
Apa Kau tau apa yang paling memuakkan dalam sebuah cerita? Itu adalah saat disana terasa baik-baik saja namun tak berarti. Saat Kau pikir bahwa tidak perlu konflik lagi, tidak perlu ada kontradiksi lagi. Saat semuanya seolah sempurna hanya untuk disebut sebagai cerita.
Yang Ku rasakan sama halnya. Aku dan Arga, Kami baik-baik saja. Hidup bersama, saling berbagi perhatian dan kebahagiaan. Sesekali bertengkar karena hal yang tidak penting. Namun, entah mengapa Aku berpikir bahwa cerita Kami ditulis tidak hanya untuk hal ini.
Bumbu drama kehidupan yang berlebihan telah ditambahkan, namun Itu justru memperburuk bagaimana cerita berjalan. Hal-hal yang mustahil terjadi, lompatan kejadian yang begitu acak, bukankah itu terlalu tak nyata?
Seolah Kau berlari begitu kencang dengan hanya memikirkan tujuan, dan melewatkan langkah-langkah yang sebenarnya cukup penting. Aku rasa, itulah yang terjadi antara Kami. Berbagai hal yang terlewati seolah tak berarti dan menyimpan beribu pertanyaan.
Lalu, Aku berpikir bahwa bagaimana jika hal yang tidak alamiah itu dihilangkan. Bagaimana jika Aku kembali mengulangnya tanpa melewatkan satu langkah pun. Akankah Aku dan Arga akan tetap bersama seperti saat ini?
Jujur saja, Aku bosan untuk terus menceritakan kisah ini secara berurutan. Apa yang akan Kulakukan? Apa yang akan terjadi? Bagaimana Aku menghadapinya? Aku benci menceritakan itu semua secara detail.
Haruskah Aku mengubah caraku, agar semuanya kembali terasa normal? Namun, bukankah ini terlalu terlambat?
Aku benar-benar tidak menikmati prosesnya. Aku dikejar oleh tuntutan ini itu yang pada akhirnya juga tidak tercapai. Aku putus asa hingga ingin berhenti, yang pada akhirnya membuatnya berantakan.
Jujur saja, bukankah kisahku dan Arga sangat hambar dan tidak menarik sekarang? Entahlah, mungkin Aku memang perlu memperbaiki beberapa hal.
Sebenarnya Ketika Arga bercanda tentang Kami yang akan berkencan, Aku sangat bahagia. Tapi itu bohong, tentu saja. Aku diceritakan begitu mencintai Arga, bukankah itu berarti Aku harus bahagia saat itu?
Namun, pernahkah kalian bertanya bagaimana perasaanku yang sesungguhnya pada Arga. Alasanku begitu mencintainya, dan seberapa yakin Aku dengan perasaan itu?
Jujur saja, Aku memulai semuanya dengan kosong. Tidak ada perasaan seperti itu. Aku hanya harus menjadi seperti itu. Mencintai seseorang tidak cukup dengan mengalami begitu banyak kenangan bersamanya, namun bagaimana kenangan itu dapat membekas di hatimu. Semua kenanganku dengan Arga tak mampu dicerna logika, Aku tak mampu mengingatnya satu per satu.
__ADS_1
Jangankan itu, kepribadian Arga mungkin juga termasuk sesuatu yang tak mampu Kau cerna bukan? Dia dingin pada awalnya, hangat, lalu dingin dan tiba-tiba mengejarku. Apakah menurutmu dia seperti itu karena mencintaiku? Tidak, itu karena karakternya diciptakan seperti itu.
Aku dan Arga sebenarnya sama-sama orang asing yang diberkahi sebuah perasaan yang tak diketahui. Aku tidak mengenal Arga, begitupun Arga yang tidak mengenal diriku. Itulah mengapa sulit untuk membangun sebuah ikatan antara Kami.
Bukankah Aneh ketika pemeran utama pria dan wanita tidak memiliki kecocokan sama sekali? Tidak mampu membuat pembaca berdebar, bukankah itu aneh sekali?
Aku benar-benar ingin kembali membuatnya menjadi Kisah yang baru. Tanpa Arga yang berkepribadian ganda. Aku yang bimbang dengan perasaanku. Serta plot opera sabun yang membosankan.
Aku ingin ketika Ku membuka mata, cerita ini akan semakin jelas. Menunjukkan tujuan seperti apa yang akan sama-sama Kami capai. Serta mampu membuat siapapun berdebar membacanya.
Bukankah diriku terlihat seperti seseorang yang tidak berpengalaman dalam cinta selama ini. Aku benar-benar ingin kalian ikut merasakan perasaanku, namun Aku salah menceritakannya bukan. Memasukkan dialog yang tidak penting dan membosankan, tentu sudah membuat kalian malas membaca 5 bab pertama kisahku.
Baiklah, dari sini Aku akan belajar untuk menapaki langkah dengan benar. Aku akan menceritakan apa yang ingin ku ceritakan. Tidak berlebihan dan mampu dicerna logika.
***
Sebenarnya Aku tidak memiliki hal seperti itu. Aku berpegang pada diriku sendiri. Aku tau bahwa ketika Aku menjadikan seseorang sebagian dari diriku, itu hanya akan membuatku merasakan sakit ketika kehilangan.
Dengan bertindak sedikit egois seperti ini bukankah Aku menyelamatkan diriku?
Jujur saja, baik Ayah yang begitu Aku Ku agumi, Ibu yang begitu Kusayangi atau orang terdekatku lainnya, tidak ada satupun dari mereka yang Kuberi predikat 'half of me'. Aku tau bahwa Aku akan kehilangan mereka kapan saja, jadi Aku tidak menggantungkan harapan seolah mereka akan bersamaku dalam waktu yang sangat lama.
Setiap hal datang dan pergi, tidak seharusnya Aku berpegang akan hal itu. Terlalu kejam memang, namun itulah yang Kupelajari dari Ayah. Ayah berkata bahwa Aku dapat kehilangan siapapun kapan saja, jadi Aku tidak perlu menggenggamnya terlalu erat.
__ADS_1
Namun, Aku tak menyangka bahwa itu justru menjadi boomerang bagiku. Entah mengapa diriku yang naif ini begitu bodoh dan tak mampu menyadarinya.
Rachel, gadis itu. Seharusnya Aku menggenggamnya saat Ia dengan sukarela datang kepadaku. Namun Aku menarik ulur dirinya seolah layangan. Aku mengira bahwa Aku akan kehilangan dirinya, jadi tidak perlu membiarkannya di sisiku.
Aku jatuh cinta padanya, namun Aku menganggap perasaan itu tidak penting dan melepaskannya. Apa Aku menyesal? Tidak, Kita tidak tau apa yang mungkin terjadi jika Aku membalasnya perasaannya kala itu. Kita akan jadi pasangan kekasih, bertengkar, menyalahkan satu sama lain, berpisah dan menjadi orang asing. Bukankah itu lebih buruk?
Aku hanya menggantungkan perasaanku pada ikatan takdir yang mungkin telah menjerat Kami berdua sejak lama. Aku mungkin bertindak sedikit tergesa dan memaksa, namun itu tidak akan berhasil jika takdir tidak ikut berkerja sama denganku.
Menurutmu mengapa diriku begitu berlebihan kepadanya? mengambil keputusan di luar logika yang mungkin menyakitinya?
Aku hanya mencoba untuk melakukan semua hal yang mungkin dapat membantuku bersamanya, meski cenderung gila. Aku takut akan menyesal jika tak melakukannya.
Namun, terkadang pula Aku tidak benar-benar ingin melakukannya. Itu terjadi begitu saja. Sekali lagi bukankah sudah kukatakan bahwa terkadang takdir bersekongkol denganku?
Namun, apakah Rachel dapat menerimanya? Dapatkah Rachel merasakan perasaanku padanya? Jika perkataan tidak terdengar tulus, bukankah itu artinya membutuhkan tindakan?
Tidak ada algoritma yang dapat menjelaskan perasaanku pada Rachel. Aneh, namun begitu adanya.
Aku yang rela kehilangan. Namun, ingin bersama Rachel yang sudah pasti sulit untuk tidak melihatnya sehari saja. Aku mengatakan Aku rela, namun ketika Ia benar-benar hilang apakah Aku akan sanggup melaluinya?
Ah, Aku sedikit ragu. Namun, Rachel sepertinya sudah mulai menjadi 'Another of Me' di dalam relung hatiku*.
***
__ADS_1