Husband Denial

Husband Denial
Sandiwara? Menyenangkan bukan?


__ADS_3

Aku baru kembali dari kunjungan ke rumah pasienku, ketika bertemu dengan Rachel di sebuah  restoran. Aku yang awalnya berencana untuk makan siang kehilangan nafsu makanku ketika melihat Rachel bersama seorang lelaki yang sudah berumur. Aku memutuskan untuk mengamatinya dari kejauhan. Namun, ketika tangan lelaki itu yang mengelap sisa makanan di bibir Rachel, Aku langsung menghampiri mereka.


“Jadi, ini alasan Kamu nolak Aku? Karena lelaki bangkotan ini, Aku tidak menyangka bahwa Kamu menyia-nyiakan Aku karena lelaki sepertinya” Tanpa berbasa-basi Aku langsung melontarkan hal itu pada Rachel, membuatnya terkejut buka kepalang.


“Jangan asal bicara ya,Anda. Siapa anda berani mengganggu makan siang Kami” Lelaki itu tampak tidak senang dengan kehadiranku.


“Sayang, maafkan Aku. Dia hanya atasanku, Kamu jangan marah ya”  Apa? Apa Aku tidak salah lihat? Rachel tiba-tiba bangkit dan merangkul tanganku seperti ini, Apakah Aku sedang bermimpi?


*


Jujur saja Aku sangat malas menghabiskan waktu makan siangku dengan Gerald, lelaki mesum itu bahkan berusaha untuk menyentuhku beberapa kali. Ia bahkan berani-beraninya mengelap sisa makanan di bibirku, Aku yang jijik hampir saja menyiramnya dengan minuman namun sebelum itu terjadi tiba-tiba Arga datang menghampiri Kami.


Aku sangat senang dengan takdir yang menempatkan Arga disini, Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk lari dari Gerald bangkotan itu, umurnya sudah hampir 40 tahun berani sekali ia menggoda gadis sepertiku.


“Sayang, mengapa Kamu diam saja? Kamu tidak akan marah padaku,kan?” Aku tidak tau kapan terakhir kali bertingkah murahan seperti ini, lihatlah wajah Arga saat ini seolah menyaksikan salah satu keajaiban dunia ini.


“Rachel, Apa Kau baik-baik saja? Berani sekali pria ini menyentuhmu, meskipun ia atasanmu, tidak sepatutnya Ia begitu” Aku tidak tau apakah Arga ikut bersandiwara denganku atau justru memang murni seperti itu.


“Aku tidak apa-apa, hanya saja bibirku..” Aku dapat melihat Gerald melotot ketika Arga melemparkan pandangan muak dan merendahkan padanya, seolah Arga akan melahapnya hari itu.


CUP


Arga tiba-tiba saja mencium sudut bibirku, membuatku sedikit terkejut namun Aku memutuskan untuk kembali bersandiwara.


 


“Sayang, apa yang Kau lakukan?” Aku mencoba bertingkah imut dan memukul badannya dengan tanganku, tentu saja dengan pelan dan seolah tak berdaya. Ya, kau pasti tau bagaimana ketika seseorang wanita malu-malu.


“Aku hanya menghilangkan bekas lelaki itu, Aku tidak suka jika milikku disentuh” Aku dapat melihat tatapan tajam Arga pada Gerald, wajah dingin Arga siapa yang dapat menghadapinya. Aku bisa melihat Gerald sedikit ketakutan dan menelan ludahnya.


“Ah, Sayang..” Aku kembali bertingkah imut dan manja, jika saja Aku tidak sedang bersandiwara, mungkin Aku akan menenggelamkan diriku saat ini juga. Ah, dimana harga diriku.


“Rachel, Ayo kita kembali. Bukankah waktu makan siangmu sudah selesai?” Arga melirik jamnya dan menoleh padaku.


“Maaf sekali Pak Gerald, Kekasih saya sudah disini. Jadi, bolehkah saya kembali?” tanyaku, Gerald hanya mengangguk dan tersenyum canggung, Aku tau ia takut salah bicara dan membuat Arga emosi jika tetap menahanku disini.


Begitulah bagaimana akhirnya Aku dan Arga meninggalkan tempat itu dengan tangan Kami yang saling bertautan.

__ADS_1


 


*


Rachel melepaskan tangannya yang sejak tadi berada di genggaman Arga ketika mereka sudah lumayan jauh dari restoran.


“Terima kasih untuk hari ini, Aku akan kembali bekerja” gadis itu akan meninggalkan Arga, ketika tangan Arga menahannya.


“Sebentar, ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu” tanya Arga.


“Aku tidak punya banyak waktu, Aku harus kembali ke kantor segera” balas Rachel.


“Kantor? bukankah Kau biasanya bekerja di studio?” Ah, Arga pasti belum tau bahwa Rachel telah berganti pekerjaan.


“Hm, Aku memutuskan kontrakku dengan agensi. Aku tidak akan jadi model lagi sekarang”


“Jadi, lelaki tadi benar-benar atasanmu?”


“Tentu saja, lalu Kau pikir dia siapa?”


“Hei, apakah Kau bodoh Arga? Apa Kau pikir Aku wanita seperti itu?” nada suaral Rachel ketika kesal terdengar begitu imut di telinga Arga.


“Tidak-tidak, Aku tau kok, Kamu tidak suka disentuh seperti tadi bukan? Tentu saja, Kau dengannya tidak mungkin ada hubungan seperti itu” Arga mencubit pipi Rachel, dan menatapnya lembut.


“Hei, jika Kau tau Aku tidak suka disentuh. Lalu, mengapa Kau menyentuh wajahku,bodoh.” Rachel menyingkirkan tangan Arga dari wajahnya, meninggalkan bekas merah akibat cubitan Arga.


“Kau begitu menggemaskan, Aku tidak dapat menahannya” Bekas merah itu semakin memerah jadinya, semua orang tau, Rachel merona.


“Apakah seorang dokter tidak ada pekerjaan siang-siang begini?” Rachel pura-pura melirik jamnya, dan berkata dengan sarkas pada Arga.


“Lalu, Apakah seharusnya seorang dokter harus selalu bekerja siang-siang begini?” Arga membalikkan ucapannya, Rachel memutar bola matanya sebal. Lelaki ini benar-benar.


“Hei, dokter itu harus selalu stand by 24 jam. Taukah Kau bahwa kecelakaan dapat terjadi kapan saja, bagaimana jika rumah sakit sedang sibuk karena terjadi sesuatu, dan Kau justru santai-santai disini” ujar Rachel panjang lebar.


“Apa Kau mendo’akan terjadi sesuatu yang buruk, agar Aku kembali bekerja? Apa Kau benar -benar berpikir begitu?”


“Kau pasti lebih mengerti maksudku, tidak usah berpura-pura, mana ada dokter yang begitu santai sepertimu. Tempo hari Aku juga melihatmu bisa liburan dan bermain ke ruangan Mbak Hana begitu saja, Apakah Kau dokter yang tidak kompeten?”

__ADS_1


“Hei, gadis kecil. Tidakkah Kau terlalu banyak bicara? Bukankah Aku telah mengingatkanmu?” Arga tiba-tiba menjadi menakutkan, terlebih ketika ia berbisik di telinga Rachel denga suara baritonnya.


“Hei,tidak usah berakting seperti itu. Tidak cocok sama sekali” Rachel berpura-pura seolah hari itu tidak pernah terjadi.


“Aku senang dengan reaksimu, Kau memang luar biasa,Rachel” tangan Arga mendarat di kepala Rachel.


“Hei, bukahkah Aku sudah bilang untuk tidak menyentuhku? Singkirkan tanganmu atau Aku akan…”


“Akan apa? Aku tidak takut sedikitpun pada bocah sepertimu”


“Bocah katamu?”


“Iya, bocah kecil yang berdandan seperti orang dewasa. Lihatlah lipstik merah itu, apa Kau pikir itu cocok denganmu. Haha,lucu sekali”


Rachel mengambil ponselnya untuk bercermin, dan melihat bayangan dirinya dengan lipstik merah yang berlepotan di sudut bibirnya. Ini tentu saja, karena err.. kecupan singkat itu.


“Arga sialan, berani sekali Kau merusak lipstikku” Arga akan berlari ketika Rachel menjambak rambutnya, membalikkan tubuhnya dan menghujami dirinya dengan bogeman.


“Haha, geli sekali Rachel. Ini tidak sakit, geli sekali. Hentikan Rachel” bogeman Rachel yang tidak bertenaga, hanya sia-sia. Arga tidak akan kesakitan karenanya, ia justru geli karena tangan itu seolah menggelitik tubuhnya.


Mereka terus begitu, hingga Arga kehilangan keseimbangan karena terlalu berlebihan tertawa. Tubuhnya terjungkang ke depan dan jatuh menghimpit badan Rachel. Rachel berteriak kesakitan ditimpa tubuh Arga.


“Arga, Kau benar-benar cari mati,ya?”


Dari balik jendela restoran, seorang lelaki menonton pertunjukan itu dengan senyum miring.


“Ternyata kalian sedang bersenang-senang, ya” ujarnya dengan nada suara yang mencekam.


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2