
Outfit Rachel ke pesta
Outfit Arga ke pesta
Aku memutuskan untuk pergi ke kampus Ka Arga setelah menyelesaikan ujian akhirku. Aku sudah sepakat dengan Mama bahwa akan meneruskan kuliah di tempat Ka Arga, terlebih hari ini Aku akan menyatakan perasaanku padanya. Bukankah Aku sudah lulus sekolah, jadi tidak masalah bukan jika Aku berpacaran dengannya sekarang.
Dengan penuh percaya diri, Aku memasuki lingkungan Kampus itu. Beberapa Mahasiswa disana menatapku dengan aneh, mungkin karena Aku masih menggunakan seragam sekolahku saat ini.
Ketika Aku akan bertanya pada salah satu orang disana tentang keberadaan Ka Arga, Aku justru melihat lelaki itu berada di taman fakultas tersebut. Aku akan menghampirinya, ketika Aku menyadari bahwa ia bersama, seorang wanita.
Awalnya, Aku biasa saja tentang itu, namun ketika tangan wanita itu dengan lancang memegang tangan Ka Arga. Aku memutuskan untuk mengham, namun tepat sebelum itu terjadi Ka Arga justru berinisiatif memeluk dan mengelus kepala wanita itu.
Hatiku bagaikan ditusuk ribuan jarum tak kasat mata, kupikir wanita itu mungkin hanya satu dari sekian banyak wanita yang jatuh hati pada Ka Arga. Namun, nyatanya ia adalah seseorang yang mungkin begitu penting bagi Ka Arga. Sesembrono apapun Ka arga, Aku tau dia bukan seseorang yang akan mudah menjalin hubungan dengan seseorang. Keluarganya adalah keluarga yang lurus dan tidak mendukung hubungan percintaan sebelum menyelesaikan pendidikan. Hal itulah yang membuatku senang karena kemungkinan dia tidak pernah memacari gadis manapun. Aku sungguh berharap menjadi pengecualiannya hari ini, namun wanita itu sepertinya sudah lebih dulu merebut start dariku.
Jujur saja, ketika Aku memutuskan untuk menyukai Ka Arga itu artinya, Aku akan terus berjuang hingga berhasil mendapatkannya. Namun, ketika Ka Arga jelas-jelas tidak menginginkanku dan telah memiliki wanita lain di hatinya, tak ada yang dapat kulakukan.
Setelah hari itu, Aku memutuskan untuk melajutkan kuliahku di luar kota dan menghilang dari kehidupan Ka Arga. Aku tau bahwa ia beberapa kali datang ke rumah untuk menanyakan keberadaanku pada Mama. Namun, Aku tidak peduli tentang itu. Pergi dari hidupnya adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil selama mencintainya.
*
Aku dan Arga berjalan bersama memasuki Ballroom hotel itu. Seisi ruangan itu telah dipenuhi oleh banyak orang, baik muda-mudi maupun mereka yang telah berumur Kami menuju panggung dimana kedua mempelai berada. Entah mengapa wajah mempelai wanita tidaklah asing bagiku.
“Mempelai wanita temennya Kamu ya?” Tanya Aku pada Arga.
“Ia, kok tau?”
“Temen kuliah?”
“Ia, bener”
“Oh, pantesan”
“Pantesan apa?”
“Ga ada, yaudah yuk kesana”
“Hm”
Kami melanjutkan langkah Kami menuju kedua mempelai itu.
“Wah, datang juga Kamu, ga.”
“Iya dong, lagian yang nikah Mbak Sheryl mana mungkin Aku ga datang. Sekalilagi selamat ya Mbak”
“Iya, Ga Kamu juga semoga cepet nyusul, udah tua loh”
“Iya Mbak pasti,Kok”
“Ini siapa,Ga?” tanya wanita yang bernama Sheryl itu, sepertinya Aku pernah melihatnya di suatu tempat.
__ADS_1
“Temen Aku,Mbak. Rachel”
“Ohiya, Rachel. Kenalkan, Saya Sheryl kakak tingkat Arga ketika sekolah dulu”
“Rachel,Mbak. Salam kenal iya”
“Iya, semoga cepet jadian sama Arga ya,hel. Walaupun sekrang masih jadi temen,hehe”
“Lah,Mbak?”
“Iya, Mbak ngerti kok, Ga”
“Mbak Sheryl selalu deh sok tau”
“Ya emang bener kok”
“Yaudah, Mbak. Aku duluan ya, mau nyapa yang lain dulu”
“Oke, cepetan nyusul ya pokoknya”
“Iya-iya”
Kami meninggalkan kedua mempelai itu, dan menuju meja prasamanan untuk mencicipi beberapa makanan.
“Kamu mau makan apa,Hel? Biar Aku ambilin”
“Apapun selain Sapi lada hitam”
“Eh,Rachel ya?” tiba-tiba seorang pria menghampirku ketika Arga tengah mengambil makanan.
“Iya, Siapa ya?” tanyaku.
“Masa ga inget, Aku Reza teman SMA mu dulu. Ingat?”
“Oh, Reza ya..inget-inget.”
“Kamu apa kabarnya, hel? Udah lama banget kita ga ketemu kan?”
“Iya, lama banget”
“Aku dengar Kamu kuliah di Surabaya ya, makanya ga pernah pulang ke Jakarta”
“Ia,Za. Kamu gimana? dulu kuliahnya dimana?”
“Aku ngambil kuliah bisnis di hongkong,Hel. Alhamdulillah sekarang mau lanjut S2 ke London”
“Wah, bagus dong”
“Iya, hel. Btw, Kamu kesini bareng siapa?”
“Itu tuh” Aku menunjuk Arga yang tengah menuju kearah ami.
“Kalau Kamu?” tanyaku padanya.
__ADS_1
“Itu, bareng Mbakku” Aku melihat seorang wanita cantik yang berwajah mirip dengan Reza juga sedang menuju ke arah Kami.
*
Arga menatap dua orang di depannya dengan pandangan aneh, sejak tadi wanita yang datang bersama adik lelakinya itu sudah tersenyum tidak jelas pada Arga. Seolah ingin mengata-ngatai Arga dengan berbagai kalimat menyebalkan.
“Eh, Arga. Ga nyangka ya kita ketemu disini, bareng Rachel lagi”
“Ga, dia siapa? Kok tau Aku” Rachel berbisik pada Arga yang sejak tadi diam.
“Ya, Kamu lebih taulah. Diakan Kakaknya temen Kamu itu” dengan suara pelan Arga membalas bisikan Rachel.
“Ya kalau engga disini, dimana lagi Kita bakal ketemu”
“Ya, bisa aja di pesta pernikahan Kamu dan Rachel, atau justru Pesta pernikahan Rachel dan adikku ini” Wanita yang diketahui bernama Luna, itu memegang bahu adik laki-lakinya.
“Maksudnya?” respon Reza dan Arga kompak.
“Kalian gausah pura-pura deh, Aku tau kok kalian sama-sama punya perasaan sama Rachel. Kamu lagi,Ga. Dulu sok-sok an pake gamau an segala eh sekarang malah nempel”
“Eh, ga gitu. Ini salah paham” bela Arga.
“Iya,Mbak. Salah paham” tambah Reza.
Rachel yang berada dalam situasi tersebut hanya tersenyum kikuk.
“Halah, Rachel Kamu tau ga? Adik Aku ini dulu naksir banget sama Kamu tapi Kamu malah bilang pacaran sama Om-om ini, patah hati deh dia”
“Mbak, jangan mulai deh” Reza mencoba menghentikan Luna.
“Terus, Om-om yang di samping Kamu itu bilang kalau kamu itu kebanyakan halu dan ga akan mau sama bocah kaya Kamu, eh sekarang marah ngejilat ludah sendiri”
Rachel terdiam mendengarkan perkataan Luna, apakah selama ini Arga benar-benar menganggapnya seorang bocah yang hanya bisa berhalusinasi.
“Mbak, berhenti. Ga seharusnya Mbak ngungkit kisah lama gitu. Maafin Mbak-ku ya Mas Arga, Rachel”
“Gapapa, Aku jadi mengerti kalau selama ini Aku memang hanya berhalusinasi”
“Ha? Bukannya halusinasi Kamu udah terwujud?” tanya Luna.
“Mbak berhenti!”
“Engga,Mbak. Aku bukan siap-siapanya Arga. Ini juga Aku ngegantiin Mbak-ku buat nemenin Arga”
“Eh,..”
Arga tidak enak hati karena telah menyinggung Rachel, ia tau meskipun bukan ia yang mengatakannya namun mendengar pemikirannya tentang Rachel dari orang lain tentu akan menimbulkan kesalahpahaman,
“Yaudah,Lun. Kami pergi dulu ya, kasihan Rachel udah malem juga”
Akhirnya Arga dan Rachel meninggalkan pesta itu, ketika di dalam mobil Rachel hanya diam dan tidak ingin bicara. Ia merenungi perkataan Luna, ternyata Arga memang hanya mengganggapnya seperti itu selama ini.
***
__ADS_1