
Dari sekian banyak hal yang ingn kuhindari saat ini adalah berduaan dengan Rea. aku takut akan terjadi kecanggungan antara kami berdua, mengingat pengakuan yang dilakuan Arga padaku tanpa sepengetahuan Rea.
“Apa yang Kau pikiran, Rachel?” Saat ini memang kami sedang berada di kamar, villa ini hanya memiliki dua villa, karenanya Aku, Rachel dan Jennie terpaksa tidur bersama di salah satu kamar, sedangkan para pria di kamar lainnya.
“Aku tidak memikirkan apapun, hanya saja sudah cukup lama sejak kita terakhir kali bicara” ujarku.
“Apa Kau merasa canggung padaku,Rachel? Aku sahabatmu, tidak perlu demikian” Rea tidak tau saja, statusnya sebagai sahabatku lah yang membuat perasaan ini jauh lebih canggung.
“Tidak,Rea. Tidak sama sekali”
“Lalu, bicaralah. Apa Kau menyembunyikan sesuatu dariku?”
“Aku? Ah, tidak mungkin. Kau tau bahwa Aku selalu jujur padamu” Aku tersenyum canggung.
“Jika begitu katakanlah, Kau jarang cerita padaku sekarang”
“Ah, benar juga. Haruskah Aku menceritakannya?”
Aku memikirkan sebuah topik yang belum pernah ku ceritakan pada Rea sebelumnya, Aku berharap Rea tidak akan curiga bahwa Aku menyembunyikan sesuatu yang lain darinya.
“Kau tau,Rea. Orang tuaku bercerai ketika Aku baru saja kuliah” ujarku pelan.
“Benarkah? Aku kira yang bersamamu selama ini adalah Ayah kandungmu, Aku sama sekali tidak terpikir bahwa ia telah lama berpisah dari ibumu”
“Apa Kau bercanda? Lelaki yang usianya jauh lebih muda dari ibuku itu, Ayahku? Yang benar saja, Aku bahkan tidak sudi menjadi anaknya jika terlahir kembali”
“Benar juga, ia terlalu muda untuk menjadi Ayahmu. Lalu, dimana Ayah kandungmu sekarang?” pikir Rea.
“Aku tidak tau, Aku tidak pernah bertemu dengannya sejak saat itu”
“Apa Kau merindukannya?”
“Tentu saja, Apa ada seorang anak yang tak merindukan Ayahnya”
“Ada, Aku” gumam Rea, namun masih dapat terdengar jelas olehku.
“Apa?”
“Tidak ada, lupakan. Tapi, bukankah hari ini hari Ayah. Kau pasti semakin merindukannya”
“Ya begitulah, namun tak ada yang bisa kulakukan. Aku bahkan tidak tau dimana keberadaannya sekarang”
“Lalu, bagaimana jika Aku akan menjadi Ayahmu hari ini. Aku akan merayakan hari Ayah bersamamu”
“Apa Kau serius?”
“Tentu saja, Ayo kita keluar” Rea tiba-tiba menarik tanganku dan menuju pintu.
“Pelan-pelan,Rea. Jennie sedang tidur” seruku.
__ADS_1
*
Rea merapikan Kumis palsu yang dipakainya, saat ini ia sedang menggunakan kaos polo dan celana kain seperti yang biasa digunakan oleh Ayahku. Ia bahkan memakai wig agar semakin terlihat seperti Ayahku.
Di taman belakang sudah ada barisan lilin yang mengelilingi sebuah kursi kayu, disana terletak sebuah Kue yang sangat besar, serta balon dan tulisan yang bertuliskan “Happy Father Day”.
“Kapan Kau menyiapkan semuanya,Rea” ujarku takjub sambil menutup mulutku dengan tangan.
“Tentu saja sejak Kau mengatakan bahwa Kau begitu ingin merayakan hari Ayah bersama Ayahmu”
“Kapan Aku mengatakannya? Aku rasa Aku tidak berkata sejelas itu padamu”
“Tentu saja tidak, namun Aku sahabatmu. Aku mengerti bahwa itu yang Kau inginkan saat ini” Lagi-lagi kata ‘sahabat’ membuatku sesak mendengarnya.
“Apa Kau melakukannya sendiri?”
“Tentu saja tidak, Aku punya mereka yang membantuku” Dari arah pintu, terlihat Arga dan Jeno yang tengah berjalan bersama menuju ke arah Kami.
“Apakah mereka juga ikut?”
“Tentu saja, Kita buuh orang untuk memeriahkan suasana”
*
Kami berempat duduk mengelilingi Kue yang cukup besar itu, cuaca malam ini sangat cerah,sinar bulan yang terang membuat suasana menjadi lebih hangat.
“Baiklah,putriku. Ayo katakan harapanmu untuk hari Ayah tahun ini” Rea mengubah suaranya menjadi sedikit lebih berat, namun itu justru terdengar lucu di telingaku.
“Lakukan saja, Aku sudah susah payah merencanakannya. Tega sekali Kau, Rachel. Lakukanlah ya ya” Rea mencoba bertingkah imut dan membujukku.
“Apakah seorang Ayah biasa bertingkah imut seperti itu?”
“Tentu saja tidak, Ayahmu ini adalah orang paling keren di dunia ini” Rea kembali mengubah suaranya menjadi lebih berat, kali ini sambil membenarkan kumis dan memasang muka sombong.
“Namun, tidak lebih keren dari Ayahku” Rea mendelikkan matanya pada Arga, ketika lelaki itu tanpa saja menimpali perkataan Rea.
“Baiklah, Aku percaya. Aku akan mengatakan harapanku”
“Cepatlah,Nak”
“Sebentar Aku perlu merekam ini” Jeno tiba-tiba bangkit dan meletakkan kamera di tripod yang mengarah pada Kami. Ah, kapan ia mendapatkan barang-barang itu.
“Arga Kau duduklah disamping Rachel. Jangan membelakangi mereka” seperti yang diminta Jeno, Arga akhirnya duduk di sebelahku.
“Baiklah, tunggu Aku sebentar”
“Kami berdua juga akan ikut mengataan harapan, bukankah Kami juga seorang anak dan akan menjadi Ayah di masa depan. Kami juga berhak untuk merayakan hari ini”
“Baiklah, mari kita ucapkan harapan Kita satu persatu”
__ADS_1
Dimulai dari Jeno, Kami mulai mengucapkan harapan Kami.
“Aku berharap akan selalu menjadi Anak dan Ayah yang baik di masa depan. Membahagiakan mereka yang kucintai, baik anak maupun orangtuaku. Baik istri, maupun simpananku” Rea memukul kepala Jeno yang berada di sebelahnya, membuat Jeno mengaduh kesakitan.
“Aku berharap Rachel Kami akan selalu tumbuh menjadi gadis yang kuat dan tidak takut apapun, Aku harap ia akan menemukan kebahagiaanya” Aku terharu mendengar harapan Rea, yang memang ditujukan untukku.
“Aku berharap dapat segera bertemu Ayah, itu saja tidak ada hal lain yang kuinginkan” Pintaku.
“Aku berharap wanita di sampingku segera bertemu dengan Ayahnya. Untuk Ayahku, beristirahat dengan tenanglah di surga” Arga benar-benar serius dengan harapannya, apa dia juga sangat ingin Aku bertemu dengan Ayahku?
“Tentu saja, Aku mengatakan itu karena Aku tau seberapa sulit kehilangan sosok Ayah” timpalnya tak lama kemudian, apa dia lagi-lagi membaca pikiranku?”
Kami meniup lilin itu satu persatu. Dan saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.
“Aku harap Rachel akan bahagia”
“Aku harap ia segera bertemu Ayahnya”
“Aku harap Aku akan menjadi Ayah dari anak-anaknya”
*
Aku dan Arga pamit kepada Rea dan Jeno, Kami akan pulang hari ini. Mbak Hana menanyakan keberadaan Kami karena tidak kunjung kembali sejak kemarin . Dan sebuah kabar baik datang kepada Kami, mas Evan pulang ke Jakarta hari ini. Walaupun terlambat namun anak-anak itu juga bisa merayakan hari Ayah bersama Ayahnya sepertinya.
“Allen, sini deh” tiba-tiba Rea memanggil Allen yang sejak tadi berada di gendongan Arga.
Arga menurunkan Allen dari gendongnya, anak itu langsung menuju ke arah Rea.
“Ada apa,Tante?” Tanya Allen pada Rea.
“Ambil ini” Rea memberikan sebuah buku pada Allen.
KIAT MENJADI AYAH YANG BAIK
“Tante, buku ini…”
“Aku tau Kau menginginkannya, berikanlah pada Ayahmu” Ada apa ini? Mengapa Aku tidak mengerti sama sekali.
“Tapi, bagaimana Kau tau?”
“Percayalah, padaku. Belum terlambat untuk membuatnya menjadi Ayah yang sebenarnya. Semoga setelah ini Kau dapat makan bersamanya”
“Aku tidak tau bagaimana Kau tau, tapi terima kasih”
“Tidak masalah, Aku pernah di posisimu. Namun, Aku terlambat memperbaikinya. Aku harap Kau berhasil kali ini” Ah, Aku mengerti sekarang.
“Sekali lagi Terima Kasih,Tante. Aku berjanji bahwa kali ini akan berhasil”
“Aku pecaya itu. Semangatlah,Nak”
__ADS_1
“Semangat”
***