
Rachel memegang kepalanya dengan kuat, pusing dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Kebodohan ibunya membuat kehebohan yang cukup besar pada pesta malam ini. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kuat. Rea yang tampak terdiam, ibunya yang juga ikut bingung, serta para tamu undangan yang menatap mereka tanpa kata.
“Lalu, mengapa jika yang Ibuku katakan benar?” Rachel menatap Ibu Rea yang tiba-tiba saja bersuara, membuat keadaan lebih rumit.
“Aku… hanya berpikir… yang Kulakukan selama ini sudah keterlaluan.” suara Wanita itu bergetar.
“Haha. Kau menganggap membesarkan Rea selama ini adalah hal yang keterlaluan?” seru Rachel sarkastik.
“Kau tau bukan begitu maksudku.” Wanita itu melemparkan pada Rea, merasa bersalah.
“Nyonya, dengarlah. Bahkan jika Rea bukan anak kandungmu. Tidak seharusnya Kau mengatakan yang sebenarnya dan ikut mempermalukan dia seperti ini. Hari ini ulang tahunnya, apakah membesarkannya selama bertahun-tahun tidak membuatmu menjadi seorang Ibu yang sebenarnya?” Wanita itu menundukkan kepalanya lalu terisak pelan.
“Rachel, apa Kau bodoh? Gara-gara anak wanita itu, Kau kehilangan segalanya. Keluargamu, orang yang Kau cintai, ia telah merebut segalanya yang telah Kau miliki!” Ibu Rachel mencak-mencak melihat putrinya yang justru membela Rea.
“Tidak, Rea tidak merebut itu semua dariku. Bukankah Aku memang tidak memiliki semua itu sejak awal?” Ibu Rachel, mendekat dan menampar wajah Rachel begitu saja.
“Apa Kau sungguh bodoh? Aku hari ini datang ingin membantumu untuk mengambil hakmu kembali. Namun, mengapa Kau merusak segalanya!” Rachel memegangi pipinya dan menatap ibunya benci.
“Apa ibu benar-benar melakukan ini untukku? Ibu bahkan bukan ibuku, bukankah Ibu jauh lebih buruk dari Ibu Rea? Ibu Rea bahkan masih bisa menyayangi dan membesarkan anaknya, namun apa ibu pernah melakukannya? Ibu tidak pernah memikirkanku!” tubuh Rachel bergetar, rasa benci menjulur ke seluruh tubuhnya.
Ibu Rachel terdiam dan tak mampu berkata apapun. Ia mungkin jahat, namun Rachel tidak pernah membentak dirinya seperti hari ini. Meskipun Rachel tau Ia bukan ibunya, Rachel tetap menghormatinya. Rachel menyayanginya dengan tulus layaknya seorang anak pada Ibunya. Jika saja Ia tidak ceroboh hari itu, Rachel mungkin tidak akan pernah tau bahwa Ia bukan anak kandungnya. Ia jelas berpikir bahwa Rachel akan membencinya setelah mengetahui semuanya, namun gadis itu melaluinya seolah ia tidak pernah tau fakta itu.
“Mengapa Kau diam, Ibu? Apakah benar yang Kukatakan? Ah, iya satu lagi. Jangan ikut campur tentang Arga dan Rea, mereka telah bersama. Kau tidak boleh mengaitkan mereka denganku, mengerti?” Arga menatap Rachel yang sepertinya begitu berat ketika mengatakan kalimat itu,
“Kami tidak bersama, Aku dan Arga Kami hanya pura-pura.” setelah terdiam cukup lama, Rea akhirnya bersuara.
“Ah, begitu. Mengapa Kau tidak mengatakannya ketika kalian sudah bertunangan? bukankah pertunjukkan hari ini akan lebih menakjubkan?” ujar Rachel sarkastik.
“Rachel… Kami…” Arga mencoba menatap mata Rachel, namun Rachel mengalihkan pandangannya. Melihat ekspresi Rachel yang tidak terkejut, sepertinya gadis itu telah tau yang sebenarnya.
“Ibu, ayo Kita pergi. Aku lelah menjadi bahan tontonan. Jika Ibu masih ingin melakukan pertunjukkan ini silahkan saja, Aku sudah kehabisan dialog” Rachel lelah dengan semuanya, sebenarnya yang membuatnya hancur bukanlah fakta tentang orangtuanya. Namun, Rea yang mengakui bahwa Ia berbohong selama ini. Ia tidak masalah jika Rea mengambil segala yang ia punya, asalkan bukan kepercayaannya. Ia mempercayai Rea lebih dari siapapun, meskipun ia tau yang sebenarnya ia tidak ingin mendengarnya dari mulut Rea langsung.
*
Rachel akan memasuki mobilnya, ketika Rea menahan tangannya.
“Apa Kau sudah tau semuanya?” tanya Rea dengan suara serak.
“Tentang?” Rachel, memalingkan wajahnya. Tidak mau melihat wajah Rea dengan mata sembab.
“Tentang keluargaku, Aku dan Arga…” lirih Rea.
“Iya, Aku mengetahui semuanya.” balas Rachel singkat.
“Lalu, mengapa Kau…”
“Bukankah, Kau juga begitu?”
“Rachel, Aku tidak berniat menyembunyikan…”
__ADS_1
“Kau sengaja, Aku tau itu.”
“Rachel…”
“Rea, apa Aku benar-benar sahabatmu?”
“Rachel, mengapa Kau…”
“Aku pergi…”
*
Arga melihat kedua gadis itu dengan nanar, andai saja ia tidak melakukan rencana gila itu. Mungkin tidak akan seperti ini. Hubungan mereka sudah runyam tanpa dirinya, dan ia memperburuk segalanya.
“Arga, Rea mana?” Jeno mencari gadis yang dicintainya itu, dan ikut sedih ketika melihat apa yang Arga lihat.
“Bukankah Aku keterlaluan?” tanya Arga pada Jeno.
“Ini bukan salahmu, takdir mereka memang sudah seperti itu.” balas Jeno.
“Lalu, Aku harus bagaimana sekarang?” tanya Arga kembali.
“Anggaplah Tuhan telah memberimu kesempatan, perbaikilah segalanya.” Jeno merasa bahwa mungkin Tuhan mempermudah jalan Arga dan Rachel dengan cara ini.
“Bukankah terlalu terlambat?”
“Tidak. Inilah awalnya” Jeno menepuk bahu Arga seolah memberinya semangat.
*
“Kau…” lirih gadis yang kini tepat berdiri di depannya.
“Hai,Rachel! Bolehkah Aku masuk?” Arga menerobos begitu saja membuat Rachel terkejut.
denagn yang 8an nya 8⁸⁸an ⁸mau 8⁸⁸888888an bsa 88⁸bulan 88⁸88bulan 888888⁸bulan 8⁸8⁸8⁸8e
“Hei, apa yang Kau lakukan?!” Rachel berteriak dengan keras.
"Bolehkah Aku tinggal disini sementara?" ujar Arga tanpa basa-basi.
"Hei, Kau pikir Kau siapa?!" Apa yang lelaki itu pikirkan meminta tinggal di tempatnya begitu saja.
"Aku diusir dari rumah, tidak bisakah Kau setuju saja Aku tinggal disini?" bujuk Arga.
"Bukankah Kau seorang Dokter? Apa Kau tidak punya uang untuk tempat tinggal? atau Kau bisa tinggal di rumah sakitkan?" tanya Rachel.
"Itu...ayolah Rachel. Aku janji tidak akan lama" ujar Arga.
"Pergilah, Kita tidak punya hubungan yang bisa membuatku membiarkanmu tinggal disini!" seru Rachel.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo Kita berkencan. Dengan begitu Aku bisa tinggal sebagai Kekasihmu." kata Arga.
"Apa Kau gila?!"
"Aku tidak gila. Biarkan saja Aku tinggal disini sementara waktu,ya?" Rachel memikirkannya sejenak.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Berkencanlah denganku." Rachel hanya ingin menantang Arga.
"Baiklah, dengan senang hati."
"Hey!"
"Bukankah tadi Kau yang memintanya?"
"Itu..."
"Tidak apa-apa, Rachel ayo Kita berkencan seperti yang Kau inginkan." seru Arga.
"Ah tidak, maksudku seperti yang Kita inginkan?" lanjut Arga.
"Arga, Aku tidak serius!"
"Tapi Aku serius."
"Jangan mempermainkanku!"
"Tidak, Aku tidak sedang mempermainkanmu"
"Tapi Kau..."
"Ayo Kita berkencan Rachel, dengan begitu Aku bisa tinggal disini."
"Jadi, itu maksudmu?"
"Tentu saja tidak."
"Arga!"
"Haha, dengarlah Rachel. Berkencan denganmu dan tinggal disini adalah hal yang berbeda. Namun, Aku harap Kau bisa mengizinkanku tinggal disini."
"Kalau begitu tinggalah."
"Dan berkencan denganmu?"
"Arga!"
__ADS_1
"Baiklah, Kita berkencan."
***