
Aku melemparkan tas-ku dengan asal ke atas tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Memang Aku terpaksa pulang telat karena harus lembur mengerjakan laporan. Dan sialnya Aku belum makan malam sama sekali.
Aku berjalan ke arah dapur dan mengambil sebungkus mie instan untuk dimasak, namun tiba-tiba terdengar suara bel pintu apartemenku. Siapa yang berani-beraninya mengunjungiku jam segini?
Dengan malas Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya begitu saja. Seorang lelaki berperawakan tinggi menyapaku dengan sekantong makanan di tangannya.
"Apa yang Kau lakukan disini?" tanyaku padanya.
"Kau belum makan,kan? Ini Aku bawakan makanan." Lelaki itu menyerahkan kantong yang Ia pegang sebelumnya kepadaku, namun Aku hanya menatap kantong itu begitu saja.
"Ambilah!" serunya lagi.
"Bagaimana bisa Kau ada disini?" tanyaku kembali.
"Aku menunggumu dari jam 7 tadi, namun Kau kembali jam 11 dan Aku menyimpulkan bahwa Kau lembur dan belum makan sama sekali, jadi Aku membelikan ini untukmu." ucapnya jujur.
"Arga..." ujarku.
"Iya, Rache.l" jawabnya.
"Bukankah Aku sudah memintamu untuk tidak datang kesini?" tegasku padanya.
__ADS_1
"Rachel, Aku hanya ingin membicarakan sesuatu. Itu saja." balasnya.
"Lalu, Aku akan menerima makanan ini dan Kita lanjutkan saja pembicaraannya besok diluar." kataku.
Aku tau jelas apa yang ingin Ia bicarakan. Hari ini Aku sangat lelah dan Aku tidak ingin Kami membahas hal itu.
"Baiklah, makanlah dengan baik. Aku pergi dulu." sepertinya Ia berusaha untuk tidak menuntut, syukurlah kalau begitu.
*
Aku menatap dua lelaki di depanku. Ah, Aku seharusnya tidak setuju untuk membicarakan ini dengan Arga.
"Rachel...Ini..." Arga tampak ragu mengucapkannya.
"Baiklah." Arga meninggalkanku bersama seorang lelaki paruh baya, yang mungkin saja adalah Ayahku. Ah, dia memang Ayah biologisku.
"Nak, Aku..." setelah Arga pergi, lelaki itu langsung membuka suaranya.
"Apa Kau ingin minta maaf?" tanyaku dingin.
"Tidak, Aku hanya ingin menjelaskan semuanya." balasnya.
__ADS_1
"Lalu, Kau sama sekali tidak merasa bersalah?" tanyaku lagi, membuatnya sedikit canggung.
" Bukan begitu, Aku..." Hm, Apa yang lelaki tua ini inginkan.
" Aku tidak akan berbicara denganmu jika Kau tidak mau mengakui kesalahan yang Kau lakukan pada Ibu biologisku. " ujarku.
" Aku rasa Kau tak akan bilang begini jika tau apa yang ibumu lakukan. " ujarnya.
"Memang apa yang Ia lakukan?" tanyaku sedikit penasaran, Aku memang tidak pernah bertemu dengannya. Namun, apakah Ibu kandungku itu sama buruknya dengan pria ini.
" Ia berniat menggugurkanmu namun Aku memberikan uang agar Ia tidak melakukannya, dan pada akhirnya Ia menyembunyikanmu dengan memalsukan kematiannya." Aku sedikit terkejut dengan perkataan lelaki itu, Apa Aku bisa percaya kepadanya?
"Apa Kau bercanda?" tanyaku sarkastik.
" Tidak, Ibumu masih hidup. Wanita yang bersamamu selama ini adalah ibu kandungmu. Bibimu dan Ibumu saudara kembar, Aku jelas bisa membedakan mereka. Yang meninggal adalah Bibimu, bukan Ibumu." Aku memijit pelipisku dengan keras, ah apa yang pria tua ini bicarakan.
" Jadi, maksudmu..wanita ****** itu benar-benar ibuku?" tanyaku terus terang.
"Ia benar Ia ibumu." balasnya.
"Ah, sial. Pantas saja Kau tidak mau minta maaf. Kau telah membiayaiku melaluinya dan melepaskan masa lalu itu. Dan Kini Ia kembali mengungkitnya. Tentu saja itu salahnya." ujarku.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu ini berakhir disini. Aku pergi dulu." ujarku sembari meninggalkan restoran itu.
***