
Lyra sangat senang karena Ia lolos wawancara di percobaan pertamanya. Meskipun tidak masuk di divisi yang ia inginkan, namun Ia tetap bersyukur untuk itu.
Ia memilih pakaian terbaik di hari pertamanya bekerja. Hari ini bahkan Ia memakai riasan lebih tebal dari biasanya. Berharap memberikan kesan terbaik di hari pertamanya.
Sesampainya di gedung tempatnya bekerja, orang-orang menatapnya dengan penuh takjub. Muda dan cantik, tentu saja membuat Lyra menjadi pusat perhatian hari itu.
" Nahkan, bener kata gue juga apa Loe tuh bakalan lulus. " Ketika sedang menunggu lift seorang lelaki tiba-tiba berdiri di samping Lyra.
" Ehhh...Kamu. "
" Iya, Gue. Masih ingetkan sama kesepakatan Kita. "
" Tapi...Aku..."
TING
" Udah kebuka tuh liftnya, yuk masuk. " Juan menarik tali tas Lyra dan menariknya untuk masuk ke dalam lift tersebut.
" Ngomongnya santai aja, jangan kaku banget. Kan sekarang Kita temen kerja. " gumam Juan pada Lyra.
" Tapikan.."
" Udah jangan kebanyakan tapi, okay? "
Lyra hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.
*
" Selamat pagi semuanya, kenalkan ini karyawan baru Kita Lyra. Dia akan bergabung dengan Kita di tim kreatif ini. " Tak disangka bahwa Juan adalah ketua tim kreatif dimana Lyra bernaung sekarang. Sebenarnya Lyra sangat ingin masuk divisi broadcasting namun sayangnya Ia diterima di divisi ini.
Setelah berbagai macam formalitas di hari pertamanya, Lyra menuju meja kerjanya yang telah disiapkan sebelumnya.
" Anak divisi ini memang muda-muda semua ya? " tanya Lyra pada seorang gadis di sampingnya.
" Iya, Loe liat aja ketua tim kita masih muda banget itu. Makanya Dia mau yang kerja bareng Dia muda juga. Biar sefrekuensi gitu. " jelas gadis yang tampak tomboy itu.
" Emang atasan ga masalah apa, dia ngasih standar gitu buat anggota tim-nya? " tanya Lyra.
" Ya enggalah, orang ini perusahaan punya bapaknya."
" Serius?! "
" Sarkas gue itu mah, ga bener kok. Anak itu emang suka semaunya dia, makanya Kita suka ngatain dia gitu. "
" Ohhh, gitu. "
__ADS_1
" Btw, kenalin gue Ayunda. "
" Lyra. Loe udah lama kerja disini?. "
" Emm, sekitar dua taunan gitulah. "
" Jadi, gue harus manggil senior ga nih?"
" Ya, gausahlah. Di divisi Kita ga ada senior junior. Semuanya sama aja. "
"Oke deh.
*
Sepaniang perjalanan pulang, Lyra memikirkan Raka yang tidak menghubunginya sampai sekarang. Padahal Ia sudah kembali ke Indonesia sedari seminggu yang lalu. Ia sebenarnya ingin menghubungi Raka duluan, namun entah mengapa Ia merasa bahwa itu akan terlalu canggung.
Lyra menatap jalanan dari jendela mobil dan mengingat kembali dimana Ia dan Raka menghabiskan waktu bersama. Ia menyesal karena tertidur ketika itu, seharusnya Ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan Raka.
Sebenarnya Lyra tidak mampu mendekripsikan perasaan seperti apa yang Ia miliki untuk lelaki itu. Raka sudah seperti teman maupun saudara lelakinya. Dan akhir-akhir ini Dia merindukan lelaki itu.
Orang-orang terus berpikir bahwa Lyra menyukainya. Termasuk Keila. Namun, Lyra selalu membantah hal itu. Ia tidak ingin kenangan persahabatan mereka yang berharga rusak karena perasaan yang tidak pasti seperti itu.
Sesampainya di Apartemen miliknya, Lyra langsung menuju kamar untuk merehatkan diri. Sebenarnya moodnya tidak begitu baik akhir-akhir ini, namun dapat sedikit membaik karena Ia baru saja diterima kerja.
" Raka, beneran ga niat ngabarin Gue ya? " batin Rara.
Ia mematikan lampu kamarnya dan memilih untuk tidur. Ia genggam kalung milik Raka yang diberikan untuknya. Tiba-tiba air mata membasahi pipinya tanpa sadar. Ia memejamkan matanya erat-erat berharap hari esok dapat segera tiba.
*
Ia membuka kotak itu sembari tersenyum. Wanginya masih sama seperti saat pertama kali Ia menerimanya. Bunga kering yang menumpuk itu bahkan masih awet disana. Ia mengambil parfum itu dan menemukan beberapa lembar foto polaroid dan sebuah surat disana. Ia tau bahwa itulah hadiah yang sebenarnya ingin gadis itu berikan malam itu.
" Raka, Kamu lagi ngapain nak? " suara ibunya terdengar dari arah pintu kamar.
" Lagi beberes, Ma. Masuk aja. " Diana masuk sambil membawa beberapa cemilan.
" Ka, Kamu ga niat ngasih tau Lyra kalau Kamu udah balik? " tanya Diana.
" Raka gatau, Ma. Lyra taunya kan Raka baliknya minggu kemarin, kalau Raka ngasih tau kalau Raka baru balik hari ini. Dia bakal marah ga ya? " ujar Raka.
" Ya enggalah, lagian ga penting juga Kamu baliknnya kapan. Tau Kamu balik aja pasti Lyra udah seneng banget. " balas Diana lembut.
" Kayanya engga deh, Ma. Lyra gasuka banget kalau Aku ga bilang apapun ke dia. "
" Ka, percaya deh sama Mama. Itu bukan masalah besar, Kamu tinggal bilang yang sebenarnya kan Kamu baru balik sekarang. Atau Kamu canggung sama Lyra, kalian ga pernah kontekan ya? "
" Ehh,,itu.."
" Hm, kebiasaan deh Kamu suka ga peduli. Padahal Mama berharap banget Kamu tetap Akur sama Lyra selama di London. "
__ADS_1
" Emang Kita lagi berantem gitu? engga kan? "
" Iya engga, tapi Mama aneh aja kalau harus liat Kamu sama Lyra akward ga jelas. Soalnya kalian dulukan akrab banget. "
" Kita kan udah pada gede, Ma. Pasti ga akan sama kaya dulu lagi. "
" Hm, gitu yah. Padahal menurut Mama Lyra sama sekali ga berubah, masih sama kaya dulu. "
" Serius? Masa sih? "
" Iyah, Dia emang udah tinggal bareng Mama lagi sih tapi pas Kita ketemu Dia pasti kembali jadi anaknya Mama kaya dulu. "
" Masih suka nyusahin orang ga dia? masih kebo ga? "
" Shut, Kamu ih mulutnya. Yang jelas Lyra sekarang makin cantik, mirip banget sama Almarhum Mamahnya. Awas aja Kamu pangling. "
" Masa sih? Kayanya di mata Aku Lyra juga akan sama aja. "
" Emang di mata Kamu, Lyra kaya apa? "
" Hm, Rahasia. "
" Yaelah, sama Mama rahasia an segala. Udah sana cepet beres-beresnya, udah malem. Mama males denger Kamu grasak grusuk. "
" Hm, sip deh. "
*
" Lyra? Lyra? " suara seorang lelaki terdengar memanggil namanya.
Lyra mengerjabkan matanya dan melihat Juan, atasannya tengah menatapnya.
" Ah, Pak Juan maaf saya tertidur. " ujar Lyra.
" Apaan sih Pak Juan segala, kan gue udah bilang ngomongnya santai aja. Oh iya, Gue mau nagih traktiran Loe nih. "
Lyra melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu makan siang.
" Sekarang, Pak? eh Juan. "
" Huuh, itupun kalau Loe emang bersedia traktir gue sih. "
" Ini kalau gue traktir nanti Juan ngira gara-gara dia lagi gue lulus, kepedean kan dia entar jadinya. Apalagi gue di tempatin di divisinya. Tapi, kalau gue tolak, kurang ajar ga sih sama atasan? Ah, udah ah terima aja, lagian cuma makan siang kan. " batin Lyra.
" Jadi gimana? Loe kaga mau ya? "
" Eh, engga-engga. Ayuk-ayuk. "
" Okeh, Kita pergi sekarang. " Juan mengambil tas samping milik Lyra dan menarik tangan gadis itu untuk keluar dari ruangan mereka.
Untungnya tidak banyak Karyawan pada saat itu, sehingga tidak haris menimbulkan kesalahpahaman mengenai hubungannya dan Juan.
__ADS_1
***