
Beberapa lelaki mabuk memandang gadis cantik itu sambil menelan saliva. Seseorang berdiri dan membawa bir ke sana. “Hei, Cantik….”
Plak! Sebelum selesai berbicara, orang itu dipukul oleh pria seperti banteng itu dan membuat pelanggan di kedai tertawa.
Mata Dewey penuh dengan tatapan tertarik. Hm, seorang prajurit seperti banteng, seorang pemanah jarak jauh. Gadis itu dikelilingi di tengah, maka seharusnya dia pemimpin. Apakah ini sejenis tim petualang kecil yang legendaris?
Setelah memahami dunia ini, Dewey tahu ada beberapa tim petualang yang mirip dengan tentara bayaran di dunia ini. Tim besar ada ratusan orang, sementara tim kecil hanya tiga sampai lima orang. Beberapa monster level rendah sering muncul di hutan selatan. Itu menarik banyak tim petualang untuk mencoba keberuntungan mereka berburu monster untuk mendapat bayaran. Ada juga beberapa pemerintah daerah yang kekurangan tenaga kerja bersedia menyewa tim petualang untuk menyelesaikan masalah, seperti menangkap pencuri dan lain-lain.
Pada dasarnya, organisasi tentara bayaran berskala besar belum ada di kekaisaran. Karena hukum kekaisaran tidak mengizinkan aliansi angkatan bersenjata sebesar itu. Takut jika organisasi semacam itu mempengaruhi posisi kekuasaan kekaisaran. Dewey berpendapat jika langkah tersebut memang benar, sebab mengendalikan angkatan bersenjata sipi adalah tindakan yang diperlukan untuk memastikan stabilitas negara.
Tapi, ada penyihir di antara orang-orang itu?
Ini terlalu mengejutkan! Setelah membaca banyak buku, Dewey tahu bahwa penyihir di dunia ini sangat sedikit.
Karena untuk menjadi penyihir tak hanya memerlukan bakat yang luar biasa, tetapi juga harus berusaha selama belasan bahkan puluhan tahun. Setelah melakukan semua itu barulah bisa menjadi penyihir.
Berdasarkan catatan yang telah dibaca Dewey, hanya ada hitungan ratus penyihir di seluruh kekaisaran. Bahkan beberapa bangsawan mungkin tidak dapat merekrut penyihir untuk bekerja untuk mereka. Karena kelangkaan penyihir maka perlakuan terhadap penyihir juga sangat baik. Jika keuangan lemah maka tidak dapat mempekerjakan seorang penyihir. Bahkan di keluarga kerajaan pun bisa merekrut penyihir adalah hal yang membanggakan.
Dan bisa-bisanya tim petualang sekecil ini memiliki penyihir. Bukankah itu hal yang langka?
Tiga lelaki dan satu perempuan itu duduk di pojokan. Prajurit banteng memegang sebotol besar bir dan meneguknya, pemanah mengunyah sepotong daging barbekyu, penyihir sedang mengistirahatkan matanya, sedangkan gadis cantik itu jelas merasa jengkel dengan tatapan pria-pria di sekeliling.
Untungnya, mereka tampak bukan orang yang bisa disinggung, sehingga tidak ada lagi yang berani melakukan pendekatan atau mencari perkara. Hanya saja bisikan-bisikan tidak dapat dihindari.
Terutama Dewey dan rombongannya.
Para ksatria istana Earl berstatus mulia dan tidak akan memandang tim petualang kecil. Setelah minum beberapa gelas bir, para ksatria semakin murung dan butuh pelampiasan.
Orang lain tidak berani rombongan gadis itu, tetapi ksatria keluarga Rollin tidak takut. Hanya saja mereka masih menjaga perilaku di depan majikan. Tidak benar-benar melakukan pendekatan, hanya berbisik-bisik.
Dewey minum dua gelas bir dan merasa lucu ketika mendengar orang di sekitarnya mendiskusikan paha indah gadis itu. Mirip ia dan teman-temannya yang membicarakan wanita cantik di bar dulu.
Namun, setelah minum dua gelas, sepertinya orang-orang ini semakin lancang. Suara mereka kian keras dan sepertinya tidak terlalu hormat pada majikan kecil mereka yang tak disukai.
Gadis jelita itu seperti cabai rawit. Dia memelototi para pria yang menatapnya mesum. Dia tidak tahu jika saat melotot, gadis seperti dia justru semakin menggoda.
Akhirnya, terdengar suara tawa rendah seorang ksatria di sebelah. “Lihat kedua kaki itu. Ya Tuhan, aku tidak pernah melihat kaki seindah itu. Di tempat hiburan malam ibukota kekaisaran, perempuan sepanas itu mungkin berharga setidaknya seratus koin emas.”
“Seratus koin emas? Apa kamu pernah pergi ke tempat hiburan malam? Huh, harga terendah wanita di sana setidaknya tiga ratus koin emas!” Seseorang membantah dan menertawakan temannya yang tidak tahu.
Melihat para bawahan yang kesal mengikutinya sepanjang jalan, Dewey tiba-tiba tersenyum simpul dan berkata, “Apakah dia cantik sekali? Kurasa biasa saja. Tapi kedua kakinya memang mantap.”
“....”
Para ksatria tertegun, tidak menyangka jika Tuan Muda Kecil yang membosankan sepanjang jalan akan mengucapkan kata-kata seperti itu. Bukankah katanya majikan kecil ini adalah idiot yang jarang berbicara? Justru karena mendengar bahwa majikan mereka adalah idiot kecil yang tidak mengerti apa-apa, makanya para ksatria berani berbicara dengan lancang.
“Kenapa? Apakah kalian semua bukan pria?” Dewey tertawa. “Itu hanya seorang perempuan, kalian adalah ksatria yang pandai seni bela diri. Tertarik tapi hanya berani membicarakannya di sini? Aku akan memberikan sepuluh koin emas kepada orang yang berani mendekatinya.”
__ADS_1
Para ksatria akhirnya tertawa. Menurut mereka, walaupun Tuan Muda Kecil tidak disukai, dia sangat cocok dengan mereka. Seorang pemberani segera berkata, “Tuan Muda, berikanlah sepuluh koin emas itu padaku.”
Setelah itu dia berdiri, menepuk meja lalu berteriak ke pojokan kedai. “Hei, Nona! Bagaimana jika aku traktir segelas bir?”
Gadis cantik itu melotot marah, kemudian ingin berdiri tetapi ditarik pelan oleh temannya. Penyihir itu menunjuk Dewey dan berbisik. Mungkin karena melihat pakaian bangsawan Dewey, tahu bahwa statusnya berbeda, sehingga tidak ingin mencari perkara.
Melihat dirinya tak direspon, ksatria tersebut menggaruk kepala dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Dewey berdiri dan bersiul kepada mereka, lalu memberikan jari tengah.
Para ksatrialah yang tercengang oleh tindakan Dewey.
Bagaimanapun, mereka adalah pengawal terlatih dari keluarga bergengsi, mana pernah melihat bangsawan melakukan tindakan sekasar itu? Yang melakukannya adalah putra sulung dari Earl yang terhormat pula!
Ketika para ksatria masih mematung menatap majikan kecilnya, gadis cantik itu bereaksi cepat dengan melempar gelas bir besar ke arah Dewey.
Ksatria yang duduk di depan Dewey segera berdiri dan mengulurkan tangan untuk menahan gelas itu, tapi bir di gelas tumpah dan menciprati lengan baju Dewey. Para ksatria seketika marah, berdiri dan mencabut pedang, berteriak dan mengepung orang-orang di pojokan itu. Sedangkan gadis tersebut juga mencabut parang. Kedua belah pihak saling memaki, lalu segera bertarung.
Kedai menjadi kacau. Beberapa penakut telah kabur, sementara yang berani bersembunyi di tempat yang jauh untuk menonton.
Prajurit banteng itu menarik pengepungan lima atau enam ksatria. Meskipun sempat minum bir, mereka masih membatasi kekuatan. Terutama beberapa petualangan itu. Saat mulai bertarung, penyihir di pojok meneriakkan sesuatu. Mungkin mengingatkan teman-temannya untuk tidak kelewatan. Tetapi setelah hidung si prajurit banteng tanpa sengaja terkena tinju dan mimisan, pangkal hidungnya patah, dia tidak peduli lagi. Dia mengayunkan perisai besar. Seorang ksatria berteriak dan muntah darah, lalu menabrak dan menghancurkan konter di kedai. Tapi karena kedai ini terlalu kecil, pedang para ksatria banyak menggores tubuh si prajurit banteng.
Pemanah itu paling parah. Panah hanya digunakan untuk serangan jarak jauh. Di tempat sekecil ini, dia tidak dapat menggunakan busur panjangnya, hanya bisa menahan serangan ksatria dengan belati. Tak lama kemudian, dia tumbang.
Parang di tangan gadis cantik merusak pedang ksatria. Gerakannya lincah, tetapi melihat kawan-kawannya sudah tidak dapat menahan, dia melihat Dewey yang duduk di samping sekilas. Anak ini jelas pemimpin. Sebuah pikiran melintas di benaknya, dia menghindar seorang ksatria, lalu bergegas menuju Dewey.
Namun, ksatria keluarga Rollin tidak melupakan tugasnya dalam melindungi majikan. Begitu kaki gadis ini bergerak, seorang ksatria melempar meja dan membuatnya sempoyongan. Kemudian ksatria di sebelah menusuk baju besi kulitnya. Tapi baju besi kulit ini jelas disihir. Cahaya putih melintas di baju besi kulit, pedang berayun menjauh, gadis itu tidak terluka.
Para ksatria keluarga Rollin yang sedang bertarung dengan pedang langsung merasakan berat. Gerakan mereka melambat, pedang di tangan seolah memberat beberapa kali lipat. Perubahan itu merugikan mereka. Karena gerakan melambat, beberapa ksatria langsung terluka dan berdarah.
Dewey yang menonton di tempat yang jauh, matanya berbinar.
Teknik melambat! Ini adalah sihir sesungguhnya!
Penyihir itu melangkah mundur dan jarinya bergerak di waktu yang sama. Dewey melihat bola api keluar dari ujung jarinya dan menembak beberapa ksatria. Untungnya, seorang ksatria dengan keterampilan seni bela diri baik membelah bola api dengan pedang. Namun, percikan api ada di mana-mana. Beberapa ksatria lainnya terperangkap oleh api. Mereka menjerit kesakitan dan gerakan menjadi kacau.
Kedai telah penuh dengan api. Penyihir itu seolah berubah menjadi mesin penyembur api. Alhasil, para penjaga keluarga Rollin yang awalnya berada di atas angin, langsung kalah. Dua puluh orang melawan beberapa orang, namun kekuatannya setara.
Dewey merasa ada yang salah.
Penyihir ini telah mengeluarkan tujuh atau delapan bola api berturut-turut. Meski tidak tahu seberapa kuat penyihir level satu, Dewey melihat si penyihir mengeluarkan banyak bola api dalam satu tarikan napas dan menemukan bahwa dia hampir tidak melantunkan mantra. Setiap kali dia mengangkat tangan, bola api ditembak dengan luar biasa cepat.
Itu telah jauh melebihi kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh penyihir level satu.
Dewey ingat jika buku-buku tentang sihir yang ia baca jelas menyatakan bahwa penyihir mahir dalam serangan jarak jauh, tetapi lemah dalam pertarungan jarak dekat. Melihat tidak ada ksatria di dekat si penyihir, Dewey segera mengambil botol bir dan melemparnya.
Penyihir bisa mengeluarkan mantra kuat, tetapi kekuatan tempur jarak dekatnya sangat lemah. Dia hampir gagal menghindari botol bir itu. Prang! Botol bir menghantam dinding, serpihan kaca menggores wajahnya. Si penyihir menyentuh wajahnya sembari menjerit kesakitan. Dewey bergegas ke sana, mendorong si penyihir ke lantai dan mencekik lehernya.
Strategi Dewey benar, tetapi dia melupakan kekuatannya. Bagaimanapun, dia sekarang adalah anak berusia tiga belas tahun. Memangnya sekuat apa? Kekuatan tempur jarak dekat penyihir memang lemah, tapi orang dewasa tidak mungkin kalah dari seorang anak berumur tiga belas tahun, kan?
__ADS_1
Setelah meronta beberapa kali, gantian Dewey yang ditindih di bawah. Kedua lengannya dikunci. Ketika Dewey hendak berteriak, buk! Penyihir pingsan dan jatuh di atas Dewey. Dewey mendorongnya dengan kuat, lalu mendapati Sia - pelayannya yang setia - berdiri di depan dengan raut panik dan menggenggam sebuah kaki meja kayu.
Tanpa bantuan penyihir, gangguan teknik melambat, dan serangan bola api, para ksatria keluarga Rollin langsung bersemangat dan menyerang kembali. Mereka dengan kuat menghabisi lawan.
Prajurit banteng juga tidak tahan dengan banyak orang. Kakinya terkena dua pedang dan tersungkur ke lantai. Sedangkan pemanah itu sudah pingsan. Si gadis cantik paling sulit untuk dilawan. Kekuatannya biasa saja tetapi baju besi kulitnya jelas telah disihir. Gerakannya sangat gesit, jelas karena pengaruh sihir. Parangnya juga bukan senjata biasa karena bisa memotong pedang dua ksatria. Beberapa ksatria terakhir menjatuhkannya bersama-sama, kemudian menekannya di lantai.
Dewey terengah, seorang ksatria membantunya berdiri, lalu menemukan sebuah kursi yang belum rusak untuknya. Para ksatria ini merasa malu karena sebagai pelindung kereta, mereka membiarkan majikannya ketakutan.
Dewey tidak peduli.
Dia sudah mengetahui situasi. Beberapa petualang ini adalah orang biasa, keterampilan seni bela diri mereka juga biasa. Yang hebat hanya prajurit yang seperti banteng itu, tetapi tenaganya cuma sedikit lebih kuat. Mereka bahkan tidak memiliki prajurit bijak yang bisa menggunakan energi.
Energi level rendah pun tidak bisa digunakan, mereka hanya beberapa orang tak berkelas.
Tapi dilihat dari sisi ini, cukup menjelaskan bahwa Tuan Muda Dewey begitu tidak disayang. Kedua-puluh ksatria yang diutus untuk melindunginya adalah ksatria yang paling buruk dalam keluarga Rollin. Dua puluh orang melawan empat orang saja kewalahan.
Tampaknya, ayah itu sudah sangat putus asa pada nya sehingga mengutus sekelompok orang lemah untuk menjadi pengikutnya. Dewey tersenyum masam dalam hati.
Kalau tidak… huh, apakah keluarga Rollin dari pemimpin kedua komando militer kekaisaran yang terhormat tidak memiliki ahli?
Tidak heran juga, mana ada ksatria dengan keterampilan seni bela diri tinggi yang mau diasingkan bersama Tuan Muda tak berguna? Hanya orang tidak kompeten yang terpaksa menerima perintah diasingkan tersebut.
Para ksatria meminta maaf dengan malu. Dewey tidak menghiraukan, justru mengambil senjata lawan. Dia melihat perisai besar prajurit banteng sekilas lalu kehilangan minat, lantas beranjak ke sisi gadis seksi itu dan meneliti baju besi kulitnya. Beberapa saat kemudian, dia berseru, “Memang benar!”
Setelah membaca banyak buku tentang sihir, Dewey semakin tertarik dengan sihir. Dia telah memastikan bahwa baju besi kulit ini setidaknya ditambahkan dua sihir ketangkasan dan kekuatan.
Dengan dua sihir tersebut, baju besi kulit ini cukup bernilai. Bisa dijual ke toko senjata kelas atas di ibukota kekaisaran dengan harga tinggi. Banyak seniman bela diri yang bijaksana akan bersedia membelinya. Kenapa gadis cantik berkaki panjang dengan keterampilan seni bela diri ‘lemah’ ini bisa memiliki benda sebagus ini?
Dewey juga melihat parangnya dan menemukan permata di gagang yang sepertinya alat penyimpan kekuatan sihir yang tertulis di buku.
“Hm, lagi-lagi senjata yang ditambahkan sihir.”
Masih ada yang lebih berharga, yaitu busur dan anak panah perak yang dibawa gadis ini. Perak relatif lunak sehingga tidak cocok dijadikan sebagai senjata konvensional. Namun, logam jenis ini adalah senjata terbaik untuk melawan penyihir.
Karena pengetahuan umum yang diterima adalah logam memiliki kekuatan tolak untuk sihir. Ketika penyihir-penyihir level tinggi memberikan sihir, untuk menebus kelemahan jarak dekat penyihir itu sendiri, mereka akan menambahkan sihir pelindung pada diri sendiri.
Busur dan anak panah perak ini jelas merupakan senjata serangan untuk melawan sihir pertahanan.
Ini adalah busur dan anak panah langka dengan kemampuan ‘menghancurkan iblis’. Tidak berguna jika melawan orang biasa, tetapi merupakan pilihan yang bagus untuk melawan penyihir.
Dewey tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat gadis berkaki panjang ini. Seniman bela diri sepayah ini memiliki banyak senjata yang telah disihir, bahkan termasuk senjata penghancur iblis yang sangat langka.
Tatapan Dewey berhenti terlalu lama di tubuh gadis berkaki panjang itu dan membuat tawanan wanita ini salah paham. Para ksatria di sisi Dewey pun mau tidak mau bertanya-tanya tentang niat majikan kecil mereka. Bagaimanapun, seorang pemuda yang terus memandang dada gadis memang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
“Lepaskan baju besi kulit gadis ini.” Dewey memerintah santai. Sebenarnya dia murni hanya tertarik pada senjata bersihir yang dimiliki gadis itu. Dia bahkan memiliki dorongan untuk segera mencari kamar yang tenang untuk meneliti barang-barang ini. Kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan di hatinya tentang benda yang ada di buku.
Tapi ksatria tampak kesulitan. “Um… Tuan Muda yang terhormat, apakah Anda akan benar-benar melucutinya di tempat ini?”
__ADS_1
Ucapan ksatria agak tidak jelas dan ekspresinya sedikit ambigu. Karena dilihat dari lekuk tubuh dan belahan dada yang terekspos si gadis berkaki panjang ini, dia jelas tidak mengenakan apa pun di balik baju besi kulitnya. Palingan hanya pakaian dalam.