
Aku memberhentikan mobilku tiba-tiba membuat Rachel yang tengah melamun terperangah.
“Hel..” Aku menyerukan nama gadis itu pelan.
“Iya, kenapa?” Jawabnya dengan suara yang tak kalah pelan, suara Rachel ketika ia putus asa.
“Aku boleh nanya sesuatu,ga?”
“Boleh, tapi Aku ga bakal jawab kalau Aku gamau,ya”
“Oke, jadi..”
“Iya, apa?”
“Jadi, alasan Kamu suka sama Aku dulu apa?” tanyaku ragu-ragu.
“Kamu nanya itu..Apa karena omongan Mbak Luna tadi, Kamu mau negasin kalau Aku emang berhalusinasi”
“Ga, ga gitu. Kamu tau maksud Aku ga gitukan?” jelasku.
“Jadi, untuk apa Kamu tau? Bukannya Kamu dulu hanya menganggapku bocah yang hanya bisa berhalusinasi, apakah penting bagimu alasanku menyukaimu dulu?”
“Tentu saja, Aku butuh itu untuk membuatmu kembali menyukaiku”
“Apa katamu? Berapa kali harus kukatakan, jangan bermain-main denganku Arga”
“Aku serius, jika Kau memang mau tau. Perasaanku padamu kini tulus,Hel. Jika Kamu kembali mencintaiku lagi, Aku berjanji bahwa Kita akan bahagia karena mencintai satu sama lain”
“Lalu, Kau anggap apa Rea selama ini,ha? Dia sahabatku,Arga. Kau tidak bisa mempermainkan Aku dan dirinya seperti ini”
“Apa Kau tau Rachel? Aku dan Rea sama sekali tidak memiliki perasaan satu sama lain. Kami berpacaran hanya untuk membuatmu cemburu”
“Huh, lelucon macam apalagi ini? Apa kini Aku benar-benar sedang berhalusinasi?”
“Tidak,Rachel. Aku serius, percayalah yang kucintai saat ini hanyalah dirimu bukan yang lain. Maka,cintai Aku lagi ya?” Aku mengambil tangan Rea dan menggengganya erat.
“Tidak, Aku tidak akan percaya apa yang Kau katakan. Seperti katamu, Aku hanya berhalusinasi saat ini” Rachel menghempaskan tanganku dan menutup kedua telinganya.
“Rachel, Aku mohon kali ini saja cobalah mengerti Aku”
“Mengerti katamu? Kau bahkan tidak pernah mencoba mengerti Aku sejak dulu, dan kini Kau memintaku untuk mengerti dirimu?”
“Rachel, maafkan Aku. Waktu itu Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu”
“Aku tidak akan percaya kata-kata busuk dari ******** sepertimu, yang hanya bisa menganggap perasaan orang lain sebagai halusinasi!” teriak Rachel.
*
Tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutku, sekujur tubuhku mendadak merinding. Seolah ada Aura mencekam yang coba melahapku saat itu juga.
“Apa katamu?” suara Arga yang tadinya cukup putus-asa mendadak berubah sedingin es.
“Arga ada apa denganmu?” Ekspresi wajah Arga juga ikut berubah, dalam temaram Aku dapat melihat sebuah senyum miring tersungging di bibirnya.
“Bajingan katamu?” Ia mencoba mengulang perkataanku tadi, kali ini ia mendekatkan wajahnya padaku dan memangkas jarak antara Kami.
Sangat menyesakkan rasanya karena mobil ini yang begitu sempit, tubuhku bahkan hampir sepenuhnya tertutupi oleh badan Arga.
“Aku tidak menyangka bahwa gadis semanis dirimu, dapat mengatakan kata-kata seperti itu” Jari-jarinya yang besar menyelusuri wajahku membuatku bergidik ketakutan,
“A..Apa..yang kau lakukan?” suaraku gemetar, membuat Arga tiba-tiba tertawa begitu keras.
__ADS_1
“Haha, lihatlah. Tadi Kau dengan berani meneriakku dan kini Kau bahkan sulit untuk berbicara” Ia memegang daguku kuat, dan menatapku tajam.
“Apa kau tau,Rachel? Kau begitu cantik ketika penurut seperti ini, tidakkah kau tau bahwa Aku begitu benci mendengar omelanmu selama ini, itu menggangguku!” Ia menekankan suaranya membuatku takut sekaligus sakit hati dengan perkataannya.
“Berani-berani sekali Kau menolakku dan memperlakukanku sesuka hatimu, apa Kau kira Aku akan diam saja karenanya” Ia mendorong tubuhku hingga menabrak jok, membuatku sedikit mengaduh.
“A..Arga..Kau kenapa?” Aku mencoba mentap matanya dan memegang tangannya.
“Rachel, lihat Aku baik-baik. Jika Kau berani melawanku sekali lagi, Aku tidak akan melepskanmu. Ingatlah untuk menjaga mulut cantikmu itu untuk tidak terlalu banyak bicara, kau tau? itu sangat berisik!” Menyakitkan, sangat menyakitkan mendengar Arga berkata seperti itu. Bukankah beberapa waktu lalu ia baik-baik saja. Lalu, mengapa sekarang..
“A..Aku minta maaf, A..Ku tidak akan melakukannya lagi” Aku memohon padanya.
“Bagus, gadis pintar” Ia mengelus kepalaku cukup lama setelahnya, sebelum akhirnya kembali mengemudikan mobilnya dengan tatapan kosong.
*
“Rachel? Rachel? Bangunlah” suara Bariton seseorang memenuhi pendengaranku.
“A..A..Arga” Aku membuka mataku dan melihat Arga yang ada disana.
“Iya, Apa kau tidak apa-apa Rachel?”
“A..Aa..Ku dimana?”
“Kau di rumahku” jawab Arga canggung.
“Bagaimana bisa, bukankah tadi malam..”
“Maafkan Aku soal kejadian semalam” Aku dapat wajah Arga penuh dengan rasa bersalah, dimana Arga yang mengerikan semalam.
“Iya, baiklah. Jam berapa sekarang?” tanyaku padanya.
“Ah, Aku harus pulang” Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambil tasku di nakas samping tempat tidur.
“Biarkan Aku mengantarmu” tawarnya.
“Tidak usah, Arga. Aku bisa pulang sendiri” Aku masih trauma dengan kejadian semalam. Kembali satu mobil dengan Arga bukanlah pilihan yang baik.
“Baiklah, kalau begitu Aku akan mengantarmu sampai pintu depan”
*
Rachel memasuki Apartemennya yang tampak berantakan, sebelum pergi semalam ia lupa membereskannya. Dengan setengah hati, ia mencoba membersihkan sisa-sisa makanan di ruang tengah dan merapikan kamarnya. Ini hari minggu waktu yang tepat baginya untuk bersantai ria.
Ia duduk di depan televisi sambil menyantap mie instan yang dimasaknya beberapa waktu lalu, ia memang belum sarapan sejak kembali dari rumah Arga.
Entah mengapa tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan Arga, lelaki itu seolah menjadi orang lain tadi malam. Namun, tadi pagi ia kembali seperti semula.
Terakhir kali Mbak Hana menyinggung soal konsultasi dengan Arga, apa mungkin Arga mengalami gangguan psikologis yang membuatnya menjadi seperti malam itu.
Aku mengambil ponselku dan memutuskan untuk menghubungi Mbak Han. Mungkin Aku akan mendapat jawaban atas perubahan sikap Arga tadi malam.
“Halo, Mbak Hana. Ini Aku Rachel”
‘Iya,kenapa Hel?’
“Gini,Mbak. Aku tau kalau ga boleh buat nanyain privasi pasien Mbak, tapi ini penting banget buatku”
‘Pasti Arga ya?’
“Eh,Mbak Kok tau?”
__ADS_1
‘Mbak sudah menduganya, jadi apa yang terjadi dengan Arga?’
“Seperti yang Mbak tau, Arga mendadak menyeramkan pada suatu waktu namun setelahnya dia kembali seperti biasa. Sebenarnya apa yang terjadi padanya?”
‘Hm, Aku sudah menduganya. Sepertinya Aku harus memberitahumu agar tidak kembali terjadi hal yang tidak diinginkan’
“Apa Arga benar-benar mengalami hal-hal seperti itu? Mbak mengerti maksudku kan?”
‘Iya benar, jadi begini ceritanya..’
Aku mendengarkan cerita mbak Hana dengan seksama, awalnya Aku sedikit terkejut namun Aku mencoba memahaminya dari sudut pandang Arga.
“Jadi, apa yang harus kulakukan?”
‘Tidak ada,cukup diam dan jangan menunjukkan bahwa Kau tidak tau segalanya?’
“Bisakah begitu? Bagaimana jika akhirnya Arga tau?”
‘Kau tau? baik Aku maupun dirimu tidak akan bisa membayangkan konsekuensinya jika itu terjadi’
***
Hai semuanya! ^^
Makasih ya buat 1K Viewers nya^^
Kali ini Dera mau open kritik dan saran nih dari kalian soal cerita dan diksi yang udah Dera bikin selama ini.
Dera tau kalau masih banyak kekurangan dalam penulisan, baik dari segi alur maupun penyampaian cerita itu sendiri.
Jadi, Dera mau minta pendapat teman-teman agar cerita ini dapat berkembang dengan lebih baik.
Terima kasih ya semuanya^^
Ilysm^^
_ARANDERA_
__ADS_1