Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 27: Kakak Perempuan Vivian


__ADS_3

Dewey tidak menolak. Dia juga berharap bisa membahas mantra dengan gadis penyihir ini di tempat hening.


Jadi mereka tidak masuk ke kota, melainkan masuk ke benteng garnisun di luar kota.


Ini adalah benteng militer permanen. Kantor komandan garnisun juga ada di sini. Malam ini, Kesatria Spann yang ingin menyanjung Tuan Muda dari keluarga Rollin, dengan antusias mentraktir semua orang makan. Bahkan secara pribadi memutuskan untuk mengeluarkan anggur enak yang disimpan oleh komandan garnisun di ruang bawah tanah. Kalau Komandan tahu ini demi menjamu bangsawan dari keluarga Rollin, seharusnya dia tidak akan menyalahkanku telah menyentuh anggur enak yang dia simpan, kan.


Para tentara bayaran dan pengawal keluarga Rollin yang lelah sepanjang sore akhirnya bisa istirahat. Di sini, semuanya minum dengan puas untuk melampiaskan kejadian tertekan sore ini.


Dewey membalas basa-basi Spann seadanya, kemudian mencari alasan untuk istirahat. Sebenarnya dia akan mendatangi gadis penyihir itu.


Spann tahu bahwa orang berstatus seperti Dewey bersedia makan bersamanya telah menghargainya. Dia tentu tidak berani menahannya, lantas berdiri untuk mengantarnya.


Pada saat ini, gemuruh yang menggetarkan bumi tiba-tiba terdengar dari luar aula.


Di bawah langit malam yang cerah, petir melintas, disusul oleh guntur yang memekakkan telinga. Semua orang di sana menjadi lebih sadar.


Kemudian cahaya muncul di luar aula dalam sekejap. Api jatuh dari langit, dengan akurat mengenai tiang bendera di pintu masuk kamp. Bam! Tiang bendera itu berubah menjadi abu yang dibakar oleh api.


Di tengah tatapan tercengang semua orang, suara yang dingin terdengar dari sekitar.


Suara ini seperti dari jauh, tetapi juga seolah berada di dekat telinga. Itu adalah suara perempuan yang dingin.


“Vivian, adikku sayang, ke mana kamu akan lari! Cepat serahkan Setan Ilusi Ketakutan!”


Kejadian besar ini mengejutkan semua orang.


Untungnya, hanya ada beberapa tentara di kamp saat ini. Karena sebagian besar tentara sedang latihan musim semi tentara kekaisaran di tempat yang ratusan mil jauhnya.


Kesatria Spann yang sadar duluan. Ekspresinya berubah liar, dia mengambil pedang di lantai lalu meraung, “Siapa yang berani menyerang kamp garnisun!”


Spann benar-benar cemas. Menyerang kamp tentara kekaisaran adalah tindakan pemberontakan yang terang-terangan. Bahkan membakar bendera di depan kamp. Kejahatan ini terjadi di depannya. Jika ia tidak bisa menangkap pelakunya, maka akan dikatakan lalai.


Beberapa petugas lain di aula juga merah matanya. Mereka semua mengambil senjata kemudian keluar bersama Spann. Terdengar suara gemuruh di luar, lampu merah menyala, samar-samar diikuti suara orang mengerang.


Para pengawal keluarga Rollin di aula melindungi Dewey dulu. Ekspresi Robert sangat buruk. Dia melangkah menuju ambang pintu aula, lalu mendapati Spann dan lainnya yang keluar tadi, berbaring di lantai. Pakaian dan rambut setiap orang agak hangus. Mereka mengerang kesakitan, tetapi tidak dapat berdiri.


Di depan, bayangan perak bergegas ke sini dari tangga di depan aula.


Kecepatan bayangan ini sangat cepat, bahkan Robert pun tidak bisa melihat penampilannya. Dia berteriak, “Minggir!”


Robert mengerahkan tenaga dalamnya. Cahaya langsung muncul di pedangnya. Robert menggenggam pedang dengan dua tangan lalu memotongnya. Cahaya sontak melintasi tangga.


Hanya saja bayangan perak itu tidak berniat untuk berhenti, malah menabrak pedang Robert.


Seketika, Robert merasa pedangnya terasa dingin. Hawa dingin ini membuat sang kesatria gemetar dan merasa setiap jarinya menjadi kaku, hampir tidak bisa memegang pedang. Kemudian tenaga yang kuat menabraknya dari pedang. Robert tidak bisa menahannya dan mengerang. Dia hanya merasa sekujur tubuhnya bagaikan tersetrum, lalu mati rasa.


Tang!


Pedang jatuh ke lantai, Robert pun pingsan. Baju dan rambutnya juga seolah hangus. Bibirnya terkatup rapat. Dia jatuh ke lantai, lukanya jelas tidak ringan.


Orang yang datang itu mengalahkan empat kesatria dalam sekejap. Di tengah seruan para pengawal keluarga Rollin, bayangan perak ini akhirnya berhenti dan berdiri di tengah aula.


Orang ini tentu saja seorang wanita. Jelas orang yang berteriak di luar tadi.


Wanita yang memanggil Vivian ‘adik’ ini berbadan tinggi dan luar biasa cantik. Wajah itu hampir bisa menyaingi kekasih impian semua pria. Hanya saja warna bibirnya agak pucat, jelas kurang darah. Kedua matanya terang, tetapi terlalu dingin.


Wajahnya seperti terbuat dari es, dengan ekspresi garang, alis terangkat, dan tatapan mengejek.


Dia mengenakan baju besi berwarna putih yang langka. Ada pola berongga pada baju besi, sulit dipercaya bahwa pola berongga indah yang sengaja dibuat ini membuat baju besi menjadi lebih mencolok. Ada berapa efek perlindungan pada baju besi ini?


Tapi Dewey dan Solskjaer bisa melihat bahwa pola-pola itu adalah pola sihir. Mungkin ada efek sihir yang ditambahkan.


Ada juga cape putih panjang di belakangnya dengan ekor menyeret tanah.


Baju besi putih, cape putih. Wanita berparas jelita ini seperti keluar dari salju.

__ADS_1


Namun, ini semua bukanlah alasan Dewey terkejut.


Saat ini bangsawan kecil ini tidak setenang biasanya, dia menatap wanita tersebut dengan mata membelalak.


Wanita ini memiliki rambut panjang berwarna perak bak salju.


Rambut panjang peraknya, juga mata, bibir, dan hidungnya yang mungil dan mancung.


Dewey bagaikan tersambar petir.


Karena dia mengenal penampilan wanita ini.


Beberapa hari lalu, di ruang rahasia bawah tanah ruang kerja kastil Rollin. Semel, sang pencipta sihir bintang, penyihir, ahli nujum hebat, yang meninggalkan misteri lingkaran sihir tentang astrologi untuknya.


Wanita ini…. Kalau bukan Dewey tahu bahwa Semel telah meninggal selama  ratusan tahun, dia akan mengira ahli nujum wanita yang hebat itu masih hidup dan berdiri di depannya.


Dari penampilannya, wanita asing ini 90% mirip dengan wajah bayangan Semel yang Dewey lihat.


Dewey tercengang, orang lain berpikir kalau majikan kecilnya hanya terkejut. Semua orang mengepung Dewey, beberapa pengawal keluarga Rollin yang ada di depan mengangkat pedang dan menunjuk wanita ini sambil berteriak, “Pemberontak, berani-beraninya menyerang kamp garnisun kekaisaran!”


“Hahahahahaha….” Wanita ini tertawa dingin, demikian juga tatapannya. “Aku sudah melakukannya, kalian hanya bisa menakut-nakuti dengan berteriak?”


Dia mengangkat jarinya, lalu panah es melesat dari ujung jarinya. Sebelum semua orang bereaksi, pengawal keluarga Rollin yang berbicara tadi telah terpanah, lalu membeku dan jatuh.


Itu dilakukan dengan mendadak, bahkan tanpa aba-aba. Dewey akhirnya sadar. Dia tanpa sadar melihat Solskjaer sekilas. Mereka melihat rasa terkejut satu sama lain.


Teknik instan?!


“Pengawal keluarga Rollin, lindungi Tuan! Lawan!” teriak seorang pengawal, mengangkat pedangnya lalu bergegas maju. Belasan pengawal keluarga Rollin di samping pun maju sambil bersorak. Mereka mengepung wanita ini, belasan pedang menghunusnya dari segala arah.


Wanita ini tertawa, dia berputar di tempat, lalu lingkaran cahaya putih muncul. Lingkaran cahaya ini keluar tubuhnya, kemudian melesat ke belasan samurai yang baru saja mendekatinya. Orang yang menyentuh lingkaran cahaya ini akan langsung memantul.


Seketika, terlihat belasan orang melayang dan jatuh di segala arah. Ada yang menabrak dinding, ada yang menabrak meja kursi, ada yang langsung keluar dari aula.


Ada begitu banyak orang berbaring di lantai. Entah sihir apa yang wanita ini gunakan. Orang-orang ini pingsan, tersisa Dewey dan Solskjaer yang berdiri di sebelahnya di aula.


Wajah Solskjaer langsung memerah. Lencananya telah dibakar ketika ditawan oleh Dewey. Mendengar pertanyaan wanita itu, dia membuka mulut, tetapi tidak bisa mengatakan apa-apa.


Wanita itu menggeleng. “Aku tidak menyangka ada seorang penyihir di garnisun kecil ini. Kalau begitu, aku bisa berduel denganmu sesuai dengan etika penyihir.”


Rambut panjang perak wanita dingin ini melayang ketika berbicara, seperti salju di utara. Dia mengangkat satu jari, ujung jari segera berubah menjadi lencana penyihir kecil. Dia menyematkan lencana di bawah bahu jubah, lalu berkata dengan tidak sabar. “Sudah, Penyihir, kamu duluan. Aku selalu tidak suka memakai lencana semacam ini, lebih baik kita cepat bertarung.”


Solskjaer nyaris pingsan.


Bertarung?


Ia melihat lencana yang muncul di tangan wanita ini tadi. Itu adalah lencana semanggi emas. Sama seperti lencana Vivian. Dia juga penyihir hebat level tinggi.


Ia, seorang penyihir level satu, disuruh melawan penyihir hebat level delapan ke atas?


Pernahkah kamu melihat anjing kecil menantang naga suci?


Jadi Solskjaer bereaksi cepat. Tenggorokannya berderak, kemudian dia memiringkan kepala dan memejamkan mata. Pingsan di tempat.


“....” Melihat si penyihir tiba-tiba pingsan ketika akan bertarung, wanita cantik es ini tertegun kemudian mencibir, “Penakut.”


Dia akhirnya melihat Dewey yang satu-satunya berdiri di aula.


“Bagaimana denganmu? Seorang bangsawan? Ah, tadi bawahanmu mengatakan bahwa kalian dari keluarga Rollin, benar? Apakah kamu anggota keluarga Rollin?”


“Ya.” Raut Dewey tidak berubah. “Namaku Dewey Rollin. Wakil komando tinggi kekaisaran sekarang, Earl Raymond, adalah ayahku.”


“Huh, apakah nama keluarga Rollin bisa membuatku takut?” Wanita ini menilai Dewey. “Kamu hanya anak kecil. Kenapa bisa lari ke sini?”


Dia dengan cepat kehilangan minat terhadap Dewey lalu berteriak, “Vivian, kalau kamu tidak keluar, aku akan meratakan tempat ini! Adikku sayang, jangan bikin aku marah! Cepat serahkan makhluk kecil itu!”

__ADS_1


Setelah itu wanita ini tampak tidak sabar. Dia tiba-tiba merentangkan kedua lengannya, tatapannya menjadi kosong, kemudian angin puyuh muncul dan naik ke atas dengan tubuhnya sebagai pusat.


Angin puyuh dengan mudah menghancurkan atap aula. Potongan-potongan atap terbang ke mana-mana. Angin puyuh menyebar perlahan.


“Vivian, kamu pikir aku tidak berani? Seharusnya kamu tahu kalau tidak ada hal yang tidak berani aku lakukan di dunia ini!”


Dia tertawa, kedua tangannya membuat gerakan aneh, kemudian angin puyuh semakin kencang. Kepingan salju mulai berjatuhan di udara sekitar.


Kepingan salju?


Aneh! Ini di selatan!


Dewey telah jatuh ke lantai ketika angin puyuh menghancurkan atap.


Dia akhirnya merasakan kekuatan penyihir hari ini. Seorang penyihir dengan mudah menghabiskan banyak samurai. Mereka tidak bisa melawan di depan penyihir.


Dan, wanita ini terlalu hebat.


Bukankah katanya kemampuan tempur jarak dekat penyihir sangat buruk?


Jangan-jangan…. Dewey tidak pernah melihat penyihir mengenakan baju besi. Jangan-jangan dia membina sihir dan bela diri?


“Kak… kakak, to-to-tolong ber-berhenti!”


Suara gagap Vivian akhirnya terdengar. Vivian mengenakan jubah penyihir yang panjang, melayang keluar dari kamp. Tubuhnya menggantung di udara, tangannya menenteng sangkar kecil. Sangkar itu dicipta olehnya. Ada jejak sihir di sana, cukup untuk mengunci Setan Ilusi Ketakutan di dalam.


Vivian tampak takut, tidak berani menghadapi kakaknya, hanya memohon. “Kakak, a-a-aku mo-mohon padamu.”


“Vivian kecil yang malang.” Wanita cantik es itu mendengus. “Kapan kamu akan sadar untuk menjadi kuat? Kamu memiliki kekuatan sihir yang besar, tetapi sepenakut kelinci.”


Setelah itu dia mengeluarkan seruling panjang yang aneh dari pinggang.


Seruling ini berwarna hijau, akhirnya ada warna lain pada sosok wanita cantik berwarna serba perak ini. Menunjuk Vivian dengan seruling, wanita cantik es ini mendengus. “Letakkan Setan Ilusi Ketakutan. Aku akan pergi setelah mendapatkan tanduknya. Kalau tidak aku akan membuatmu menderita, adikku sayang.”


Kemudian dia menggoyangkan seruling, lingkaran cahaya yang tak terhitung jumlahnya melesat keluar dari ujung seruling. Dewey telungkup di lantai dan tiba-tiba mendengar suara aneh bernada tinggi di sekitar.


Ini jelas sejenis mantra serangan sonik.


Dari jauh saja, dia merasa suara ini sangat memekakan telinga dan akan pingsan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Vivian yang berada sedekat itu.


Gadis bodoh ini sepertinya sangat takut pada kakaknya. Tubuh kecilnya gemetar. Dia mengangkat tangan, dengan cepat membaca mantra. Perisai sihir prismatik muncul di depan, menghalangi lingkaran cahaya yang ditembakkan. Dia kemudian berkata dengan suara tinggi. “Ka-kakak, Juju a-a-adalah pe-peliharaan gu-guru! Ji-ji-jika kamu mem-membunuhnya, gu-gu-gu-guru a-akan….”


“Huh! Semua orang takut pada tua bangka itu, tetapi aku tidak!” Wanita cantik es tampak lebih mengejek. “Aku membutuhkan tandu makhluk ini! Kamu tahu bahwa aku tidak dapat membuat senjata pertahanan sihir terakhir jika tanpa itu! Cepat berikan dia padaku!”


Selesai mengucapkan kata terakhir, wanita cantik es melesat diikuti cahaya perak di udara. Dia terbang ke sisi Vivian dalam sekejap, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil sangkar yang ada di tangan Vivian.


“Jangan!” Karena cemas, Vivian berkata tanpa gagap. Tubuhnya menghilang dari tempat semula, kemudian muncul di tempat sejauh sepuluh meter.


“Haha, adikku sayang, kamu sudah terampil menggunakan Sihir Pindah Api Giok, ya. Tapi kamu yang penakut hanya bisa menggunakannya untuk kabur, bukan?” Dengus penyihir dingin.


“Kakak… kakak… ja-jangan paksa a-aku!” Vivian sudah mau menangis.


“Aku mau memaksamu! Dasar gadis menyedihkan! Begitu melihat kamu menangis, aku ingin marah!” teriak wanita cantik es. Dia tiba-tiba mengangkat satu tangan, kemudian membaca mantra yang sulit dipahami. Kabut putih mulai muncul di telapak tangannya. Kabut itu semakin tebal dan muncul embun beku.


Wajah Vivian memucat, dia menjerit, “Ti-ti-tidak boleh! Tidak boleh meng-menggunakan sihir itu di si-sini!”


“Kenapa tidak boleh?” Wanita cantik es sudah selesai membaca mantra. Tangannya seolah memegang gunung es besar.


Ada sesuatu bergerak di tengah gunung es yang akan menghancurkan gunung es kapan pun.


Vivian tiba-tiba berteriak pada Dewey. “Ce-cepat lari!”


Dewey, yang telungkup di lantai, tertegun ketika mendengar teriakan Vivian. Dia juga bisa merasakan kalau sihir yang akan digunakan wanita cantik es selanjutnya sangat menakutkan. Tetapi dia bisa berlari sejauh apa dengan kedua kakinya?


Dia belum bergerak ketika wanita cantik es tertawa. “Oh, Vivian kecil yang malang, kenapa kamu begitu memperhatikan bangsawan kecil ini? Ah… jangan-jangan dia adalah kekasihmu? Tuan muda keluarga Rollin. Status itu terpaksa layak untuk bersanding denganmu. Dia juga tampan, hanya saja tidak punya kemampuan.”

__ADS_1


Setelah itu dia mengaitkan jari pada Dewey, kemudian Dewey merasa tubuhnya seolah diikat dengan tali, melayang cepat ke depan wanita cantik es.


“Vivian, cepat berikan makhluk kecilmu itu padamu! Kalau tidak aku akan menggunakan kekasihmu ini untuk menyempurnakan esensi jiwa!” Ekspresi jahat muncul di wajah wanita cantik es itu.


__ADS_2