Husband Denial

Husband Denial
Author's Diary ( Terbiasa Sendiri) Bagian 1


__ADS_3

Karena kosong ide buat nulis jadi Aku mau cerita tentang kisah hidupku aja ke kalian.ya.


Jujur Aja Aku dari kecil itu lebih suka sendiri. Entah karena sulit berbaur dengan orang lain atau memang lebih nyaman untuk melakukan semuanya sendirian. Di rumah Aku memang anak yang ceria dan terkadang suka iseng, namun di sekolah hanya bahan olokan orang lain.


Ketika Aku SD, Aku punya penyakit flu yang tak kunjung sembuh. Pilek sepanjang waktu membuatku harus selalu membawa saputangan dan dikatai ingusan. Anak perempuan tampak jijik dan tidak mau berteman denganku, sedangkan yang lelaki terus mengataiku.


Jujur saja sejak kecil Aku sudah mengalami perasaan tidak mengenakkan dimana Aku merasa bahwa dunia tidak berpihak padaku. Aku adalah anak perempuan terakhir di keluargaku, adikku satu-satunya adalah seorang lelaki. Ketika Aku dilahirkan, keluargaku menginginkan seorang anak lelaki namun Aku justru lahir sebagai perempuan. Aku dilahirkan dengan kulit gelap yang berbeda dengan kedua kakakku, Aku bahkan sering dikatai anak pungut karena tidak mirip dengan mereka.


Tidak hanya itu, Aku bahkan merasa bahwa Ibu tidak menyayangiku karena Aku tidak begitu cantik. Semua orang tau itu, kakak keduaku adalah anak kesayangan ibu karena mereka mirip satu sama lain. Aku cukup sedih ketika teman ibuku bertanya Aku anak siapa, dan membandingkanku dengan kedua kakakku.


Meskipun begitu, Ayahku sangat menyayangiku. Setiap Aku menginginkam sesuatu beliau pasti akan memenuhinya. Bahkan ketika Aku membutuhkan sesuatu dan Kita tidak punya uang, beliau akan meminjam uang orang lain untuk membelikannya. Meskipun Ayah mungkin memiliki banyak kekurangan dan buruk di mata orang lain, namun Ia adalah lelaki terbaik yang pernah Aku kenal.


Pernah sekali sepatuku rusak dan Ayah tidak punya uang untuk membeli sepatu baru, sepatuku yang awalnya tidak bertali beliau ubah menjadi sepatu bertali agar dapat dikenakan. Meskipun beberapa temanku tertawa melihatnya, namun Aku sangat menghargai usaha Ayahku agar Aku tetap bisa memakai sepatu ke sekolah.


Aku begitu dekat dengan Ayahku, karenanya ketika beliau pergi untuk selamanya hatiku begitu sakit. Hingga hari ini Aku bahkan tak pernah menyangkanya sama sekali.


Ayahku seorang perokok aktif, sejak Aku kecil beliau selalu batuk-batuk namun ketika diperiksa justru tidak ada tanda penyakit apapun. Aku bahkan sampai bisa mengenali Ayahku dari suara batuknya.


Ada hari-hari yang tak mampu kulupakan karena begitu kuat kenangan yang tersisa disana. Misalnya hari dimana Aku sakit gigi dan Ayah membawaku ke dokter. Hari dimana Aku, Ayah dan adikku menghabiskan waktu bersama. Hari dimana Aku dan Ayahku pergi ke rumah nenek untuk mengabarkan berita kelahiran adikku. Atau hari dimana Aku membuat Ayahku kesal dan beliau mengatakan kata 'terakhir' yang benar-benar menjadi terakhir.


Ketika Aku SD Aku tidak mempunyai teman, namun ada seorang anak.yang selalu sebangku denganku. Aku tau bahwa Ia bersama denganku karena ingin menyontek padaku. Padahal Aku tidak begitu pintar.

__ADS_1


Aku tidak mempunyai teman karena sikapku yang buruk, Aku tidak tau mengapa namun Aku selalu sulit menerima orang lain dan selalu berpikir buruk tentang mereka. Karenanya, Aku lebih nyaman sendirian.


Aku tidak masalah jika ke kantin sendiri, tidak masalah jika mengerjakan tugas sendiri. Bahkan ketika tugas prakarya tidak ada yg mau satu kelompok denganku. Namun, ketika di rumah Ayahku akan selalu meminta kakakku yang pertama untuk mengerjakannya, bahkan sesekali memarahinya karena Aku yang begitu frustasi tidak bisa mengerjakan tugas tersebut.


*


Ketika Aku dewasa, Aku sadar menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Dan Aku sangat bersyukur karena Ayah selalu mencoba yang terbaik untuk menjadi sosok yang sempurna di mataku, putrinya.


Aku yang tidak percaya pada orang lain dan lebih nyaman melakukan semuanya sendiri terkadang merasa kesepian. Ada hari-hari dimana Aku berpikir bahwa Aku begitu membutuhkan seseorang untuk menata diri dan hidupku, teman.


Meskipun Aku punya beberapa teman, namun mereka juga mempunyai kehidupan dan masalah sendiri. Dan Aku tidak seharusnya menyeret mereka dalam masalahku.


Di kelas, organisasi Aku memiliki lingkar pertemanan yang kecil karena tidak mampu membuka diri. Aku takut mereka tidak lagi menyukaiku ketika tau Aki begini.


Namun Aku cukup sering mempermalukan diriku sendiri, entah itu di depan orang asing maupun orang yang kucintai.


Sebut saja namanya, Sam. Sam hampir melihat semua sisi buruk di hidupku, namun Aku juga terus menunjukkan sisi itu kepadanya.


Modus-modus murahan yang tidak seharusnya seorang perempuan lakukan, menceritakan hal pribadi yang tidak seharusnya Ia tau dan hal gila lainnya.


Alangkah baiknya jika Sam juga mencintaiku, namun Ia sepertinya sudah merasa muak denganku. Aku yang begitu mudah dan tak sempurna.

__ADS_1


*


Sebenarnya kini tidak ada satupun lelaki yang datang ke hidupku. Aku merasa bahwa Aku tidak menarik. Apakah Aku krisis pesona hingga orang-orang tidak tertarik untuk mendekatiku.


Ibuku pernah mengenalkanku pada seorang lelaki, namun Aku tidak menyukainya dan membuatnya mundur. Aku merasa bersalah untuk itu, hingga kini.


Aku dan Sam, Aku tidak tau apakah akan ada titik terang dari ribuan pergelutan perasaanku untuknya. Akankah ada akhir yang adil untuk Kami berdua. Sam tampan dan pasti bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dariku, namun Aku? Aku tak bisa berharap lelaki yang lebih baik dari Sam, jika Sam saja tidak pernah merasa tertarik padaku.


Aku yang begitu bodoh, menunjukkan semuanya pada Sam. Menceritakan semua hal itu pada Sam. Sam yang tidak peduli pada perasaanku. Sam yang mampu membuatku bahagia hanya dengan mendengar suaranya.


Hatiku sebenarnya begitu sakit atas sikapnya, Aku ingin menyerah namun seolah takdir-takdir kecil membuatku masih ingin berharap padanya. Namun, Aku tidak bisa terus begini. Aku dan Sam, Kita harus berakhir.


Kau mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya kehabisan cara untuk membuat orang yang Kau cintai tertarik. Seperti kertas kosong yang telah dipenuhi oleh coretan, sehingga sudah tidak layak untuk digunakan.


Terlalu banyak hal buruk dalam diriku yang telah Ia lihat, sikapku yang berlebihan, kekurangan fisikku, dan harga diriku yang mungkin sudah tidak ada di matanya.


Aku bahkan tidak bisa dicintai ketika Aku bersikap apa adanya. Ini memang salahku untuk terus membuat Sam menjadi pusat duniaku, melarang lelaki lain masuk hanya karena Aku begitu mencintai Sam.


Aku harus bagaimana ? Aku bahkan memainkan drama tak penting agar Sam setidaknya melihatku sekali saja.


*N*

__ADS_1


__ADS_2