
Ah, Aku hampir putus asa sekarang. Arga bahkan belum datang sejak tadi. Mau ditaruh dimana mukaku jika Aku tidak bisa membuktikan ucapanku pada Gerald. Seharusnya, Aku meminta Arga terlebih dahulu untuk pura-pura menjadi pacarku alih-alih mengatakan bahwa Aku membutuhkannya.
"Dimana Kekasihmu itu, apa dia tidak akan datang,haha" rasanya Aku ingin melemparkan setumpuk berkas di tanganku ini ke muka Gerald.
"Apa yang Kau maksud adalah Aku?" Apa? Bukankah yang kuhubungi Arga, mengapa ia yang datang?
"Rea sedang sakit. Arga memintaku menggantikannya kesini" ujar Jeno pelan, Ah tentu saja Arga akan lebih memilih kekasihnya, meskipun Aku juga sedang membutuhkannya.
"Siapa Kau? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya"
"Kenalkan Aku Jeno, Kekasih Rachel"
"Ah, gadis ini. Kau sama murahannya dengan ibumu. Apa Kau benar-benar menyukai berpacaran dengan banyak pria?" Ah sial, Aku lupa bahwa Aku telah mengenalkan Arga sebagai Kekasihku sebelumnya. Jeno dan Gerald pasti bertanya-tanya saat ini.
"Aha, Kau bahkan lebih buruk dariku. Kau mengatai wanita yang jelas-jelas Kau nikahi itu murahan"
"Bukankah ia memang murahan, ia bahkan melemparkan dirinya padaku setelah mencampakkan Ayahmu"
"Berani sekali Kau mengungkit Ayahku, apa Kau pikir Aku akan diam saja?"
"Sudah,Sayang. Kau tidak perlu meladeni lelaki tidak tau diri sepertinya"
"Tidak Tau diri katamu? Haha, Apa Kau tau gadis sebelahmu lebih tidak tau diri. Dia bahkan memacari dua pria sekaligus"
"Haha, tidak masalah bagiku. Bahkan Rachel-ku bisa memacari lebih dari dua pria jika dia mau" Jeno mengelus kepalaku dengan lembut, membuat Gerald semakin berang.
"Apa kalian gila? Sepertinya kalian pasangan psikopat yang serasi" ujar Gerald sarkastik.
"Ah, tepat sasaran. Terima kasih atas pujianmu. Kalau begitu Kami pergi dulu" Jeno memegang bahuku, dan Kami meninggalkan ruangan itu.
*
"Apa Kau lagi-lagi mengakuinya sebagai Kekasihmu?" dengan nada dingin Jeno bicara padaku.
"Kak, Aku itu..."
"Jangan pernah memanggilku 'Kak' lagi. Aku sudah bilang jangan berhalusinasi seperti dulu" nada dingin itu adalah satu-satunya ekspresi yang membuatku yakin bahwa ia adalah kakakku, meskipun wajahnya...berubah.
__ADS_1
"Kak, Aku hanya tidak ingin Gerald menggangguku. Hanya itu" jelasku.
"Kau tidak harus melibatkan Arga, namun Kau sengaja melakukannya bukan?"
"Kak, Kau tau Aku tidak begitu. Aku benar-benar sudah melupakan Arga"
"Lalu, mengapa Kau justru menghubunginya bukannya Aku untuk membantumumu. Bukankah itu artinya Kau masih menaruh perasaan padanya?"
"Kau tau? Gerald hanya tau bahwa Arga lah pacarku. Mana mungkin Aku menghubungimu. Lagipula, mengapa harus Kau yang datang? Lihatlah bagaimana Gerald mengataiku tadi!"
"Apa Kau menyalahkanku,Rachel?"
"Tidak,Kak. Namun, berhentilah berpikir berlebihan. Rasaku pada Arga benar-benar telah berakhir!"
"Kau bohong! Aku tau bahwa dalam hatimu masih ada Arga. Kau pasti kecewa bukan karena bukan Arga yang datang!"
"Untuk apa Aku kecewa, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku!"
"Haha, Rachel Aku mengenalmu lebih baik daripada dirimu sendiri. Sekarang, Apakah Kau tau apa yang lelaki itu lakukan alih-alih membantumu?"
"Bukankah Kau bilang bahwa ia menjaga Rea yang sakit?"
"A..A..Apa Katamu?! Mengapa begitu tiba-tiba?"
"Kau terlalu sibuk,Rachel.Hingga Kau tidak tau bahwa hidup Rea tidak lama lagi"
"Apa?! Apa lagi ini, Apa Kau sedang bercanda,Kak?!"
"Aku serius,Rachel. Depresi yang dialaminya membuat tubuhnya semakin lemah. Aku tidak tau kapan Aku bisa mengatakan yang sebenarnya pada Rea, ini semua karena kesepakatan yang mereka lakukan"
"Apa?! Kesepakatan Apa?!"
"Kau tau,Rachel. Rea hanya berpura-pura pacaran dengan Arga. Itu semua untuk membuatmu cemburu. Andai saja mereka tidak melakukannya, mungkin Ibu Rea tidak akan memaksa Arga untuk menikahi Rea sebelum Rea tiada!"
"Tidak,tidak mungkin. Tidak mungkin Rea membohongiku selama ini" Air mataku mulai menetes.
"Apa Kau tidak percaya padaku?! Kau tau bagaimana perasaanku sekarang? Arga,lelaki itu telah merebut segalanya dariku! Dulu dia merebutmu, dan kini Rea, orang yang Aku cintai!"
__ADS_1
"Orang yang Kau cintai? Sejak kapan Kau mencintai Rea, mengapa Kau tidak pernah mengatakannya padaku!"
"Apa Kau tau,Rachel? Alasan Rea depresi itu Aku,Aku! Seharusnya, Aku tidak memalsukan kematianku! Ini semua salahku!" Jeno tersenyum miris, Aku dapat melihat sudut matanya mulai berair.
"Apa?! Ini tidak mungkin, bagaimana bisa Kau mengenalnya?"
"Kau tau,Rachel. Dulu Aku dan Rea tidak bisa bersatu karena keluarga kami yang tidak sebanding. Lalu, Aku memalsukan kematianku dan masuk ke perusahaan keluarga Rea, berharap keluarganya akan menerimaku. Namun, Kau tau? Lagi-lagi Aku gagal Rachel,Gagal!" Jeno memukulkan kepalanya ke setir, frustasi.
"Tenanglah,Kak. Jika Aku tau kalian punya hubungan seperti itu. Aku pasti sudah membantu kalian sejak lama" Aku memeluk Jeno yang mulai sesegukan.
"Sudah terlambat,Rachel. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan hubungan Kami adalah menyingkirkan Arga dari sisi Rea. Apakah Kau bisa melakukannya,Rachel? Aku tau Kau bahkan sama sepertiku sekarang, muak dengan lelaki itu" Jeno kini memegang kedua bahuku penuh harap.
"Aku akan melakukannya,Kak. Aku akan menyingkirkan Arga dari sisi Rea"
"Apa Kau serius? Tapi, mereka akan bertunangan,Rachel. Ini semua tidak ada gunanya"
"Tidak,Kak. Bukankah Kau bilang bahwa Arga sengaja melakukan kesepakatan itu agar Aku cemburu, bukankah itu artinya ia telah mencintaiku sekarang?"
"Haha, selamat adikku. Dia memang telah mencintaimu sekarang" Jeno tertawa miris, terdengar sedikit sarkastik.
"Benarkah? Jika begitu Kau tidak perlu Khawatir,Kak. Ini akan menjadi lebih mudah karenanya"
"Tidak,Rachel. Arga telah berjanji untuk melepaskan perasaannya padamu. Kau tidak dapat melakukan apapun sekarang"
"Mengapa semesta begitu tidak adil? Aku bahkan baru saja bersyukur bahwa ia telah menyukaiku pada akhirnya"
"Lihatlah, Apa Kau masih berani berbohong padaku bahwa Kau sudah tidak menyukainya? Kau masih mengharapkannya selama inikan?"
"Kak, dengarkan Aku. Sekarang tidaklah penting Apakah Aku masih menyukainya atau tidak. Yang terpenting adalah bagaimana agar Aku dapat memisahkannya dengan Rea"
"Tapi, Aku ragu Kau dapat melakukannya. Rea adalah seseorang yang cukup penting bagimu, bagaimana mungkin Kau sanggup merebut kekasihnya seperti itu"
"Bukankah itu hanya kesepakatan? Itu bearti Rea tidak mencintai Arga sama sekali, ia pasti tidak keberatan" ujarku dengan percaya diri.
Jeno tiba-tiba menatapku dengan begitu dalam. Ada kesedihan yang tersirat dari iris mata yang berwarna sama denganku itu. Ia memegang tanganku lembut, Aku dapat merasakan bahwa tangannya begitu dingin sekarang. Perasaanku mulai tak enak, terlebih ketika Jeno berucap dengan lirih...
"Bagaimana jika Aku bilang bahwa Rea telah menyukai Arga sekarang?" Air mataku tumpah begitu saja, Jeno yang sadar akan hal itu langsung meraihku ke pelukannya.
__ADS_1
Bersambung.