
Aku selalu berkata bahwa seseorang yang jahat, juga harus merasakan sesuatu yang jahat pula agar Ia sadar akan perbuatannya. Alih-alih memberikan Arga kesempatan untuk tinggal bersamaku, Aku mendorongnya dan menutup pintu Apartemenku dengan keras. Ia tampak terkejut dengan tindakanku namun tak dapat berbuat apa-apa.
Setelahnya, Aku mengambil segelas air dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Lelaki itu benar-benar membuatku marah, apa Dia pikir Aku wanita yang mudah melupakan sesuatu begitu saja?
Aku bahkan masih ingat bagaimana bibirnya mengucapkan kata-kata pedas untukku malam itu. Aku masih ingat tatapan tak sukanya yang membuatku muak. Dan sekarang Ia berani sekali memperlihatkan wajahnya di depanku, Apa dia pikir dia karakter utama sebuah Novel sekarang? Ayolah, ini dunia yang sebenarnya, tinggal bersama orang yang Kau benci? yang benar saja.
Aku masuk ke dalam Kamar dan mengambil ponselku. Ku hubungi Jeno untuk datang ke Apartemenku. Aku lelah terus menyebutnya dengan nama Jeno, mulai sekarang Aku akan memintanya untuk kembali menjadi kakakku, Samuel.
*
"Hei, apa Kau tau Aku sibuk? bagaimana bisa Kau menghubungiku di jam ini?" Ah, lihatlah Ia biasanya tidak pernah kesal kepadaku karena hal sepele, mengapa hari ini semua lelaki terlihat menyebalkan.
"Apa Kau begitu menikmati peranmu sebagai Jeno, hingga enggan bertemu adikmu sendiri,Ha?" Samuel mengerutkan keningnya dan menatapku bosan.
"Rachel, Kau kenapa? Aku bahkan tidak pernah melihatmu semarah ini, apa itu gara-gara kejadian semalam. Ayolah Kita pernah mengalami yang lebih buruk dari itu jika Kau lupa" Aku memukul kepalanya membuatnya mengaduh.
"Apa Kau yang menyuruh Arga datang ke Apartemenku?" tanyaku membuat Samuel mendadak salah tingkah.
"Ba..Bagaimana Kau tau?" Ah, ternyata benar.
"Apa Kau bodoh? Ide gila ala Novel Roman itu, siapa lagi jika bukan Kau?!" Apa Dia mengira Aku mengenalnya satu dua hari,ha?
"Ah, Aku lupa bahwa Kau pintar dan Kau adalah adikku" Aku akan memukul kepalanya lagi jika Ia tidak segera menghindar
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Kau bahkan masih terobsesi dengan Kisah Novel seperti itu. Hanya karena kisahku dan Arga seperti sebuah novel, bukan berarti Kami pemeran utamanya" seruku membuat Samuel menundukkan kepalanya.
"Maafkan Aku,Rachel. Aku hanya berpikir jika kalian tinggal bersama, mungkin kalian akan lebih akur" Aku menghela nafas dan menatap samuel dengan kesal.
__ADS_1
"Kak, apa Kau benar-benar berpikir bahwa Kami dapat bersama? dengan semua yang telah terjadi?" tanyaku serius.
"Aku..Aku hanya merasa bahwa Kalian mungkin saling mencintai dan enggan untuk mengakuinya satu sama lain" Aku mengangkat sudut bibirku dan tersenyum miris.
"Aku rasa Kau harus benar-benar berhenti membaca Novel roman" Aku menepuk bahunya dan bangkit dari sofa yang sedari tadi Kami duduki.
"Hei, Kau mau kemana? bukankah tadi Kau menyuruhku kesini?" Ia berteriak ke arahku yang menuju pintu apartemen.
"Mencari angin, terlalu sesak disini" balasku pelan.
*
Rea menatap mata Ayahnya penuh tanya, Ia tau Ayahnya tidak akan memberikan jawaban atas hal yang ingin Ia tanyakan. Ia hanya berharap lelaki yang sangat Ia hormati itu dapat jujur kepadanya, tanpa harus dipinta.
"Ayah" gumam Rea lembut.
"Ayah, apakah Aku masih putri Ayah?" setelah menunduk sedikit lama, kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari bibir Rea.
"Kau akan selalu menjadi Putri Ayah, nak. Namun, Ayah tidak bisa lagi menjadi Ayahmu" cairan bening membasahi sudut mata lelaki paruh baya yang terkenal keras itu.
"Bukankah itu tidak adil? Mengapa Ayah begitu kejam?" Rea tidak tau ingin marah atau sedih, yang jelas air matanya sudah mengalir begitu deras, membasahi hampir seluruh wajahnya
"Rea, maafkan Ayah. Tapi, tolong pertemukan Ayah dengan Rachel. Ayah berhutang hal yang sangat besar padanya" Rea tidak pernah membenci ataupun iri pada Rachel, namun keegoisan Ayahnya hari ini benar-benar telah melukai hatinya.
*
"Mengapa Kau kembali?" Mama Arga tampak menatap putranya sinis.
__ADS_1
Arga menghela nafas pelan dan menatap Mamanya bosan. Mengapa Mamanya begitu tegas kali ini, biasanya Ia akan selalu membelanya tak peduli apapun yang terjadi.
"Apa Kau pergi ke Apartemen, Rachel?" tanya Mama Arga kembali.
"Bagaimana Mama tau?" balas Arga.
"Aku sudah menduganya, plot tidak logis seperti itu apa Kau pikir itu akan berhasil?" Mama tiba-tiba menatapnya remeh.
"Mah..." Arga tampak kesal dengan perkataan Mamanya.
"Ayolah, Arga. Mengapa Kau begitu Suka bermain drama dengan Rachel. Padahal tanpa drama murahan milikmu itu, Mama mungkin sudah menggendong cucu sekarang" Mamanya benar andai saja ia berpikiran lebih matang, mungkin sudah sejak dulu Ia mendapatkan hati Rachel tanpa perlu banyak drama.
"Apa Mama benar-benar ingin Cucu?" tanya Arga tiba-tiba.
"Hei! Mama tidak akan memaafkanmu jika memakai cara itu!" seru Mama Arga.
"Jika tidak dengan cara itu, Aku harus bagaimana Mah?" keluh Arga putus asa.
"Mengapa Kau repot-repot datang ke Apartemennya, bukankah lebih baik jika Kau dapat membawanya kesini?" Arga memikirkan sejenak perkataan Mamahnya.
"Ah, benar. Selama ada Mama, Rachel pasti akan Mau datang kesini" seru Arga seolah mendapatkan solusi.
"Jangankan datang, Mama dapat memastikan bahwa Dia akan tinggal disini dan Mama akan segera menimang cucu" seru Mamah tak kalah antusias.
"Untuk hal itu Aku tidak yakin Rachel akan Mau" ujar Arga ragu.
"Hm, lihat saja nanti"
__ADS_1
***