua telah menjadi barang antik.
Di sini ada busur pendek yang dibuat oleh militer kekaisaran seratus tahun lalu. Ada juga pedang ksatria kuno, pedang panjang, dan busur kayu besi hitam.
Dewey tertarik dengan senjata-senjata ini. Dia bisa melihat bahwa barang-barang antik ini cukup terawat. Meskipun sudah berusia hitungan abad, beberapa di antaranya masih bisa memancarkan kilau dingin.
“Beberapa ini pernah digunakan oleh leluhur keluarga yang terhormat dari generasi ke generasi.” Pengurus rumah Hill berkata dengan suara konstan. “Ini semua mencatat kemuliaan leluhur keluarga Rollin.”
Karena bentuk ruang kamar, suara akan bergema dan menambah rasa kekhidmatan.
Membelai meja kuno kayu mawar hitam dengan lembut, Dewey menatap sekeliling dengan tenang.
Bisa dilihat bahwa setiap benda di sini dirawat dengan ketat dan dibersihkan dengan cermat. Namun jejak usia juga terlihat jelas. Banyak tempat di rak buku telah dipoles hingga halus dan mengkilap. Dewey curiga jika meja besar di bawah tangannya ini berusia lebih tua dari pengurus rumah.
“Tempat ini dulunya adalah pusat kekuatan keluarga Rollin. Dulu tempat ini adalah tempat di mana para kepala keluarga berpikir dan membuat berbagai keputusan. Setiap benda di sini meninggalkan jejak kejayaan sebelumnya.” Pengurus rumah berkata dengan suara rendah. “Meskipun akhirnya pusat keluarga pindah ke ibukota kekaisaran, berdasarkan tradisi keluarga, setiap kepala keluarga yang kembali ke kastil atau melakukan kunjungan singkat tidak boleh istirahat di kamar pada malam pertama, harus bermalam di ruang kerja ini, untuk memotivasi diri agar tidak melupakan sejarah kejayaan keluarga dan tanggung jawabnya sendiri.”
Terdiam sejenak, pengurus rumah melihat Dewey sekilas lalu menunduk. “Anda adalah putra sulung Earl yang merupakan kepala keluarga saat ini. Anda datang mewakilinya untuk mengawasi kastil. Malam ini Anda….”
Dewey mengangguk kooperatif lalu tersenyum. “Tradisi adalah tradisi, harus ditaati, tak terkecuali aku. Meskipun aku bukan kepala keluarga, aku adalah putra sulung ayahku dan mewakilinya datang ke sini. Malam ini aku akan bermalam di ruang buku sesuai tradisi.”
__ADS_1
Raut pengurus rumah melembut. Nadanya menjadi lebih hangat. “Baik, aku akan menyuruh orang untuk mempersiapkannya. Satu lagi, aku tahu bahwa Anda di sini mewakili Earl untuk memeriksa properti wilayah. Dari mana pekerjaan Anda akan dimulai? Setelah mendapat kabar kepulangan Anda, aku telah menyuruh orang merapikan dan menyiapkan akun dan buku besar pendapatan dan pengeluaran properti keluarga tahun ini. Kapan Anda akan melihatnya? Atau tunggu….”
Dewey mengitari meja lalu duduk di sofa yang agak keras tapi nyaman di balik meja besar. Dia berpikir sebelum menyela sambil tersenyum. “Pengurus Rumah, sekarang aku merasa lapar setelah melakukan perjalanan panjang. Tolong siapkan makanan untukku, kemudian aku rasa aku bisa mulai membaca buku-buku yang telah kamu sediakan.”
Tampaknya kinerja di sini bagus.
Dewey segera menikmati makanan aristokrat khas selatan. Setelah menyantap pai labu yang manis dan menyeka mulut, pengurus rumah Hill menginstruksi dua pelayan pria masuk ke ruang buku.
Dua pelayan itu mendorong satu gerobak yang berisi buku-buku tebak. Seluruh buku-buku ini mungkin lebih tinggi setengah kepala dari dari Dewey.
“Ini semua akun tahun ini?” Dewey mengernyit. Dia mulai curiga jika pengurus rumah tua ini ingin mengerjainya.
“Tuan Muda, ini semua iya.” Hill tua menjawab dengan serius. “Dokumen di sini mencakup luas pengukuran tanah wilayah keluarga, luas tanah subur, pengeluaran dan pendapatan fiskal enam kota besar dan kecil di selatan provinsi Cotte. Pengeluaran pasokan logistik pasukan keluarga yang tersebar di tiga tempat itu, gaji prajurit, persediaan, konsumsi prajurit, dan lain-lain. Ada juga panen gandum dan anggaran beberapa gedung baru yang dibangun tahun ini. Selain ini, aku juga membuat beberapa anggaran untuk tahun depan, tetapi belum menyelesaikannya karena terburu-buru. Aku pikir Anda tidak akan pergi dari sini dalam waktu dekat, jadi kita masih punya waktu.”
Dewey menyentuh hidungnya melihat akun bak gunung kecil di depannya. “Semuanya ada di sini?”
“Ini hanya sebagian. Sisanya….” Pengurus rumah tua akhirnya mengatakan sesuatu yang kurang serius. “Sisanya, aku rasa Anda perlu melihatnya selama satu minggu.”
Dewey mulai mengernyit. Dia menilai pengurus rumah ini dalam diam.
Pengurus rumah tua ini tidak seperti sedang bercanda. Tapi, dia tidak dengan naifnya berpikir kalau anak berusia tiga belas tahun dapat mengerti akun-akun ini, kan? Apalagi berpikir bahwa anak berusia tiga belas tahun benar-benar sanggup memikul seluruh harta keluarga.
Dia seharusnya tahu bahwa ia dikirim ke rumah leluhur oleh kepala keluarga adalah sejenis pengasingan terselubung. Kalau begitu apa niat pria ini dengan memintanya memeriksa setumpuk akun ini?
Apakah pengurus rumah tua merasa tidak senang atas pulangnya tuan muda, takut ia mengambil otoritas yang semula ada di tangannya, sehingga melakukan unjuk rasa?
Kekuasaan bawahan sudah besar dan mulai naik ke atas kepala majikan?
Atau dia melakukan hal kotor dalam properti keluarga, dan sekarang memanfaatkan dirinya untuk lolos?
Semuanya ada kemungkinan.
Tapi Dewey tidak mengatakan apa pun, bahkan tidak mengajukan kecurigaannya sama sekali. Mengambil sebuah akun teratas lalu meniup debunya, dia membuka halaman pertama dan membaca dalam diam.
“Apakah pengurus rumah masih ingin mengatakan sesuatu padaku?” Nada Dewey menjadi dingin. “Aku tidak suka seseorang di sampingku ketika aku membaca.”
“Baik, Tuan Muda.” Kilat aneh muncul di mata pengurus rumah Hill. Dia kemudian membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya, berbalik dan membawa pelayan keluar.
Setelah pintu ruang kerja tertutup, Dewey meletakkan akun di tangan. Dia berdiri, berderap beberapa langkah di ruang kerja besar yang besar dan menggerakkan tubuhnya. Kemudian tersenyum tipis dan berbicara pada diri sendiri. “Tampaknya, terjadi hal yang patut dinantikan.”
Hingga malam tiba, pengurus rumah datang ke ruang kerja sebanyak dua kali. Pertama, menuangkan teh untuk Dewey. Kedua, membawa orang untuk menyalakan lilin untuk Dewey setelah langit gelap.
Pengurus rumah Hill terkejut karena Tuan Muda Kecil ini benar-benar membaca akun-akun itu.
Dia tidak sedang berpura-pura, tetapi membaca dengan serius. Beberapa akun terbuka di meja. Sepertinya Dewey sedang menghitung angka. Setelah pengurus rumah tua membawa orang untuk menyalakan dua puluh kandil di ruang kerja, Dewey menanyakan beberapa hal terkait akun kepada pengurus rumah.
Dia tidak bertanya asal, setiap pertanyaan ada poinnya. Ini cukup membuktikan bahwa Tuan Muda ini bersungguh-sungguh. Dia benar-benar membaca akun-akun membosankan itu.
Apakah… apakah ini Tuan Muda Besar yang dirumorkan ‘idiot’ oleh keluarga di ibukota kekaisaran?
Meski telah berusaha menyembunyikannya, Dewey tetap menangkap ekspresi terkejut pengurus rumah tua. Dewey masih mengatakan sesuatu. Setelah pengurus rumah tua keluar lagi dari ruang kerja, dia baru kemudian menutup akun yang telah dibuka sampai halaman terakhir.
Sebenarnya… akun-akun ini sangat menarik.
Dewey menghabiskan waktu satu malam. Dia tidak benar-benar melihat angka-angka membosankan itu, apalagi memeriksa apakah akun ini telah dipalsukan. Bagaimanapun, dia bukan orang jenius. Dia yang sama sekali tidak memahami bisnis, tidak mungkin mengetahui benar palsunya akun.
Mungkin tak ada yang tahu bahwa Dewey membaca dengan cara berbeda yang tak bisa ditebak orang lain.
Siapa bilang kalau buku besar hanya untuk akuntansi?
Setidaknya, Dewey belajar banyak hal dari buku-buku ini. Hal-hal ini tidak pernah dicatat dalam buku-buku sejarah dan berkas-berkas yang mencatat sejarah keluarga.
Dilihat dari nama dan isi berbagai item di akun ini, Dewey langsung memahami cengkeraman keluarga Rollin atas wilayah tersebut.
__ADS_1
Di wilayah tersebut, keluarga Rollin hampir seperti membentuk sistem sendiri, bahkan memiliki otonomi yang cukup besar. Kekuasaan fiskal dan perpajakan di sini milik keluarga, bahkan pengangkatan hakim juga ditentukan oleh keluarga. Meskipun tarif pajak yang dikenakan sesuai dengan hukum kekaisaran, keluarga dapat menggunakan beberapa nama khusus untuk mengubah, mengurangi, atau menambah.
Yang penting, persentase tertentu dari pajak yang dikumpulkan diserahkan ke perbendaharaan pusat kekaisaran setiap tahun.
Lalu, kekuatan militer. Dilihat dari rincian penggunaan militer dalam beberapa akun ini, garnisun resmi kekaisaran di sini sangat sedikit. Hanya dua resimen infanteri yang menempat di pinggiran wilayah secara simbolis. Dan yang patut diperhatikan adalah persediaan dan bagasi kedua resimen infanteri ini disediakan oleh keluarga Rollin setiap tahun. Pihak kemiliteran kekaisaran tidak peduli.
Di sebagian besar wilayah, prajurit pribadi keluarga di wilayah itu yang menjaga keamanan dan ketertiban lokal.
Melalui beberapa akun ini, Dewey dengan mudah menguasai status quo ekonomi, politik, militer dan bidang lain dari keluarga Rollin.
Jika pengurus rumah itu tahu bahwa dia ‘membaca’ buku besar seperti ini, matanya pasti akan membelalak.
Dilihat dari akun-akun ini, Dewey sudah bisa memastikan setidaknya dua hal. Pertama, keluarga memiliki kontrol penuh atas tempat ini dalam hal pajak. Demikian pula dalam militer.
Ada sebuah pengetahuan umum penting dari dunia Dewey berasal. Dua poin penting dalam kedaulatan teritorial suatu negara adalah pajak dan garnisun.
Sekarang, kedua poin ini hampir telah dikendalikan oleh keluarga Rollin. Apa artinya ini?
Artinya, pemerintah pusat kekaisaran hampir kehilangan kendali atas wilayah keluarga Rollin di sini. Pusat kekaisaran telah kehilangan kendali atas kedaulatan setengah dari wilayah provinsi Cotte. Di sini hampir telah menjadi sebuah kerajaan merdeka.
Dewey bersandar di sofa dan berpikir. Situasi ini membuatnya merasa sedikit terkejut. Karena ketika pemerintah pusat suatu negara perlahan kehilangan otoritasnya, itu biasa pertanda awal akan terjadinya kerusuhan.
Dewey duduk sejenak. Kamar sangat hening, hanya suara lilin yang sesekali terdengar.
Pada saat ini, Dewey tiba-tiba berdiri dan berbalik, melihat dinding di belakang.
Di dinding ada rak buku besar yang dipenuhi dengan buku-buku tebal. Tidak ada yang aneh.
Tapi Dewey samar-samar merasa janggal. Perasaan tadi sepertinya benar.
Karena kekuatan spiritualnya lebih kuat dari orang biasa, Dewey lebih sensitif terhadap pergerakan di sekitar daripada orang biasa. Tadi, dia tiba-tiba merasa kalau dirinya sedang diintip seseorang.
Sebuah tatapan dari sudut tersembunyi di belakang seolah mengawasinya tanpa suara.
Tidak ada yang aneh dari rak buku. Tatapan Dewey menelusur ke atas.
Dinding di atas rak buku tergantung sederet potret.
Potret lukisan cat minyak ini berjajar, dari masa dulu hingga masa kini. Ini semua adalah potret kepala keluarga keluarga Rollin secara berurutan.
Pada posisi pertama di sebelah kiri, sosok yang agak tidak nyata pada kanvas yang terlihat paling lama dan tua itu adalah pria paruh baya berseragam kekaisaran. Pria di kanvas itu adalah mantan marshal kekaisaran. Leluhur keluarga Rollin yang memenangkan perang dan memberikan kontribusi besar bagi kekasaisaran, sekaligus memenangkan Tanah Datar Rollin ini dari Kaisar.
Orang ini terlihat sangat bersemangat, memiliki tatapan yang dingin dan keras persis seperti ayah Dewey, Earl Raymond. Tatapan itu sedang menatap Dewey lekat.
Dewey mencoba mundur beberapa langkah, kemudian berjalan ke kiri dan kanan dengan mata memaku lukisan minyak tersebut. Kemudian dia tersenyum dan menghela napas. “Aish, mungkin aku terlalu sensitif. Itu hanya lukisan minyak.”
Dia berbalik lalu mengambil sebuah akun.
Di belakang Dewey, mata mashal dalam potret itu tiba-tiba berkedip.
Benar, manusia dalam lukisan minyak memiliki mata yang hidup. Matanya yang menatap punggung Dewey mendadak berkedip.
Mata manusia dalam lukisan yang seharusnya kaku, tiba-tiba bergerak seakan hidup. Tatapan itu jatuh pada Dewey dengan rasa penasaran.
Saat ini Dewey yang seolah sedang membaca akun, spontan berbalik dan menatap lukisan di dinding.
Tatapan antara manusia dan lukisan bertabrakan.
“Tidak perlu berpura-pura lagi. Aku tahu bahwa kamu sedang melihatku.” Dewey mengangkat sendok perak di tangannya, yang dia gunakan ketika makan pai labu tadi. Sendok perak seterang cermin.
“Kamu melihatku, aku juga melihatmu dengan benda ini.” Dewey tersenyum pada lukisan di dinding. “Kamu tidak perlu berpura-pura lagi. Tapi, apakah kamu tidak tahu bahwa mengintip seperti ini adalah tindakan yang tidak sopan?”
“....”
__ADS_1