Husband Denial

Husband Denial
Seseorang yang Mendengarkanku


__ADS_3

Aku sampai di Jakarta setelah mengambil penerbangan terakhir hari itu, Aku muak untuk sekedar melihat wajah Arga. Itu pertama kalinya Aku terbang di malam hari, meski setengah ketakutan karena tidak ada manajerku seperti biasanya, namun itu adalah satu-satunya cara untuk segera pergi dari Arga.


Hingga saat ini, Aku masih tidak mengerti apa yang diinginkan Arga. Mengapa ia memintaku menjadi kekasihnya ketika ia tau bahwa Aku adalah sahabat Rea, kekasihnya. Jika ia melakukannya 7 tahun lalu, Aku mungkin akan dengan senang hati menerimanya.


Aku membuka dompetku yang tersimpan fotoku dan Arga yang diambil 7 tahun lalu. Aku ingat bagaimana susahnya untuk mengambil foto itu, mengajak Arga ke photobox adalah 1 dari 1000 hal tersulit yang pernah kulalui demi mendapatkan hati lelaki itu.


Lihatlah bagaimana ekspresi wajah Arga saat itu, enggan dan tidak peduli. Bagaimana bisa Aku mempercayai perubahan perasaanya yang drastis seperti itu. Jika tidak ingin mempermainkan, lalu apa yang ia inginkan?


“Eh,Hel. Cepet banget masuk kantor. Bukannya cuti Kamu baru habis besok lusa ya?” itu Mbak Celine rekan seagensiku.


“Udah rindu kerja nih Aku mbak, apalagi bareng mbak celine” Aku merangkul lengannya sambil bertingkah imut, seperti yang biasa kulakukan jika bersamanya.


“Ah bisa aja Kamu tuh, udah sana siap-siap bentar lagi ada pemotretan di Senayan kan?” ujarnya.


“Iya Mbak, tapi Kita makan siang bareng dulu yuk. Mumpung manajerku juga belum dateng”


“Yakin gapapa? Inikan udah setengah 1. Pemotretannya kan jam 2. Bisa telat loh entar”


"Ah,ngga kok mbak, tau sendirilah manajerku itu kalau ngedrive saingan sama Rio Haryanto”


“Oke deh, yuk ke cafetaria aja ya”


“Iya, tapi menu makan siang hari ini apa-apa ya kira-kira? Soto? Nasi Uduk? Udah lama banget Aku ga makan di Cafetaria, sampe lupa menunya”


“Yaudah Yuk buruan kita cek sendiri”


Aku menatap makananku dengan malas, Aku benci sapi lada hitam. Namun, menu hari ini memang hanya itu yang tersisa.


“Kamu ga suka ya, Hel. Cobain dulu deh, enak banget tau” Mbak Celine yang asik menyantap makanannya, menyuruhku untuk mencicipi makananku.


“Iya deh, Aku cobain nih”


Aku memasukkan sepotong sapi lada hitam itu dan mulai menyantapnya, hm tidak buruk. Aku terus memakannya hingga tidak ada yang tersisa, begitupun dengan sayur pendamping yang melengkapi makan siangku itu.


“Nahkan, enakkan? Kata Mbak juga apa” Mbak Celine yang juga telah habis menyantap makanannya, menatapku.


“Hel?”


“Iya Mbak?”


“Muka kamu kenapa?”


“Haa? Kenapa emangnya Mbak?”


“Kok merah gitu” Aku panik dan mengambil cermin kecil dari tasku dan benar saja mukaku timbul ruam merah yang juga menyebar ke seluruh tubuh.


Aku mengacak sisa sayur yang kusantap tadi. Ah, ini...Asparagus. Sejak kecil Aku memang Alergi Asparagus, jenis sayuran yang sedikit jarang ditemukan dalam makanan itu jika sekali saja Aku mencobanya akan timbul ruam di tubuhku. Itulah alasan Mama tidak pernah memasak steak ataupun sejenisnya dengan asparagus sebagai sayur pendamping. Namun, kali ini Aku kecolongan setelah terakhir kali ketika SMA.


“Mbak, gimana ini Aku Alergi Asparagus, mana ada pemotretan lagi”


“Yaudah, Kamu ke dokter dulu aja. Soal pemotretan nanti Aku minta Bos buat undurin. Maaf banget ya gara-gara Aku kamu sampe gini”

__ADS_1


“Bukan salah Mbak kok, kan Aku yang ngajak makan siang. Tolong ya Mbak bilangin ke Bos, Aku ke rumah sakit dulu. As soon As Possible Aku bakal lanjutin pemotretannya”


Aku membayar makan siang itu dan memesan mobil untuk pergi kerumah sakit. Aku juga menelfon manajerku untuk menjelaskan kondisiku.


Setelah mengambil obat di bagian Farmasi, Aku memutuskan mengunjungi Istri Sepupuku yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan tempat kuberada saat ini. Mbak Hana, istri Mas Evan adalah salah satu orang terdekatku. Aku akan selalu mengunjunginya ketika Aku memiliki masalah, profesinya yang juga psikolog terkadang membuatku nyaman menceritakan masalahku padanya di samping pribadinya yang memang bisa dipercaya dan menyenangkan tentunya.


“Eh, Kamu dateng,Hel. Tumben, udah lama banget loh Kamu ga dateng” Ketika memasuki ruangan Mbak Hana langsung kaget dengan kedatanganku.


“Mbak ga liat nih muka sama badanku pada merah gini, ya jelas dong Aku harus ke rumah sakit terus kepikiran buat ketemu Mbak”


“Ih Kamu tuh, udah lama banget loh ga Alergi. Terakhir kali Mbak lihat Kamu gini pas Kamu masih sekolah dulu” Mbak Hana memegang tanganku dan menatap seluruh tubuhku yang memerah.


“Iya Mbak, Aku juga gatau kenapa bisa kecolongan gini, mana ada pemotretan lagi”


“Yaudah gapapa, untuk sekerang pentingin diri kamu aja dulu, kerjaan mah nanti bisa diurus”


“Mbak, Aku pengen cerita”


“Apa-apa? Pasti terjadi sesuatu sampe Kamu cerita gini”


“Ya iyalah, Kalau engga ngapain Aku cerita”


“Ya terus Apa?”


“Gini Mbak Aku punya temen”


“Iya Mbak tau itu cerita Kamu”


“Temenku ini pernah suka ke cowo, cowo itu sekarang pacar sahabatnya. Tapi, tiba-tiba cowo itu malah ngajak Dia pacaran. Menurut Mbak gimana?”


“Ngeri juga nih cowonya, jangan deket-deket ih, Hel”


“Iya mbak, ga akan kok”


“Nahkan, cerita Kamu ini tuh”


“Ih engga tau, ini cerita temenku. T E M E N K U”


“Klasik ih cara Kamu, yaudah ya Aku kasih pendapat soal masalah TEMEN-mu itu”


“Iya Mbak, gimana-gimana?”


“Menurutku sih itu kembali lagi ke perasaan mereka masing-masing”


“Maksud Mbak?”


“Emang Kamu yakin kalau si cowo itu beneran serius ama pacarnya?”


“Ya yakinlah, Mbak. Orang Aku saksi mata kemesraan mereka”


“Mesra belum tentu bahagia loh,Hel. Kalau emang mereka bahagia satu sama lain ga mungkin kan si cowo ngajak pacaran temenmu itu, sedangkan statusnya masih pacar sahabat temenmu”

__ADS_1


“Tapi, kalau emang dia ga bahagia. Dia bisa aja mutusin pacarnya baru setelah itu nembak temenku kan? Itu emang cowonya aja yang buaya”


“Bisa jadi dia gabisa putus sama pacarnya, namun di satu sisi dia jatuh cinta sama temenmu itu”


“Tapi, bukannya itu malah nempatin temenku di posisi yang dilema. Apalagi kalau nanti orang-orang tau apa yang terjadi, temenku ini pasti dikatain pelakor entar”


“Ya jangan sampe ketahuan lah, hel. wkwk”


“Duh, Mbak gimana sih. Aku butuh saran yang bener ini”


“Kamu?”


“Maksudnya temenku, hehe”


“Kalau Aku jadi temenmu, Aku gamau overthinking dan mikir aneh-aneh dulu. Apalagi mikir pendapat orang. Coba aja cari kebenarannya dulu, belum tentukan cowo itu punya niat buruk”


“Tapi, seandainya ini,Mbak. Seandainya Mbak jadi temenku itu dan mau-mau aja jadi pacar cowo itu tapi dijadiin yang kedua. Apa Mbak masih mau gitu? terlebih Mbak harus berkhianat dari sahabat Mbak sendiri”


“Kenapa engga? jadi selingkuhan itu menantang loh,Hel. Apalagi selingkuhan Sahabat sendiri”


“Ih, Mbak pernah ya?”


“Kalau Mbak ga gitu, mana mungkin Mbak nikah sama Mas-mu itu”


“Jadi, Selama ini Mbak ngerebut Mas Evan dari pacarnya makanya sampe nikah dan punya anak kaya sekarang?”


“Ga ngerebut juga sih, dulu Mas Evan itu punya pacar cantik banget, kaya dan terkenal  juga anaknya. Mereka sekelas dan couple goals-nya fakultas kedokteran pas itu”


“Terus gimana ceritanya Mbak bisa ngerebut Mas Evan dari pacarnya itu?”


“Mas Evan emang udah tertarik sama Mbak sejak kita pertama ketemu, sayangnya pas itu Mas Evan udah punya pacar tapi Mbak gatau dan terlanjur jatuh hati sama Mas evan.”


“Terus-terus?”


“Mbak udah terlanjur sayang, patah hati dong. Mbak udah mutusin buat ninggalin mas Evan, tapi mas Evan bilang kalau dia emang ga bisa janjiin apa-apa buat hubungan mbak sama dia saat ini, tapi dia jujur soal perasaannya yang memang untuk mbak saat itu”


“Jadi, kalian bertahan cuma dengan ngandelin perasaan tanpa mikir reaksi orang lain gitu? Kalau kepergok, bisa hancur banget image kalian kan”


“Nah itu dia,Hel. Namanya juga udah jodoh, ada aja cara tuhan buat nyatuin kita. Ternyata pacarnya itu juga punya selingkuhan bahkan sebelum masmu ketemu Mbak. Pas banget dia kepergok dan diputusin saat itu juga sama Mas-mu”


“Wah gila, terus akhirnya Mbak bersatu dong sama Mas Evan?”


“Engga juga, Mbak juga dikritik karena orang-orang mikir Mbak yang ngerebut Mas Evan dari pacarnya. Tapi, selingkuhan pacarnya Mas Evan justru ngejelasin semuanya dan membersihkan nama Mbak. Akhirnya Mbak bisa bebas buat jalin hubungan sama Mas-mu”


“Wah, keren banget. Emang ya kalau namanya jodoh ga akan kemana”


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Aku dan Mbak Hana sontak saja mengalihkan pandangan Kami pada Pintu tersebut.


“Nah, itu dia selingkuhan yang nyelamatin Mbak” ujar Mbak Hana, ketika Aku menatap lelaki yang memasuki ruangan itu dengan kaget.


‘Mengapa? Mengapa Dia ada disini?...’

__ADS_1


***


__ADS_2