Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 49: Semua Tentara Bertaruh


__ADS_3

Ketika Dewey datang ke kamp di sebelah kastil pada sore hari, ada lebih dari tiga ratus pasukan pribadi yang menjaga kastil di kamp.


Karena insiden Dewey disandera oleh penyihir, keluarga Rollin memperkuat keamanan kastil dengan mengerahkan pasukan infanteri ke kamp. Saat ini jumlah pasukan pribadi keluarga Rollin yang bertanggung jawab menjaga kastil dan daerah sekitarnya telah mencapai seribu.


Dewey menunggang kuda ke kamp, Kesatria Robert segera membawa orang keluar.


Karena insiden Dewey disandera, Kesatria Robert diturunkan setengah pangkat. Tetapi itu hanya formalitas. Dia masih membawa tim kavaleri. Sebelum akhir tahun, dia akan mencari alasan untuk mengembalikan pangkatnya.


Setelah Dewey masuk ke kamp, semua orang langsung memperhatikan tunggangan Tuan Muda itu.


Kuda yang dipilih dengan cermat itu adalah kuda terbaik di seluruh kastil. Kuda ini sudah lama didambakan oleh Kesatria Robert.


Sekarang, ekor kuda berambut putih ini sudah botak.


Melihat Tuan Muda Dewey menunggang kuda berekor botak dan tampak gembira, Robert tiba-tiba merasa merinding. Apa yang ingin Tuan Muda lakukan?


“Kesatria Robert, aku hanya datang untuk melihat apa yang kalian lakukan.” Dewey tersenyum polos.


“Tuan Muda, sekarang masih musim semi. Latihan musim semi baru saja berakhir. Semuanya masih memangkas belakangan ini. Untuk tugas patroli harian, kavaleri yang melakukannya. Apa yang ingin Anda lihat?” Robert menatap senyum Dewey dan terpikir sesuatu. Dia mencoba berkata, “Mungkin Anda ingin berburu? Kalau begitu, aku akan segera mengumpulkan pasukan kavaleri untuk menemani Anda.”


Menurut Robert, Tuan Muda yang dikurung mungkin bosan dan ingin mencari hiburan.


Berburu adalah urusan kecil.


“Tidak, bukan berburu.” Dewey tersenyum senang. “Aku datang untuk mengajak semuanya bermain. Aku baru terpikir sebuah permainan baru.”


Dewey mengambil sesuatu dari pelana. Robert kemudian melihat sebuah tas kain kecil.


Setelah tas kain dibuka, Dewey mengeluarkan sebuah bola.


Hm, Dewey menghabiskan banyak tenaga untuk bola ini.


Karena tidak punya uang lebih untuk membeli kulit sapi, Dewey memilih jaket kulitnya di kamar, lalu meminta pengurus rumah tua untuk mencari pelayan yang bisa menjahit. Dewey kemudian mengatakan permintaannya.


Hanya menjahit menjadi bentuk bola, tidak sulit. Pelayan menyelesaikannya dengan cepat, jahitannya kuat.


Untuk bantalan bola ….


Tidak ada karet di dunia ini sehingga tidak bisa membuat bola sungguhan. Agar elastis, dia hanya bisa mengisinya dengan barang lembut, sebaiknya rambut atau sejenisnya. Misalnya, ekor kuda.


Jadi dengan menyumbangkan mantel kulit, ditambah ekor kuda di bawahnya, jadilah sebuah bola.


Ketika membuatnya, beberapa pelayan menatap Dewey dengan tatapan ‘anak boros’. Namun, Dewey tidak peduli.


Ini bisa membantunya mendapatkan uang saku.


“Robert, lihat. Ini adalah permainan baruku, namanya sepak bola.”


“Tiap tim terdiri dari sebelas pemain, salah satunya menjadi penjaga gawang. Selain penjaga gawang, pemain lain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan, kalau tidak namanya pelanggaran. Cara mainnya adalah bekerja sama dengan anggota tim untuk menendang bola ke gawang lawan. Pada saat yang sama, mencegah lawan agar tidak menendang bola ke gawang kita.”


Dewey menjelaskan aturan dasar sepak bola secara singkat. Aturannya tidak rumit sehingga lebih dari seratus prajurit segera mengerti.


Intinya menendang bola dengan kaki.


Di lapangan latihan militer, dua sadel digunakan untuk menggambar gawang di kedua sisi.


Dewey memilih Robert serta beberapa pasukan kavaleri untuk membentuk sebuah tim, dan menyuruh kelompok petugas lain membentuk satu tim, kemudian mulai bermain.


Awalnya tentu kacau. Prajurit keluarga Rollin yang tidak pernah bermain sepak bola sering melanggar aturan. Ketika mengoper bola, agar mengoper lebih jauh, seorang kesatria menendang hingga bola meledak.


Untungnya Dewey sudah membuat persiapan dengan membawa pelayan yang bisa menjahit itu ke lapangan untuk menjahit. Kesatria malang itu menyumbangkan ekor kuda perangnya.


Dan saat seorang kesatria menendang bola ke depan, lawan biasanya melakukan pelanggaran untuk menghentikannya. Itu menambah pengetahuan Dewey.


Sering kali ketika seseorang menggiring bola ke setengah lapangan, lawan menahan dan menendangnya. Bukan menendang bola, melainkan orang itu. Kemudian keduanya malah melupakan bola dan bertarung. Tidak menyenangkan.


Harus diakui bahwa prajurit keluarga Rollin cukup terampil dalam seni bela diri. Mereka luar biasa, kebugaran fisik juga baik. Sedangkan Dewey sudah kehabisan tenaga setelah berlari beberapa putaran. Seseorang kemudian menggantikannya, dia menjadi wasit.


Setelah kartu merah terus mengeluarkan orang yang bertarung, pemain yang tersisa akhirnya bermain dengan benar.

__ADS_1


Dewey juga mendemonstrasikan beberapa gerakan dengan bola dan mencoba tendangan bebas jarak jauh. Hingga sore hari, para prajurit akhirnya menguasai aturan sepak bola.


Bahkan aturan ‘offside’, ‘tendangan penalti untuk pelanggaran di area penalti’, ‘tendangan bebas langsung’, dan ‘tendangan bebas tidak langsung’ sudah dimainkan dengan baik.


Ketika petang, seorang prajurit cerdas sudah bisa ‘menyelam’ di area penalti.


Biarpun pertunjukkan pria itu buruk, Dewey memberinya penalti dengan hormat. Karena pemain favoritnya di kehidupan sebelumnya adalah Inzaghi, yang dikenal sebagai ‘Raja Menyelam’.


Tendangan penalti itu pun menuai kemarahan para prajurit penonton.


Dalam satu sore, semua prajurit di kamp jatuh cinta pada olahraga ini.


Olahraga pertama di dunia benar-benar tidak abal-abal.


Senjanya, Dewey menemukan bahwa beberapa prajurit senior dengan enggan mencari jaket kulit dan memberikan ekor kuda mereka kepada pelayan untuk membuatkan bola.


Saat matahari hampir terbenam, mereka meninggalkan lapangan dengan enggan. Para prajurit yang menang bersorak dan pergi seakan memenangkan pertempuran, sedangkan pihak yang kalah menggertakkan gigi dan berjanji untuk bermain lagi besok.


Semua itu membuat Dewey sangat puas.


Malamnya, Dewey datang ke bangunan kecilnya. Solskjaer sudah pulang. Bangunan ini adalah milik Dewey seorang di malam hari.


Beberapa penjaga menjaga di luar, tidak diizinkan masuk.


Dewey naik ke lantai tiga, berdiri di teras dan memandang langit.


“Apa yang sebenarnya kamu lakukan di siang hari?” Semel duduk di pagar belakang, mengangkat kakinya tinggi, membuat Dewey terpesona.


Dewey berusaha memalingkan wajah, kemudian menghela napas. “Menghasilkan uang.”


“Menghasilkan uang?” Semel tertawa. Dia berada di sisi Dewey sepanjang hari, tapi hanya Dewey yang bisa melihatnya. Semel tertawa sebentar. Dia jelas tidak percaya. “Kamu rugi satu jaket kulit dan memotong ekor kuda sendiri, berkeringat, mengotori dua baju dan berlumuran tanah. Itu namanya menghasilkan uang?”


Dewey langsung memutar bola matanya. “Apa yang kamu tahu? Tunggu saja.”


Saat ini sudah malam, tidak ada awan di langit. Langit penuh dengan bintang. Dewey melihat waktu. “Bisakah kita mulai sekarang?”


“Latihan sihir bintang sebenarnya tidak sulit, yang sulit adalah memulainya.” Semel menjadi lebih serius ketika membahas sihir bintang. Saat ini, ekspresinya baru mengingatkan Dewey akan ahli nujum hebat itu.


“Rasakan dengan hati.”


“Rasakan apa?” Dewey memelotot.


“Bintang.” Semel perlahan berkata, “Rasakan kekuatan bintang.” Dia terdiam sejenak sebelum menjelaskan. “Awalnya kamu tidak mungkin merasakan seluruh langit. Pilihlah satu bintang, kemudian duduk dan rasakan dengan seluruh kekuatan merasakan sihirmu. Rasakan respons yang diberikan oleh bintang itu. Ini sangat sulit dan tidak bisa dirasakan dalam satu malam.”


Kemudian Semel mengajari Dewey satu mantra. Dia meminta Dewey untuk membaca mantra itu dalam hati sambil memilih sebuah bintang.


“Mana yang harus kupilih?”


“Yang paling besar dan terang,” jawab Semel.


Dewey tertegun. “Paling besar dan terang? Ya Tuhan, ada begitu banyak bintang di langit. Mana yang paling besar dan terang?”


Semel tersenyum misterius, lalu mengangkat tangannya dan menunjuk langit. Di bawah rembulan, senyum Semel memesona dengan aura misterius, tatapan tenang dan tak terduga.


Dia menunjuk bulan.


Dewey terkejut.


Bulan!


Dia menatap Semel dengan terkejut. Apa ahli nujum yang hebat pun mengetahui ini? Menurut Dewey di kehidupan sebelumnya, matahari adalah bintang, bulan adalah satelit bumi. Mereka adalah yang terbesar di langit karena ukuran dan jarak mereka dari bumi.


Sebenarnya, bahkan penyihir di dunia ini membagi matahari, bulan, dan bintang menjadi tiga kategori yang berbeda.


Namun, tidak ada yang tahu bahwa matahari dan bulan juga termasuk jenis bintang.


“Rasakan dengan hati, rasakan gelombang apa pun meski hanya sedikit. Proses ini akan sangat lama, mungkin satu hari, mungkin juga satu tahun. Kalau bisa melewati proses ini, kamu baru memiliki kesempatan untuk mempelajari sihir bintang. Kalau tidak berarti kamu tidak punya bakat.”


Selesai berbicara, Semel menguap dan duduk di samping dengan malas, melihat Dewey yang bermeditasi dengan mata terpejam dan kepala mendongak.

__ADS_1


Awalnya, Dewey mencoba merasakan dengan cara sihir tradisional.


Setelah memiliki ‘antena’ di kepalanya, kekuatan merasakan Dewey sangat kuat. Dia bisa merasakan arus udara dan gelombang angin di langit, merasakan sungai yang mengalir di jarak bermil-mil, bahkan mendengar gemericik air.


Namun, bintang dan bulan terlalu jauh.


Terlalu, terlalu jauh.


Dewey mencoba memperluas kekuatan spiritualnya, tetapi semakin jauh ke langit, kekuatan spiritual semakin lemah. Biarpun telah berusaha, Dewey hanya bisa merasakan angin di langit.


Bulan?


Dewey adalah orang dari kehidupan sebelumnya, tentu saja dia tahu sejauh apa bulan dari tempat di mana dia berada. Dengan jarak sejauh itu, Dewey tidak berpikir jika kekuatan spiritualnya bisa melewati jarak astronomis.


Dewey jelas gagal pada malam pertama.


“Aku tidak bisa memberimu arahan detail karena ini harus kamu rasakan sendiri.” Semel menghela napas. “Kalau kamu paham, kamu akan paham. Kalau kamu tidak paham, aku sulit untuk menjelaskannya.”


Untungnya Dewey tidak merasa frustasi. Lagi pula Semel sudah mengatakan bahwa ini tidak akan mudah. Dewey memiliki banyak waktu. Sekarang dia tidak punya apa-apa selain banyak waktu.


Meskipun tidak tidur semalam, Dewey yang bermeditasi sepanjang malam justru lebih bersemangat di pagi hari. Dia penuh energi dan tidak terlihat mengantuk sama sekali.


Dewey samar-samar merasa bahwa mantra yang diberitahu Semel sepertinya memiliki efek besar pada pertumbuhan kekuatan spiritual. Jauh lebih efektif daripada meditasi sihir biasa.


Peningkatan ini tidak mengacu pada peningkatan kekuatan spiritual, melainkan membuatnya merasa kekuatan spiritual disempurnakan dan lebih halus.


Pagi hari, Dewey datang ke kamp lagi. Hari ini Dewey mengumpulkan banyak prajurit. Hampir semua prajurit yang tidak memiliki tugas patroli bermain di lapangan.


Setengah hari kemarin, semua prajurit yang ikut bermain sepak bola, jatuh cinta pada olahraga ini.


Hari ini, Dewey mengajukan cara main baru.


“Aku memberikan seratus koin emas.” Dewey tersenyum sambil berkata, “Kalian bebas menentukan tim, kemudian daftar untuk ikut kompetisi. Tim dibentuk berdasarkan undian. Yang kalah dieliminasi, yang menang terus bersaing dengan tim lain. Tim yang menang di akhir akan menerima hadiah seratus koin emas.”


Robert merasa permainan sepak bola ini agak tidak profesional, tetapi permainan ini tidak buruk bagi prajurit. Setidaknya berlarian bisa meningkatkan kekuatan fisik mereka. Selain itu, para prajurit yang baru menjalani latihan musim semi dalam masa perbaikan sehingga pelatihannya tidak begitu ketat.


Belum lagi, Tuan Muda begitu bersemangat. Dia tidak enak hati untuk menolaknya.


Alasan utama tentu karena Kesatria Robert sendiri cukup menyukai permainan ini.


 Saran yang diajukan oleh Tuan Muda terhormat tidak ditentang oleh perwira, apalagi prajurit.


Terlebih lagi, ada hadiah.


Agar permainan piala ini berlangsung dan untuk menjaga kekuatan fisik para prajurit, Dewey sengaja mempersingkat waktu permainan.


Aturan permainan di kehidupan sebelumnya adalah 90 menit. Di sini, Dewey menetapkan setengahnya.


Beberapa petugas di kamp yang mengelola logistik bertanggung jawab atas pendaftaran. Para prajurit membentuk tim berdasarkan kedekatan pribadi mereka untuk mendaftar.


Keributan berlangsung sepanjang pagi. Akhirnya ada empat puluh tim yang terdaftar.


Dewey menetapkan satu tim 15 orang, 11 pemain, 4 pemain pengganti.


Orang yang berpartisipasi mencapai 600 orang. Dengan kata lain, lebih dari setengah prajurit di kamp ikut.


Untungnya lapangan cukup besar. Selain itu, ada banyak hutan dan lapangan rumput di sini. Jadi tidak perlu khawatirkan tempat.


Dewey menarik undian dan membagi kelompok, kemudian pertandingan piala sepak bola pertama keluarga Rollin dimulai.


Karena sistem gugur didasarkan dengan undian, setelah ronde pertama, tersisa setengah dari empat puluh tim.


Karena masalah tempat, dua puluh pertandingan di babak pertama tidak mungkin dimainkan secara bersamaan. Hingga sore tersisa dua puluh teratas.


Saat ini, Dewey yang sudah sering menonton pertandingan, memperoleh banyak informasi berdasarkan kekuatan spiritual dan ingatan super penyihirnya.


Tim mana yang memiliki kekuatan fisik lebih baik, tim mana yang lebih pandai tendangan penalti, tim mana yang lebih berbakat, tim mana yang lebih lemah.


Semua sudah diingat oleh Dewey.

__ADS_1


Sebelum ronde berikutnya dimulai, Dewey mengusulkan saran sambil tersenyum. “Hanya menonton yang lain bermain cukup membosankan. Bagaimana kalau kita taruhan?”


__ADS_2