
Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, kupenjam mataku menikmati bau laut yang begitu menenangkan. Ah, sudah lama sekali Aku tidak pantai. Di tepi pantai, Arga bersama kedua anak itu tengah bermain air. Entah, mengapa terasa de javu bagiku.
“Onti, Ayo kesini main sama kita” ujar Jennie yang tiba-tiba saja menghampiriku.
“Maaf,Nini. Onti ga bisa main sama kalian sekarang” Ah, Aku ingin sekali bermain dengan mereka tapi Aku sedang datang bulan, itu sedikit..err..Kau pasti mengerti.
“Yahhh, yaudah deh Aku main sama Om Arga sama Ka Allen aja ya Onti”
“Iya, udah kesana main lagi. Sini biar sekalian Onti fotoin kalian” Aku mengambil Kamera polaroid di tasku dan mulai memotret mereka.
Beberapa foto tampak bagus, Aku akan menyimpannya untuk kenang-kenangan.
“Onti, Baju kita basah semua. Gimana ini?” ujar Allen tiba-tiba.
“Lah, kok bisa?” seruku. Yang benar saja, Aku tidak membawa baju ganti mereka karena mengira akan segera pulang setelah selesai bermain, terlebih Aku memang tidak kepikiran kalau mereka butuh baju ganti.
“Tadi, Ada ombak, Onti. Gede banget, tuh liat Om Alga sampe basah juga” Ujar Jennie yang rambutnya juga ikut basah.
Aku melihat Arga berjalan ke arah Kami dengan baju dan rambut ya acak-acakan. Ia menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan, air dari rambutnya ikut menetes di wajahnya, sungguh luar biasa tampan.
Aku sempat terpana melihatnya, namun ketika Jennie menarik ujung dressku. Kesadaranku kembali.
“Jadi, ini gimana Onti Kita kan ga punya baju ganti” Jennie mengerucutkan bibirnya kesal, sepertinya ia tidak suka menggunakan baju basah.
“Ayo, Kita ke pasar terdekat dan beli baju ganti” ujar Arga sambil mengendong Jennie.
“Om, tulunin Nini. Jadi, makin basah baju Nini,nih” Dumel Jennie membuat Arga tertawa. Ah, lihatlah betapa tampannya ia sekarang.
“Tapi, pasar sangat jauh,Om. Bukankah pantai ini terpencil dan tidak banyak orang berjualan. Dimana kita akan menemukan penjual baju? Terlebih hari sudah mau gelap” Allen yang sejak tadi diam tiba-tiba bersuara.
“Yah, benar juga. Kita juga tidak bisa kembali dengan baju basah seperti ini, perjalanan kita hampir 5 jam. Bisa demam jika kita terus menggunakan pakaian basah” pikir Arga.
“Lalu, Apa yang Kau lakukan? Bukankah Ini salah Kau mengajak anak-anak ke pantai ini? Aku sudah bilang ke Ancol saja, namun Kau keras kepala ingin kesini”
Memang benar bahwa pada awalnya Aku berencana membawa anak-anak ke Ancol, namun Arga dengan kekeuh mengatakan bahwa lebih baik untuk pergi ke ‘pantai yang sebenarnya’ dan akhirnya Kami berakhir disini, sebuah pantai yang begitu jauh dari pusat kota.
__ADS_1
“Maafkan Aku, ini memang kesalahanku. Namun, Kau juga salah Rachel. Mengapa Kau tidak membawa baju ganti mereka?” Apa? Ia menyalahkanku.
Siapa yang akan kepikiran untuk membawa baju ganti jika ke Ancol, bukannya Aku tidak mau mengakui kesalahanku hanya saja ia yang merubah rencananya untuk ke pantai ini di perjalanan. Jika Aku tau, mungkin Aku akan membawa baju ganti karena perjalanan yang sangat panjang ini.
“Sudahlah, jangan bertengkar. Tidak ada gunanya. Apa yang harus kita lakukan sekarang” Allen mencoba menengahi Kami.
“Ah, Aku ada ide. Bagaimana kalau Kita pergi saja untuk mencari pakaian baru lalu menginap dan tidak kembali hari ini”
“Menginap?”
“Iya, jika kita pergi ke pasar. Akan terlalu telat untuk kembali ke jakarta, juga tidak baik bagi anak-anak untuk melakukan perjalanan di malam hari. Bagaimana jika kita menginap saja?”
“Benar juga, lalu dimana kita akan menginap?”
“Mudah saja, setauku Rea punya Villa disini. Aku akan meminta bantuannya untuk membiarkan kita menginap semalam” Sebentar, ia mau meminta bantuan Rea? Entah, apa yang akan dipikirkan Rea jika ia tau Aku bersama kekasihnya saat ini.
“Baiklah, tapi Kau tidak boleh bilang bahwa Kau bersamaku?”
“Mengapa? Bukankah itu tidak masalah. Lagipula, Kita melakukan ini demi anak-anak apa yang Kau takutkan?”
“Apa maksudmu? Yang Aku takutkan? Apa yang harus kutakutkan?”
Arga meninggalan Kami dan menelfon kekasihnya yang juga sahabatku itu, tak lama kemudian ia kembali dan meminta Kami untuk segera naik ke mobil.
Kami menyusuri Kota nelayan itu dengan pelan, langit sudah mulai gelap. Syukurlah, mereka sudah ganti baju tadi jka tidak angin malam yang dingin mungkin akan membuat tubuh mereka membeku. Allen dan Jennie sudah tertidur sejak beberapa menit yang lalu, sedangkan Arga masih sibuk menyetir.
“Bukankah, anak-anak belum makan?” tanyanya tiba-tiba.
“Ah, iya Aku lupa. Mereka belum makan malam. Bagaimana ini, mereka sudah terlelap?” panikku.
“Tidak apa-apa, jangan bangunkan mereka. Nanti, ketika sampai di Villa ayo kita memasak untuk mereka sebelum tidur. Bukankah mereka selalu bangun, ketika mobil berhenti di suatu tempat” Ah iya benar, Jennie bahkan juga terbangun ketika Kami mampir di rest Area saat itu.
“Apakah masih jauh?”
“Sedikit, namun tidak akan lama.Kau tidur jugalah sebentar, Aku tau kau cukup lelah” Benar, meskipun Aku tidak ikut bermain tadi. Namun, kondisi tubuhku yang sedang datang bulan membuatku begitu mudah kelelahan.
__ADS_1
“Apakah tidak apa-apa?”
“Tentu saja, ketika sampai Aku akan membangunkanmu”
*
Mereka berempat sampai di Villa milik Rea, namun siapa yang menyangka bahwa pemiliknya. Begitu sampai ke Villa itu, Mereka bertemu Rea yang tengah asik memanggang daging di halaman.
“Rea mengapa Kau disini?” ujar Rachel gugup.
“Ah, iya. Tenang saja, tidak apa-apa,Rachel. Aku disini karena sangat ingin bertemu denganmu, Kau begitu sulit dihubungi. Mengapa kini Kau bahkan ada waktu untuk berlibur, apa Kau masih temaku?” Rea mengerucutkan bibirnya.
“Tidak, Aku hanya terkejut bagaimana Kau bisa ada disini”
“Mudah saja, ketika Arga memberitahuku bahwa Dia bersamamu. Aku langsung menuju kesini, bukankah begitu sayang?” Arga hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum salah tingkah padaku, bukankah Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak memberitahu Rea Aku bersamanya.
“Sudahlah, Rachel. Jangan terlalu banyak pikiran, tidakkah Kau lihat anak-anak itu sudah lapar. Duduklah disana Aku akan memasak daging untuk kalian” Memang sejak tadi Allen dan Rea sudah terbangun, mereka kini tengah digendong oleh Aku dan Arga.
“Wah, kalian sudah datang. Aku bahkan hampir salah menduga bahwa kalian sepasang suami istri yang ingin menginap disini, dengan anak-anak itu di gendongan kalian” tiba-tiba Jeno juga muncul dengan membawa beberapa snack di tanganya.
“Jeno? Bagaimana bisa Kau juga ada disini?” tanyaku, enggan membahas perkataan Jeno tentangku dan Arga.
“Tentu saja, Bukankah Aku sudah bilang bahwa Aku bersama Rea ketika menelfonmu kemarin. Mengapa Kau tidak pernah menghubungi Kami setelahnya?” Ah iya, Aku lupa menghubungi mereka, Kami bahkan belum bertemu sejak saat itu.
“Maafkan Aku, Kau tau pekerjaanku itu..” Satu-satunya alasan Aku tidak ingin bertemu mereka adalah karena Aku belum siap menghadapi Rea setelah pernyataan cinta Arga hari itu.
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Tidak apa-apa,Rachel. Bukankah kita sudah bertemu sekarang?” Rea menepuk pundakku pelan.
__ADS_1
“Yasudah, bagaimana jika sekarang Kita makan. Perutku sudah lapar sekali” ujar Allen yang tiba-tiba, membuat Kami tertawa karenanya. Anak itu pasti sudah sangat lapar, seseorang yang begitu menyukai makanan sepertinya mana mungkin bisa menahannya.
***