
Jika sebelah kiri adalah es dan salju, maka sebelah kanan seperti gurun.
Setiap tetes air di tanah ini seolah terbakar kering. Tanah ditutupi dengan kerikil, sementara beberapa tanah yang tidak tertutup pasir juga retak karena terlalu kering. Setetes air pun tidak dapat ditemukan di sini. Bahkan batu pun retak.
Kiri kanan lubang bundar besar ini memiliki kondisi yang bertolak belakang, membuat orang merasa gemetar.
Bagaimanapun Robert adalah kesatria berkarakter kuat, dia tersadar dari rasa terkejut dulu di antara semua orang.
“Aku tebak… pertempuran sengit pasti terjadi di sini tadi malam. Pertempuran ini tidak dapat dibayangkan oleh kita. Gadis penyihir bernama Vivian itu juga menghilang. Dia pasti bertempur dengan penyerang wanita itu di sini tadi malam,” analisis sang kesatria dengan raut suram. “Kita bisa abaikan hal ini. Masalahnya adalah di mana Tuan kecil sekarang? Dia sudah tidak ada di kamp ketika kita diselamatkan. Dia pasti disandera oleh penyerang wanita, bahkan mungkin….”
Robert tidak meneruskan ucapannya. Bagaimanapun, gunung saja bisa menjadi lubang. Kekuatan tempur penyihir begitu kuat. Kalau begitu memusnahkan seseorang seharusnya bukan apa-apa.
Ekspresi Robert sangat buruk, tetapi dia masih menyadari tanggung jawabnya. Bagaimanapun juga, dia adalah pemimpin tertinggi di antara semua orang. Dia tidak boleh membiarkan bawahannya murung. Dia menggertak gigi lalu berkata, “Situasinya mungkin tidak seburuk itu. Mungkin Tuan sudah melarikan diri, mungkin juga disandera oleh penyihir. Hal terpenting saat ini adalah menemukan Tuan!”
Kesatria segera memberi dua perintah. Pertama, orang yang masih bisa bergerak segera mencari di sekitar sana. Kedua, segera mengutus seseorang untuk mengirim surat ke kastil Rollin di provinsi Cotte.
Masalah telah di luar kendali Kesatria Robert dan lainnya.
Di mana Tuan Muda kecil sebenarnya?
Pertanyaan tersebut memenuhi benak setiap orang.
Apa yang sedang dilakukan Dewey saat ini?
Dewey sedang melakukan hal yang bahkan tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.
Dia sedang… naik naga.
Naik punggung seekor naga dan terbang di udara. Angin membuatnya tidak bisa membuka mata. Dia hanya bisa membungkus kepala dengan tas pakaian. Kedua tangannya dengan kuat mencengkeram sisik di punggung naga. Melihat makhluk besar ini terbang menembus awan, di bawah kakinya adalah lautan awan, Dewey ingin menjerit saking gembiranya.
“To-to-tolong ja-jangan ceng-cengkeram sisiknya.” Suara kasihan Vivian terdengar dari samping. Gadis penyihir telungkup di atas punggung naga, menempel erat padanya. Wajah kecilnya pucat pasi, tampak lemah. Melihat Dewey mencengkeram sisik naganya, gadis penyihir merasa sakit hati. “Di-dia akan me-merasa tidak se-senang. Na-naga adalah ma-makhluk yang angkuh. Hot Sun-ku i-ini ma-masih kecil. Di-dia tidak su-suka o-orang lain men-mencengkeram si-si….”
“Kalau tidak memegang sisiknya, aku bisa pegang bagian mana?” Dewey mengernyit. Begitu membuka mulut, angin masuk ke mulutnya, membuatnya batuk. Dia segera menunduk, lalu melihat gadis penyihir sekilas. “Angin begitu kencang. Bagaimana jika aku jatuh karena tidak memegang!”
Dewey berkata dengan kesal. “Aku bisa tidak mencengkeram sisiknya. Setelah lolos dari pengejaran kakakmu yang menakutkan itu, aku akan membuatkan tali kekang untuknya ketika tiba di tempat yang aman.”
Tali kekang?
Tuhan Yang Maha Esa, tolong maafkan Vivian kecil yang malang dan anak menakutkan ini.
Membuat tali kekang untuk naga. Apakah dia pikir naga adalah makhluk yang bisa ditunggang sembarangan?
Saat ini naga besar berwarna merah di bawah mereka, mengaum kesakitan.
Dewey berteriak, “Gawat, nagamu ini sudah tidak kuat!”
Vivian juga merasa sedih. “Hot Sun ma-ma-masih seekor na-naga muda. Di-dia baru saja ter-terluka dan mem-membawa dua o-orang. Di-di-dia….”
Di sayap kiri naga besar berwarna merah ini terdapat luka yang mengerikan. Luka ini membuat sayap naga agak lemah ketika terbang. Tubuhnya juga sesekali oleng.
“Cepat pikirkan ide!” teriak Dewey. “Kalau tidak kita berdua akan mati!”
“Se-semua barangku te-telah diperas olehmu. A-aku juga ti-tidak punya i-ide….” Vivian ketakutan. Mata besarnya berkaca-kaca lalu dia menangis keras.
“Huaaa! Dunia luar sungguh menakutkan! Guru, cepat selamatkan aku! Aku mau ibu dan ayah! Cepat selamatkan Vivian kecil yang malang!”
Hm? Dia tidak gagap saat menangis?
Dewey hampir jatuh dari punggung naga karena kesal dengan gadis bodoh ini. Bisa-bisanya dia menangis sambil memanggil ayah dan ibu layaknya anak kecil!
Dewey memaki dengan raut suram, tetapi saat ini naga di bawah tubuhnya akhirnya tidak tahan.
Dia bertarung sepanjang tengah malam sehingga kekuatan sihirnya terkuras habis. Setelah terluka parah, dia membawa majikannya kabur untuk waktu yang begitu lama, membawa dua orang. Sayapnya terluka pula. Sekarang dia sudah sampai batasnya.
Setelah dia mengaum kesakitan, Dewey merasa tubuh naga tenggelam. Naga besar ini jatuh dari langit!
“Sial, cepat pikirkan ide! Nagamu sudah tidak tahan!”
“Hua…. Ayah! Ibu! Ibu….”
“Jangan nangis lagi, kalau tidak kita akan mati!!!”
__ADS_1
“Hua…. Ibu, cepat selamatkan Vivian kecil yang malang….”
Ketika bangun, Dewey merasakan lehernya akan putus. Hanya menggerakkan kepalanya tanpa sadar, dia merasa lehernya sakit sekali.
Akhirnya ada kesadaran di benaknya. Dewey merasa tubuhnya menempel di tanah yang dingin.
Setelah kesadarannya kembali sedikit demi sedikit, Dewey yakin dirinya masih hidup.
Dia tidak bergerak sembarangan, tetapi berbaring diam dulu, memastikan apakah anggota tubuh lainnya terluka, kemudian perlahan bangun duduk.
Kepalanya masih agak pusing. Dia hanya mengingat bahwa sebelum pingsan, naga itu tidak tahan dan akhirnya jatuh dari langit, sedangkan gadis bodoh itu sama sekali tidak bersikap layaknya penyihir level delapan. Bisa-bisanya ia menangis dan memanggil ibu di saat krisis.
Akhirnya, naga sendiri yang berusaha mengepak sayapnya untuk mempertahankan keseimbangan. Tetapi dia tetap kehabisan tenaga, hanya bisa membawa dua orang di atas punggungnya ke tanah.
Kemudian potongan ingatan yang tersisa di benak Dewey adalah jatuh, suara keras, hutan.
Mengusap matanya lalu melihat sekeliling, Dewey menghela napas.
Naga besar itu telungkup di tempat yang tidak jauh darinya. Ada sebuah lubang besar di tanah. Tempat ini awalnya adalah hutan. Naga itu jatuh dan mematahkan banyak pohon. Saat ini dia sedang telungkup diam di tanah. Sisik naga benar-benar tebal dan kuat. Tubuhnya tidak terluka, hanya saja goresan di sayapnya sepertinya sedikit lebih parah. Mungkin karena terbang paksa untuk waktu yang lama sehingga memperparah.
Sekarang, naga ini masih tidur. Kulit dan sisik merahnya memancarkan cahaya samar.
Melihat naga dalam jarak sedekat ini, biarpun dia sedang tidur, Dewey bisa merasakan tekanan yang diberikan oleh makhluk besar ini. Mungkin ini adalah rasa takut alami saat manusia menghadapi makhluk berbahaya.
Napas naga terdengar seperti badai. Hidungnya bahkan masih mengeluarkan asap hitam. Mengingat pertarungan sengit tadi malam, Dewey merasa semangat.
Menyaksikan pertarungan sesengit itu secara langsung sungguh memuaskan Dewey. Itu terjadi di depannya! Lebih nyata ketimbang nonton di bioskop pada kehidupan sebelumnya!
Meski akhirnya, tidak beruntung, seperti ucapan wanita cantik es itu.
Karena takut menyakiti orang tak bersalah, Vivian yang baik hati menghabiskan banyak kekuatan sihir untuk memindahkan tempat pertarungan ke Gunung Setengah Sudut yang ada di luar kota. Meskipun perilaku tersebut menyelamatkan banyak nyawa, setelah kekuatan sihir banyak terkuras, Vivian bukanlah lawan kakaknya.
Awalnya, kedua penyihir sama-sama menggunakan sihir untuk mendorong naga ke pertempuran. Naga api dan naga es seimbang. Namun, kekuatan sihir Vivian jelas tidak kuat setelahnya sehingga kalah.
Gadis ini kelewat baik hati, kabur pun tidak lupa untuk menariknya. Dia termasuk gadis kecil yang sangat memiliki hati nurani.
Selain itu, dia menyelamatkan nyawa para bawahannya tadi malam. Kalau dipikir-pikir, sepertinya salah kalau Dewey bersikap galak padanya.
Dewey mendekat lalu menepuk wajahnya. Penyihir kecil cemberut dalam mimpinya dan bergumam, “Ibu… Ayah… aku… Vivian kecil yang malang….”
Gadis bodoh ini tidak gagap saat tidur.
Dewey terkekeh. Masih kecil.
Dia merasa beruntung karena tidak mati, dan berterima kasih kepada gadis bodoh ini. Dia menepuk pipinya beberapa kali, kemudian berkata dengan suara rendah. “Hei, bangun. Cepat bangun.”
Vivian akhirnya membuka matanya. Ketika melihat wajah Dewey yang berada di dekatnya, dia berseru kemudian bangun dan mencengkeram kerah bajunya dengan erat, lalu beringsut mundur. Kedua mata besarnya menatap Dewey memelotot, seperti takut Dewey menindasnya.
Dewey tersenyum geli melihat gadis bodoh ini. Dia mundur sedikit lalu berkata, “Yang Mulia Penyihir, akhirnya kamu sadar. Situasi kita sekarang agak buruk.”
Vivian menggeleng dan akhirnya sadar. Ia tiba-tiba berseru, “Na-nagaku!”
Dia melihat naga api yang tidur tak jauh dari sana, lantas berdiri lalu berlari ke sana, langsung memeluk cakar naga dan menangis. “Hot Sun-ku… Ho-Hot Sun-ku…. Hot Sun ya-yang diberikan gu-gu-guru….”
Ketika menangis dan melihat luka di tubuh naga, Vivian segera membongkar jubah, tetapi kemudian menemukan tas kosongnya itu. Barang-barang di sana telah habis diperas oleh Dewey.
Tidak ada bahan sihir sama sekali. Vivian merasa tak berdaya, lantas merentangkan kedua tangan lalu membaca mantra, kemudian cahaya berwarna putih susu keluar dari tangannya. Namun cahaya ini sangat samar. Bahkan Dewey yang tidak bisa sihir pun tahu bahwa sihir yang digunakan Vivian agak janggal.
Vivian tertegun. Dia menghirup napas dalam-dalam, ekspresinya menjadi lebih serius. Kali ini dia membaca mantra lagi dengan suara rendah dan lambat. Cahaya putih di tangannya agak kuat. Di bawah cahaya putih itu, luka naga merapat sedikit demi sedikit. Sepertinya ini teknik penyembuhan sihir. Hanya saja cahaya putih ini masih terlalu lemah, hanya menutupi sedikit ruang di sekitar telapak tangan Vivian.
Dibandingkan dengan nada yang besar, teknik penyembuhan selemah ini jauh dari cukup.
Selain itu, teknik penyembuhan Vivian hanya cukup untuk menyembuhkan sebagian kecil dari luka gores pada cakar naga. Vivian terhuyung, lalu duduk di tanah dengan wajah pucat. Dia menggoyangkan kepalanya dengan kuat, menatap kedua tangannya dengan tak percaya.
“Si-sihirku tidak be-bekerja!”
Dewey tertegun. “Apa katamu?!”
“Si-sihir tidak bekerja,” ucap Vivian terisak.
Tidak bekerja? Dewey agak terkejut. Dia masih berharap gadis penyihir ini segera menyembuhkan naga ini agar mereka bisa pergi dari ini.
__ADS_1
Di sekitar mereka adalah hutan, entah ada di mana. Ketika melarikan diri, mereka berlari entah ke arah mana, hanya terbang sepanjang tengah malam tanpa memperhatikan.
“Apakah kekuatan sihir terkuras habis? Kekuatan spiritual tidak cukup?” tanya Dewey hati-hati. “Coba meditasi sebentar untuk memulihkan kekuatan sihir.”
“Bu-bukan. A-aku bisa me-merasakan kekuatan si-sihir, ta-tapi tidak bisa menggunakannya.”
Dewey pun tertegun.
Setelah berpikir sejenak, Dewey mengerutkan alis dan berkata, “Kekuatan sihirmu tidak bekerja? Bagaimana kalau kamu coba sihir lain?”
Kemudian Vivian segera mencobanya, tetapi hasilnya mengecewakan mereka berdua.
Entah mengapa kekuatan sihir Vivian tiba-tiba mundur berkali-kali lipat.
Dia menggunakan berbagai sihir, misalnya sihir elemen api. Dia hanya membuat dua bola api kecil dan rasanya melelahkan sekali. Sedangkan yang lain, sihir level tinggi seperti Sihir Pindah Api Giok, sama sekali tidak dapat digunakan. Bahkan sihir-sihir rendah saja terasa melelahkan. Dia menghabiskan banyak kekuatan spiritual, tetapi hanya bisa melepaskan sihir level rendah. Selain itu, kekuatannya berkurang setengah pula.
Vivian benar-benar kaget kali ini. Bakat satu-satunya yang dia miliki sejak kecil adalah sihir. Yang bisa dia andalkan hanyalah kekuatan sihir.
Tetapi sekarang kekuatan sihirnya menghilang 99%. Bagaimana gadis ini tidak takut? Dia membelalakan mata dan tidak bisa berbicara untuk waktu yang lama.
Dewey juga terkejut dan tidak mengerti. Dia akhirnya hanya bisa menyalahkan perang. Mungkin gadis bodoh ini terkena sihir wanita cantik es itu, atau terluka.
Tanpa kekuatan sihir, Vivian menjadi lebih penakut. Dia bahkan tidak berani mengucapkan satu kalimat lengkap, hanya menatap Dewey dan tampak ketakutan. Air matanya metetes. Dewey tidak berdaya, hanya bisa menghiburnya dengan lembut. “Kamu pasti terluka, atau kakakmu menyihirmu. Tidak apa-apa, kekuatan sihirmu begitu kuat, dia pasti bisa pulih. Hm, bukankah kamu masih punya seorang guru yang hebat? Gurumu pasti punya cara untuk membantumu memulihkan.”
Gurunya disebut, Vivian kecil akhirnya lebih tenang. Sepertinya dia sangat memuja dan memercayai gurunya. Dia langsung berdiri. “A-a-aku mau pulang dan… dan… menemui guru!”
“Oke,” ucap Dewey. “Aku juga harus pulang, tapi kita harus mewaspadai kakakmu. Dia telah mengejar kita sepanjang jalan. Kita baru terbebas darinya saat pagi. Kekuatan sihirmu telah hilang saat ini, kita tidak bisa melawannya jika bertemu dia lagi.” Setelah itu Dewey menunjuk naga itu. “Apakah nagamu itu masih bisa terbang?”
Vivian menggeleng kemudian menjelaskan kepada Dewey dengan susah payah. Setelah naga terluka, dia bisa pulih sendiri melalui sihirnya sendiri meski tanpa bantuan sihir eksternal. Hanya saja kecepatan pulihnya lebih lambat. Sebelum pulih, naga ini tidak dapat terbang lagi.
Naga ini terluka begitu parah. Jika memulihkan diri sendiri dengan tidur kurang dari satu setengah tahun, dia tidak akan sembuh.
Keinginan pergi dengan naik naga tidak dapat diwujudkan, Dewey hanya bisa menghela napas. Dia memutuskan untuk melihat sekeliling, mencari tahu di mana mereka berada.
Lebih baik jika bisa keluar dari hutan ini. Kalau beruntung, mereka bisa bertemu satu dua orang lokal untuk bertanya, kemudian mencari kota terdekat.
Tetapi naga ini tidak dapat bergerak, hanya bisa telungkup di tempat semula untuk istirahat guna memulihkan diri. Vivian bersikeras tidak mau meninggalkan Hot Sun, kesayangannya. Dewey tidak berdaya, ditambah dia merasa berhutang budi pada gadis bodoh ini sehingga dia memperlakukannya lebih baik. Dewey hanya bisa mencari jalan sendiri.
Setelah membuka jalan dengan tongkat, Dewey memilih sebuah arah lalu melangkah ke sana. Dia tidak berani berjalan terlalu jauh, hanya menjelajahi.
Akan tetapi, Dewey beruntung sekaligus sial hari ini.
Rencananya adalah keluar dari hutan ini, kemudian menemukan satu dua orang lokal, lebih baik lagi jika menemukan sebuah kota.
Dia keluar dari hutan dengan lancar.
Kurang dari setengah jam, dia telah keluar dari hutan ini. Apa yang muncul di depannya adalah….
Laut.
Ketika keluar dari deretan pohon terakhir dan melihat laut, Dewey tercenung.
Apakah kami terbang sampai ke pantai?
Tanpa berpikir banyak, dia segera berbalik. Semakin berjalan, dia semakin merasa ada yang salah.
Merasa gelisah, Dewey berlari ke tempat di mana Vivian dan naga itu istirahat, mengabaikan napasnya yang terengah, lalu berteriak kepada gadis penyihir. “Cepat! Apakah kamu masih bisa menggunakan teknik terbang? Coba terbang dan lihat bentuk lahan di sekitar! Cepat!”
Vivian tertegun. Namun melihat Dewey terengah dan tampak cemas, dia menurutinya.
Sihir gadis penyihir tidak bekerja sehingga teknik terbang pun hanya bisa bertahan selama sekitar sepuluh detik.
Tapi, sepuluh detik sudah cukup.
Vivian terbang ke tempat yang cukup tinggi, kemudian dia jatuh dengan raut takut.
Untungnya Dewey menangkap gadis bodoh ini. Mereka jatuh bersama, gadis penyihir bahkan jatuh di dalam dekapan Dewey.
Tapi kali ini Vivian kecil tidak terburu-buru untuk mendorong Dewey, karena dia menemukan hal yang lebih menakutkan.
“Ki-ki-ki-kita… ada di se-se-sebuah pulau….”
__ADS_1