
Ayah adalah cinta pertama setiap anak perempuannya. Itu berarti anak perempuan manapun akan patah hati ketika ia kehilang sosok Ayah hidupnya. Itulah yang kini Rachel rasakan, sudah bertahun-tahun sejak ia berpisah dengan Ayahnya yang pergi entah kemana. Namun, hatinya selalu sakit setiap kali mengingat Ayahnya.
Besok adalah hari Ayah, biasanya ia akan pergi ke pantai bersama Ayahnya dan menghabiskan waktu berdua saja. Sejak dulu, Ayahnya adalah pekerja keras yang sibuk bekerja sepanjang waktu namun sejak Rachel lahir, Ayahnya memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak perempuan satu-satunya itu.
*
Hari sudah sore, namun Ayah dan anak itu masih asik bermain air di pantai yang indah nan luas itu. Umur gadis itu menginjak 5 tahun, ia berada pada masa terbaiknya untuk bersenang-senang. Ia terus berlari dengan kaki telanjang di bibir pantai itu, jejak kaki kecilnya membekas terkadang hilang disapu ombak. Ayahnya mengejarnya sambil meneriakkan nama gadis itu, dan akhirnya tawa mereka membaur membentuk sebuah harmoni yang indah.
“Elyn, apakah Kau lelah?” hanya Ayahnya seoranglah yang memanggilnya dengan nama itu.
“Aku tidak lelah, Aku akan terus berlari sampai Ayah menangkapku” teriak gadis itu dengan suara cemprengnya yang menggemaskan.
“Jika Kau berhenti, Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu” Ayah dan anak itu berhenti sebentar dari permainan kucing-tikus mereka.
“Benarkah? Ayah harus berjanji terlebih dahulu”
“Tentu saja, Ayah berjanji. Elyn, kemarilah dan peluk Ayah. Ayah begitu lelah mengejarmu” Gadis itu berlari ke pelukan Ayahnya, memeluk satu-satunya lelaki yang paling dicintainya itu dengan erat.
“Ini, baru gadisku. Jangan berlari terus, Ayah takkan sanggup jika harus mengejarmu terus”
“Jika, begitu Ayah saja yang lari. Aku yang akan mengejar Ayah kali ini”
“Tidak,Elyn. Ayah tidak akan lari darimu, Ayah janji tak akan pernah meninggalkanmu. Kau tau itu”
“Benarkah? Jika begitu, seandainya Ayah lari atau pergi dari Elyn, Elyn akan sangat marah, karena Ayah sudah bilang tidak akan pernah pergi”
“Tentu saja, Anakku. Kau dapat marah dan membenciku jika Aku pergi, namun Kau tau itu tidak akan pernah terjadi, sayangku” lelaki itu mengelus kepala putrinya dengan lembut.
“Berjanjilah padaku”
“Ayah berjanji, tidak akan pergi dari Elyn, selamanya” mereka saling mengaitkan kelingking satu sama lain.
“Selamanya”
*
Rachel sangat kesal hari ini, ibunya memaksanya untuk datang ke rumah untuk merayakan hari Ayah bersama Gerald. Apa yang ibunya pikirkan, Gerald bukanlah Ayah kandungnya utuk apa mereka repot-repot merayakan hari Ayah bersama.
“Ibu Aku sudah bilang Aku tidak akan pergi”
“Datanglah, Rachel. Mau bagaimanapun ia juga Ayahmu, meskipun hanya Ayah tiri”
“Tidak, Ibu. Kau tau bukan betapa sakralnya momen hari Ayah itu. Aku tidak akan menghabiskannya dengan seseorang yang bukan Ayahku”
“Lalu, apa Kau ingin menghabiskannya bersama Ayahmu itu? Apa Kau pikir ia masih mau bertemu denganmu?”
“Tentu saja, Aku putrinya! Mengapa pula ia tidak mau bertemu denganku!”
__ADS_1
“Jika ia memang ingin bertemu denganmu, ia pasti sudah datang sejak lama. Lihatlah, kemana saja ia selama ini? Apakah ia pernah mengunjungimu? Tidakkan!”
“Ibu, Aku megerti alasan Ayah meninggalkan Kita. Ibunya seharusnya bercermin dan jangan hanya menyudutkankanku seperti ini. Ini semua salah ibu”
“Aku tidak menyudutkanmu, lelaki itu memang sudah tidak ingin memiliki putri sepertimu!”
“Aku sudah bilang tidak akan pergi, jadi jangan memancingku untuk berbuat hal yang lebih buruk dari itu”
“Aku tidak memancingmu, Kau harus sadar, Rachel. Ayahmu kini Gerald, bukan lelaki tidak tau diuntung itu!”
“Ibu,hentikan!”
“Jika Kau masih putriku, datanglah besok. Jika tidak Kau bukan putriku lagi”
*
Aku akan mengunjungi Mbak Hana hari ini, Mas Evan yang tidak pulang minggu ini membuatku harus membantu Mbak Hana untuk menjaga kedua anaknya. Padahal, besok hari Ayah. Sayang sekali, Mas evan tidak bisa menghabiskannya dengan anak-anaknya kali ini.
Aku Menelpon Mbak Hana untuk memastikan kembali apakah Aku harus menginap atau tidak, kini Mbak Hana tengah hamil 4 bulan pasti akan sulit menangani dua bocah yang sedang nakal-nakalnya itu.
“Mbak, gimana besok? Aku nginep aja atau gimana?”
“Gausah, Hel. Mbak besok mau ngecek kandungan jadi biar anak-anak aja yang Mbak nitip ke Kamu hari ini. Gapapakan?”
“oh, boleh Mbak. Nanti Aku jemput aja mereka ke rumah ya?”
“Iya, tapi Aku juga udah janji untuk ngajak anak-anak ke pantai besok. Kamu bisa gak temenin mereka?”
“Besok, Aku ngirim seseorang buat nemenin kalian. Kalian pergi bareng dia aja ya entar, jangan bawa mobil ya,Hel. Kerepotan Kamu nantinya, nebeng aja sama dia”
“Siapa,Mbak? Cowo?”
“Liat aja besok, Kamu pasti tau deh”
“Tapi bisa dipercayakan, Aku takut aja gitu, soalnya bawa anak-anak jugakan”
“Bisa kok, tenang aja”
“Yaudah deh Mbak, nanti sore pulang kerja Aku jemput mereka ya buat nginap di apartemen Aku”
“Oke, tolong ya,Hel. Makasih banget loh”
“Santai aja,Mbak. Kaya sama siapa juga”
*
Jennie dan Allen, baru saja selesai mandi. Aku yang baru saja selesai menyiapkan sarapan, mengambil handuk dan memberikan pada mereka berdua yang baru saja keluar dari kamar mandi. Allen yang sudah sedikit lebih besar, mengelap dirinya sendiri dengan handuk tanpa bantuanku. Sedangkan, Jennie adiknya yang lebih kecil memintaku untuk mengelap tubuhnya dan menggendongnya.
“Jennie Allen mau makan apa, Onti udah buatin sarapan loh, ada sereal, nasi goreng, omlet, kalian maunya apa?”
__ADS_1
“Talau nini, mau celeal aja onti” umur Jennie memang masih 3 tahun, membuatnya masih cadel ketika berbicara.
“Kalau Allen maunya apa?” tanyaku pada anak lelaki yang sudah selesai memasang handu di tubuhnya.
“Nasi goreng aja, Onti” balasnya.
Aku menuju kamarku dan memakaikan mereka baju terlebih dahulu.
“Hari ini, Jennie pake baju ini ya? Soalnya kita mau ke pantai, kan?” Aku memakaikan sebuah mini dress bermotif bunga kepada anak sepupuku itu.
“Benelan,Onti? Tapikan Buna ga ada, jadi pelginya sama siapa?” tanya gadis kecil itu dengan nada suara yang begitu imut.
“Iya Onti, perginya bareng siapa? kan Mama ada keperluan katanya” tambah Allen, yang kini sudah memakai baju musim panasnya lengkap.
“Ya sama Onti lah, siapa lagi?” ujarku sambil mencubit pipi mereka berdua gemas.
“Beltiga aja,Onti?” tanya Jennie tiba-tiba.
“Engga kok, Mama kalian ngirim orang buat….”
Ding Dong
Tiba-tiba bel Apartemenku berbunyi.
“Nah, itu orangnya. Kalian, kalau mau sarapan, sarapan aja dulu ya. Onti mau bukain pintu dulu”
“Ciap,Onti!” seru Jennie, sedangkan Allen hanya mengangguk mengerti.
Aku membuka pintu Apartemenku dan tersenyum pada orang yang memencet bel tanpa melihat wajahnya. Namun, ketika Aku menaikkan pandanganku dan menatap orang yang jauh lebih tinggi dariku beberapa senti itu, Mataku membesar dan terkejut dengan pandangan di depanku.
“ARGA?!”
***
__ADS_1