Husband Denial

Husband Denial
Masa Lalu Kita


__ADS_3



Kami menghentikan langkah Kami setelah pergi begitu jauh, setelah menormalkan deru nafas, kami saling menatap satu sama lain dan tertawa. Sungguh konyol. Namun, entah mengapa melakukan hal seperti ini bersama Rachel terasa begitu menyenangkan. Ketika masih muda Aku hamper menghabiskan masa remajaku dengan belajar, Aku bahkan tidak sempat untuk melakukan sesuatu yang seperti ini. Hidupku begitu lurus dan teratur, semua orang akan berikir bahwa itu begitu sempurna namun nyatanya Aku melakukan itu semua hanya untu membuat papa bangga kepadaku, meskipun terkadang Aku lelah untuk terus hidup seperti itu.


“Arga, apa Kau lelah?”


“Tidak, Seseorang sepertiku tidak akan lelah hanya karena lari seperti itu?”


“Hum.., jika begitu Ayo kita lari ke parkiran tempat mobilmu berada”


“Baik, tapi tidakkah Kau haus? Kita bisa membeli minuman terlebih dahulu disana” Aku menunjuk sebuah gerai yang menjual minuman dingin.


“Kau saja yang pergi beli, Aku akan menunggu disini” seru Rachel.


“Hei, Kau pikir Kau siapa? Beraninya menyuruhku?!”


“Cepatlah, Aku sudah lelah” Aku sedikit khawatir melihat wajahnya yang memang tampak kelelahan.


“Bukankah barusan Kau yang mengajakku berlari lagi?”


“Lupakanlah, tubuhku mendadak lemas”


“Baiklah, tunggu disini dan jangan kemana-mana ya”


Aku mengambil botol obat dari tasku, dan meneguk beberapa pil di dalamnya. Ah lega sekali rasanya, rasa lemasku mendadak menghilang dan tubuhku kembali membaik.


Aku akan memasukkan botol obat itu ke dalam tas ketika Arga tiba-tiba datang dan merebutnya. Wajahnya tampak khawatir, Aku tidak tau mengapa dan hanya menatapnya dengan marah karena telah merebut botol obatku.


“Ini apa,Hel? Kamu sakit,Hel?” tanyanya gusar.


“Ya botol obatlah, apalagi?”


“Iya obat apa, Kamu kalau sakit bilang ke Aku, jangan diem-diem aja. Kamu gapapakan?” ia berjongkok di depanku dan mendadak memegang kedua pipiku dengan lembut, sungguh sesuatu yang tak terduga dan begitu tiba-tiba.


“Sakit apaan? Orang itu cuma Feminac kok”


“Haa, Feminac? Kamu ‘itu’ Hel?” Apa yang anak ini pikirkan, Aku melepaskan tangannya dari wajahku dan menoyor keningnya dengan keras.


“Eh, ****. Ini obat datang bulan tau” Ia menggosok keningnya lalu mendumel padaku.


“Ya, bilang kali obat datang bulan jadi Aku kan ga mikir aneh-aneh, mana Aku tau kalau Feminac itu obat datang bulan Aku kira kan obat..”Aku menutup mulutnya dengan kedua tanganku, Aku benar-benar tidak yakin bahwa Ia adalah seorang dokter, bagaimana mungkin ia tidak bisa membedakan obat-obatan.


“Kamu tuh Dokter, seharusnya Kamu lebih tau dong”


“Ya karena Aku dokter juga makanya Aku panik pas Kamu minum obat kaya gitu”


“Kamu panik?”


“Iya , Aku panik banget. Biasanya pasienku yang bawa botol gituan sakitnya pasti udah parah banget tau”


“Jadi Kamu khawatir sama Aku?”


“Ya iyalah”

__ADS_1


“Kenapa Khawati?r”


“Ya, karena Aku takut kehilangan Kamu”


Satu detik, Dua detik.


Suasana mendadak akward antara Kami, meskipun tidak ada yang menjelaskan Kami berdua tau seberapa dalam kata ‘takut kehilangan’. Sesuatu yang tak dapat kumiliki dari Arga dan sesuatu yang tak pernah Arga berikan pada siapapun selama ini.


*


Kini Aku tengah jogging bersama Arga di taman komplek rumah Kami, kebetulan sekali hari ini dia libur begitupun Aku. Awalnya Aku tidak ada rencana untuk jogging, Aku akan memilih untuk bermalas-malasan di hari liburku dibandingkan harus lari-lari pagi. Terlebih akhir-akhir ini jadwalku cukup padat karena mendekati ujian akhir, membuatku tidak bisa bertemu dengan Arga sesering dulu.


Namun, tadi pagi-pagi sekali. Kak Samuel bilang padaku bahwa ia akan jogging dengan Arga. Aku yang saat itu masih setengah sadar bersiap-siap dan memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Dan, akhirnya Kami berakhir disini. Aku berusaha menyeimbangkan langkahku dengan mereka berdua, namun kaki mereka yang panjang membuat mereka lari dengan begitu cepat dan Aku tak bisa mengejarnya. Kak Samuel bisa saja memelankan langkahnya dan berjalan bersama adiknya ini, namun dia seperti sengaja ingin membuatku ngos-ngos an di depan Arga.


Setelah hampir 15 menit Kami memutari taman ini, Arga yang masih berlari tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menatap padaku. Membuat jantungku berdegup tak karuan melihat wajah tampannya yang berkeringat itu.


“Kenapa berhenti?” tanyaku yang kini berada tepat di depannya.


“Capek, beli minum dulu yuk” Ia memutar tubuhku ke arah lain, membuat tangannya menyentuh bahuku begitu saja. Ya tuhan, Aku tidak  bisa bernafas sekarang.


“Tapi, Kak Samuel gimana?” tanyaku.


“Gapapa, nanti juga bakal nyusul tuh anak kalau udah haus” Ia membawa diriku dengan tangannya yang masih di bahuku, seolah sepasang kekasih yang tengah berjalan bersama.


“Oh,iya. Kakak mau minum apa? Biar Aku aja yang beliin” Aku menyingkirkan tangannya dari bahuku, takut membuatnya tidak nyaman karena kontak fisik denganku, Aku tau dia benci perempuan.


“Gausah, Kita bareng aja kesananya” ia menunjuk sebuah cafe yang tak jauh dari tempat kami sekarang.


“Ice Vanilla Latte sama Lime Mojito-nya satu ya” seru Arga kepada barista ketika Kami sampai di Cafe itu.


“Lah, siapa yang suka minuman pahit seperti itu?”


“Terus punya Kakak yang mana juga? Ice Vanilla Latte gitu?”


“Ga juga, bukannya itu minuman kesukaan Kamu. Aku jauh lebih suka minuman segar seperti mojito dibanding kopi” Wah, bagaimana Dia tau.


“Kok Kakak bisa tau, jangan-jangan Kakak..” Aku menatapnya dengan pandangan menuduh namun dia tidak salah tingkah sama sekali.


“Siapa lagi yang suka nitip Ice Vanilla Latte setiap Aku main sama Samuel” ujarnya sambil mengacak-ngacak puncak kepalaku lembut.


“Kak?”


“Hm”


“Demam ya?” Aku meletakkan tanganku di keningnya yang tak panas, tubuhnya yang lebih tinggi dariku membuatku harus berjinjit ketika melakukannya.


“Engga Kok, ih Kamu main pegang aja. Liat tuh keringetnya nempel ke tangan Kamu, nih lap” ia mengambil beberapa lembar tisu yang ada di hadapan Kami dan memberikannya padaku.


“Ga demam, tapi Kok baik banget sih hari ini” gumamku.


“Apa Kamu bilang?”


“Ga ada Kok,hehe”


“Oh,Iya Hel. Kata temenku Kamu ngaku-ngaku jadi pacar Aku ya di sekolah” Aku yang tengah menenguk minumanku yang baru saja datang, mendadak terbatuk. Bagaimana ia bisa tau?

__ADS_1


“Uhuk, bohong itu mah. Ga mungkinlah Aku gitu” protesku.


“Kalau bohong, kenapa harus batuk segala”


“Ya, karena Aku minumnya terburu-buru lah”


“Kamu kira Aku gatau kebiasaan Kamu kalau lagi bohong”


“Hm, iya deh. Tapi Aku kan ga sengaja lakuin itu. Kak Arga pasti tau kalau Aku ini populer kan. Jadi, biar ga digangguin sama cowo-cowo sekolahku ya terpaksa Aku ngaku-ngaku gitu”


“Pede banget sih jadi orang, emang Kamu secantik itu apa?” Ia menoyor keningku dengan keras.


“Ya jelas Aku cantik, coba deh Kak Arga liat. Nih, cantik banget kan” Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya.


“Hei bocah, dibandingin sama mbak Ati, pembantuku juga masih cantikan dia dibanding kamu” Ia mendorong wajahku agar menjauh dari wajahnya.


“Ih, enak aja. Aku gini-gini banyak bikin lelaki jatuh cinta tau”


“Jatuh cinta? Haha, mereka cuma tertarik sama Kamu aja kali”


“Ya kan sama aja”


“Beda, Cinta itu sesuatu yang gabisa diukur cuma dari fisik”


“Terus cinta itu apa?”


“Ya waktu kamu sayang ke orang, sampe gamau kehilangan orang itu”


“Kaya Aku ke Kak  Arga  dong”


“Dih, bocah kaya Kamu tuh mana ngerti soal cinta”


“Aku udah 17 tahun loh kak, udah legal. Kata mama juga pas segede Aku dulu, Mama malah udah nikah”


“Beda zaman,bodoh. Emang Kamu mau nikah dengan usia Kamu sekarang?”


“Ya maulah, apalagi sama Ka Arga. Ke KUA sekarang juga, rela Aku tuh”


“Aduh, halu nih ya bocah”


“Gapapa sekarang halu dulu, siapa tau kesampaian”


“Serah deh, tapi beneran Kamu takut kehilangan Aku”


“Iya dong, kalau Kak Arga hilang dari pandangan Aku,mungkin Aku Akan nangis 7 hari 7 malam”


“Yaudah Aku ngilang dulu ya, selamat nangis 7 hari 7 malamnya Rachel” tiba-tiba ia pergi secepat kilat dengan membawa minumannya membuatku kaget.


“Kak Arga jangan pergi, tunggu Aku” Aku akan mengejar Kak Arga Ketika..


“Mbak, ini minumannya bayar dulu” ujar mbak-mbak kasir yang berada tidak jauh dari Kami.


“Kak Arga, Jahaaaaaat” teriakku frustasi.


***

__ADS_1


__ADS_2