
Aku merasakan bahwa hidupku hanyalah sebuah lelucon. Banyak hal yang pada akhirnya kuabaikan karena tidak sanggunv untuk me anggung semuanya. Mulai dari Arga, hingga masalah orangtua kandungku. Sebenarnya, waktu telah membuatku menjadi begitu dingin. Aku tak pernah menganggap semua itu sebagai hal yang mengejutkan lagi, karena telah begitu banyak kejutan yang kuhadapi.
Aku menatap jendela kamar sambil menyesap teh hangat di tanganku, kali ini saja Aku akan menikmati hidupku dengan tenang. Entah apa yang akan terjadi besok, Aku tak akan memikirkannya untuk malam ini.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Arga, Aku ingin mengatakan semuanya kepada lelaki itu. Aku ingin setidaknya satu orang akan berada di sisiku untuk saat ini.
Kuambil jaket yang kugantung di belakang pintu beserta kunci mobil, menuju tempat dimana Aku dan Arga akan bertemu.
*
Hiruk pikuk Metropolitan sama sekali tidak memberikan ruany bagi Kami untuk bicara. Di atas jembatan layang itu, Aku dan Arga menatap air sungai yang mengalir di dalam kegelapan.
Lelaki itu menghisap rokok miliknya, dan tersenyum padaku.
" Senang bertemu denganmu malam ini. " ujarnya.
Aku tidak tau bahwa Arga adalah seorang perokok aktif, yang ku tau ia adalah seseorang yang sangat peduli akan kesehatannya. Bukankah merokok itu sangat buruk bagi kesehatan.
" Arga, Ayo Kita berkencan. " Arga melemparkan pandangan terkejut padaku seolah tidak percaya dengan ucapanku.
" Apakah Kali ini juga sebuah candaan? " tanyanya.
" Tidak, Aku serius. Ayo Kita lepaskan semuanya dan kembali memulai apa yang belum sempat Kita lalui. " balasku.
__ADS_1
"Ah, Aku mengerti. " Ia mendekat padaku dan memelukku.
Tangis itu pecah begitu saja, hal yang Aku tahan untuk waktu yang sangat lama akhirnya berubah menjadi tangisan yang begitu menyesakkan.
"Tidak apa-apa, Rachel. Tidak apa-apa. " ujar Arga.
Ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua sisi wajahku dengan lembut. Tak lama kemudian, Kami menjadi begitu dekat satu sama lain. Aku dapat merasakan deru nafasnya di wajahku. Hingga akhirnya bibirku menyentuh bibirnya, menyalurkan kehangatan di malam yang dingin itu.
Tamat.
Kisah ini akan berlanjut ke sekuel dimana akan menceritakan karakter yang berbeda namun dengan tema yang sama yang mengangkat tema persahabatan dan cinta.
Cerita kemungkinan akan sedikit berbeda dengan cerita ini, namun itu tidak menutup kemungkinan bahwa akan saling terkait satu sama lain.
Penulis sendiri telah memikirkan ending yang baik untuk kedua pameran namun terlalu sulit untuk melakukannya karena cerita yang sudah berantakan.
Kedepannya penulis akan lebih baik lagi dalam menyusun alur cerita sehingga antara pembaca dan penulis dapat terbangun keterikatan emosional yang baik.
Semua ini hanyalah fiksi.
Senja menyapa.
__ADS_1
Katanya, Aku akan datang sebentar.
Katanya, lihatlah Aku.
Katanya, Aku cantik bukan.
Namun, Malam mengusirnya dengan kejam.
Langit gelap nan pekat memenuhi.
Keindahan itu hilang begitu saja.
Mencintai seseorang yang tak dapat kau miliki.
Melepaskan seseorang yang begitu Kau cintai.
Semua itu adalah hal yang begitu sulit untuk dilakukan.
Kita akan kuat meski perlahan.
Kita akan bangkit meski tak tau kapan. Semuanya akan menjadi pelajaran yang begitu berharga.
u
__ADS_1