Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 33: ‘Hasil Panen’ Dewey


__ADS_3

Dewey dan Vivian berlari ke tempat di mana naga tidur di hutan, tetapi menemukan bahwa naga api Vivian telah bangun dan sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mulutnya mengeluarkan auman, tampak ketakutan.


Vivian segera berlari ke sana, lalu memegang satu cakar naga. Dia membacakan mantra, seberkas cahaya muncul di tangannya. Meski cahayanya lemah, naga akhirnya kembali tenang.


Auman naga berubah menjadi isakan rendah, kemudian naga menundukan kepala dan telungkup, tertidur lagi.


Vivian tampak kelelahan setelah menggunakan sihir. Dewey menghampirinya dan menemukan bahwa gadis bodoh ini tidak berdiri stabil. Dia segera memapah lengannya dan berkata dengan suara rendah. “Apa yang terjadi?”


“A-aku tidak tahu. Se-sepertinya Hot Sun ketakutan. T-tadi….”


“Hm, apa kamu sudah menenangkannya?” tanya Dewey. Melihat Vivian mengangguk, Dewey berkata, “Seharusnya kamu merasakan gempa dan mendengar auman aneh tadi. Itu dari utara pulau. Aku curiga itu adalah sesuatu yang belum kita temui di pulau. Mungkin binatang buas.”


Ekspresi Vivian tampak buruk. Meskipun polos, dia cerdas.


Binatang buas?


Binatang buas apa yang bisa mengeluarkan auman semenyeramkan itu hingga naga pun merasa takut?


“Aku akan melihatnya,” tukas Dewey mendadak.


“Uh? A-akankah bahaya?”


“Kalau bahaya….” Dewey menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi bisa dipastikan bahwa pulau ini tidak biasa saja. Lihat, tidak ada seekor binatang maupun burung di sini. Artinya apa? Aku tebak, kemungkinan besar ada sejenis hewan menakutkan yang mengubah pulau ini menjadi wilayahnya sehingga tidak ada hewan lain di sini. Bagaimanapun, kita tidak bisa pergi dari pulau ini dalam waktu dekat. Aku harus mencari tahu, kalau tidak mungkin selanjutnya kita akan bertemu dengan makhluk itu. Apa kamu mendengar auman mengerikan tadi? Kita harus mencari tahu situasi agar punya persiapan dan bisa memikirkan cara untuk melawannya jika bertemu makhluk itu.”


Vivian mengangguk kuat. “A-aku pergi be-bersamamu!”


Raut Dewey sangat serius. “Tidak boleh! Dengar, gadis bodoh! Jaga peliharaan besarmu di sini! Bagaimana jika auman itu terdengar lagi dan nagamu ketakutan? Lebih baik kamu jaga dia di sini. Jika dia bangun, tenangkan dia. Selain itu, akan merepotkan kalau membawa kamu yang tidak bisa apa-apa. Kamu tidak punya sepatu, apa kamu bisa pergi ke utara pulau ini tanpa alas kaki?”


“....” Vivian tidak bisa berbicara. Dia berpikir sesaat, kemudian melihat Dewey sekilas sebelum menunduk. “Baiklah.”


Dewey berangkat membawa tongkat itu. Dia tidak melintasi hutan, melainkan berjalan di sepanjang pantai di tepi hutan menuju ke utara. Begini mungkin menghabiskan sedikit waktu, tetapi lebih aman.


Cuaca sekarang berkabut, dan Dewey telah menetapkan ada binatang buas di pulau ini. Hm, untuk sementara tebakannya adalah ‘binatang buas’. Jika sudah tahu dan masih berjalan di hutan, itu terlalu berbahaya.


Sepanjang jalan menuju utara, ketika hampir tiba, Dewey mendadak menemukan beberapa pohon pendek di samping hutan. Beberapa benda menarik terikat di pohon.


Itu adalah buah yang bulat dan besar. Dewey merasa senang dan berlari ke sana untuk memetik, tetapi dia segera dibuat kecewa.


Buah-buah besar yang tampak hijau ini ternyata berlubang, seperti kundur kering.


Tapi setelah berpikir, Dewey tetap memetik beberapa ‘kundur’, kemudian mengikatnya pada cabang semak di tubuhnya.


Dengan begitu, jika bertemu hewan buas menakutkan, Dewey bisa lari ke laut. Kundur-kundur berlubang ini bisa membuatnya mengapung. Begitu ada bahaya, Dewey cukup melompat ke laut.


Dia akhirnya tiba di utara pulau. Dewey menyapu sekeliling dan tertegun oleh situasi di sana.


Ujung utara pulau masih berupa hutan, tapi yang membuat Dewey terkejut adalah ada salju di mana-mana.


Berjalan di tepi pantai, lapisan es yang tebal menutupi sepetak kecil hutan di sana, seolah baru saja turun badai salju. Namun iklim di sini tidak mungkin terjadi badai salju.


Selain itu, permukaan yang tertutup es hanya sebesar ini. Bagian lagi masih normal.


Dewey langsung terpikir sesuatu.


Dia melihat ke arah yang jauh dan mencari sesuatu, tetapi cuaca berkabut sialan ini menyulitkannya. Dewey berlari di tepi pantai, mencari di hutan sekitar. Dia memeriksa embun beku di tanah, lalu dengan susah payah menggali es yang menyelimuti tanah hingga menemukan sesuatu.


Tanah di bawah es masih lembap dan hangat. Dengan kata lain, lapisan es ini diselimuti oleh orang? Misalnya, sihir?


Dewey segera berlari ke pantai. Dia berdiri di pesisir, ombak menerpa kakinya pelan. Dewey berusaha melihat ke arah laut.


Samar-samar, Dewey melihat sesuatu terombang ambing di laut. Benda itu berukuran besar. Dia hanya melihat bayangan samar karena kabut.


“Jangan-jangan kapal?”


Harapan muncul di hati Dewey. Dia berteriak kemudian melambaikan tangan.

__ADS_1


Sayangnya benda itu tidak merespon dan tampaknya semakin jauh.


Dewey yakin itu bukan kapal. Karena setelah melihatnya untuk waktu yang lama, dia melihat bahwa benda itu berbentuk kerucut.


Bagaimanapun harus coba melihatnya, putus Dewey.


Sekarang mereka tidak punya apa-apa di pulau ini, makanan dan minuman pun kekurangan. Kesempatan apa pun yang ditemui harus dia lihat. Siapa tahu bisa menemukan sesuatu kemudian terselamatkan.


Dewey segera mengeratkan kundur-kundur di tubuhnya, terjun ke laut kemudian berenang ke depan.


Dia berusaha berenang, tapi sayangnya dia tidak bisa berenang di kehidupan sebelumnya. Dilihat dari posturnya, gaya berenangnya terlihat seperti ‘gaya kayuh anjing’.


Untungnya ombak tidak besar, kalau tidak akan sulit untuk berenang di laut. Karena jika kamu berenang sejauh dua meter, ombak akan membuatmu mundur sejauh tiga meter.


Dewey mengerahkan seluruh tenaganya. Untungnya, kundur-kundur besar di tubuhnya cukup ringan. Sekian lama kemudian, Dewey akhirnya tiba di sekitar benda besar itu.


Melihat kondisi di depannya, Dewey melongo dan hampir tersedak air asin ketika ada ombak kecil.


“Si-sial! Tidak mungkin, kan?”


Di depannya adalah gunung es kecil. Gunung es yang terombang ambing di atas laut. Bukan kapan, bukan juga sesuatu yang berguna bagi Dewey.


Terlebih lagi, seseorang berbaring di atas gunung es.


Baju besi berpola berwarna putih, cape panjang berwarna putih, dan rambut perak bak salju.


Vivian dengan gelisah menunggu hingga petang. Langit hampir gelap dan cacing di perutnya mulai demo lagi. Masih ada beberapa rimpang yang dibawa oleh Dewey tadi pagi, tapi Vivian tidak memakannya, melainkan mengusap perut dan menghela napas, lalu meletakkan rimpang-rimpang itu dengan baik.


Seharusnya dia belum makan juga.


“Ciu! Ciu!”


Setan Ilusi Ketakutan di dalam sangkar menjerit. Bunyinya seperti namanya, Juju.


Vivian menepuk sangkar pelan lalu berkata dengan suara lembut. “Juju, ja-jangan memanggil lagi. A-aku tahu kalau kamu kelaparan, t-tapi ini tidak boleh dimakan. Ha-harus tunggu dia kembali.”


Vivian melihat langkah Dewey tampak melelahkan. Punggungnya membungkuk karena… dia menggendong seseorang!


Vivian membulatkan mata. Dia takut dirinya salah melihat sehingga mengusap matanya dengan kuat, baru kemudian yakin bahwa dia tidak berhalusinasi. Dewey membawa seseorang kembali.


Vivian menghela napas lalu berlari ke sana. Dewey terengah lelah. Sebelum Vivian tiba di sisinya, Dewey telah jatuh ke tanah. Orang yang dia gendong pun terlempar ke samping.


“Air! Cepat beri aku air! Ya Tuhan, aku hampir mati.” Dewey terengah sambil tersenyum masam. “Anak ini lebih berat dari kamu. Ya Tuhan, tidak bisa… tidak bisa….”


Vivian dengan cepat membawa sebuah sepatu berisi air ke sini. Dewey menggeleng sambil menunjuk kundur di tubuhnya. Vivian segera mengambil satu dan menemukan bahwa benda ini sangat berat. Dia menggoyangkannya. Di dalamnya berisi air!


“Aku… aku melihatnya di pohon… jadi memetiknya. Bisa digunakan untuk mengisi air. Di perjalanan kembali, aku pergi lagi ke genangan air itu untuk mengisi air…. Kamu sudah boleh kembali memakai sepatumu.”


Vivian merasa berterima kasih. Kaki kecilnya yang lembut memang telah cukup menderita.


“Satu lagi, cepat periksa orang yang aku bawa kembali. Maukah menyelamatkannya, kamu putuskan sendiri.” Selesai berbicara, Dewey mengambil kundur yang diberikan Vivian dan menenggaknya, kemudian berbaring dan tersengal lagi.


Vivian barulah berlari ke sisi orang yang dibawa Dewey dan melihatnya sekilas.


Bukannya penglihatan Vivian buruk, tetapi dia seolah melupakan segalanya ketika melihat Dewey kembali. Semua hal diabaikan olehnya, dia hanya fokus pada Dewey.


Oleh karena itu, orang yang dibawa Dewey begitu mencolok – dengan baju besi dan cape berwarna putih, demikian pula rambutnya – tetapi Vivian sama sekali tidak meliriknya tadi.


Namun setelah memperhatikan orang ini, Vivian tiba-tiba membelalakan mata dan menutup mulutnya dengan tangan.


Gadis penyihir ini mendekat dengan hati-hati, kemudian membalikkan badan orang yang telungkup. Dia baru yakin bahwa dia tidak salah melihat.


“Kak-kakak?!”


Benar, orang yang dibawa kembali oleh Dewey adalah wanita cantik es yang bertempur dengan Vivian di Kota Setengah Sudut pada hari itu demi merebut Setan Ilusi Ketakutan.

__ADS_1


Saat ini matanya terpejam dan bibirnya terkatup. Alisnya bertaut di tengah pingsannya. Namun Dewey bisa melihat ekspresi takut dan panik yang belum memudar dari wajahnya.


Malam itu, Dewey menyaksikan sendiri betapa kuatnya wanita cantik es ini. Kini melihat wanita ini tampak ketakutan di tengah pingsannya, Dewey tidak bisa tidak berpikir, hal menyeramkan apa yang dia alami?


Dewey lalu menghubungkannya dengan auman keras yang ia dengar hari ini, dan gempa….


Vivian membawa satu kundur ke sisi kakaknya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, “Ba-bagaimana kamu me-melihatnya? A-apa yang te-terjadi padanya?”


Dewey mengedikkan bahu lalu menceritakan secara singkat. Vivian agak bingung. Dia memeriksa tubuh kakaknya dan tidak menemukan luka, tetapi napasnya pendek dan lemah.


Vivian mencoba menyuapi kakaknya air, tetapi wanita cantik es ini mengatup giginya rapat. Dewey merasa tidak sabar, lantas duduk, mengambil cabang pohon untuk membuka gigi wanita cantik es, kemudian merebut kundur dari tangan Vivian, dan langsung menuang air ke dalam mulutnya.


“Ah! Tidak, ka-kamu akan membuatnya ter-tersedak!” Vivian segera menarik lengan Dewey. Dia menatap Dewey sejenak sebelum berkata, “Se-sepertinya kamu tidak se-senang?”


“Apakah aku harus senang?” Dewey menggeleng. “Sebaiknya kamu pikirkan apa yang harus kita lakukan setelah dia sadar. Kekuatan sihirmu tidak bekerja saat ini. Kita bukan lawannya setelah dia bangun.”


Dewey menghela napas. Sebenarnya dia sungguh bimbang. Ketika melihat wanita ini pingsan di lautan, dia sudah memikirkan masalah tersebut.


Kalau menyelamatkannya, wanita ini tidak sejalan dengannya. Bagaimana jika wanita ini menggila lagi? Jangan lupa, malam itu dia mengatakan akan menggunakan Dewey untuk menyempurnakan esensi jiwa. Meski tidak tahu itu apa, bisa dipastikan bahwa itu pasti bukan hal yang bagus.


Kalau tidak menyelamatkannya, Dewey tidak tega membiarkan seorang wanita mati di gunung es itu.


Ketika Dewey sedang sibuk dengan pikirannya, wanita cantik es yang pingsan terbangun karena tersedak.


Dia terbatuk keras, kemudian berusaha untuk bangun duduk. Setelah lama pingsan, tubuhnya agak lemas. Begitu duduk, dia jatuh lagi. Tapi akhirnya dia sadar.


“Kak… kakak….” Vivian memanggil pelan. Gadis bodoh ini agak takut, sepertinya sangat takut pada kakaknya. Dia segera berdiri lalu mendekati Dewey.


“Uh… kepalaku sakit sekali….” Wanita itu memegang kepalanya dan tampak kesakitan. “Apa yang terjadi? Aku… kalian….”


Setelah tidak linglung, dia menjadi sadar dan menatap Vivian dan Dewey dengan mata melebar. “Kenapa kalian di sini? Kenapa aku di sini? Kalian yang menyelamatkan aku?”


Sebelum Dewey dan Vivian bersuara, wanita ini berdiri dan teringat sesuatu, ekspresinya berubah drastis, kemudian dia menjerit, “Nagaku! Nagaku! Naga esku! Octer-ku!!!”


Dia menunjukkan ekspresi sedih, kedua kakinya tiba-tiba melemas, dia berlutut di tanah dengan tangan menutup wajah, lalu menangis.


“Nagaku… Octer-ku! Octer-ku….”


Vivian mengerjapkan mata. Melihat kakaknya yang berduka, dia bertanya dengan suara kecil. “Kakak, a-ada apa dengan na-nagamu?”


“Ada apa… dia mati! Mati!” Sang wanita menangis dengan sedih. Kedua tangannya meninju dan mencakar tanah, seolah tidak punya tempat pelampiasan. “Dia mati! Dia dimakan oleh monster itu! Demi menyelamatkan aku, dia dimakan oleh monster itu!”


Begitu mendengarnya, mata Dewey membola.


Makan naga?


Monster apa yang bisa makan naga?


Bukankah naga hewan paling kuat?


Kakak Vivian menangis lama. Vivian gagal menghiburnya. Dia menangis sampai tenggorokan kering dan mata memerah. Akhirnya napasnya tersengal, dia baru perlahan berhenti.


Dewey menarik Vivian dan melambai padanya dengan raut serius. “Kalau boleh tahu, apa yang kamu alami? Apa yang terjadi dengan monster yang kamu katakan tadi? Apakah ada monster di sini?”


“Monster….” Kilat takut melintas di mata wanita cantik es itu. “Monster! Ada monster!”


Dia melihat Dewey dan Vivian sekilas, tiba-tiba berkata dengan marah. “Untuk mengejar kalian, aku naik Octer-ku ke laut terdekat dan akhirnya menemukan pulau ini. Aku pikir kalian mungkin bersembunyi di pulau ini. Tapi ketika aku dan Octer baru saja mendekati pulau ini, Octer tiba-tiba berubah aneh. Dia terus menjerit seolah ada hal yang membuatnya takut di sini. Bagaimana aku menyetirnya, dia tidak mau mendarat. Akhirnya aku mengendalikannya dengan sihir, dia baru….”


Ketika bercerita sampai di sini, si wanita cantik es menangis lagi. “Aku… aku yang membunuh Octer-ku! Naga esku….”


Dewey menyelanya dengan dingin. “Jangan nangis dulu, katakan apa yang terjadi!”


Si wanita cantik es memelototi Dewey lalu spontan berdiri, menunjuk Dewey dan Vivian sambil berteriak, “Gara-gara kalian! Vivian, gara-gara kamu tidak memberikan Setan Ilusi Ketakutan itu padaku! Kalau tidak aku tidak akan mengejar kalian sampai ke sini!”


Dewey mengangkat alis, merasa kesal.

__ADS_1


Ini namanya logika tak masuk akal.


__ADS_2