
Pria yang merupakan Ayah biologis Rachel itu meninggalkan putrinya disana. Awalnya, Ia ingin berbicara lebih lama dengan anak perempuannya itu. Namun, Rachel justru memintanya segera pergi setelah mendengarkan penjelasan pria itu.
Arga yang berdiri tidak jauh dari mereka menghampiri Rachel yang terlihat marah, sedih dan kecewa.
" Apa Kau baik-baik saja? " tanya Arga sembari duduk di depan Rachel.
" Apa Aku terlihat baik-baik saja? " balas Rachel sarkastik.
Arga menarik tangan Rachel dan membawa gadis itu memasuki mobil miliknya.
" Kita mau kemana? " tanya Rachel dingin.
" Menebus kesalahanku hari ini. " balas Arga sambil melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
*
Mereka sampai di sebuah pantai berpasir putih yang sangat indah, bau air laut yang khas serta suara deburan ombak menyapa Rachel dan Arga.
" Duduklah. " Arga meletakkan sapu tangan miliknya diatas pasir, agar baju Rachel tidak kotor.
Rachel dengan patuh duduk disana sambil menatap langit.
" Bukankah, Laut terlalu banyak menyimpan kenangan untuk Kita? " ujar Arga tiba-tiba.
" Benar, Aku bahkan berharap tidak pernah melihat Laut seumur hidupku. " Rachel menatap Arga sambil tersenyum tipis.
" Apa Kau terlalu benci kenangan itu? " tanya Arga, lagi.
" Tidak, Aku tidak membencinya. Aku hanya tidak ingin mengalaminya jika bisa. "
" Bukankah itu sama saja? "
" Itu berbeda, bagiku. "
" Rachel, lihat Aku. " Arga bangkit dan menuju bibir pantai dan bermain dengan ombak.
" Jangan kekanakan, Kau sudah tidak muda lagi. " ujar Rachel malas.
" Ayolah, Kita sudah terlalu banyak membuat kenangan dengan ini. Mengapa Kita tidak melakukannya juga sekarang? "
" Apa Kau pikir Aku mau? "
" Tentu saja! " Arga menyirami Rachel dengan air laut di tangannya.
" Arga, Apa yang Kau lakukan?!"
Arga menghampiri gadis itu dan menggendongnya menuju bibir pantai. Setelah berada cukup dekat dengan laut Ia menurunkan Rachel, namun gadis itu terlihat ketakutan dan memeluk Arga dengan kedua tangannya.
Wajah mereka begitu dekat hingga Arga bisa merasakan deru nafas Rachel, Ia mendekatkan wajahnya lalu berbisik pada Rachel.
" Apa Kau takut? "
__ADS_1
Rachel yang terkejut langsung saja memundurkan dirinya dan melepaskan tangannya pada tubuh Arga, tubuhnya limbung dan Arga akan menangkapnya, namun yang terjadi adalah mereka berdua jatuh ke Air.
" Hahahaha " Rachel tertawa dengan air mata yang perlahan membasahi pipinya, dan Arga menatap gadis itu penuh tanya.
Arga bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Rachel berdiri, namun gadis itu justru menarik tubuhnya hingga kembali jatuh ke dalam air.
Mereka lalu saling tertawa, dan bermain satu sama lain. Ini adalah momen langka yang sangat Arga rindukan bersama Rachel. Melihat gadis itu meluapkan emosinya dengan cara ini membuat Arga lega. Setidaknya, Ia tau bahwa Rachel akan baik-baik saja setelah ini.
Setelah hampir 30 menit di dalam air, hujan tiba-tiba saja turun membuat Rachel dan Arga segera berlari ke arah mobil.
" Apa Kau punya baju ganti? " tanya Rachel.
Arga menganggukkan kepalanya dan mengambil bajunya di bagasi mobil. Sialnya, foto milik Rachel yang Ia simpan disana tiba-tiba saja terjatuh tepat di kaki Rachel.
" Rachel.. Kau tau Aku.. " Arga takut jika Rachel akan marah padanya, namun gadis itu hanya tersenyum.
" Aku sudah mengetahuinya sejak lama, mungkin jika itu bukan Kau. Aku akan melaporkanmu sebagai penguntit. " Aneh sekali bahwa gadis itu tidak marah padanya, apakah perasaannya sedang baik karena bermain di pantai.
" Mana bajunya, berikan padaku. " Arga memberikan bajunya pada Rachel. Gadis itu lalu berlari ke toilet terdekat untuk mengganti bajunya.
***
" Terima Kasih sudah mengantarku. " ujar Rachel kepada Arga.
" Baik, istirahatlah. Kau pasti lelah. " Rachel hanya menganggukan kepalanya.
" Mengapa Kau masih disana, cepat masuk. " tanya Arga.
" Aku ingin melihatmu pergi. "
*
" Ah Aku lelah sekali " ujar Rachel sambil merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Ia menghembuskan nafasnya perlahan lalu menyadari bahwa di dunia ini Ia benar-benar tidak memiliki siapapun. Orang tua, atau pun teman karena Rea pun sudah pergi dan memutuskan hubungan dengannya. Namun, Arga lelaki itu masih ingin membantunya. Menghiburnya dan memberikan kekuatan untuk tetap hidup.
Ia bangun dan membuka laptopnya, membuat sebuah surat pengunduran diri. Ia tidak ingin melakukan apapun untuk saat ini.
*
" Arga, Apa Kau bertemu Rachel kemarin? " tanya Rea yang kini berada di depannya, Rea memang harus melakukan pemeriksaan kesehatan karena kondisi tubuhnya, dan Ia memutuskan untuk mengunjungi Arga setelahnya.
" Bagaimana Kau mengetahuinya? " tanya Arga kembali.
" Ini. " menunjukkan postingan terbaru Rachel yang memperlihatkan punggung Arga.
" Ah, iya. Aku menemuinya kemarin, menyelesaikan sedikit urusan. " jelas Arga.
" Apa Kau merasa bebas untuk bertemu dengannya sekarang? karena Kau bukan kekasihku lagi? " Rea tersenyum mencibir membuat Arga menatapnya.
" Bukankah sejak awal Kita pura-pura, mengapa Aku harus risih untuk bertemu dengannya. " Rea menatap Arga penuh cemohan.
__ADS_1
" Ah, lihatlah siapa yang bicara sekarang. Aku benar-benar tidak percaya Rachel masih mau bertemu denganmu. "
" Yang Ku Tau Rachel bukan seseorang yang mudah berubah sepertimu, baiklah Aku akan pergi sekarang. Aku terlalu sibuk hanya untuk sekedar membicarakan hal ini denganmu. " ujar Arga, akan beranjak dari sana.
" Bukankah Rachel merebut semuanya dariku? " ujar Rea tiba-tiba.
Arga menghentikan langkahnya dan menatap Rea datar.
" Kau tidak pernah memiliki semua itu sejak awal, jangan menyalahkan orang lain. " ujar Arga tegas.
***
Rachel tengah asik berbincang dengan Ibu Arga, ketika Arga datang.
" Loh, kok Kamu disini? " tanya Arga pada Rachel.
" Ini, ga. Si Rachel katanya mau ngajak mama liburan pasca resign dari kerjaannya dia. " ujar Ibu Arga.
" Kamu resign lagi? " tanya Arga, yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.
" Jadi, gimana tan? Fix nih ya minggu depan, Tante ga masalah kan? " tanya Rachel, memastikan rencana liburannya dengan Ibu Arga yang juga merupakan tetangganya dulu.
" Eh, Aku ga diajak nih? " Arga ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut.
" Nah, gimana kalau kalian berdua aja yang liburan? Tante mah udah tua, Hel. Suka ga kuat kalau pergi jauh gitu. " ujar Ibu Arga.
" Emang mau kemana? " tanya Arga lagi.
" Korsel. Eh, tadi tante mau-mau aja kok sekarang berubah pikiran sih? " keluh Rachel.
" Yahh, kalau ke Korsel Arga gamau ah ma. Negerinya para Oppa itu mending pergi bareng Mama aja, kurang suka sama atmosfernya. Pasti sampai disana si Rachel sibuk fangirling. " ujar Arga panjang lebar.
" Ya engga kali, Aku kan udah gede mana kepikiran buat fangirling. " bantah Rachel.
" Ya siapa taukan Kamu kaya dulu, suka malakin Aku buat beli Album bias. "
" Emang Aku dulu gitu ya? "
" Iya tau, Aku inget banget ngorbanin uang futsal buat beliin Kamu album Exo. "
" Ya Allah, ternyata Kak Arga pernah baik. " Entah mengapa hati Arga sedikit berdesir ketika Rachel kembali memanggilnya dengan embel-embel 'Kak'.
" Nah, karena Arga baik. Temenin Rachel ya ke Korsel, gantiin Mama. " ujar Ibu Arga.
" Tapi, Ma..."
" Kamu ga kasian apa liat Mama udah tua gini, nanti kalau kenapa-kenapa gimana? Kamu mau jadi yatim piatu? "
" Ya Allah, omongannya. Oke deh oke."
" Nah, itu baru anak Mama. "
__ADS_1
" Hmmm.."
***