Husband Denial

Husband Denial
Fated to Friend ( Bagian 5)


__ADS_3

Raka membuka matanya dengan perlahan, cahaya lampu mengganggu netranya. Ia melihat sekeliling ruangan, namun tidak ada seorang pun disana kecuali seorang gadis yang tengah tertidur lelap di samping tempat tidurnya. Ia melihat bahwa beberapa bagian tubuhnya dibaluti gips. Ia menyumpahi kebodohannya atas kejadian tadi malam.


Ia memutuskan untuk menatap gadis yang tertidur di sampingnya. Wajah gadis itu tidak banyak berubah. Mata, hidung dan bibirnya masih begitu indah dengan proporsi yang sempurna.



" Hei! " Raka tiba-tiba saja memberikan jitakan pada dahi gadis itu.


Lyra terbangun karena merasakan kesakitan di dahinya, Ia menatap Raka penuh dengan kekesalan.


" Raka, bisa-bisanya Kamu ya lagi sakit jitakin orang. " Lyra memukul tubuh Raka dengan tangannya.


" Aaaa Sakit! " teriak Raka.


" Sakit, Ra. Kan Kamu tau sendiri badan Aku lagi luka-luka gini. Kok malah mukulin sih. " lanjutnya.


" Ups, Aku lupa. " Lyra bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil ponsel yang terletak di atas nakas.


" Kamu ga bakal nanya gitu, kenapa Aku baru hubungin Kamu sekarang di keadaan kaya gini. " Ujar Raka, ini adalah pertemuan pertama mereka setelah sekian lama terpisah. Namun, mengapa Lyra tidak menghujaninya dengan pertanyaan.


" Halo, Tan. Ini Aku Lyra. " Raka panik karena Lyra menghubungi orangtua-nya.


Dengan sisa tenaga yang Raka miliki, pria itu mencoba meraih handphone Lyra. Namun, karena tubuhnya yang tidak seimbang membuat dirinya terjatuh ke lantai. Lyra yang terkejut segera membantu Raka untuk kembali naik ke atas tempat tidur.


" Halo, Lyra. Ada apa nak? " Raka menyiratkan pada Lyra untuk mematikan panggilan tersebut, namun gadis itu hanya mengabaikannya.


" Gini, Tan..." Raka memasang muka memelas pada Lyra, membuat gadis itu berpikir untuk mengalah kali ini.


" Pliss Lyra Pliss " ujarnya tanpa suara.


" Ga ada Tan, tadi Aku salah pencet nomor. " ujarnya, membuat Raka bernafas lega.


" Oh, yaudah Tante kira ada apa tengah malem gini ngenelpon. Kalau ada apa apa, segera hubungi tante ya? "


" Iya, Tan. Pasti. "


Klik.


Lyra mematikan ponselnya dan menatap Raka penuh tanya.


" Kenapa? Loe ga mau Tante Diana tau keadaan Loe sekarang? " tanya Lyra tanpa basa-basi.


" Gini, Lyra. Gue gamau bikin Mama khawatir, Loe pasti tau kan Mama serempong apa. Untuk saat ini Gue cuma berharap Keluarga Gue ga ada yang tau soal kejadian ini. " Ujar Raka.


" Terus, kalau Gue ga bilang ke mereka. Yang jagain Loe siapa? " tanya Lyra lagi.


" Kan ada Loe. " cetus Raka.


" Gue kerja, Ka. Gue ga bisa 24 jam jagain Loe terus. " ujar Lyra.


" Gue ga minta Loe 24 jam disini kok, dateng aja kapan Loe sempat. Lagian sakit ginian gue udah biasa, bisa kok Gue jaga diri selama ga ada Loe. "

__ADS_1


" Udah biasa kata Loe? Emang selama ini kerjaan Loe apasih di London sana, sampe balik-balik ke Indo gini malah babak belur. "


" Ya, yang pasti kerjaan gue resikonya emang gini, Ra. Mau apa lagi kan. "


" Yaudah, Gue bakal coba buat jagain Loe sampe pulih total. Tapi, Loe harus janji, jangan sampe kejadian kaya hari ini terulang lagi, ngerti? "


" Iyaa, Gue pastiin Loe ga akan ngeliat gue kaya gini lagi. "


" Oh, jadi kalau Gue ga liat. Loe mau tetap kaya gini? "


" Lyra..udah yuk ributnya. Loe juga harus istirahat yang cukupkan karena besok harus kerja. "


" Lah, itu tau. Terus tadi ngapain bangunin gue segala. "


" Kan gue mau liat muka Loe pas bangun, Ra. Masa pas gue tinggal Loe tidur, terus sekarang ketemu juga tidur. Ketauan kan emang kebo banget kan Loe " Raka tidak tau saja ini adalah pertama kalinya Rara tidur nyenyak di malam hari setelah sekian lama.


*



Radit baru tiba dan menatap Keila yang tengah tertidur di sofa kantornya, teman kantornya yang sudah datang sejak tadi mengerumuni Keila yang masih saja terlelap padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Radit tidak tau bagaimana Keila akan menghadapi rasa malunya jika terjaga nanti, dengan malas Ia menghampiri gadis itu dan menggendongnya.


" Dia siapa, Dit? Pacar Loe ya? Bisa-bisanya Ya Loe ngajak cewe Loe bobo di kantor. " ujar Ayunda.


" Shut! Diem aja Loe, gue urus bocah ini dulu. Jangan sampe dia bangun denger suara cempreng Loe. " Radit meninggalkan teman-temannya yang menatapnya penuh tanya.


Ketika sampai di mobil miliknya, Radit meletakkan Keila di kursi penumpang dengan perlahan. Namun, gadis itu malah tiba-tiba terbangun dengan posisi Radit yang tengah memasang seatbell nya.


" Loh, Kok gue disini? Udah pagi ya? Lyra mana? " tanya Keila bingung.


" Rumah loe dimana? " tanya Radit, mengabaikan pertanyaan Keila sebelumnya.


" Bentar, bilang dulu Lyra dimana? " tanya Keila lagi.


" Ya, mana gue tau. Tadi pagi, cuma Loe sendiri di kantor. Lyra udah ga ada di kantor juga pas Loe masih tidur. "


" Wah, gila banget tuh anak ninggalin Gue sendirian. " Keila segera menghubungi ponsel Lyra, namun tak ada jawaban.


" Ga diangkat. "


" Ya terus? "


" Ihhhhh. "


" Yaudah, Gue anterin Loe pulang dulu aja deh. "


" Gausah-gausah, Gue bisa naik taxi sendiri. " Keila mencoba membuka pintu mobil namun Radit menahan tangannya.


" Udah, jangan banyak gengsi. Ikut aja. "


Mereka pun akhirnya meninggalkan kantor.

__ADS_1


*


" Makasih ya, entar lain kali Gue ganti deh tumpangan Loe hari ini. "


" Loe tinggal disini? ga tinggal sama ortu lagi? " tanya Radit, lagi-lagi mengabaikan perkataan Keila.


" Iyah, Gue tinggal bareng Lyra disini. "


" Hm, yaudah sana masuk. Mandi. "


" Iya, Gue tau gausah dibilang, Jubaedah. "


" Bagus deh, sabar banget Gue ngeliat muka kucel Loe pagi-pagi gini "


" Radit! Udah sana pulang,buruan. "


" Okay, bye. " mobil Radit pun meluncur meninggalkan lingkungan Apartemen itu.


*



" Raka makan cepat, buruan. Gue udah telat nih. " dumel Lyra pada Raka yang mengunyah makanan dengan lama.


" Ya sabar atuh, neng. Gue kan lagi sakit mana bisa cepet-cepet. " ujar Raka santai.


" Gue telfon ortu Loe aja ya? biar ada yang urusin, Gue harus kerja nih. " ancam Lyra.


" Jangan dong, makin bonyok nih Gue kalau Mama Papa tau. " Memang benar bahwa Ayah Raka adalah pria yang tegas, jika tau anaknya seperti ini pasti akan mengira bahwa Raka yang mencari gara-gara, pada akhirnya bogeman akan mendarat di wajah tampan Raka.


" Makanya, buruan deh, Ka. " ujar Lyra,lagi.


" Hari ini gausah ngantor boleh ga, Ra? atau ga kerjaannya dikerjain disini aja jadi Loe ga harus ke kantor. "


" Beneran dah ni anak pulang-pulang dari luar negeri malah nyusahin orang. " ujar Lyra kesal. Gadis itu mengambil ponselnya dan berpikir untuk menghubungi atasannya, Juan.


" Ah,sial. Hp gue mati. " dumelnya, membuat Raka senang.


" Kata Gue mah ini ya, Ra. Mending Loe cas hp Loe terus nanti nelfon atasan Loe bilang kalau Loe ga bisa dateng kerja hari ini. Syukur deh hp loe mati jadi ga ditanyain kan buat sekarang. "


Lyra tiba-tiba saja memukul kepala Raka pelan membuat lelaki itu mengaduh.


" Bisa-bisanya ya Loe mikir gitu, ini nyangkut karier gue, Ka. Beneran deh Loe. " Lyra segera mengisi ulang baterai ponsel miliknya, khawatir jika ada telpon penting yang masuk.


" Lagian di situasi selain gue yang lagi sakit, terluka gini. Ada yang lebih penting ga sih? "


" Ah, iya. Keila."


" Keila? "


__ADS_1


__ADS_2