Husband Denial

Husband Denial
Pengakuan yang Tak Masuk Akal


__ADS_3

Tak terasa waktu liburan Kami berdua akan segera berakhir, namun hubunganku dengan Rachel tidak mengalami perkembangan. Kami hanya akan selalu bersilat lidah setiap bertemu, membuatku tidak bisa membangun suasana romantis di antara Kami. Besok adalah hari terakhir sebelum Kami kembali Ke Jakarta, Aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali memenangkan hati Rachel. Tak peduli seberapa menyebalkannya gadis itu, Aku akan mengalah besok.


“Rachel, Ayo kita naik kapal pesiar besok” ujarku padanya yang kini tengah asik menyantap mie cup di ruang TV.


“Gamau, Aku mabuk laut.” balasnya singkat.


“Tapi, Kamu pasti ga pernahkan naik kapal pesiar. Liat sunset sambil makan malam diatas kapal, ga pernah kan?”


“Iya emang belum pernah sih, tapi kalau emang harus ga sama Kamu juga kali”


“Ayolah, kali ini aja. Lagian besok hari terakhir kita libur.Aku pengen banget naik Kapal pesiar. Soal mabuk laut aman kok, nanti Aku resepin obatnya”


“Tapi, ada syaratnya”


“Apa? bilang aja pasti Aku penuhin kok”


“Tumben nurut”


“Udah apaan buruan”


“Liat aja besok”


“Ga sopan banget sih mainin orang tua, dasar bocah”


“Sadar banget sih yang udah tua”


“Pokoknya fix ya Kita naik kapal pesiar”


“Hm, liat aja besok”


Aku menatap Arga yang kini mengenakan pakaian kasual, sudah hampir seminggu liburan Kami dia selalu memakai baju formal dan cenderung cupu. Namun melihat Ia memakai outfit musim panas seperti saat ini membuatnya terlihat lebih tampan dari biasanya.


“Harus banget ya pake ini, Aku gasuka pake pakaian kaya gini, aneh banget”


“Aneh apaan, ini setelan yang pas buat liburan tau” Aku memakaikan topi padanya sambil berjinjit.


“Kak tinggi banget sih” dumelku tak jelas.


“Apa? Kak? Kamu manggil Aku ‘Kak’?” Apa dia mendengarnya?


“Apaan? Ngelantur ya Kak, Aku ga manggil siapa-siapa kok”


“Nahkan, itu barusan Kamu manggil Aku ‘Kak’ lagi”


“Ih apaan sih, jadi ga naik kapal pesiarnya. Udah yuk kita pergi.



*


Tidak seperti biasanya, Rachel hari ini tampak cantik dengan atasan tanpa lengan yang memberi kesan feminim. Meskipun begitu, outfit yang digunakan Rachel hari ini sama sekali tidak mengurangi kesan kasual dalam dirinya, benar-benar gaya Rachel.



“Kok tumben make baju tanpa lengan?” tanyaku padanya,random.


“Pengen aja, terakhir kali Aku make baju gini pas pemotretan,soalnya Aku lebih suka pake t-shirt atau ga kemeja kasual gitu sih”


“Iya kelihatan”


“Kelihatan apa?”


“Kelihatan cantik maksudnya, hehe”


“Dasar, ga mempan tau gombalan kaya gitu ke Aku”


“Siapa yang ngegombal?”


“Hm”


“Btw, Mama Kamu gimana kabarnya?”


“Mama ya?”


“Iya, udah lama banget Aku ga ketemu Tante Lisa”


“Mama udah pindah ke Bandung ikut suami barunya”


“Haa? Mama Kamu nikah lagi? Terus Papa Kamu?”

__ADS_1


“Mereka Cerai pas Aku baru masuk kuliah”


“Ah, maaf.Jadi, Kamu sekarang tinggal sama Papa Kamu?”


“Ga juga, Papa menghilang semejak cerai sama Mama”


“Jadi, Kamu?”


“Aku sendirian di Jakarta, untung ada Rea yang suka nemenin”


“Ah, pantesan Kamu suka bareng Rea mulu”


“Kalau keluar Kamu gimana? Om Hendrik apa kabarnya? Tante Vera juga”


“Papa udah meninggal 3 tahun yang lalu”


“Maaf, Aku gatau. Turut berduka cita ya”


“Iya gapapa”


“Kalau Tante Vera gimana?”


“Mama sih baik-baik aja, sekarang lagi nemenin Audrey kuliah di Jerman”


“Wah, Pinter juga si Audrey kuliahnya sampe ke Jerman. Padahal dulu kerjaannya bikin rusuh komplek bareng Aku”


“Ah, iya. Aku inget banget pas kalian pura-pura diculik sampe dicariin satu komplek ga ada. Kemana kalian pas itu sebenernya?”


“Ya beli perlengkapan buat suprise ultah Kamu lah. Kamu ga inget apa itukan H-1 ultah Kamu”


“Ya gausah sampe bohong juga kalian tuh”


“Kalau kita ga pura-pura diculik, mana mungkin dibolehin keluar pas lagi sibuk bimbel mau deket ujian akhir kaya gitu”


“Bener juga sih, dulu Mamaku sama Mamamu kompak gabolehin kalian main bareng, soalnya harus fokus sama ujian”


“Iya tapi Kakaknya Temen mainku itu, malah bikin Aku ga fokus karena nyanyi-nyanyi ga jelas tiap malem”


“Lah, Kok kamu tau?”


“Siapa sih yang gatau, orang setiap malem Kamu selalu nyanyi pake gitar di balkon Kamar Kamu”


“Jadi, Kamu gabisa belajar gegara Aku?”


“Aku emang seberisik itu?”


“Engga juga, suara Kamu bikin kepikiran soalnya”


“Gimana-gimana?”


“Kepikiran kok orang ganteng, tapi suaranya kacau gitu”


“Ih jahat banget Kamu, sekarang Aku ga seburuk itu kok”


“Kalau emang iya? Coba sekarang nyanyi”  Kesempatan. Aku dapat memanfaatkan momen ini untuk menciptakan suasana yang romantis.


“Bentar”


Aku meminjam gitar yang disediakan pihak kapal pesiar, Aku mulai memetik gitar dan menyanyikan sebuah lagu yang mewakili perasaanku untuk Rachel.


Coldplay - Fix You


When you try your best but you don't succeed


When you get what you want but not what you need


When you feel so tired but you can't sleep


Stuck in reverse


When the tears come streaming down your face


'Cause you lose something you can't replace


When you love someone but it goes to waste


What could it be worse?


Lights will guide you home

__ADS_1


And ignite your bones


And I will try to fix you


But high up above or down below


When you are too in love to let it show


Oh but if you never try you'll never know


Just what you're worth


Lights will guide you home


And ignite your bones


And I will try to fix you


Tears come streaming down your face


When you lose something you cannot replace


oh and tears come streaming down your face


And I


Tears streaming down your face


I promise you I will learn from all my mistakes


oh and the tears streaming down your face


And I


Lights will guide you home


And ignite your bones


And I will try to fix you


Aku meneteskan air mataku tepat setelah Arga mengakhiri nyanyiannya. Suaranya memang bagus sejak dulu, alasanku selalu tidak bisa tidur karena Aku tak ingin berhenti mendengar suara itu dan kini Aku mendengar suara itu dengan jelas. Bahkan lagu yang ia pilih pun begitu menyentuh hatiku, rasa yang kupendam sejak lama seolah kembali menguak keluar.


Sakit. Sakit sekali membayangkan tahun-tahun yang kulewati untuk melupakan Arga. Namun, itu tak sepadan dengan rasa cintaku yang ternyata tak pernah memudar setelah bertahun-tahun lamanya, ia hanya meredup sejenak namun kembali terang. Namun, Aku sama sekali tidak berhak untuk kembali membangun perasaan itu. Arga saat ini adalah milik Rea, kekasih sahabatku. Yang ada di depanku saat ini hanyalah sebuah Euphoria yang dapat berakhir kapan saja.


Aku menghapus air mataku dan menatap Arga yang tampak kebingungan melihatku menangis begitu saja.


“Lagu yang bagus” ujarku pelan.


“Apakah suaraku juga bagus?” tanyanya sambil mendekat kearahku.


“Tentu saja, Aku bahkan tersentuh mendengarnya” Akhir-akhir ini Aku jarang memuji Arga, namun tidak ada salahnya bukan jika kali ini Aku jujur tentang betapa luar biasanya penampilan Arga tadi.


“Benarkah, lalu mengapa Kau menangis? Apakah suaraku benar-benar seburuk itu?” tanyanya padaku sambil mengusap air mataku ketika ia telah berada tepat di hadapanku.


“Seperti kataku tadi, Aku hanya tersentuh Arga”


“Jika begitu, maukah Kau melakukan sesuatu untukku untuk membayar penampilanku tadi”


“Bagaimana bisa Kau meminta imbalan ketika Kau justru membuatku menangis” Aku tertawa sumbang kepadanya.


“Bukankah Aku berhak untuk itu?”


“Baiklah, katakan apapun itu yang benar-benar layak untuk membayarmu”


“Jadilah Kekasihku” rasanya ribuan jarum menusuk jantungku, Apa yang ia katakan. Memintaku menjadi kekasihnya ketika ia tau benar dimana posisi kami saat ini.


“Apa Kau bercanda?”


“Aku serius,Rachel. Aku begitu mencintaimu. Aku sudah sejak lama memendam perasaan ini untukmu,Rachel. Aku tidak ingin jika harus kehilanganmu untuk kedua kalinya” suara Arga mendadak parau sarat akan keputusasaan.


“Jangan bercanda,Arga. Tidak masalah jika Kau mepermainkan perasaanku di masa lalu. Namun, saat ini Aku bukanlah Rachel yang dulu lagi, Aku tidak akan dipermainkan olehmu untuk kedua kalinya”


“Pada saat itu Kau salah paham Rachel, sama seperti sekarang Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mempermainkanmu”


“Haha, Apa Kau tau apa yang terjadi pada hidupku setelah hari itu,Arga? Dan kini, Kau bahkan ingin Aku menjadi kekasihmu, sedangkan Kau tau pasti bahwa Kau adalah kekasih sahabatku! Apa Kau gila?!”


“Dengarkan Aku Rachel, kali ini saja dengarkan Aku. Aku dan Rea, Kami hanya…”


“Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun! Setelah turun dari Kapal ini Aku akan segera pergi, jangan sekali-kali Kau mencariku” Aku meninggalkan Arga yang terus menatapku dengan putus asa dan penuh rasa bersalah.

__ADS_1


Aku tidak tau Apa yang Arga pikirkan, Aku hanya tidak mau jatuh di lubang yang sama untuk kesekian kalinya.


***


__ADS_2