Husband Denial

Husband Denial
MENIKAH TANPA IKATAN


__ADS_3

Aku menikahi Seseorang yang bahkan tidak Aku ketahui apa pekerjaannya, di hari pertama Kami menikah, Ia sudah pergi entah kemana. Aku menunggunya di rumah bibiku yang juga merupakan tempat Aku tinggal selama ini. Sudah 7 hari namun Ia tak kunjung kembali.


Aku dan dia tidak mengenal dalam waktu yang cukup lama, Kami tiba-tiba saja dijodohkan. Dengan keyakinan untuk membalas budi kepada bibiku, Aku pun menerima perjodohan itu. Aku hanya melihat wajahnya sekali di hari pernikahan kami, saat kucium tangannya dan Ia mengecup keningku singkat, sebuah harapan akan rumah tangga bahagia tumbuh di hatiku. Namun, itu ternyata hanya omong-kosong.


Setelah seminggu lamanya Ia pergi, akhirnya lelaki yang Ku panggil Mas itu kembali. Mas kembali dengan pakaian serba hitam dan rambut basah. Bibiku langsung memarahinya begitu Ia sampai di rumah, namun Mas hanya diam dan tak berkata apapun. Ketika di kamar Aku segera memeluk tubuhnya erat, entah mengapa sorot mata Mas terlihat sedih dan Aku terbawa suasana karenanya.


" Ada apa, Mas?." tanyaku pelan. Mas hanya diam dan melepaskan pelukanku, Ia menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Keesokan harinya, Aku bangun begitu pagi untuk memastikan bahwa Mas tidak akan pergi lagi. Syukurlah, bahwa Aku masih menemukan lelaki itu tertidur lelap di sampingku.


Aku menatap wajahnya yang tidak begitu tampan namun penuh wibawa. Aku menelusuri rahangnya dengan jemariku, Aku tidak tau mengapa melakukannya, Aku hanya terpesona tanpa Aku sadari. Tiba-tiba saja mata Mas terbuka, Ia meraih jemariku di rahangnya dan menekannya dengan kuat.


" Dimana cincin kawinmu? " Aku terperangah mendengar suaranya yang begitu dalam, sarat akan kemarahan.


" A..Aku tidak memakainya, Mas. " Aku begitu kecewa karena Ia meninggalkanku di hari pernikahan Kami, jadi Aku melepaskan cincin kawin itu begitu saja.


" Rania, dengarkan Aku. " Aku menundukkan kepalaku, menunggu titahnya.


" Tidak peduli selama apa Aku pergi, dan Apakah Aku sedang bersamamu atau tidak, jangan pernah melepaskan cincin kawinmu, mengerti? " Ia bangkit dan memegang wajahku dengan kedua tangannya yang besar.


" Iya Mas. " jawabku pelan.


*


Tiga hari sejak Ia pulang, Mas kembali pergi. Ia pergi tepat ketika Aku tertidur. Aku yang menyadarinya tidak bisa melakukan apapun, Aku menangis seperti hari dimana Ia meninggalkanku sebelumnya.


Bibi terus menanyaiku keesokan harinya, bukankah Mas adalah anak kenalan Bibi. Lalu, mengapa Bibi juga seperti tidak tau apa-apa tentang Mas.


" Kau belum tidur dengannya, kan? " tanya Bibi tiba-tiba.

__ADS_1


" Bagaimana Bibi..." Aku bingung apa yang membuat Bibi bertanya hal seperti ini.


" Syukurlah, Aku akan ke rumah keluarganya hari ini dan mengajukan perceraian kalian. " Aku menatap Bibi tidak percaya, bukankah ini terlalu cepat?


" Tidak Bi, Mas hanya pergi selama beberapa hari dan dia pasti kembali, kenapa harus bercerai. " ujarku.


" Dia tidak hanya pergi di hari pernikahan kalian, Ia juga pergi hari ini dan bahkan tidak pernah menyentuhmu sama sekali. Bagaimana bisa Kita terus melanjutkan pernikahan ini. " jelas Bibi.


" Lalu, Aku akan tidur dengannya agar pernikahan ini berlanjut. " Lagi-lagi Aku berkata hal yang di luar nalarku, Aku hanya merasa pernikahan ini tidak seharusnya diakhiri begitu saja.


" Kau tau maksud Bibi bukan begitu, Rania. Untuk apa Kau menyerahkan tubuhmu untuk seseorang yang tidak menginginkanmu. " Aku tau Bibi sebenarnya sedang menyalahkan dirinya tentang hal ini, Ia mencoba memperbaikinya dengan mengakhiri pernikahan Kami.


" Bi, mau bagaimanapun Mas adalah suamiku. Aku mau tidak mau, telah menjadi miliknya seutuhnya. Dan hal itu memang sudah seharusnya ku lakukan. " Bibi hanya menatapku dengan sakit, Ia pasti menyesali perjodohan ini.


*


" Duduklah, Aku membawakanmu nasi goreng. " ucapnya.


Ia mengeluarkan sebungkus nasi goreng dari kresek hitam itu dan meletakkannya di atas piring. Ia lalu mengambil sendok dan tiba-tiba menyuapiku.


" Buka mulutmu, ini sudah jam makan malam Kau pasti lapar. " Aku menuruti perkataannya dan membuka mulutku.


Rasa nasi goreng yang familiar membawa kembali kenanganku di masa kecil. Aku tau persis dimana Mas membeli nasi goreng ini.


Tanpa sadar Air mataku menetes, Aku makan sambil menangis membuat Mas tertawa kecil melihatku.


" Kamu ini seperti anak kecil saja, ini hanya nasi goreng Rania. Mengapa Kau menangis? " Ia mengambil tisu dan mengelap wajahku, Aku hanya tersenyum hambar menatap wajahnya.


" Setelah Aku mandi, Ayo kita tidur. " Aku mencoba mengartikan kata 'tidur' yang dimaksud Mas, karena tidak biasanya Mas berkata begini.

__ADS_1


*


Setelah melakukan rutinitas suami istri semalam, Aku segera bangun dan mandi. Jujur saja perasaanku masih berdebar, namun Aku mencoba mengalihkannya.


Dengan semangat Aku keluar Kamar mandi sambil bersenandung pelan, namun hatiku sakit begitu tau Mas sudah tidak ada lagi disana. Mengapa...Dia...Pergi...Lagi.


Bibi datang dengan membawa seorang lelaki yang tidak Aku kenal.


" Rania, dengarkan Bibi. " ujar Bibi tiba-tiba.


Aku tidak mengharapkan sesuatu yang buruk keluar dari bibir bibi, namun itu benar-benar terjadi.


" Rania, Mas-mu itu, Dia bukanlah orang yang seharusnya Kau nikahi. " Aku bertanya-tanya apa maksud perkataan bibi.


" Ma...Maksud..Bibi? " nada suaraku bergetar.


" Bramana Juanda, nama lelaki yang digunakan suamimu itu adalah milik seseorang yang sudah meninggal 4 tahun lalu, orangtuanya menipuku dan dirimu. Dan orang bersamaku ini adalah Paman dari Bram, Ia tau semua hal yang orangtua Bram coba lakukan. " jelas Bibi. Tubuhku luruh ke lantai, lemas setelah mengerti apa yang sedang dikatakan Bibi.


" Lalu, Mas dimana? " tanyaku putus asa. Aku tidak peduli siapa dia sebenarnya, tapi mengapa Ia melakukan ini kepadaku yang bahkan tidak memiliki apa-apa untuk kuberikan kepadanya.


" Aku tidak tau dimana penipu itu, saudaraku juga tidak ingin mengatakan apapun. Namun, Kau harus benar-benar bercerai secara hukum dengan Bram. Mau bagaimanapun Bram telah tiada, dan memakai namanya untuk hal seperti ini bukanlah perkara yang baik. " ujar lelaki yang merupakan Paman Bram itu.


" Aku sudah mengatakannya padamu, Rania. Kau seharusnya menceraikan lelaki itu sejak awal. Gelagatnya memang mencurigakan. Maafkan Aku Rania, maafkan Aku karena mau bagaimanapun Aku lah yang membawamu ke situasi ini" Aku hanya terdiam dengan pikiran yang menerawang.


Aku memberikan diriku, cintaku, dan masa depanku kepada Seseorang yang bahkan tidak Aku ketahui identitas aslinya. Mengapa Aku begitu bodoh? Lalu, siapa sebenarnya yang Aku nikahi?


" Bibi, Aku akan mencari Mas. "


***

__ADS_1


__ADS_2