Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 32: Deru Pulau Terpencil


__ADS_3

“....” Vivian mengerjapkan mata, butuh beberapa saat sebelum dia mengerti ucapan Dewey. Dia sontak menjerit. “Ah! Ti-tidak boleh! Kamu tidak boleh ma-makan Juju-ku! Di-dia adalah peliharaan Guru. Jika dia di-dimakan, a-a-aku….”


“Persetan,” tukas Dewey. “Kita sudah kelaparan selama satu hari. Jika lapar lebih lama, kita tidak ada tenaga besok. Masih belum tahu bisakah besok mendapatkan ikan.”


“Ti-ti-ti-tidak boleh… jangan makan Juju-ku!” Vivian memeluk sangkar dengan kuat agar Dewey tidak merebutnya. “Jangan makan Juju-ku.”


“Huh! Makan nagamu kalau begitu,” ucap Dewey. “Dia begitu besar, dagingnya dipotong sedikit, tidak akan mati, kan?”


“Ma-makan naga?”


Vivian merasa dirinya hampir pingsan.


Dia baru saja merasa kalau bangsawan kecil ini lumayan baik. Dalam sekejap, Dewey berubah menjadi iblis lagi.


Makan naga? Tuhan Yang Maha Esa, maafkan Vivian kecil yang malang. Seumur hidup, aku belum pernah mendengar ada yang berani berniat jahat pada naga, menjadikannya sebagai makanan pula!


“Ja-jangan makan Hot Sun-ku! Ja-jangan ma-makan Juju-ku! Huaa… Ayah, Ibu….” Melihat Dewey yang jahat, Vivian menggunakan senjata air mata lagi.


Dewey tidak berdaya dan hanya bisa menggeleng melihat gadis bodoh yang menangis. “Ini tak boleh, itu tak boleh. Huh, baiklah. Kamu menang malam ini. Aku akan mencoba untuk menangkap ikan besok. Jika gagal mendapatkannya, kita tidak boleh mati kelaparan, kan. Kalau nyawa melayang, apa pun tidak perlu dibahas lagi! Jika tidak ada ide lain, kita hanya bisa membunuh Setan Ilusi ini!”


Lantas, bukan hanya Vivian yang menangis. Setan Ilusi kecil gemuk yang ada di dalam sangkar – sepertinya monster level tinggi mengerti bahasa manusia – gemetar setelah mendengar ucapan Dewey. Kedua mata besarnya menatap Dewey, dia meringkukkan tubuhnya.


Vivian merasa sedikit lega setelah mendengar kata-kata Dewey, tetapi dia segera berdoa dalam hati.


Tuhan Yang Maha Esa, berkatilah Vivian kecil yang malang, biarlah iblis ini mendapatkan beberapa ekor ikan besok. Oh, tidak, tidak, bukannya Vivian kecil yang malang rakus, tetapi untuk mempertahankan nyawa Juju. Uh, Vivian kecil boleh jika tidak makan ikan. Uh, atau… satu ekor saja. Aku mohon, Tuhan Yang Maha Esa. Wuwuwu…. Ta-tapi, aku juga sangat lapar. Vivian juga ingin makan ikan….


Keesokan pagi, api unggun telah padam entah kapan, masih ada asap di atas kayu. Dewey merasa agak dingin. Dia bergerak tapi merasakan sesuatu di dalam dekapannya.


Begitu menunduk, ternyata Vivian telah masuk ke dalam pelukannya. Penyihir kecil tengah tidur nyenyak, sepertinya dia merasa dingin juga. Tubuhnya meringkuk, kedua tangan masuk ke saku Dewey untuk mencari kehangatan.


Dia merasa dingin di tengah tidurnya sehingga masuk ke pelukan Dewey dengan naluri.


Dewey menghela napas, dia tidak segera membangunkan gadis ini, tetapi membuka bajunya lalu menyelimuti Vivian, sebelum melepaskannya dan berdiri.


Begitu mendongak dan berdiri, ekspresi Dewey berubah.


“Tidak! Sial! Tidak!” Teriakan marah dan frustrasi Dewey terdengar di pulau terpencil.


Kabut tebal memenuhi laut di depannya. Kabut tebal ini seperti kain kasa yang menutupi langit dan bumi. Udara penuh dengan uap air yang lembap. Di bawah kabut seperti ini, dia tidak bisa melihat apa-apa di laut.


Di bawah cuaca seburuk ini, jarak yang bisa dilihat di laut mungkin kurang dari sepuluh meter.


Bagaimana Dewey bisa tidak cemas?


Dia terjebak di pulau terpencil ini, tanpa makanan, dan sedikit air minum, sangat perlu keluar dari sini sesegera mungkin. Jadi harapan satu-satunya Dewey adalah ada kapal lain yang melewati pulau ini lalu sekalian menyelamatkan mereka.


Oleh karena itu, Dewey berencana untuk membuat api unggun tanpa henti sejak pagi ini. Menggunakan api dan asap untuk menarik perhatian kapal yang – seandainya memang – lewat sekitar sini.


Tapi melihat kabut setebal ini, Dewey merasa putus asa.


Jarak pandang menjadi rendah karena kabut setebal ini. Sekalipun Dewey membuat api unggun dan ada kapal yang lewat, asapnya juga tidak terlihat!


Berdasarkan pengetahuan umum yang Dewey tahu – yang membuatnya putus asa – cuaca berkabut seperti ini cenderung berlangsung cukup lama.


Jika cuaca berkabut di daratan, mungkin akan bubar dalam sehari. Tetapi di laut, tiga sampai lima hari tidak bubar pun itu wajar.


Tiga sampai lima hari.


Dewey menghela napas dalam hati. Apakah aku masih punya tiga sampai lima hari? Hingga sekarang, sedikit makanan saja tidak ada.


Vivian terbangun oleh teriakan Dewey. Melihat raut suram Dewey, Vivian kecil yang malang merasa gelisah.

__ADS_1


Tanpa bicara, Dewey dengan cepat memungut cabang kayu di sekitar, kemudian menyalakan api. Dia membuat api sebesar mungkin.


Kemudian Dewey mencari banyak cabang pohon dan meletakkannya di depan Vivian.


“Hei, jaga api di sini. Jika api mengecil, segera tambahkan kayu. Jangan sampai api mengecil, apalagi padam, tahu? Pada saat yang sama, kamu harus memperhatikan laut. Jika kamu melihat kapal, pikirkan cara untuk menarik perhatian mereka. Kamu bisa membuat api lebih besar, atau gunakan sihir untuk tembakkan bola api, paham?”


“Pa-paham.” Vivian mengangguk, kemudian dia bertanya, “Ka-kabut begitu tebal, bisakah ki-kita melihat kapal? Bi-bisakah kapal melihat kita?”


Dewey menghela napas, dia tidak menjawab pertanyaan Vivian. “Lakukan saja sesuai kata-kataku. Ini adalah hal satu-satunya yang bisa kita lakukan.”


Selesai berbicara, Dewey memilih sebatang tongkat dan menimbangnya sebelum berjalan di sepanjang panjang.


“Ka-kamu mau pergi ke mana?”


“Aku akan mencari makanan.” Dewey berkata dengan dingin. “Aku pikir mungkin bisa menemukan beberapa jamur dan buah liar. Di hutan sebesar ini, siapa tahu ada. Semoga aku bisa menemukannya. Ini lebih mudah daripada menangkap ikan. Jika aku tidak menemukannya, maka hanya bisa menangkap ikan di laut.”


Dewey terdiam sejenak. “Sebaiknya kamu berdoa aku bisa menemukannya, kalau tidak sekeras apa pun kamu menangis malam ini, kita hanya bisa makan Juju-mu. Nyawa manusia lebih penting dari nyawa seekor hewan.”


Melihat tatapan dingin Dewey sebelum pergi, Vivian gemetar.


Dewey pergi sepanjang pagi.


Vivian merasa takut ditinggal sendirian di pantai. Tidak ada orang di sekitar, dia merasa tidak punya sandaran.


Dulu, meski tinggal serumah dengan Guru, Guru juga sering meninggalkan Vivian sendiri di rumah jika beliau pergi. Namun Vivian masih punya sihir saat itu.


Tapi sekarang, dia tidak punya apa-apa.


Menambah api baru sepanjang pagi, tangan Vivian tergores oleh cabang pohon yang tajam. Wajahnya pun menghitam karena asap. Dia berusaha membesarkan api sesuai perintah Dewey.


Dewey akhirnya pulang pada siang hari.


Dari jauh terlihat Dewey pulang dengan kaki pincang. Kakinya terluka, tetapi ekspresinya tampak gembira.


Satu tangan Dewey memegang tongkat kayu, tangan lainnya menenteng cabang semak yang tergantung banyak buah kecil.


Buah-buah itu sangat imut, warnanya begitu segar, seukuran anggur. Pasti enak sekali!


Vivian langsung ngiler.


Sebelum ini, si gadis penyihir tidak pernah kelaparan begitu lama.


“Ma-ma-ma-makanan! Ka-kamu menemukannya!” Vivian berseru, kemudian berlari menuju Dewey dengan kaki telanjang.


Sudut bibir Dewey melengkung melihat tingkah Vivian, tetapi dia segera menyembunyikannya, mendatarkan wajah. “Jangan senang terlalu awal. Aku hanya menemukan segini sejak pagi.”


Cara dia berjalan agak aneh, Vivian baru sadar bahwa kaki Dewey terluka di mana-mana. Pasti karena tergores benda tajam ketika berjalan di hutan.


“Sudahlah, makan dulu.”


Dewey meletakkan hasil panennya, lalu menunjuk rimpang dari seikat tanaman yang tergantung di vine wrap. “Aku bisa mengenali tanaman-tanaman ini. Aku memiliki penelitian tentang farmasi. Beberapa tumbuhan ini adalah tumbuhan liar. Rimpang mereka memiliki banyak fungsi, bisa dimakan. Selain itu, tidak kecil juga.”


Sambil berkata, Dewey membawa semua itu untuk dicuci di pantai, lalu memberikannya kepada Vivian. “Ini semua adalah milikmu. Kamu bisa langsung makan, juga bisa bakar dulu sebelum makan.”


Vivian tertegun. Dia melihat rimpang di tangannya dan tiba-tiba merasa sedih. Cemberut, dia melihat ranting semak yang penuh dengan buah-buahan cerah. “A-aku ingin makan buah, a-a-aku….”


“Tidak, kamu makan ini, aku makan buah-buahan itu.” Nada Dewey terdengar tenang, tetapi tidak dapat dibantah.


Vivian hampir menangis.


Dia sangat sedih. Anak ini pasti sengaja. Dia sengaja menganiaya Vivian kecil yang malang! Ya, pasti begitu! Vivian tidak membiarkannya makan Juju, jadi dia balas dendam padanya.

__ADS_1


Vivian merasa sedih. Dia hanya bisa berjongkok di samping tumpukan api dengan kasihan, memanggang rimpang-rimpang itu, lalu memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyah.


Rimpang-rimpang yang Dewey pilih sangat besar, rasanya juga tidak buruk, atau lebih tepatnya tidak ada rasa. Hanya sedikit keras dan sulit kunyah. Vivian yang malang merasa pipinya lelah padahal baru makan dua batang. Yang lebih penting lagi, makanan ini sama sekali tidak enak. Tidak ada rasa, terlalu tawar.


Dewey duduk di seberang Vivian. Dia memasukan buah ke dalam mulut tanpa bersuara, lalu mengunyahnya sebelum menelan.


Perlahan, tatapan Vivian tertarik ke sana.


Dia menelan air liur. Buah itu pasti enak sekali. Dasar anak pelit.


“Untuk apa kamu melihatku?” Dewey mendengus. “Apakah kamu menyalahkan aku tidak memberimu buah? Membiarkanmu makan rimpang yang tidak enak?”


Vivian diam tapi cemberut.


Selagi Dewey tidak memperhatikan, Vivian tiba-tiba mengulurkan tangan untuk mengambil sebuah buah dari cabang semak. Jubah penyihirnya sangat besar dan lebar, gerakannya tertutup sehingga Dewey tidak menyadarinya.


Kemudian ketika Dewey melihat ke arah lain, Vivian dengan cepat memasukan buah itu ke dalam mulut, lalu menggigitnya.


Tepat ketika dia menantikan aroma harum dan manis….


Ekspresi Vivian sontak berubah aneh, kemudian dia memuntahkan dengan cepat.


Apa-apaan ini! Begitu asam hingga lidah orang berkedut! Vivian hanya mengigit sekali dan merasa hampir muntah.


Apakah buah semacam ini bisa dimakan?


Melihat ekspresi Vivian, Dewey hanya tersenyum tipis, kemudian menggigit buah terakhir. Dia makan dengan lambat, lalu berdiri. “Cepat makan. Setelah makan, kita masih harus bekerja.”


Pada saat ini, Vivian melihat cabang semak di tanah, lalu melihat rimpangnya yang tersisa dua. Dibandingkan dengan buah asam itu, rimpang tawar ini lebih enak.


Mengingat kalimat ‘kamu makan ini, buah-buah itu milikku’ Dewey, lalu mengingat bagaimana Dewey makan buah-buah menyeramkan itu tanpa bicara dan tanpa mengubah ekspresinya. Vivian tiba-tiba tidak bisa berkata-kata.


Dia meremas rimpang di tangannya lalu menatap Dewey.


“Lihat apa? Cepat makan, kita masih punya pekerjaan!” Dewey mengerutkan alis.


“Ya, ya!” Vivian malah berbalik dan mengambil rimpang, kemudian melompat ke sisi Dewey. Tatapan dan suaranya melembut, bahkan terdengar bersalah. “A-apa yang akan kita la-lakukan? A-aku akan mendengarkanmu.”


“Kita akan menangkap ikan, kalau tidak hanya bisa makan rumput dan itu tidak tahan lama.” Dewey tersenyum lalu berkata, “Ikat cabang semak ini padaku, lalu tarik ujung lainnya. Aku akan mencari ikan di air dengan cabang, lalu pikirkan cara untuk menangkap beberapa ekor ikan. Tapi….”


Sebelum dia selesai berbicara, tiba-tiba terdengar auman keras.


Kemudian tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba berguncang. Dewey dan Vivian kehilangan kestabilan dan jatuh.


Auman itu seperti dari neraka, sangat menyedihkan tapi menggetarkan hati. Dewey pernah mendengar auman naga sebelumnya. Dia pikir auman naga adalah auman paling mengerikan di dunia ini.


Tapi sekarang, suara ini jauh lebih menakutkan dan lebih keras dari auman naga.


Tanah tidak berhenti berguncang, Dewey merasa dirinya seperti sedang mengalami gempa bumi yang mengancam.


Di tengah guncangan ini, laut pun bergemuruh dan muncul ombak.


“Suara apa ini!” Ekspresi Dewey berubah liar. Dia memeluk Vivian yang di dekapannya.


Wajah Vivian sudah pucat.


Pada saat ini, naga peliharaan Vivian pun terbangun oleh auman tersebut.


Naga yang tidur telah bangun, tapi….


Vivian dan Dewey jelas mendengar auman sedih naga itu.

__ADS_1


Bisa-bisanya ada rasa takut dalam suara naga.


__ADS_2