
Kulit tangan ini tua, kering dan luar biasa kurus, seperti tulang dibungkus kulit, sekering batang pohon tua yang hitam.
Jarinya terangkat dan mengait pada Dewey dan kawan-kawan, memberi mereka isyarat untuk masuk, kemudian tangannya tertarik kembali.
Dewey adalah orang pertama yang tenang. Dia maju dua langkah, meletakkan tangan pada dinding gua yang bergerak itu dan merasakan permukaan lembut, seperti menekan air. Sebuah ide muncul, dia mengulurkan tangan ke dalam dinding gua.
“Sepertinya bisa masuk.” Suara Dewey agak serak.
Kedua gadis di belakang Dewey memegang tangan satu sama lain dan berdiri berdempetan.
“Apakah kita akan masuk?” Joanna menatap Dewey, dia agak tegang. “Bagaimana jika dia punya niat buruk?”
Apa yang terjadi memang sedikit aneh.
“Tinggal di sini juga akan mati,” ujar Dewey datar, kemudian dia melambai kepada Vivian. Vivian segera berjalan ke sisinya.
“Apakah kamu percaya padaku?”
Vivian mengangguk kuat. Dewey menggenggam tangan Vivian, kemudian menatapnya sekilas, sebelum berbalik dan masuk terlebih dulu.
Vivian menghirup napas dalam-dalam dan berdoa dalam hati. Tuhan Yang Maha Esa, berkatilah Vivian kecil yang malang dan Dewey…. Oh, dan juga kakak.
Melihat kedua sejoli itu masuk, lantas Joanna menggertakkan gigi dan ikut masuk.
Jadi, Dewey menarik Vivian, Vivian menarik Joanna.
Pemandangan ini tampak aneh. Tiga orang masuk ke dalam dinding gua. Ketika ketiga orang itu masuk, dinding gua seperti permukaan air yang beriak, kemudian kembali tenang sebelum akhirnya berubah menjadi dinding gua yang keras.
Bagi Dewey dan lainnya, mereka seolah masuk ke dalam mimpi buruk.
Tempat ini gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali dan tidak ada suara apa pun. Mereka hanya bisa berjalan sesuai insting. Dewey bahkan tidak yakin apakah arah yang dia tuju benar.
Orang tua tadi mungkin menggunakan sihir. Jika mereka berada di tengah jalan, lalu orang tua tadi menyimpan sihirnya, bukankah mereka akan terkubur dalam batu?
Tepat ketika Dewey bertanya-tanya tentang berapa lama kegelapan ini akan bertahan, tempat ini tiba-tiba menjadi terang.
Ini adalah gua lain, jauh lebih besar dari gua sebelumnya.
Seseorang berdiri di tengah gua besar ini.
Orang tersebut mengenakan jubah hitam panjang, topi tinggi, dan tampak sangat kurus. Dewey terkejut karena dia menemukan bahwa orang tersebut mengambang.
“Hei, kamukah yang memancing kami ke sini?” tanya Dewey, memberanikan diri.
Orang itu diam, tangannya masih terangkat dan mengait pada Dewey dan lainnya.
Gua sebesar ini berpenerangan buruk dan berhawa dingin. Orang tersebut mengambang dan berpakaian hitam. Pemandangan ini memang agak menakutkan. Dewey pun merasa tenggorokannya agak kering.
“Kalian sedang takut….”
Masih suara tua, lemah, dan hampir putus yang sama. “Mengapa?”
Menghirup napas dalam-dalam, Dewey menggertakkan gigi dan berkata, “Seharusnya kami yang bertanya ‘mengapa’, kan? Mengapa? Mengapa kamu membawa kami ke sini?”
Orang itu tidak merespon.
Dewey memberanikan diri untuk bertanya lagi. “Kamu majikan tempat ini, kan? Kamu yang membalikkan rakit kami di laut, kan? Kamu yang memelihara monster itu? Atau kamu adalah monster itu sendiri? Kami jatuh ke laut dan disapu ke gua itu oleh pusaran air juga perbuatanmu, kan? Di mana kami? Siapa kamu? Mengapa kamu menyerang kami?”
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
Suara yang terdengar adalah ledakan tawa. Tuhan bisa menjadi saksi, Dewey tidak pernah mendengar suara tawa sejelek dan semenyeramkan ini seumur hidupnya.
“Orang bodoh….” Suara tua itu menjawab, “Kalian seharusnya berterima kasih padaku. Kalau bukan aku menggunakan sihir, kalian sudah dimakan oleh dia.”
Jawaban ini mengejutkan Dewey dan lainnya.
“Maksudmu… kamu menyelamatkan kami? ‘Dia’ itu apa?” Jantung Dewey berdebar. “Siapa kamu? Di mana kita?”
Lagi-lagi suara tawa terdengar.
Orang ini melayang dan berhenti di tempat beberapa langkah dari Dewey dan lainnya. Dewey akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Wajahnya sangat pucat. Yang membuat mereka takut adalah… wajah ini seperti transparan saking putihnya. Kulit wajahnya hampir transparan, tulang di balik kulitnya bahkan terlihat.
Siapa pun yang melihat wajah ini pasti akan bermimpi buruk.
Dewey masih bisa memberanikan diri, sedangkan ekspresi kedua gadis di belakangnya telah berubah.
Dewey merasa dirinya hebat karena masih bisa mempertahankan nada tenang ketika menghadapi wajah berlapis kulit kering dan hampir tembus pandang. Namun, sikapnya menjadi lebih sopan. “Kalau boleh tahu, siapa kamu dan di mana kita?”
“Tidak bisakah kamu menanyakan pertanyaan yang lebih bermakna?” Ejekan terdengar dalam suaranya. Orang ini mengangkat kedua lengan kurusnya yang ada di balik jubah lebar secara perlahan.
Cahaya muncul di tangannya. Dewey dan lainnya merasa cerah.
Sederet lilin muncul di sekitar dinding gua yang kosong melompong ini. Cahaya lilin menerangi gua.
Kemudian, pada tempat yang diterangi cahaya, muncul meja batu, kursi, bahkan lemari batu.
Benda-benda ini luar biasa indah. Terakhir, beberapa pintu batu muncul di dinding gua.
Kemudian, dia teringat sesuatu. “Oh, biar aku pikir apa lagi yang kurang. Ah, aku tahu.”
Dia mendongak untuk melihat langit-langit, lalu mengangkat jarinya dan seberkas cahaya memantul ke langit-langit gua.
Di bawah tatapan terkejut Dewey dan lainnya, atap gua runtuh.
Atap gua jatuh di jarak tertentu, kemudian atap berbentuk kubah berubah menjadi atap datar. Cahaya keemasan perlahan menyebar dari atap hingga berubah menjadi lampu gantung. Dua belas lilin menggantung di sana.
Dewey dan lainnya tertegun.
Terutama Vivian dan Joanna. Kedua orang itu adalah jenius sihir sehingga lebih paham.
Sihir semacam ini adalah dewa!
“Tamu-tamu kecilku, apakah kalian masih punya permintaan lain?” Suara orang ini terdengar dingin.
“Makanan dan air.” Dewey mencoba untuk berbicara. “Kamu tidak makan selama beberapa hari.”
Orang ini tersenyum tanpa suara, untungnya dia tidak tertawa kali ini. Kerangka tembus pandang tersenyum padamu, pemandangan ini tidak menyenangkan.
“Maaf, aku tidak bisa melakukannya.” Orang ini menggeleng dan tersenyum tak berdaya. “Sihirku bisa menciptakan apa pun di sini, kecuali makanan dan air. Semua yang kalian lihat hanya bayangan sihir. Kursi, meja, dan cahaya bisa menipu indera penglihatan dan indera peraba kalian. Tapi aku tidak dapat menciptakan makanan dan air, karena aku tidak dapat membohongi lambung kalian, tidak dapat menghilangkan dahaga kalian.”
Dia seolah sedikit menyesal.
Namun, Dewey dan lainnya merasa bahwa orang ini sudah sangat hebat.
__ADS_1
“Vivian, bisakah kamu menciptakan sesuatu di ruang kosong?” bisik Dewey bertanya pada gadis bodoh di sebelahnya.
Vivian langsung menggeleng. “G-Guru pun tidak bisa me-melakukannya!”
Dewey lalu melihat Joanna. Joanna pun berkata, “Kamu pikir penyihir itu dewa?”
“Oh, gadis berambut putih, apa katamu?” Orang itu mendengar ucapan Joanna. “Kamu bilang, ‘kamu pikir penyihir itu dewa?’ Hm, kalau begitu….”
Dia maju beberapa langkah, mendekati Joanna. Nada bicaranya terdengar serius dan rendah. “Kalau begitu, menurutmu apa itu dewa?”
Joanna agak tegang, tubuhnya mundur secara tak sadar. “Dewa… dewa adalah dewa. Dewa menciptakan dunia….”
Sebelum Joanna selesai berbicara, orang ini spontan meledak.
Jubahnya mengembang seolah terisi angin, kemudian dia meraung, mengejutkan Dewey dan lainnya.
“Bohong!”
Raungannya bergema di gua, membuat Dewey merasa pusing.
Orang di depannya tampak ganas dan marah. Jubahnya mengembung, dia jelas murka.
Dewey segera berkata dengan hati-hati. “Kalau begitu, menurutmu, apa ‘fakta’nya, Tuan?”
Pertanyaan ini langsung membuatnya tenang. Dia menurunkan kedua lengannya dan melihat Dewey sekilas. “Sekarang bukan waktunya membicarakan itu.”
Dia mundur dan menatap ketiga tamunya, kemudian berkata, “Tolong sebut nama kalian lebih dulu, tamu-tamu kecilku.”
“Mengapa?” tanya Joanna.
“Karena ini adalah rasa hormat paling dasar terhadap tuan rumah.” Orang ini tersenyum mengejek.
Tanpa ragu, Dewey segera berkata, “Dewey Rollin, putra dari Earl Raymond – kepala keluarga Rollin sekaligus wakil komando tinggi kekaisaran.”
Vivian hanya bisa memberitahu namanya juga. Kemudian Joanna tampak ragu sejenak, akhirnya juga berkata dengan tak berdaya. “Joanna.”
“Oh, sangat bagus.” Tuan rumah ini tersenyum tipis. “Seorang bangsawan mulia dan dua gadis penyihir. Tamu kali ini lebih menarik dari terakhir kali.”
“Kalau begitu, siapa namamu?” Dewey tersenyum padanya. “Sebagai tuan rumah juga harus memiliki rasa hormat paling dasar terhadap tamu.”
“Aku?” Suara orang ini menjadi rendah. “Namaku tidak penting. Jika kalian bersikeras ingin tahu, namaku adalah Chris Durier Sauniere Arabat Kiera Iglar.”
Dia menyebut namanya yang super panjang dalam satu tarikan napas, membuat Dewey dan lainnya pusing.
Kemudian, lelaki ini baru membicarakan inti hal. “Sebenarnya, aku bukan tuan rumah di sini. Aku hanya seorang pelayan, pelayan yang paling setia dari seseorang.”
Pelayan?
Seorang pelayan saja memiliki kekuatan sihir seperti ini? Siapa yang bisa memiliki pelayan seperti ini?
“Kalau begitu, majikanmu adalah….” Dewey bertanya dengan hati-hati. Nadanya terdengar lebih sopan.
Bagaimanapun, dia sudah menunjukkan kekuatannya.
“Majikanku….” Orang ini mengulas senyum. “Kalian pasti tahu namanya. Meskipun dia memiliki banyak nama berbeda dalam berbagai buku, orang-orang dunia menyebutnya….”
Dia terdiam beberapa detik dan tersenyum.
__ADS_1
“Iblis.”