
Zafran mengelus sulur rambut Julie dengan lembut. Gadis yang tengah terlelap di pangkuannya itu memang begitu cantik di matanya. Ia bahkan tidak peduli ketika orang lain terus mengatakan bahwa wajah gadis itu biasa saja, dan berbeda dengan mantan-mantannya terdahulu yang begitu cantik rupawan. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan cinta yang sebenarnya, jadi siapa yang peduli dengan perkataan orang lain.
"Ah, sekarang sudah jam berapa?" Julie mengerjapkan matanya.
"Sudah jam tiga, ada apa sayang?" Zafran meletakkan dagunya di kepala Julie dengan lembut.
"Apa?! Aku harus menemui Dokterku sekarang" Julie tiba-tiba bangkit membuat Zafran mengaduh karena kepala Julie menyenggol rahangnya dengan keras.
Julie dapat melihat bahwa Zafran kesakitan karenanya, ia lalu meminta maaf dan mengelus rahang Zafran dengan lembut.
"Sayang, maafkan Aku. Aku sangat panik, pasti sangat sakit ya?" Zafran menghentikan tangan Julie yang berada pada rahangnya, dan membawa tangan itu ke genggamannya.
"Sudah, jangan khawatir. Tidak apa-apa,kok. Bukankah Kau buru-buru? Ayo kita pergi" Akhirnya sepasang kekasih itu bangkit dari kursi taman yang sejak tadi mereka duduki.
*
"Mbak Hana, hari ini bisa bantuin Aku buat konsul sama pasienku ga? Mama tiba-tiba nelfon ada hal penting" Arga tampak terburu-buru, ia melepas jas dokternya dan segera mengambil kunci mobil yang tersimpan di belakang pintu ruangannya.
'Tapikan, Aku bukan spesialis di bidang Kamu. Gimana Aku bisa nangganinnya?' Keluh Hana.
"Dia pasien normalku kok, masalahnya Mbak Hana pasti paham dan bisa nanggangin-nya" ujar Arga meyakinkan.
'Pasien normal? Maksudmu mereka yang tidak sakit apa-apa tapi butuh konsultasi?' Tanya Hana memastikan.
"Iya bener,Mbak. Lagian Mbak Hana psikolog pasti bisa ngadepin pasienku yang satu ini"
'Oke deh, nanti arahin aja pasienmu ke ruanganku'
"Baik,Mbak. Terima Kasih ya"
__ADS_1
'Iya, sama-sama Ga'
*
Di ruangan keluarga itu tampak Keluarga Arga dan Keluarga Rea tengah berkumpul bersama. Ibu Arga tampak akrab dengan Ibu Rea.
Rea menatap keluarganya dengan sedih, apa yang dipikirkan ibunya hingga memutuskan untuk datang ke rumah Arga seperti ini. Rea mencoba menghubungi Arga, agar tidak usah kembali ke rumah dulu namun ponsel lelaki itu tidak aktif. Firasatnya mengatakan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi setelah ini.
"Nah, itu Arganya udah dateng" Arga muncul dari pintu depan dengan setelan kerjanya, kemeja formal serta celana kain yang berwarna senada.
"Ah, iya. Syukur deh, Kita bisa langsung mulai aja ya?" Ibu Rea tampak antusias dengan kedatangan Arga.
"Arga sini duduk dulu,Nak" Meskipun Linda, Ibu Arga menunjukkan keantusiasannya dengan apa yang akan disampaikan oleh Ibu Rea namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia khawatir.
Dengan patuh, Arga duduk di samping Linda. Matanya menatap nyalang pada ibunya yang sedikit sedih. Ia dapat menduga apa yang akan terjadi sejak masuk ke rumah ini, Mamanya tentu saja sangat khawatir saat ini, sama sepertinya.
Ibu Arga tampak diam dan tidak berkomentar apapun mengenai hal itu. Sepertinya ia ingin putranya menghadapi hal ini sendiri, ia takut bahwa jika ia ikut campur justru akan merusak semuanya.
"Begini,Tante. Bukan Arga menolak inisiatif Om Tante mengenai pertunangan Kami. Hanya saja, Arga rasa ini terlalu cepat" jelas Arga sopan.
"Terlalu cepat? Ayolah Arga, bukankah Kau akan segera memasuki kepala tiga kurang dari 5 tahun kedepan. Aku tidak meminta kalian menikah, hanya bertunangan" Wanita itu sepertinya tidak puas dengan omongan Arga barusan.
"Sudah,Ma. Jangan memaksa lagipula hal ini adalah urusan mereka, bukankah terlalu berlebihan untuk ikut campur?" Ayah Rea tampak menenangkan istrinya.
"Tapi Waktu Rea tidak lama lagi, Aku setidaknya ingin memberikan pesta ulang tahun dan pertunangan yang begitu special untuk terakhir kalinya'
Semua orang di ruangan itu tertunduk dalam. Air mata Rea tampak menetes membasahi dressnya. Benar, hidupnya tidak lama lagi. Dan kejadian hari ini tentu saja karena dirinya.
"A..Apa itu benar,Rea?" Tanya Arga pada Rea yang duduk tepat di depannya.
__ADS_1
Rea menghapus air matanya, mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Arga.
"Siapa yang peduli benar atau tidak? Bukankah setiap manusia memang akan mati?" Arga tersenyum miris mendengar jawaban Rea, siapapun bisa tau bahwa gadis itu putus asa.
"Lalu, Apa Kau ingin segera bertunangan denganku?" Rea menggelengkan kepalanya dan akan mengatakan sesuatu ketika ibunya mendahuluinya.
"Kau tidak perlu menanyai putriku mengenai hal itu, jika Kau memang punya sopan-santun hargailah keputusan kami mengenai pertunangan kalian. Aku tau Kau jauh lebih paham bagaimana rasanya akan kehilangan seseorang kapan saja" tekan Ibu Rea.
Perkataan itu mengingatkan Arga pada Almarhum Ayahnya, benar bahwa ia jauh lebih paham perasaan itu. Dan apa yang tengah dirasakan keluarga Rea saat ini pasti tidak jauh berbeda.
"Baiklah, Aku setuju. Kami akan bertunangan di pesta ulang tahun Rea" Ibu Rea tampak puas dengan jawaban Arga, ia langsung memeluk putrinya yang kini hanya bisa diam tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
Ia berpikir bahwa ini semua adalah hal terakhir yang ibunya lakukan untuknya sebelum ia tiada. Bukankah jika ia merusak semuanya justru akan membuatnya kecewa.
Ia berencana untuk mengatakan yang sebenarnya pada keluarganya hari ini. Namun, lagi-lagi waktunya tidak tepat dan malah berakhir seperti ini.
Wajah Arga yang begitu frustasi memenuhi kepalanya. Lelaki itu pasti tengah pusing sekarang. Satu-satunya hal yang mungkin memenuhi pikiran Arga saat ini sudah pasti,Rachel.
Sama seperri Arga, ia sangat takut akan reaksi Rachel mengenai hal ini. Ia takut bahwa ia justru kembali menggoreskan luka di hati Rachel. Seharusnya sejak awal ia tidak membuat kesepakatan konyol itu dengan Arga.
Hatinya begitu sakit memikirkan Rachel. Ia tau bahwa Rachel juga masih begitu menyayangi Arga. Namun, di sisi lain ia harus mengabaikan fakta itu, demi ibunya.
"Jika begitu sampai jumpa hari sabtu" orang tua Rea akhirnya pamit dan meninggalkan kediaman Arga.
Tepat setelah itu, Linda memeluk putranya dengan erat. Mengelus punggung satu-satunya anggota keluarganya itu. Ia tau bahwa Arga begitu dilema, namun tidak ada yang bisa ia perbuat untuk saat ini.
Ia sendiri tau bahwa Rachel lah gadis yang sangat dicintai Arga selama ini. Tentang hubungan palsu Arga dan Rea ia juga tau mengenai hal itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa itu akan berdampak hingga sejauh ini. Sebagai seorang ibu, ia hanya daoat berharap bahwa bagaimanapun caranya Arga dapat bersama kebahagiaannya kelak.
***
__ADS_1