
Calvin sebenarnya tau pasti posisinya di keluarga ini. Ia hanya anak haram yang disembunyikan Ayahnya selama bertahun-tahun. Ibu tiri dan saudara tirinya bahkan tidak peduli dengan eksistensinya selama ini. Ayahnya juga cenderung tidak bisa berbuat apa-apa ketika Ia merasa bahwa berada disana adalah kesalahan terbesar di hidupnya.
Namun, hari ini berbeda. Calvin dapat melihat bahwa Ayahnya seolah puas akan sesuatu. Ia tidak tau apa itu, namun ketika lelaki itu menginjakan kakinya di ruangan Ayahnya sebuah pelukan hangat ia dapatkan.
" Papa seneng Kamu berhasil jalanin misi ini. Sebagai seorang Ayah, hanya ini yang bisa Papa bantu, nak. " Ah, sekarang Calvin mengerti. Kejadian di hotel itu sudah pasti alasan mengapa Ayahnya menjadi seperti ini.
" Calvin sama sekali engga tau maksud Papa ngelakuin semua ini. Tapi kalau menurut Papa ini memang harus dilakukan, Calvin akan berterimakasih karena Papa seengganya udah mikirin Calvin kali ini. " Beginilah kehidupan yang biasa dijalani Calvin, sebagai Seseorang dengan status terendah di keluarga ini Ia memang harus memperlihatkan image 'penurut' agar dapat bertahan.
" Kamu tau sendiri, sebagai anak di luar pernikahan Kamu tidak berhak atas sepeser pun harta keluarga ini. Meski Papa sudah berusaha agar Kamu memperoleh hak Kamu, Tante Julia ga akan membiarkan hal itu dengan mudah. Jadi, Papa harap Kamu paling tidak bisa mencapai sesuatu dengan cara ini. " Keluarga Pramanto, Aku rasa ini solusi terburuk yang pernah Papa pikirkan.
*
Sudah satu minggu sejak Handoko dirawat di rumah sakit. Lukanya sudah kian membaik dan akan pulang ke rumah.
" Flo, Kamu ga kuliah kan seminggu ini, apa ga masalah? " Memang benar bahwa Flo terpaksa mengambil cuti untuk menemani Handoko hingga kondisinya membaik.
Sebenarnya Handoko sudah melarangnya untuk cuti karena hal itu tidak terlalu mendesak namun Flo merasa bahwa sebagai satu-satunya anggota keluarga Papa, Ia harus selalu ada disana.
" Gapapa kok, Pa. Lagian akhir-akhir ini Flo juga ga sibuk-sibuk banget kok. " Bohong. Akan ada festival kampus dua minggu lagi, dan Flo terpilih sebagai salah satu panitia acara. Namun, karena hal ini Ia terpaksa harus membagi waktunya sebaik mungkin, meskipun pada akhirnya Ia justru tidak bisa melakukan itu.
Jeff, kekasihnya yang juga ketua panitia bahkan sempat memarahinya beberapa hari yang lalu karena tidak hadir di rapat pertama. Flo memakluminya, tidak ada yang tau bahwa Ayahnya tengah terluka dan dirawat di rumah sakit. Itu adalah rahasia keluarga mereka, untuk melindungi perusahaan. Bahkan Flo tidak bisa mengatakan hal ini pada Jeff. Dan tentu saja karena hal ini Jeff berpikir bahwa Flo tengah bermain-main.
__ADS_1
*
-Rapat Kedua Panitia Festival Seni Kampus-
" Jadi buat rundown-nya siapa yang bakal bikin? Flora sebagai ketua divisi acara bahkan tidak hadir hari ini. " Jeff memimpin rapat ini dengan frustasi, anggota divisi Acara tidak ada yang kompeten. Semuanya tidak berani mengambil inisiatif karena takut Flora akan marah ketika Ia kembali.
" Mana Kita-kita tau, anak divisi cewe loe itu ga ada yang mau kerja karena Flo ga ada. Salahin cewe Loe udah rapat kedua tapi masih ga ada kejelasan. " Itu Cindy, ketua divisi humas.
" Aku udah coba minta dia dateng dari kemarin, tapi lagi-lagi hari ini dia bilang ga bisa dateng. Apa dari kalian ga ada yang mau gantiin Flo? " Jeff bertanya pada anggota divisi acara yang dari tadi hanya diam.
" Maaf, Kak. Bukannya Kita ga mau kerja. Tapi sejak awal Kita udah sepakat kalau bakal pake konsepnya Kak Flora, jadi Kita sama sekali ga nyiapin konsep apapun apalagi rundown, itu semua ada di Kak Flora selaku Ketua divisi. " Jelas seorang anak yang tampaknya lumayan berani di antara mereka.
" Halah, bilang aja kalian takut Flo marah kalau kalian ga pake konsepnya dia. " Shella, anggota divisi konsumsi ikut menimpali.
" Yaudah pokoknya kalau rapat ketiga Flora ga dateng, salah satu dari kalian harus gantiin dia. Dan udah harus siapin konsep, rundown dan sebagainya. " titah Jeff tegas, anak divisi acara hanya menganggukan kepala mereka dan rapat kembali dilanjutkan meskipun mereka belum memiliki konsep acara.
*
" Minggu lalu Kamu ke Club bareng siapa? " tanya Jeff pada Flora yang kini tengah asik menyesap Ice Americanonya.
" Darimana Kamu tau Aku ke Club? " tanya Flora, memang benar bahwa Ia diam-diam ke Club minggu lalu karena kalah taruhan dengan Cindy.
__ADS_1
" Oh ternyata bener, Kamu belum 20 tahun Flo. Aku ga suka ya Kamu pergi ke tempat kaya gitu. " Ujar Jeff kesal.
" Kamu tau dari Cindy, ya? " Apakah ini jebakan yang Cindy siapkan, agar Jeff marah padanya?
" Ga penting Aku tau dari siapa, kenapa akhir-akhir ini Kamu berubah sih. Mana ga pernah dateng rapat, Aku sebagai pacar sekaligus ketua panitia, gaenak tau sama yang lain. " dumel Jeff lagi.
" Yaudah Aku janji rapat ketiga bakal dateng, kapan? Sabtu inikan? Aku janji bakal datang, jadi berhenti bahas hal ini, oke? " Sebenarnya Flora sedikit khawatir dengan sikap Jeff hari ini, itulau alasan mengapa Ia tidak ingin memperpanjang hal ini.
*
" Sabtu ini Kita makan malem bareng Calvin. " Sial, mengapa harus sabtu.
" T-tapi Pa, Aku..."
" Jangan cari-cari alasan, kalau Kamu ga ikut makan malam ini. Papa ga akan maafin kesalahan Kamu yang pergi ke club itu. " Selalu saja kejadian itu yang menjadi bahan ancaman papanya, Flora benar-benar menyesal telah bertaruh dengan Cindy.
" Pa, Aku janji bakal dateng. Tapi jangan sabtu ini. "
" Kamu tau Papa cukup sibuk kan? jadi tidak ada pembatalan jadwal, Papa ga terima bantahan atau pun negosiasi dari Kamu. Cukup ikut apa kata Papa. "
" Iya Pa..."
__ADS_1
***