
Lebih dari siapapun Aku merasa lelah. Namun, apakah orang lain akan peduli selelah apapun Aku? Tentu saja, Tidak. Seperti kehilangan rasa kepercayaan pada seluruh penduduk muka bumi ini, Aku benar-benar ragu untuk membiarkan orang lain tau perasaanku.
Perasaan ini persis seperti yang kualami 7 tahun yang lalu, menyakitkan hingga Aku sulit bernafas, ingin hilang dari muka bumi namun tak memiliki keberanian.
Aku bertanya-tanya, Apa orang lain pernah menyadarinya ketika mereka mempermainkan perasaanku? Aku bahkan tidak berharap kata 'maaf', namun apakah mereka pernah sedikit saja merasa bersalah padaku?
Rea, Arga dan bahkan kakakku. Aku benar-benar hanya lelucon bagi mereka. Dan setelah lelucon itu berakhir tragedi, barulah mereka berhenti untuk menertawainya.
Aku menyesal karena berjanji akan merebut Arga dari Rea, ketika Aku sama sekali tidak mampu melihat mereka berdua. Tidak masalah jika Arga memang tidak menyukaiku, namun cara ia datang kembali ke hidupku, sungguh menyakitiku perlahan.
Air mataku bahkan enggan untuk mengalir. Kesengsaraan bercampur emosi bukanlah sesuatu yang baik untuk disalurkan. Air mata tidak akan pernah cukup.
"Rachel?" Aku yang sedang duduk sendirian di sudut cafe itu, terperangah ketika seorang pria tiba-tiba muncul di depanku.
" Kamu Rachel,kan?" tanya pria yang kutaksir berumur sedikit jauh dariku.
"Iya,Kamu..." Aku menggantungkan ucapanku, menunggu ia memperkenalkan dirinya.
"Aku Zafran, Apa kamu lupa?" Aku menelusuri memoriku dan mencari nama itu, Apakah Aku mengenalnya sebelumnya?.
"Kamu beneran ga inget Aku? Aku Zafran, temennya Arga" Ah, Aku ingat. Dia adalah teman SMA Arga yang suka main ke rumah Arga pada saat itu.
"Ah, Kak Zafran. Apa kabar,Kak?"
"Baik,Hel. Kamu udah gede ya sekarang? Udah lama banget ga ketemu, oh ya gimana sama Arga? Udah jadian belum" Hm, sepertinya ia juga belum bertemu Arga dalam waktu lama.
"Eh iya,Kak. Arga dia..." Aku bingung harus menjawab apa sekarang.
"Ah, baiklah Aku mengerti. Tidak apa-apa,Hel. Mungkin Kamu sudah bertemu dengan yang lebih baik darinya" Tentu saja tidak, jika sudah Aku tidak akan sendirian duduk di sudut cafe ini.
"Hehe. Oh iya,Kak. Kok Ka Zafran langsung bisa ngenalin Aku? Padahal Kita terakhir ketemu pas SMA" Benar juga, wajahku tentu saja sudah banyak berubah bagaimana bisa dia mengenalinya.
"Ya bisa dong ,Hel. Muka kamu itu walaupun ga cantik-cantik amat tapi mudah diinget.wkwk" Hm, dia memang Zafran yang selalu mementingkan penampilan.
"Jujur banget sih,Kak. Emang dari dulu Aku ini ga cantik ya?" ujarku sedikit kesal.
"Cantik,Kok. Tapi bukan seleraku" balasnya sambil tertawa ringan.
"Kaya mie instans aja sih kak kudu selera-seleraan" Aku melemparkan guyonan yang sedikit receh padanya, anehnya ia juga tertawa karena guyonan itu.
"Haha, tapi serius Aku ga akan tertarik sama orang kalau dia ga sesuai dengan selera Aku" Hm, rumit.
"Jadi, itu artinya Ka Zafran ga tertarik sama Aku?" Aku memasang wajah sedih yang palsu.
"Haha, ya gitu deh" Hm, menyebalkan.
"Tapi ngomong-ngomong, Ka Zafran apa ga pernah gitu jalin hubungan sama wanita yang biasa aja?" Aku dapat melihatnya berpikir sejenak.
"Iyah, seinget Aku mantan Aku pasti cantik-cantik dan sesuai dengan tipeku" Ah, sombong sekali dia. Padahal wajahnya juga tidak setampan itu.
"Hm, tapi entah mengapa Aku justru berpikir bahwa Kakak akan berakhir dengan gadis yang biasa-biasa saja" Benar bahwa Aku memang berfirasat begitu, itu mungkin akan jadi Karma terbaik baginya jika benar terjadi.
"Jangan gitu dong,Hel. Mamaku ngelahirin Aku ya biar dapat menantu yang ga kalah cantik dari Mamaku lah" Ah, pantas saja dia selama ini sombong sekali. Aku lupa fakta bahwa dia adalah anak dari seorang putri kecantikan yang begitu terkenal pada masanya.
"Sayang sekali, apakah Kakak benar-benar berpikir di lahirkan karena itu?" lontarku,sarkas.
__ADS_1
"Maksudmu?" Hm, Aku dapat merasa ia sedikit tersinggung.
"Terkadang Kakak harus merubah cara pandang kakak soal kecantikan, karena kecantikan tidak selalu tentang ini, namun ia juga berasal dari sini" Aku menunjuk wajahku, lalu hatinya, menegaskan bahwa hati yang cantik juga penting.
Setelahnya Ka Zafran hanya tersenyum canggung dan berusaha mengalihkan topik itulah bagaimana pada akhirnya Aku menghabiskan waktuku bersamanya sepanjang hari di cafe itu.
*
Hari ini Aku memiliki jadwal konsultasi dengan putri direktur,Julie. Gadis dengan tempramen yang luar biasa itu mau tidak mau akan menjadi pasien bedah plastik pertamaku. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan gadis itu Aku berani bertaruh bahwa di dunia ini mungkin ada gadis yang lebih jelek darinya, ia benar-benar tidak sejelek itu.
“Om, Aku gamau tau operasinya harus berhasil” dumelnya padaku.
“Asal kamu tau aja ini pertama kali Aku bedah plastik, Aku ga bisa jamin hasilnya bagus apa ga” ujarku.
“Gaboleh gitu dong,Om. Ini menyangkut reputasiku!”
“Apa maksudmu? Reputasi”
“Iya, reputasi! Aku tidak akan melakukan ini jika saja orang-orang tidak terus berkata bahwa Aku tidak layak”
“Tidak layak apanya?
“Ah, Om tidak akan mengerti bagaimana anak-anak sekarang begitu terobsesi dengan penampilan, terlebih apabila Kau berpacaran dengan seseorang yang tampan”
“Lalu, apakah itu artinya Kau sedang berpacaran dengan seseorang yang tampan hingga orang lain mengkritikmu?”
“Benar sekali. Pacarku benar-benar tampan, itu membuat Aku merasa frustasi karna wajahku ini hanya menjadi bahan hujatan ketika Aku bersamanya”
“Haha, Aku bahkan tidak yakin bila ia jauh lebih tampan dariku”
“Ah dia memang tampan, tapi kalian benar-benar terlihat cocok bersama” Entah mengapa, Aku seperti mengenal wajah itu. Dimana Aku pernah melihatnya sebelumnya,ya?
“Benarkah? Aku tidak menyangka Kau akan mengatakan itu?”
“Apakah itu artinya Aku sudah cukup cantik hingga cocok bersamanya?”
“Tidak. Aku hanya merasa bahwa kalian mirip dan saling melengkapi satu sama lain”
“Tapi, tetap saja soal penampilan, diriku tidak bisa disandingkan dengannya”
“Julie, dengarlah. Apa pacarmu yang tampan itu pernah mempermasalahkannya?”
“Tidak, sama sekali tidak. Namun, akhir-akhir ini Pacarku dekat dengan seorang gadis cantik dan orang-orang membicarakan mereka berdua. Itu membuatku sedikit merasa inferior”
“Apa Aku boleh melihat foto gadis itu?”
Aku kembali melihat ponsel Julie, dan mengangguk pelan.
“Cukup cantik, namun entah mengapa biasa saja di mataku”
“Apa standarmu terlalu tinggi,Tuan?” Sarkas Julie.
__ADS_1
“Aku serius, dia memang cantik namun tidak cocok dengan pacarmu. Visual mereka akan bertentangan satu sama lain jika bersama”
“Maksudmu?”
“Kau tau? Ketika orang tampan dan orang cantik disatukan itu akan terasa...Hambar.”
“Jadi, maksudmu karena Aku jelek maka cocok dengan pacarku?”
“Ahaha, bisa saja jika Kau memang berpikir begitu”
“Sialan, Kau tidak bisa menghina wajah yang sudah diberikan untukku. Wajah ini adalah berkat sang pencipta kepadaku”
“Syukurlah, akhirnya Kau mengerti. Kau telah menetapkan keputusanmu,bukan? Mari kita akhiri konsultasi hari ini disini” Aku mempersilahkannya untuk keluar.
“Sebentar, apa maksudmu?”
“Kau mengatakan bahwa wajahmu adalah berkat sang pencipta, jadi kita tidak perlu mengubahnya bukan?”
“Tapi, Aku…”
“Percayalah padaku. Semua ini adalah tentang bagaimana merubah dirimu menjadi lebih percaya diri, bukan wajahmu”
“Bagaimana jika Pacarku…?”
“Aku tau bahwa Kau jauh lebih paham bahwa Pacarmu bukanlah orang seperti itu”
Setelahnya Julie hanya terdiam hingga Aku yang akhirnya meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu.
*
"Kak, Apa Kau mengidamkan perempuan yang cantik?" Rachel yang tengah asik menyeruput minumannya bertanya padaku.
"Tidak, bagiku penampilan bukanlah hal yang utama" balasku singkat.
"Tapi, bukankah semua lelaki menyukai wanita cantik?" tanyanya lagi, kali ini ia mengerucutkan bibirnya. Apa dia berpikir bahwa dia tidak cantik?
"Tentu saja, Semua manusia pasti menyukai keindahan" Ia terlihat semakin kesal, kali ini ia memelototiku dengan tajam.
"Nahkan, itu berarti Kak Arga juga menyukai wanita cantik" serunya.
"Tidak seperti itu,Rachel. Kau masih terlalu kecil, akan sulit memahaminya" ujarku.
"Lalu, wanita seperti apa yang Kakak idamkan?" Aku berpikir sejenak, walaupun sebenarnya sudah ada jawaban akan hal itu.
"Hm, Aku suka wanita yang..." Aku sengaja menggantungkan ucapanku, membuat Rachel kesal.
"Cepatlah, seperti apa?" desaknya.
"Hm...Cari tau saja sendiri!" dengan cuek Aku meninggalkannya begitu saja. Ada-ada saja dia, menanyakan tipikal wanita idamanku. Apakah dia bodoh?
"Kak Arga tunggu, Cepat jawab! Jangan melarikan diri!" Aku mempercepat langkahku, membuatnya kini berlari mengejarku. Ah, sepertinya Kami memang suka bermain kejar-kejaran.
'Aku..tentu saja menyukai seseorang yang sepertimu' seru batinku.
Bersambung.
__ADS_1