Husband Denial

Husband Denial
Pemikiranmu Tentangku


__ADS_3

Rachel dimarahi oleh ibunya habis-habisan tepat setelah undangan pertunangan Rea dan Arga sampai di tangan ibunya. Tidakkah ibunya Tau bahwa perasaan rachel juga sedang campur aduk. Bagaimana bisa ia memarahinya karena ia gagal mendapatkan Arga dan memberikanya pada Rea. Ah, apa yang ibunya pikirkan.


    Rachel tau bahwa ibunya dulu bahkan tidak peduli dengan perasaanya pada Arga, namun dari cerita yang mungkin disampaikan oleh suami tidak tau dirinya itu, ibunya seperti antusias dengan hubungannya dengan Arga. Apa yang lelaki itu ceritakan? Bagaimana ibunya bisa salah paham dan berpikir bahwa Rea merebut Arga darinya. Dan bagaimana lelaki itu bisa tau bahwa ibunya mengenal Arga? Ah, begitu banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Rachel sekarang.


“Rachel, Aku tidak membesarkanmu untuk menjadi gadis yang bodoh seperti ini! Bagaimana bisa kau melepaskan Arga begitu saja?!” Rachel memijat keningnya frustasi, Ia memang tak habis pikir dengan ibunya.


Rachel memilih untuk mengabaikan ibunya dan pergi meninggalkan rumah itu. Ia pikir ada sesuatu yang penting hingga ibunya menyuruhnya kesini hari ini, ternyata ibunya hanya ingin memarahinya saja. Menyebalkan sekali.


*


Akhirnya tibalah pesta ulang tahun Rea, ada begitu banyak orang penting dan publik figur disana. Konsep pesta yang begitu meriah membuat tamu undangan takjub dengan pesta yang diadakan oleh Crazy Rich Surabaya itu.


Rea tampak begitu cantik dengan gaun biru tua yang membalut tubuhnya, begitupun dengan Arga yang menggunakan tuxedo berwarna senada. Lalu, dimana Rachel? Gadis itu memutuskan untuk datang terlambat, sebenarnya ia tidak yakin bahwa dirinya baik-baik saja dengan pertunangan Rea dan Arga. Meskipun ia sendiri percaya bahwa sudah tidak sedikitpun untuk Arga, namun melihat lelaki yang pernah begitu Ia cintai bersama sahabatnya sendiri tentu saja bukan hal mudah.


"Gerald, apa Kau ingin melihat sebuah pertunjukan?" Ibu Rachel, yang saat itu sudah hadir bersama suaminya yang juga kolega Ayah Rea, tampak tersenyum miring.


"Pertunjukan?" Gerald memberikan segelas Anggur kepada istrinya, dan ikut tersenyum misterius.


"Iya, pertunjukan. Anggaplah ini sebuah hadiah yang kuberikan untuk putriku yang malang." Ibu Rachel meneguk anggurnya hingga tandas, lalu mencoba menghubungi putrinya untuk segera datang.


Acara sudah akan segera dimulai, para tamu undangan berkumpul dan menuju spotlight acara tersebut.


"Baiklah, kepada para undangan yang telah hadir di pesta malam ini saya ucapkan terima kasih. Namun, pesta ini tidak hanya saya adakan untuk merayakan hari kelahiran putri saya, namun juga untuk meresmikan pertunangan putri saya satu-satunya ini dengan lelaki pilihannya, Arga." Ayah Rea tampak bahagia, ini adalah momen yang ia nantikan sejak lama. Ia berharap bahwa putrinya juga akan sebahagia dirinya hari ini.


Namun, sebelum Ayah Rea mulai untuk berbicara kembali seorang wanita maju ke depan dan mengambil mikrofon yang berada di tangannya.


Ayah Rea tampak terkejut ketika mengetahui siapa wanita itu, ia bahkan tidak menduga bahwa wanita itu akan datang hari ini. Ibu Rea sendiri tampak pucat dan terus memperhatikan putrinya, takut sesuatu yang akan disampaikan oleh wanita itu akan mengacaukan semuanya.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya, maaf menginterupsi. Saya disini, hanya ingin menyampaikan sebuah fakta yang mungkin tak akan kalian duga sebelumnya." Gerald menatap istrinya dengan bangga, lihatlah wanita itu benar-benar pintar mengacau. Rachel seharusnya bangga mempunyai ibu sepertinya.


Para tamu undangan tampak berbisik-bisik riuh, menerka-nerka apa yang akan disampaikan oleh wanita itu. Sebenarnya Ayah Rea bisa saja memanggil keamanan untuk menghentikan wanita itu, atau berbicara langsung padanya agar Ia berhenti. Hanya saja jika dia melakukan hal itu, wanita ini akan meledak dan menghancurkan segalanya.


"Pak, Apakah Kau mengatakan bahwa ini adalah pertunangan putrimu satu-satunya?" Ayah Rea tampak kaget dengan pertanyaan Ibu Rachel, apa yang wanita ini inginkan.


"I...ya...be...nar." Ayah Rea tampak terbata-bata membuat tamu undangan semakin tidak sabar dengan pertunjukan yang akan mereka lihat.


"Lalu, mengapa putrimu satu-satunya itu justru tidak ada disini?" Para tamu undangan tampak bingung dengan apa yang diucapkan oleh Ibu Rachel, begitupun Rea dan ibunya yang melemparkan pandangan satu sama lain. Rea yang sudah tidak tahan dengan kelakuan wanita itu yang bertele-tele akhirnya mengambil mikrofon dan menjawab.


"Bukankah Aku sudah disini, mengapa Kau bertanya-tanya seolah Aku bukan putrinya!" Rea tampak emosi, Arga mencoba menenangkannya.


"Huh, tidak kusangka bahwa mereka benar-benar membodohimu selama bertahun-tahun. Kau tanya ibumu itu, apa dia benar-benar bisa melahirkan seorang putri?" Rea melemparkan pandangan pada ibunya yang kini gemetaran, membuat Rea seolah tidak percaya bahwa apa yang diucapkan wanita itu mungkin benar adanya.


"Lihatlah, ia bahkan membeku dan tak bisa berkata apapun. Kau bisa tanya Ayahmu jika begitu, apakah ia benar-benar yakin bahwa Kau anaknya." Rea tampak bingung sekaligus sakit hati, ia lalu mencoba menatap Ayahnya dengan tulus.


"Lihatlah! kedua orang tuamu itu bahkan tidak berusaha untuk membantah apa yang Aku katakan, bukankah itu berarti mereka mengakui segalanya?" Ibu Rachel menelusuri wajah Rea yang tampak murung, matanya sudah berkaca-kaca namun ia memutuskan untuk tetap mengangkat kepalanya, menyelamatkan harga diri keluarganya yang tersisa.


Seketika suasana menjadi hening, namun suara stiletto yang begitu anggun mendadak memenuhi seisi ruangan itu.


Rachel mengangkat gaunnya dan berjalan ke arah ibunya dengan cepat, Ia begitu kesal karena harus menggunakan gaun yang justru menyulitkannya. Setelah sampai disana, Rachel mengambil mikrofon yang berada di tangan ibunya. Namun, Ibunya tidak mau melepaskan mikrofon itu membuat Rachel kesal, dan merebutnya secara paksa.


"Rachel, apa yang Kau lakukan?! Cepat berikan mikrofon itu padaku! Masih banyak yang harus kusampaikan!" Rachel hanya menggelengkan kepalanya dan menarik tangan ibunya begitu saja, sebelum melemparkan tubuh ibunya ke Gerald yang berada tidak jauh dari mereka.


Ia memegang erat mikrofon yang berada di tangannya dan mulai berbicara.


"Maaf atas kekacauan yang Ibu saya lakukan malam ini, Saya dengan tulus meminta maaf kepada kalian semua atas perbuatan Ibu saya" Rachel membungkukan tubuhnya dengan hormat sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan area spotlight itu. Namun, sebelum hal itu terjadi, Rea menarik tangannya dengan kencang.

__ADS_1


"Rachel, apa Kau tidak ingin tau apa yang sebenarnya ibumu ingin sampaikan? Apakah Kau tidak penasaran mengapa ia repot-repot ingin mengacaukan pesta pertunanganku?" Rachel tersenyum dan menyingkirkan tangan Rea dari tangannya.


"Rea, Aku dengan tulus datang kesini untuk memberikan selamat padamu dan Arga. Aku sama sekali tidak ingin melihat Ibuku mengacau lebih dari ini, bukankah orang-orang akan salah paham?"Rea menatap Rachel yang sama sekali tidak terganggu dengan apa yang diucapkan oleh ibunya, apakah Rachel justru sudah tau yang sebenarnya terjadi?


"Maaf,Nona. Tapi, Aku benar-benar sudah salah paham sekarang." Arga yang sedari tadi diam, tiba-tiba ikut berbicara pada Rachel.


"Apa yang Kau salah pahami? tidak usah menggiring opini orang lain terhadapku." Rea sama terkejutnya dengan Arga yang tiba-tiba ikut campur.


"Huh, bukankah Kau sedikit kejam, Nona? Kau sengaja bukan menyuruh ibumu mengacaukan pertunangan Kami?" Rachel menatap Arga tidak percaya, apa yang baru saja lelaki katakan.


" Kau bercanda?" Rachel tertawa seolah-olah apa yang baru saja dikatakan Arga adalah lelucon yang begitu menggelikan.


"Lihatlah, bagaimana Kau tertawa begitu keras. Aku tidak yakin jika Kau masih bisa tertawa ketika melihatku dengan Rea resmi bertunangan." Arga tersenyum menakutkan, membuat Rea merasa ada yang aneh dengan lelaki itu.


"Maksudmu?" Rachel mengerutkan keningnya.


"Ah, apa Kau masih berpura-pura lugu? Aku tau bahwa Kau sangat iri dengan Rea bukan? Ia memiliki segalanya, bahkan ia memiliki Aku. Seseorang yang takkan pernah Kau miliki! bukankah itu alasanmu menyuruh ibumu mengacaukan pertunangan Kami?" Rachel terdiam dan menatap Arga dalam. Apa yang salah dengan lelaki itu?


Ibu Rachel tiba-tiba naik ke atas panggung dan menampar Arga dengan keras.


"Dasar lelaki tidak tau diri! Apa Kau tau bahwa Kekasihmu itulah yang merebut semuanya dari putriku! Putriku adalah anak kandung Ayah kekasihmu itu! Kekasihmu bahkan hanya seorang anak adopsi! Tidak sepatutnyanya Kau mengatakan bahwa Putriku iri dengan sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi miliknya!" Arga tertawa dengan begitu keras mendengar perkataan wanita itu.


"Lihatlah! Ibu dan anak ini, memang pintar sekali bersandiwara!" Rachel menatap Arga dengan benci , Ia sama sekali tidak peduli dengan apa yang ibunya katakan. Tapi, bagaimana bisa Arga berpikir bahwa Ia juga terlibat dalam hal ini.


"Tidak, wanita itu benar" Ibu Rea yang sedari tadi diam membuka suaranya.


***

__ADS_1


__ADS_2