Hukum Iblis

Hukum Iblis
Bab 31: Malam Di Pulau Terpencil


__ADS_3

Ketika matahari akan terbenam, pencarian Dewey akhirnya membuahkan hasil.


Dia menemukan sebuah genangan air kecil di dalam hutan di sisi barat pulau. Ini mungkin genangan air yang tersisa dari musim hujan. Tidak ada binatang buas di pulau, tempat genangan air juga relatif bercahaya. Dewey dengan hati-hati memeriksa sekitar genangan ini, dan tidak menemukan jejak aktivitas binatang buas apa pun.


Setelah mencicipi dan memastikan bahwa airnya tawar, Dewey merasa tenang. Kedua insan yang haus sepanjang hari itu langsung melemparkan diri ke tepi genangan air dan minum dengan rakus tanpa memikirkan citra. Air dingin dengan sedikit aroma aneh masuk ke tenggorokan yang berapi. Dewey tidak bisa tidak mendesah lega. Ketika rasa dingin meluncur ke tenggorokan, dia menggigil nyaman.


Setelah puas minum air, Dewey melepaskan sepatu bot kulit dombanya, lalu mencucinya di genangan air.


“A-apa yang kamu la-lakukan?” Vivian mengerjapkan mata melihat tindakan Dewey.


“Cuci sepatu,” ucap Dewey tanpa menghentikan gerakan cucinya. “Kemudian mengisi air.”


“Me-mengisi air? Dengan se-sepatu?” Vivian memperlihatkan ekspresi aneh.


“Tentu saja.” Dewey mencibir. “Selain sepatu, apakah kamu bisa menemukan alat lain untuk mengisi air? Apakah kamu punya botol atau toples? Kalau tidak ada, maka hanya bisa menggunakan sepatu. Sepatuku terbuat dari kulit domba, tahan air.” Dewey melihat si gadis bodoh sekilas. “Jangan mengernyit. Ini adalah cara kita satu-satunya. Entah berapa lama kita akan tinggal di tempat terkutuk ini. Kita tidak bisa tinggal di sini untuk menjaga genangan air ini, harus pergi ke pesisir. Kalau kamu merasa sepatuku terlalu bau, kamu bisa mengisi air dengan sepatumu sendiri.”


Vivian masih tertegun sehingga Dewey mendesaknya. “Cepat. Kecuali kamu ingin minum air di sepatuku besok.”


Kalimat terakhir memicu Vivian kecil yang malang. Dia segera melepaskan sepatunya.


Sepatu gadis penyihir juga terbuat dari kulit yang lebih baik dari sepatu bot kulit domba Dewey. Setelah membuka sepatu, gadis penyihir tampak bingung. Kaos kaki putih di kakinya ternodai oleh darah. Kakinya lecet setelah berjalan selama setengah hari.


Gadis penyihir ini segera meniru Dewey, berjongkok di tepi genangan air dan mencuci sepatu. Dia mencucinya berkali-kali hingga Dewey agak tidak sabar. “Dua kali sudah cukup, buat apa kamu cuci berkali-kali?”


“Se-sepatu kotor,” ujarnya terbata-bata.


Dewey tersenyum melihat gadis bodoh naif ini. “Hei, lihat. Genangan air ini tidak besar, airnya hanya segini. Kalau kamu mencuci sepatu sampai bersih, airnya menjadi kotor. Dan akhirnya air inilah yang kamu minum.”


“....” Vivian tertegun kemudian dia cemberut, dengan sedih mengisi dua sepatu bot dengan air sebelum berdiri. “Ta-ta-tapi a-apakah kita benar-benar ha-harus minum ini?”


“Ketika kamu kehausan besok, air yang sepuluh kali lipat lebih kotor dari ini pun, kamu akan meminumnya tanpa ragu,” ucap Dewey datar. “Sudah, kita kembali sekarang.”


Dewey masih membawa tongkat panjang itu untuk membuka jalan di depan. Berjalan sebentar, dia menemukan bahwa gadis penyihir di belakangnya tertinggal semakin jauh. Dewey menghentikan langkahnya lalu memandangnya dengan alis berkerut. “Lebih kamu cepat, ini sudah malam. Jika matahari terbenam sepenuhnya, tempat ini akan berubah gelap. Kita semakin sulit berjalan karena sulit untuk mengenali arah di hutan pada malam hari.”


Vivian mengangguk cepat lalu mempercepat langkahnya. Tapi berjalan pincang beberapa langkah kemudian, dia menangis kesakitan. “Ka-kakiku sakit sekali.”


Mengernyit, Dewey berjalan ke sisinya, lalu mendapati kaki kecil gadis itu tertusuk duri di beberapa tempat. Kaki yang awalnya halus, kini tertutup tanah dan bekas darah.


Menghela napas, Dewey agak tidak berdaya. Menyuruh gadis lemah ini berjalan dengan kaki telanjang di hutan memang sulit bagi dia.


Dengan wajah dingin, Dewey menggantung dua sepatu di lehernya, kemudian berbalik dan berjongkok.


“Naik!”


“Hm?”


“Aku bilang, naik!” Dewey memunggungi gadis penyihir. Suaranya masih terdengar dingin. “Cepat, jangan buang-buang waktu. Aku akan menggendongmu.”


“Ta-ta-tapi….”


“Tidak ada tapi. Dengar, gadis kecil. Kita harus segera kembali ke tempat naga itu sebelum langit gelap. Kita tidak familiar dengan pulau ini, siapa yang tahu apa makhluk apa di sini. Sekarang kita tidak punya kemampuan untuk melindungi diri. Kita harus bergerak cepat. Jangan beromong kosong, naik sekarang!”


Suara tegas Dewey membuat Vivian kecil yang malang tidak berani membantah. Dia segera meniru Dewey, menggantung sepatu di lehernya, kemudian telungkup di punggung Dewey.


Berjalan beberapa langkah sambil menggendong gadis penyihir, Dewey merasa kewalahan. Meskipun pemikirannya adalah pemikiran orang dewasa, tubuhnya masih tubuh anak remaja. Anak yang lemah karena sakit-sakitan sejak kecil pula.


“Te-terima kasih.”


Beberapa saat kemudian, gadis penyihir di punggung Dewey tiba-tiba berkata dengan suara rendah. Suaranya sangat kecil sehingga Dewey hampir tidak mendengarnya. Tetapi, lelaki itu hanya mendengus tanpa mengatakan apa pun.


Di pulau terpencil ini, malam tiba, Vivian kecil yang malang di punggung seorang remaja asing. Ketika mendongak, dia bisa melihat langit gelap mengintip dari celah dahan dan dedaunan lebat. Ketika menunduk, dia melihat pemuda di bawahnya yang berjalan dengan susah payah, bahkan bisa mendengar napas terengah-engah Dewey.


Vivian tiba-tiba merasa kalau bangsawan kecil yang selalu menindasnya dan galak ini, tidak begitu menakutkan lagi.


Ketika kembali ke tempat mereka jatuh, naga itu masih tidur. Menurut penjelasan Vivian, setelah terluka, naga memulihkan diri dengan cara tidur dan tidak perlu makan minum selama itu.

__ADS_1


Itu membuat Dewey menghela napas lega. Untung saja… kalau tidak, air tawar ini bahkan tidak cukup untuk manusia. Mana cukup untuk seekor naga?


Kembali ke kamp sementara mereka dengan susah payah, Dewey menjatuhkan gadis penyihir, kemudian menjatuhkan diri ke tanah dan terengah-engah.


“Tidak bisa… tidak bisa….” Dewey mengambil napas dengan rakus seperti orang sekarat. Sekujur tubuhnya lemas, dia mengeluh. “Dulu, jangankan menggendong seorang gadis. Depan belakang satu pun, aku bisa berlari satu kilometer dengan satu tarikan napas. Tubuh sekarang benar-benar payah….”


Vivian yang dijatuhkan di lantai tidak berteriak sakit kali ini, justru bangun duduk. Melihat Dewey tampak sesak, gadis bodoh ini tiba-tiba berdiri, memetik sehelai daun besar dari pohon, kemudian duduk di sebelah Dewey dan mengipasinya.


Dewey terengah sebentar lalu melihat Vivian. “Apa yang kamu lakukan?”


“A-aku lihat kamu se-sepertinya sangat lelah. Bi-biar aku me-mengipasimu,” ucap Vivian dengan serius.


Dewey terkekeh geli. Gadis ini memang bodoh, tetapi benar-benar imut. “Terima kasih. Tetapi, apa kamu tidak tahu kalau sekarang adalah awal musim semi, cuaca lumayan dingin?


Dewey mengambil daun besar itu dari tangan gadis penyihir, melihat wajah merona gadis itu sambil tersenyum kemudian berkata, “Sudah, sekarang kita harus membuat api unggun. Kalau tidak kita akan kedinginan di malam hari. Kita tidak punya apa-apa sekarang, akan merepotkan jika sakit.”


Sebenarnya, masalah dingin di malam hari tidak sulit untuk diselesaikan. Mereka cukup tidur di dekat naga.


Bagaimanapun juga, naga itu adalah naga api. Tetapi jika tidur di dekat makhluk sebesar itu, bila naga berbalik badan di tengah mimpinya, mereka akan mati tertimpah.


Lalu, Vivian akan menjadi penyihir pertama yang ditimpah mati oleh peliharaan sihirnya dalam sejarah.


Dewey memungut cabang dan daun hingga cukup, kemudian meminta gadis penyihir ini untuk membuat sihir api. Bola api kecil. Kini kekuatan sihir Vivian hanya sisa segitu.


Setelah menyalakan cabang pohon, lalu menyuruh Vivian memegang obor, Dewey membawa banyak cabang, kemudian mereka datang ke pinggir pantai. Dewey menyalakan api, dia menumpuk dahan setinggi mungkin, api berkobar-kobar.


Di tengah kegelapan, cahaya api yang mencolok mungkin terlihat dari jauh sekalipun.


Dewey menghela napas. Ini adalah harapan satu-satunya. Semoga ada kapal yang lewat dan melihat api di sini, kemudian mengutus orang ke sini. Kalau begitu mereka mungkin bisa diselamatkan.


Setelah melakukan semuanya, Dewey sudah kelelahan. Dia berbaring di pantai, lalu menghela napas panjang.


Pada saat ini… kruk!


Dewey tertegun kemudian mendengar lagi.


Dia duduk, lalu menatap Vivian sambil tersenyum samar.


“Ma-maaf, pe-perutku….” Api unggun membuat wajah gadis penyihir tampak merah. Vivian menyentuh perutnya dengan malu. “A-aku lapar.”


“Aku juga.” Dewey menghela napas. “Sayangnya, kita tidak menemukan hewan kecil apa pun di pulau ini. Kalau tidak barbekyu di luar ruangan juga tidak buruk.”


“Ba-bagaimana dengan buah li-liar?” Sepertinya lapar membuat gadis penyihir lebih cerdas.


“Coba lihat sekeliling, mana ada pohon? Semak beri saja tidak ada. Hanya ada daun pohon dan rumput liar.” Dewey mendesah. “Kalau tidak, apa aku harus mengingatkanmu?”


“Ba-bagaimana dengan i-ikan?” Gadis penyihir dengan kasihan menatap Dewey. “A-ada ikan di la-laut, kan?”


Dewey mengedikkan bahu lalu menatap Vivian. “Bisakah kamu berenang?”


Gadis penyihir itu menggeleng.


“Aku juga tidak bisa.” Dewey tersenyum masam. “Kita sama-sama tidak bisa berenang. Aku tidak punya kemampuan menangkap ikan. Lagipula, aku sudah mencarinya di pesisir tadi pagi. Aku hanya menemukan beberapa kerang dan keong kosong. Kecuali lambungmu bisa mencerna cangkang keras.”


“Tapi… tapi aku lapar se-sekali.” Vivian kecil yang malang cemberut, menatap Dewey dengan mata mengerjap.


“Aku tidak punya ide. Tidur dulu saja. Besok pagi aku akan menemukan tongkat panjang untuk memancing ikan di pantai. Sekarang tidak bisa, langit sudah gelap, dan kita tidak bisa berenang. Akan gawat kalau mati tenggelam.”


Vivian menghela napas. Dia hanya bisa duduk dengan patuh, secara tidak sadar duduk di sebelah Dewey.


“Bicaralah, ngobrol bisa lupa dengan lapar.” Dewey tersenyum. “Kita belum benar-benar memahami satu sama lain. Kita adalah teman yang susah bersama sekarang.”


“Ba-bagaimana baru di-disebut paham?”


“Misalnya….” Dewey berpikir, dia memeluk lutut sambil memandang bintang di langit. “Kamu begitu muda, sepertinya tidak lebih tua dari aku, kan? Bagaimana kamu menjadi penyihir hebat? Ini adalah hal yang membanggakan.”

__ADS_1


“A-aku juga tidak tahu.” Vivian memeluk lutut juga, lalu menghela napas. “A-aku sudah ber-bersama guru sejak ke-kecil. Aku ti-tidak pernah keluar, ini adalah ke-kedua kali.”


Dewey menoleh untuk melihat si gadis bodoh sekilas, dia tiba-tiba tersenyum. “Sebenarnya suaramu cukup enak didengar. Manis dan lembut. Kalau kamu tidak gagap, akan lebih bagus lagi.”


“Ma-maaf, aku tidak se-sengaja.” Wajah Vivian memerah. “A-aku kurang bisa bi-bicara sejak ke-kecil.”


“Sebenarnya, semakin gagap, semakin harus banyak bicara. Hal apa pun akan membaik jika sering dilakukan.” Dewey berkata sambil tersenyum. “Sudah, ceritakan padaku bagaimana kamu menjadi penyihir level delapan. Sepertinya kamu orang pertama di seluruh kekaisaran yang mencapai prestasi seperti ini pada usia muda.”


“Apa?” Vivian menatap Dewey bingung.


Dewey menghela napas lalu tersenyum masam dan berkata, “Hei, aku sedang memujimu. Setidaknya berikan reaksi.”


“Ah, ma-maaf. A-aku….” Vivian agak panik lagi.


“Gadis bodoh.” Dewey menggeleng. “Sepertinya kamu tidak mengerti apa-apa selain sihir?”


Kemudian Dewey dengan sabar mengobrol sebentar bersama Vivian. Vivian dengan susah payah memberitahu Dewey beberapa situasinya.


Dia, Vivian Young, sudah belajar sihir dengan gurunya sejak dia bisa mengingat hal.


Tapi bagaimana Dewey bertanya tentang identitas gurunya, gadis bodoh ini tidak membocorkan apa pun. Dewey pun gagal memancing.


Untuk sementara, anggaplah gurunya adalah makhluk luar angkasa.


Sejak kecil Vivian tinggal bersama gurunya di tempat tersembunyi. Dia bilang, di gunung yang dalam. Dalam belasan tahun, Vivian hanya keluar sebanyak dua kali. Selain itu, hampir semua waktunya dia meneliti sihir di rumah.


Setiap hari pekerjaannya adalah mempelajari berbagai pengetahuan sihir, menghafal sihir yang aneh dan sulit dimengerti, dan mencuci pakaian guru.


“Mencuci pakaian?” Dewey terkekeh. “Kamu bisa mencuci pakaian?”


Dia menarik tangan Vivian lalu menatapnya. “Tangan selembut ini tidak terlihat seperti bisa melakukan pekerjaan rumah.”


“A-aku bisa!” Wajah Vivian memerah. Entah karena Dewey tidak memercayai kata-katanya, atau malu karena tangannya ditarik Dewey. “A-aku bisa mencucinya dengan sihir. Cu-cukup satu sihir, pakaian bisa dicuci sendiri.”


Oh, bukankah itu seperti mesin cuci, pikir Dewey.


Vivian keluar dua kali. Pertama kali dia dibawa gurunya ke markas Serikat Sihir di ibukota kekaisaran untuk mengikuti ujian level sihir yang dirahasiakan.


Sebelum ujian itu, gurunya pernah mengatakan ‘aku harus membuat mata orang-orang bodoh di Serikat Sihir itu membelalak! Biar mereka tahu orang jenius sehebat apa yang aku didik!’


Alhasil beberapa penyihir Serikat Sihir yang menjadi juri saat itu, memang membelalakan mata.


Karena dilihat dari sudut pandang sihir, Vivian memang jenius! Jenius di antara jenius!


Penyihir level delapan yang berusia 14 tahun. Tidak pernah ada penyihir seperti itu dalam sejarah sihir.


“I-itu satu tahun ya-yang lalu.” Vivian agak malu. “Pe-penyihir-penyihir itu me-menyuruhku untuk tinggal di i-ibukota kekaisaran, ta-tapi Guru bilang, tidak a-ada yang men-mencuci pakaian, jadi be-beliau membawaku pulang.”


“Huh, itu karena Gurumu tidak ingin kamu diambil oleh penyihir di Serikat Sihir.” Dewey tentu tidak sepolos Vivian. “Di mana-mana, penyihir level delapan adalah orang penting. Di Serikat Sihir sekalipun, ada berapa penyihir hebat level delapan ke atas? Huh, kamu masih begitu muda pula.”


“Hm.” Vivian mengerjapkan mata. Dia kurang mengerti ucapan Dewey, tetapi dia menjadi senang. “A-aku lolos ujian itu, Guru sa-sangat senang. Be-beliau memberiku sebuah ha-hadiah, yaitu Hot… Hot Sun.”


“Naga itu?”


“Hm!” Vivian tampak semangat ketika membicarakan peliharaan sihirnya. “Itu dia!”


Dewey menghela napas. Siapa sebenarnya guru Vivian? Bisa-bisanya memberi hadiah berupa naga.


Bukan kucing anjing, tetapi seekor naga.


Vivian tinggal di rumah gurunya selama satu tahun. Setiap hari belajar sihir dan cuci pakaian.


Setelah itu, kali ini adalah kedua kalinya dia bermain di dunia luar. Untuk menangkap Setan Ilusi Ketakutan, peliharaan gurunya, yang kabur.


“Tunggu!” Dewey tiba-tiba berdiri, dia tampak semangat ketika menatap Vivian. “Di mana Setan Ilusi itu? Masih bersamamu, kan?”

__ADS_1


Vivian menganggukkan kepala. Dia membuka jubahnya, Setan Ilusi kecil itu dikurung di sangkar yang menggantung di pinggang Vivian.


“Perut oh perut, akhirnya kamu selamat!” Mata Dewey bersinar lapar, dia meneguk saliva. “Hei, gadis bodoh! Kita tidak perlu kelaparan lagi. Makhluk kecil ini tampak berisi. Meskipun tidak ada bumbu di sini, setelah mengupas kulit lalu membakarnya, seharusnya lumayan enak.”


__ADS_2