
Angin malam yang dingin menerpa wajah gadis itu, matanya menatap luas dari balkon kamar. Ia mengambil ponselnya dan memutar sebuah lagu klasik. Seiring dengan itu, hujan tiba-tiba turun membuat malam itu menjadi lebih dingin.
“Aku akan berhenti bekerja untuk saat ini” ucapnya pada dirinya sendiri.
“Aku akan mempergunakan waktuku untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari bediri di depan kamera” tambahnya kembali.
Ia menghabiskan 4 tahun hidupnya untuk kuliah jurusan Akuntansi, bergelut dengan angka-angka dan akun-akun yang memusingkan namun justru berakhir menjadi seorang model majalah.
Ia melakukan itu Karena ingin menentang ibunya yang ingin ia bekerja di perusahaan, bukannya studio pemotretan yang berisi orang-orang yang menjual wajah mereka. Bukankah seharusnya wanita itu senang, wajah cantik yang ia turunkan akhirnya dapat dipergunakan.
Namun, ibunya adalah seseorang yang ambisius. Pekerjaan yang ia lakukan saat ini pasti tidak akan membuat ibunya puas. Karena itulah akhirnya ia senang melakukan pekerjaan ini, seperti bentuk pembakangan kepada
ibunya.
Ketika ia akan melanjutkan kuliahnya, ibunya begitu mendukung keputusannya untuk kuliah keluar kota. Ia ingat bagaimana perasaan bangga dan betapa antuiasnya ibunya saat itu. Ia baik-baik saja dengan itu pada
awalnya.
Tapi, ketika ia telah kuliah di luar kota, ibunya bahkantidak peduli sedikitpun kepadanya. Ibunya bahkan mendadak bercerai dan menikah lagi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ia kecewa dan ingin membalas ibunya. Meskipun dirinya lulus kuliah dengan hasil yang memuaskan, itu sama sekali tidak berguna karena iamemilih untuk memilih jalan karier yang lain.
“Aku akan membantu Arga kali ini, mungkin Aku dapat mempergunakannya untuk membalas dendam pada Mama”
Sebenarnya, pikiran itu tidak pernah sekalipun di benaknya.Ia jelas tidak ingin berhubungan dengan Arga. Namun, mendengar perkataan Mbak Hana membuatnya berpikir bahwa kelemahan Arga dapat menjadi peluang baginya.
Tidak ada yang tau bagaimana perasaan gadis itu, ia memang terlihat dingin namun ia ternyata lebih dingin dari itu. Ketika orang tuanya bercerai diam-diam, ibunya menikah lagi dan Ayahnya yang pergi entah kemana
telah melahirkan kepribadian baru dalam dirinya.
Rachel yang polos itu, bukankah dirinya yang sekarang. Ia belajar bahwa tidak ada gunanya mempercayai dan mencintai manusia. Kepercayaan dan Cinta adalah hal yang tabu, dan ia benci kedua hal itu.
“Aku akan jadi anak baik, lalu menusukmu secara perlahan” ia tersenyum di dalam kegelapan.
*
Aku mengunjungi Ibu untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku dapat kembali melihat wajahnya yang masih terlihat cantik meskipun usianya sudah tak muda lagi. Lihatlah, bagaimana ia kini menggeledot manja pada lelaki yang 13 tahun lebih muda darinya. Huh, menjijikan.
__ADS_1
“Makan yang banyak ya,Hel. Pas tau kamu mau kesini Mama langsung masakin semua makanan kesukaan kamu loh” dengan suara yang dibuat-buat ia mencoba terlihat seperti ibu yang baik di depanku.
“Masih kenyang,Ma. Ga sanggup ngabisin semuanya” Mama menatapku dengan kesal karena seperti tidak menghargai usahanya, namun Aku hanya melanjutkan kegiatan makanku dengan santa.
“Hel, Kamu masih mau lanjutin karier kamu di modelling, kamu tau kan pekerjaan itu ga bagus sama sekali, lebih baik kamu…”
“Ia, Aku akan berhenti” Aku memotong Mama sebelum ia melanjutkan ucapanya.
“Apa? Benarkah?” tiba-tiba nada bicara Mama menjadi antusias.
“Iya, Aku bakalan berhenti jadi model”
“Akhirnya,Nak. Jadi, sekarang Kamu mau kerja apa nak? Kamu mau kan terima tawaran yang Mama berikan waktu lalu? Bukankah ini saat yang tepat?” Beberapa waktu lalu Mama memang menawarkanku untuk bekerja di kantor suaminya itu.
“Iya, Aku bakalan kerja di Kantornya Om Gerald, itupun kalau Om Geraldnya setuju” ujarku.
“Kamu pasti setujukan sayang?” Mama bertanya dengan nada manja pada lelaki di sampingnya itu, lelaki itu hanya tersenyum dan mengangguk. Namun, Aku tau bahwa ada rencana busuk di otaknya setelah Aku memutuskan untuk menerima tawaran itu.
Bahkan, orang buta pun tau lelaki itu bukanlah orang yang baik, terlebih pada wanita. Menikah dengannya merupakan karma dan takdir yang pantas untuk Mama, yang sama buruknya.
*
“Kenalkan ini karyawan baru kita, putri pak Gerald, Rachel.” Aku dapat melihat orang di ruangan itu berbisik-bisik dan menatapku tak suka. Lantas, mengapa jika Aku masuk secara nepotisme bukankah istilah ‘orang dalam’ tengah popular sekarang.
Aku hanya membungkuk dan tersenyum sopan pada mereka, mau bagaimanapu mereka adalah seniorku.
Ketika formalitas perkenalan diri itu berakhir, Aku menuju meja kerjaku dan mulai mengerjakan tugasku yang memang sudah Aku kuasai sebelumnya. Meskipun Aku ‘orang dalam’, Aku tetap saja seseorang yang
kompetitif.
Tiba-tiba ketika Aku tengah larut dengan pekerjaanku, ponselku berdering dan ada panggilan masuk disana. Jeno.
“Halo,Jen. Ada apa?”
‘Aku dengar Kamu memutuskan kontrak dengan Agensi ya?’ Aku tau pasti bahwa ini adalah kerjaan manajerku, makanya Jeno sampai tau.
__ADS_1
“Iya, kenapa?” balasku singkat.
‘Tadi, Rea datang ke Agensi Kamu buat ketemu Kamu tapikamunya ga ada’
“Apa? Apakah Rea di Jakarta? Mengapa ia tidak memberitahuku?”
‘Bukankah Kau ganti nomor karena telah keluar dari Agensi?’
“Ah, iya pantas saja. Kau pasti mendapatkan nomor baruku inidari manajerku ya”
‘Iya, sekarang Kau ada dimana? Rea sangat ingin bertemu denganmu. Kami sudah jauh-jauh datang dari Surabaya loh’
“Ah, maaf sekali. Sekarang Aku tidak bisa bertemu kalian. Mungkin lain kali, apa kalian lama di Jakarta?”
‘Sepertinya, kebetulan Aku dan Rea juga tengah ada urusan disini. Baiklah, hubungi Kami jika ada waktu senggang’
“Tentu saja, kalian juga harus mengabariku jika masih di Jakarta ya”
‘Iya,pasti’
Aku mengakhiri panggilan itu, ketika atasanku tiba-tiba datang ke mejaku.
“Rachel, sudahkah Kau makan siang? Apakah Kau ingin makan siang bersamaku?” Atasanku yang juga Papa tiriku itu menawariku untuk makan siang bersamanya, Ah yang benar saja.
“Saya masih kenyang,Pak. Dan masih banyak pekerjaan yang saya kerjakan” ujarku sambil tersenyum sopan, mau bagaimanapun ia atasanku disini.
“Tinggalkan saja pekerjaanmu, Kau tidak perlu terlalu keras disini. Aku akan mengurusnya untukmu” Ia berbisik tepat di telingaku, sangat menjijikan.
Aku dapat melihat beberapa karyawan menatap Kami dengan berbagai macam ekspresi selah berkata ‘Lihatlah, bapak dan anak itu,aneh sekali’.
Tentu saja Aku tau apa yang mereka pikirkan, tidak ingin larut terlalu lama dalam suasana seperti itu dan memutuskan untuk ikut bersama pria tua tidak tau diri itu.
Ah,menyebalkan sekali rasanya. Aku benar-benar menyesal memutuskan untuk bekerja disini\
***
__ADS_1