
Malam hari, di ruang kerja kuno dengan suasana usang di kastil ini, Dewey berdiri di tengah kandil, mengangkat kepalanya dan menatap lukisan cat minyak di dinding itu. Setelah tenggelam dalam keheningan singkat, Dewey tidak mendapat respons.
Dia mengernyit. “Tidak mau jawab?”
Wajah orang dalam lukisan cat minyak masih menatap mata Dewey.
Dewey tersenyum jahat. Dia berjalan ke satu sisi, kemudian mendorong tangga ke sini, memanjat ke atas rak buku dengan tangga, lalu mengulurkan tangan untuk menurunkan lukisan cat minyak tersebut.
Rasa panik kemudian muncul di wajah orang tersebut. Dalam lukisan, kedua mata itu menatap wajah Dewey dengan panik.
“Huft!” Dewey dengan susah payah menurunkan lukisan dari dinding. Benda seberat ini jelas sulit diangkat oleh anak selemah Dewey. Dewey merasa lengannya pegal. Tapi yang membuatnya terkejut adalah tidak ada apa pun di belakang lukisan cat minyak ini.
Tidak ada tombol on off, juga bukan seseorang bersembunyi di balik lukisan ini, melainkan lukisan ini sendiri!
Dewey tampak serius, lantas membawa lukisan ini menuruni tangga dengan hati-hati.
Wajah orang di dalam lukisan tampak masam, tatapannya gelisah.
“Apa sebenarnya kamu?” Dewey berkata dengan suara rendah. “Sosok dalam lukisan yang hidup kembali?”
Tatapan di dalam lukisan minyak agak menghindar.
“Hm, lukisan ini adalah potret leluhur keluarga Rollin yang merupakan seorang marshal. Jangan-jangan kamu ini leluhur yang hidup kembali?” Dewey tersenyum kemudian menggeleng, “Ini tidak masuk akal, karena leluhur itu berusia lebih dari 200 tahun sekarang. Dan lukisan ini jelas dilukis oleh generasi selanjutnya untuk mengenang leluhur. Pertanyaan yang sama, apa sebenarnya kamu?”
Setelah itu tidak ada jawaban. Raut Dewey menggelap. “Oh, tidak mau mengatakannya? Jangan menyesal kalau begitu.”
Dia menunjuk kandil di sekitar. “Kamu lihat, ada banyak lilin di sini. Kalau kamu tidak bersuara, aku akan membakarmu. Coba tebak, apa aku berani?”
Selesai berbicara, dia berbalik untuk mengambil sebatang lilin, lalu mendekati lukisan cat minyak ini.
Raut orang dalam lukisan minyak berubah, rasa takut yang tidak ditutupi, matanya penuh dengan kecemasan dan permohonan. Melihat lilin dan api di tangan Dewey yang kian dekat, orang dalam lukisan minyak hanya bisa menatap Dewey dengan tatapan memohon dan cemas.
Tepat ketika api hendak menyentuh kanvas, Dewey menjauh lilin lalu mengangguk. “Hm, tampaknya kamu memang tidak bisa berbicara? Apa kamu bisa bicara?”
Orang dalam lukisan menggeleng cepat.
“Apa sebenarnya kamu?” Mata Dewey berbinar. Lukisan cat minyak yang hidup! Apakah ini benda yang terbuat dari sihir?
Lukisan minyak tidak dapat menjawab pertanyaan dari Dewey. Setelah terlepas dari bahayanya dibakar, orang di dalam lukisan minyak menghela napas, kemudian menatap Dewey dengan tertarik.
Dewey mencoba menanyakan beberapa pertanyaan lagi kepada lukisan minyak. Lukisan minyak hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Komunikasi seperti ini tidak menghasilkan apa pun.
__ADS_1
Manusia dan lukisan memandang satu sama lain.
Pada saat ini, jam besar di dinding ruang kerja tiba-tiba berdentang. Waktu sudah tengah malam.
Dewey seolah melihat seberkas cahaya perlahan memancar dari mata dalam lukisan cat minyak, kemudian terdengar helaan napas.
Meskipun suara itu agak tidak meyakinkan, Dewey mendengarnya dengan jelas. Jelas-jelas helaan napas orang.
“Dengar baik-baik. Aku terkena sejenis sihir sehingga hanya bisa berbicara sebentar ketika tengah malam tiba. Setelah jam berhenti berdentang, aku tidak bisa bersuara lagi. Sekarang aku hanya akan mengatakannya sekali. Ada sebuah ruang rahasia di ruang kerja ini. Ada beberapa barang berharga di ruang rahasia. Aku bisa menunjukmu untuk mendapatkan barang-barang itu, kemudian aku memerlukan bantuanmu. Salah satu barang berharga itu bisa memecahkan sihir yang aku kena.”
Dewey menatap lukisan cat minyak dengan mata membola. “Kamu yang berbicara?”
“Ya, tidak ada waktu untuk menjelaskannya.” Lukisan cat minyak berkata dengan cepat. “Sekarang kamu mulai periksa dari lukisan cat minyak ketiga di dinding. Ada petunjuk di sana. Kamu lakukan sesuai petunjuk. Jika kamu tidak bodoh maka seharusnya bisa menemukannya.”
“Tong!”
Tengah malam telah berlalu. Begitu suara jam terakhir berdentang, cahaya di mata sosok dalam lukisan cat minyak pun perlahan menghilang. Demikian pula suaranya.
Dewey menatap lukisan cat minyak, orang itu juga menatapnya dengan ekspresi memohon.
“Kamu bilang, kamu terkena sejenis sihir?” Dewey tersenyum. “Kamu bilang, ada sebuah ruang rahasia di ruang kerja ini. Sebuah barang berharga di dalam ruang rahasia dapat memecahkan sihirmu, benar?”
“Baiklah. Apa untungnya bagiku kalau begitu?” Dewey mengulas senyum, “Mengapa aku harus membantumu?”
Ekspresi sosok dalam lukisan berubah. Tatapan memohon di matanya kian kentara. Dia berusaha mengatakan sesuatu, sayangnya tidak bisa melontarkan sepatah kata pun.
“Lupakan, lagipula aku juga merasa heran. Anggap saja menuntaskan rasa penasaranku.” Dewey mengangkat tangan, kemudian naik ke rak buku dengan tangga. Mengikuti instruksi dari sosok dalam lukisan saat jam berbunyi tadi, dia dengan teliti mengamati lukisan cat minyak ketiga di dinding.
Lukisan cat minyak ketiga juga potret leluhur keluarga Rollin. Leluhur ini memakai seragam laksamana, tampak serius, dan melihat lurus ke depan seolah melihat tempat yang jauh.
Dewey memeriksa sebentar tapi tidak melihat jejak apa pun dari lukisan cat minyak ini. Dia bahkan berusaha memeriksa bagian belakangnya, tetapi juga tidak ada hasil.
Dewey berdiri di tangga dan berpikir sejenak. Dia tidak gelisah tapi dengan sabar memeriksa kembali setiap detail. Setelah memeriksa berulang kali dan tidak menemukan apa pun, Dewey tiba-tiba mengamati sosok dalam lukisan cat minyak ini.
Hm, mata sosok ini… datar dan melihat ke depan.
Dewey segera mencari ke arah yang ditatap mata sosok dalam lukisan.
Dinding di seberang. Sosok dalam lukisan ini seolah menatap pedang ksatria yang menggantung di dinding seberang.
Dewey segera mendorong tangga ke seberang. Ini agak menguras tenaga anak laki-laki berusia 13 tahun. Tapi rasa penasaran yang kuat mendorongnya.
__ADS_1
Setelah memeriksa pedang ksatria di dinding, Dewey menemukan bahwa bilah pedang ini mengarah ke rak di samping.
Dia lalu menelusuri rak itu.
Akhirnya, dia menemukannya!
Di balok rak buku, Dewey merasakan garis jejak yang tidak rata. Dia merasakannya sejenak, akhirnya menyadari bahwa ini adalah sebaris teks.
Hanya saja teks ini ditulis secara terbalik. Jika tidak tersentuh secara tidak sengaja dan tidak diamati secara teliti, palingan akan berpikir bahwa ini hanya ukiran biasa.
Sebaris teks yang berlawanan arah. Dewey membacanya dengan cermat.
“Rahasia terletak di langit malam, dan sendok besar adalah kunci jalannya.”
Dewey tersenyum pahit.
Apa-apaan ini? Teka-teki?
Dia menghela napas, turun dari tangga, lalu duduk bersila di lantai, memikirkan teka-teki ini dengan pusing.
“Langit malam… sendok besar….”
Sontak Dewey berdiri, harapan muncul di wajahnya lagi.
Ada apa di langit malam? Bintang!
Sendok besar? Tak perlu ditanyakan lagi, pasti bintang biduk! Bukankah bentuk bintang biduk di langit seperti sendok besar?
Setelah terpikir ini, Dewey segera mencari di rak.
Bintang… bintang….
Yang berhubungan dengan bintang di ruang kerja. Hm, pasti rak buku tentang astrologi!
Menelusuri indeks, Dewey menemukan rak buku yang didedikasikan untuk buku-buku astrologi. Dia memanjat ke atas lalu mencarinya. Kemudian mencari di deretan ketujuh dalam rak sesuai instruksi ‘sendok’ itu.
Dia membalik sejilid demi sejilid, akhirnya….
Ketika menggerakan sebuah buku, dia merasa bahwa buku ini sangat berat. Ternyata ini buku logam. Setelah menggerakannya, terdengar roda berputar dari dalam dinding.
Kemudian, seluruh rak buku perlahan bergerak. Sebuah pintu masuk gelap muncul di dinding belakang rak.
__ADS_1