Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 36: Buka Wijen


__ADS_3

Dewey merasa kepalanya berbantalkan sesuatu yang lembut ketika bangun. Dia merasa sekujur tubuhnya sakit, seolah dirobek oleh suatu kekuatan. Setiap otot dan sendinya merasa sakit.


Dewey membuka matanya dengan susah payah.


Hal pertama yang membuatnya mendesah lega adalah kedua temannya masih ada di sisinya.


Kepala Dewey berbantalkan paha Joanna, sedangkan Vivian telungkup di dalam pelukan Dewey, kepalanya ada di bawah dagu Dewey.


Pada saat yang sama Dewey bangun, kedua teman perempuannya juga membuka matanya.


“Di mana kita? Apakah kita sudah ditelan oleh monster?” Joanna memijat kepalanya, kemudian dia segera menemukan bahwa kepala Dewey ada di pahanya, sontak dia menjerit, “Apa yang kamu lakukan! Minggir!”


Selesai berbicara, Joanna membalikkan badannya dengan kuat, Dewey langsung bergulung.


Dewey membutuhkan banyak usaha untuk berdiri. Dia mengusap otot kedua pahanya yang sakit. Rasanya benar-benar tidak nyaman, seperti otot tegang.


“Kenapa kamu begitu panik? Aku tidak sengaja juga.” Dewey melihat Joanna sekilas. Wanita ini telah duduk dan menarik Vivian berdiri tanpa mengindahkan Dewey.


Vivian kecil yang malang masih linglung.


Badan mereka bertiga basah, rambut lengket. Dewey masih mending, tetapi kedua gadis itu tampak mengenaskan.


Joanna beruntung karena dia mengenakan baju besi berlubang yang ditambahkan sihir. Vivian kecil yang malanglah yang sial. Jubah penyihirnya telah company-camping ketika di pulau terpencil selama beberapa hari, kemudian Dewey merobek dan menggunakannya untuk mengingat rakit. Saat ini Vivian kecil hanya mengenakan pakaian yang membungkus erat tubuhnya.


Pakaian ini tak kenapa-kenapa, tetapi setelah basah oleh air laut, itu menjadi tidak pantas.


Pakaian ini jelas terlalu tipis, dan parahnya lagi, wanita di dunia ini tidak memakai sesuatu yang dipakai oleh wanita dari dunia Dewey berasal.


Bra.


Setelah terendam air, pakaian tipis menempel pada tubuh Vivian dan menjiplak bentuk tubuhnya. Terutama tubuh bagian atas sang gadis penyihir.


Dewey hanya melihat sekilas dan menjadi tidak fokus.


Walaupun gadis penyihir ini terlalu polos dan masih kekanakan, tubuhnya sudah dewasa. Dada yang sudah tumbuh tercetak jelas di balik pakaiannya. Fatalnya lagi, pakaian Vivian berwarna terang. Jika Dewey menatap lebih detail, dia samar-samar bisa melihat ****** yang meruncing.


Meski dalam bahaya, Dewey tidak bisa menahan diri untuk tidak berkhayal. Setelah melihat wajah Vivia yang linglung, dia mendesah. “Aish… sayang sekali….”


“Apa yang kamu lihat!” Bagaimanapun Joanna lebih dewasa dari Vivian, dia langsung menyadari arah pandang Dewey. Dia menarik adiknya, kemudian memelototi Dewey. “Bangsawan mesum, aku akan mencongkel matamu kalau kamu melihat sembarangan lagi.”


Dewey tidak membantah, tetapi memalingkan wajahnya dan meneliti lingkungan sekitar.

__ADS_1


Tempat ini jelas sebuah gua.


Dua langkah dari tempat mereka berbaring adalah laut. Dilihat dari poin ini, Dewey menyimpulkan bahwa mereka mungkin berada di gua bawah air. Karena bentuk lahan yang unik, di gua ini tidak ada air laut.


Cahaya redup berkedip samar di dinding gua. Dewey dan lainnya baru melihat dengan jelas.


Dewey mengulurkan tangan untuk menyentuh dinding gua, tapi mendapati sepotong partikel kasar. Di dalam partikel ini, ada benda kecil seperti kerikil yang memancarkan cahaya.


“Mutiara Malam? Bukan, sekecil ini seharusnya bukan Mutiara Malam.” Dewey menarik tangannya kembali.


Pengetahuan umum Dewey di kehidupan sebelumnya memberitahunya bahwa kristal atau mineral yang bisa memancarkan cahaya sendiri adalah radiasi yang berbahaya. Tidak baik bagi manusia.


“Apa yang kamu sentuh?” tanya Joanna yang berada di belakang.


“Mengamati bentuk lahan,” jawab Dewey. “Seharusnya kita merasa beruntung karena tidak mati. Kita pasti mengalami serangan monster itu tadi. Tapi aku tidak mengerti bagaimana kita bisa di sini.”


“A-a-a-aku rasa mungkin aku tahu,” ucap Vivian malu, dengan rona merah di wajahnya. Dia tidak berani menatap Dewey. Meskipun polos, dia adalah gadis berusia belasan tahun sehingga kurang lebih memahami tatapan Dewey saat memandang dadanya tadi.


Dewey melihat ke arah Vivian, Joanna langsung berdeham keras. Sebelum Dewey bersuara, dia bertanya, “Apa yang kamu ketahui?”


“P-pusaran air,” ucap Vivian sambil membuat gerakan. “T-tadi aku seperti merasakan ba-bahwa kita disapu ke s-sini oleh pusaran air.”


Dewey mengernyit. “Apakah hanya kebetulan? Pusaran air tidak menyapu kita ke tempat lain, tetapi mengantar kita ke gua ini, tidak membiarkan kita mati tenggelam?” Ekspresi Dewey tampak rumit. “Aku tidak percaya jika ini hanya kebetulan.”


“Aku rasa jika kita ingin keluar, kita harus melompat dari terowongan ini, lalu berenang mengikuti air laut.” Dewey menyimpulkan.


“Kalau tahu begitu lebih baik tinggal di pulau!” Joanna mengamati sebentar dan mendapat kesimpulan yang sama dengan Dewey. Dia merasa kesal. “Setidaknya masih ada air dan rimpang untuk dimakan di pulau itu. Sedangkan di sini? Hanya ada batu di sini!”


“Belum tentu. Setidaknya masih ada oksigen di sini, kita tidak mati kehabisan udara. Itu berarti ada jalan keluar, hanya saja kita belum menemukannya.” Dewey menggeleng.


“Oksigen? Apa itu oksigen?” Joanna mengernyit.


Dewey tidak bisa berkata-kata. Memang agak sulit untuk menjelaskan tentang kimia oksigen kepada orang-orang di dunia sihir ini. Dewey menjawab seadanya lalu segera mengubah topik. “Kita harus pikirkan ide. Apakah kalian bisa gunakan sihir?”


Kedua penyihir perempuan itu menggeleng, membuat ide Dewey terputus.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”


Joanna yang bertanya.


Setelah tinggal di pulau selama beberapa hari, kedua gadis ini secara tidak sadar menganggap Dewey yang paling kecil sebagai pemimpin. Joanna pun merasa bergantung pada pemuda ini. Bagaimanapun, Dewey-lah yang paling tenang di antara mereka bertiga. Membuat rencana pergi, mencari makanan dan air, semua hal penting dilakukan olehnya. Dia juga yang entah sengaja atau tidak sengaja merawat mereka.

__ADS_1


Apa yang harus dilakukan?


Dewey benar-benar tidak punya ide.


Dia bukan dewa. Terkurung di tempat yang tidak ada apa-apa, ide apa yang bisa dia miliki?


Dewey merasa dia bahkan sudah tidak bisa untuk sekadar tersenyum masam. Dia ingin berteriak untuk melampiaskan, karena dia juga merasa tertekan.


Tetapi melihat kedua gadis itu sedang memandangnya, terutama Vivian yang tampak percaya padanya, Dewey mendesah.


Mengulas senyum paksa, Dewey menghibur mereka sebisa mungkin. “Tidak perlu khawatir. Tuhan tidak membiarkan kita mati dan membawa kita ke tempat ini, itu berarti kita tidak akan mati di sini. Pasti ada cara.”


Dewey menghela napas diam-diam, mendekati dinding gua dan menyentuhnya sambil tersenyum. “Kita harus istirahat dulu untuk memulihkan tenaga. Kemudian….” Dewey tidak bisa melanjutkannya. “Kemudian… pasti ada cara. Hei, apakah kalian ingin mendengar cerita?”


Joanna mengerucutkan bibir, dia tidak sepolos Vivian. Dia juga tahu bahwa Dewey sudah kehabisan ide dalam kondisi seputus asa ini. Tapi melihat Vivian yang sedikit gemetar, Joanna menghela napas tanpa mengatakan apa pun.


Jika memang harus mati di sini, maka mati sajalah. Hatinya telah membawa obsesi terlalu lama dan sudah cukup tertekan. Mungkin mati adalah sejenis pelepasan.


Joanna sibuk dengan pikirannya. Vivian telah pergi dari sisinya dan menatap Dewey dengan penuh harap. “C-cerita apa?”


“Cerita….” Dewey tersenyum lalu berkata, “Aku pernah mendengar cerita tentang perampok dan harta karun. Dulu, seorang pemuda bernama Alibaba….”


Dewey menceritakan kisah “Empat Puluh Pencuri” yang terkenal di kehidupan sebelumnya. Terakhir, dia tersenyum sambil menunjuk dinding di depan. “Lihat, siapa tahu Dewa juga akan memberi kita mujizat. Siapa tahu jika kamu menyentuh bagian atas, kemudian berteriak ‘buka wijen’, sebuah pintu akan muncul di dinding ini. Lalu kita bisa keluar.”


Vivian berpikir sejenak dengan kepala menunduk. Ketika mengangkat kepalanya, wajah gadis penyihir ini berlinang air mata. Dia berkata dengan suara pelan. “Dewey, kamu… menghiburku, kan?”


Dewey hanya diam. Dalam kondisi seperti ini, dia hanya bisa membelai rambut Vivian.


Vivian tiba-tiba mengangkat wajah dan berusaha tersenyum, kemudian berkata dengan gagap. “Dewey bilang ada ide… maka pasti… ada ide! K-kita bisa coba satu-satu! Pasti bisa ber-berhasil! Ma-mari kita mulai da-dari ‘buka wijen’ ini!”


Senyum imut muncul di wajah gadis bodoh ini meski matanya masih berkaca-kaca. Kemudian dia benar-benar mengangkat tangannya, mengetuk dinding bagian atas, lalu bergumam dengan suaranya yang manis dan renyah. “B-buka… w-wijen….”


Dewey tiba-tiba merasa sedih. Apakah gadis seimut ini juga harus mati di sini?


Tapi, tampaknya Tuhan ingin bermain dengannya.


Sebelum air mata Dewey keluar….


Setelah Vivian mengucapkan ‘buka wijen’....


Dinding gua ini tiba-tiba bergoyang. Ya, dinding gua yang keras tiba-tiba terbuka.

__ADS_1


Sebuah tangan tua nan kurus terulur dari dinding gua, muncul di depan Dewey dan lainnya. Tepat ketika ketiga pasang mata itu hampir keluar, sebuah suara yang tua, lemah dan nyaris terputus, terdengar dari gua. “Akhirnya… kedatangan tamu…. Masuklah.”


__ADS_2