Husband Denial

Husband Denial
Karena Dia Putriku


__ADS_3

Rachel baru saja akan kembali ke Apartemennya ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nomor yang tidak dikenal  itu mengatakan bahwa ia harus menemuinya. Awalnya Rachel ingin mengabaikannya, namun ketika si pengirim mengatakan bahwa itu berhubungan dengan keluarganya. Ia segera menuju tempat yang tertera di pesan tersebut.


Ketika Rachel memasuki restoran itu, tidak ada tanda-tanda bahwa orang yang mengirim pesan itu disana. Ia bahkan tidak tau apakah orang itu laki-laki atau perempuan. Ia mencoba menghubungi pemilik nomor itu, namun tak kunjung ada jawaban. Setelah hampir 3 menit hanya menatap sekelililing restoran, tiba-tiba sebuah tangan menariknya.


Kini, Rachel tengah duduk di depan seorang wanita berseragam dokter. Wajahnya cukup cantik, dengan rambut yang diikat ekor kuda sert lipstik yang berwarna pucat.


“Maaf, anda siapa?” tanya Rachel tanpa basa-basi, sebenarnya ia sedikit shock ketika tangan wanita itu menariknya tadi.


“Kenalkan saya Angeline, dokter Ayah anda” Dokter Ayahnya? Rachel kini bertanya-tanya di dalam hatinya.


“Ayah saya?” tanya Rachel kembali memastikn perkataan wanita tersebut.


“Iya, Ayah anda. Anda pasti kesulitan mengabari Ayah anda beberapa tahun inikan. Sebenarnya setelah bercerai dengan ibu anda, Ayah anda dirawat oleh kami” Rachel tidak tau harus bereaksi seperti apa, ia senang karena telah menemukan keberadaan Ayahnya. Hanya saja, apakah Ayahnya sakit?


“Benarkah? Saya sangat senang, bisakah anda membawa saya bertemu dengannya sekarang?” seru Rachel antusias”


“Itu..Begini..” Dokter itu tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


“Kau mungkin akan mengerti setelah melihat ini” Dokter itu menyerahkan kartu namanya pada Rachel.


“Rumah sakit jiwa Permata? Maksud anda Ayah saya…” Rachel tampak shock dengan apa yang dilihatnya sekarang apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah saja.


“Benar, Ayah anda mengalami gangguan kejiwaan. Bebrapa tahun lalu ia hampir bunuh diri,itulah bagaimana akhirnya kami merawatnya hingga sekarang” Rachrl tak mampu berkata apapun, air matanya mengalir begitu saja. Mengapa Ayahnya sampai seperti itu? Apakah itu karenanya?


Ia tidak lupa bahwa ibunya selalu menyalahkannya sebagai alasan perceraian kedua orang tuanya itu. Meskipun tidak menjelaskannya secara mendetail pada Rachel, ibunya akan selalu berteriak pada Rachel setiap membahas hubungan dengan mantan suami yang juga Ayah Rachel itu.

__ADS_1


“Nona Rachel?” Dokter itu menyadarkan Rachel yang sejak tadi larut dalam lamunannya.


“Iya,Dok. Lalu, bagaimana akhirnya anda menemukan saya?” Benar, tentu ada alasan mengapa setelah sekian lama mereka baru menemukannya hari ini.


“Kami awalnya tidak memiliki data apapun mengenai keluarga Ayah anda, namun seseorang memberitahu Kami bahwa anda adalah putrinya. Dan itulah, yang pada akhirnya membawa saya menemui anda hari ini” Seseorang? Rachel tidak dapat menebak siapa orang itu, namun ia sangat berterima-kasih padanya.


“Lalu, Kapan saya bisa menemui Ayah saya?” tanya Rachel, ia benar-benar ingin menemui Ayahnya.


“Anda dapat menemuinya dalam waktu dekat ini, hanya saja kondisinya tidak begitu stabil jadi Kami akan mengatur waktu yang tepat untuk kalian bertemu” jelas dokter itu.


“Baiklah,Dok. Jika sudah waktunya tolong hubungi saya” ujar Rachel.


*


Hari ini adalah untuk pertama kalinya Rachel akan bertemu dengan Ayahnya, karena ini hari Jum’at ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Dengan semangat ia mengambil kunci mobil dan menuju rumah sakit jiwa tempat Ayahnya berada.


Di dekat sebuah danau, seorang lelaki paruh baya tengah duduk sambil memegang sebuah buku di tangannya. Dengan pelan Rachel berjalan ke arah lelaki itu. Matanya tampak berkaca-kaca, orang yang sudah begitu lama tidak ia temui kini berada di depannya.


“Ayah…” lirihnya. Lelaki tua itu menatap wajah putrinya dengan sedih, meskipun ia memiliki gangguan kejiwaan namun sepertnya ia masih dapat mengenali putrinya.


“Rachel, mengapa Kamu sudah sebesar ini?” perawat yang juga berada disana pada saat itu ikut meneteskan air matanya melihat pertemuan Ayah dan anak itu.


“Ayah, apakah Kau baik-baik saja?” Rachel memeluk erat Ayahnya, sembari menangis penuh sesak.


“Ayah, baik-baik saja,Nak. Lihatlah putri Ayah sudah besar dan cantik sekali, Ayah selalu melihatmu dari sini namun sekarang Kau berada tepat didepan Ayah” lelaki tua itu menunjukkan sebuah buku, tidak. Itu adalah majalah dengan wajah Rachel di sampul depannya yang ia pegang sejak tadi.

__ADS_1


“Apakah Ayah selalu melihatku disini, bukankah putri Ayah jauh lebih cantik jika dilihat secara nyata?” Rachel tersenyum dan menghapus air matanya, membuat Ayahnya ikut tersenyum.


“Benar, putri kecil Ayah memang cantik sekali” Tangan lelaki tua itu menyentuh puncak kepala Rachel, mengelus helaian rambut gadis itu dengan lembut seolah ia begitu kecil dan rapuh.


‘Benar, Aku tetaplah putri kecil Ayah sampai kapanpun itu’ batin Rachel.


*


Hendrawan, Ayah Rachel merasa bersalah setelah pertemuannya dengan Rachel hari ini. Seharusnya, mereka tidak usah bertemu selamanya. Akan sulit baginya untuk menceritakan yang sebenarnya pada Rachel. Beberapa tahun lalu ia bahkan hampir bunuh diri karena tidak mampu untuk menghadapi Rachel, siapa sangka bahwa justru Rachel lah yang datang padanya hari ini.


Sebenarnya, ia menyadari bahwa kondisi kejiwaannya sudah memburuk sejak lama. Ia bisa saja kehilangan ingatan dan akal pikirannya, namun Tuhan begitu kejam karena tidak menghilangkan sebuah rahasia kejam itu dari ingatannya. Ia ingat setiap detail malam pertengkaran antara ia dan mantan istrinya, Ibu Kandung Rachel. Ia rasanya ingin membenci wanita itu, rasanya tidak cukup pengkhianatan yang ia rasakan lihatlah bagaimana mantan istrinya itu kini hidup bahagia dengan lelaki lain. Hanya ia lah yang masih begitu mencintai wanita itu, mencintai darah daging wanita itu dengan lelaki lain juga ia lakukan. Namun, apakah wanita itu pernah memikirkan dirinya sekali saja sejak malam itu? Sepertinya tidak, ia hanyalah seseorang yang harus selalu bertanggung-jawab atas semua kesalahan yang wanita itu lakukan.


“Pak Hendrawan, melihat interaksi anda dengan putri anda hari ini, sepertinya kondisi anda sudah mulai pulih” Angel yang merupakan Dokter Hendrawan tampak bahagia karna pasiennya perlahan membaik.


“Benarkah begitu? Aku rasa itu hanya karena dia putriku...” balas Hendrawan pelan.


“Benar, putri bapak sangat luar biasa. Ia membawa pengaruh yang positif bagi kesembuhan bapak” Angel tak berhenti tersenyum mengingat bahwa ini adalah perkembangan terpesat yang pernah dialami Hendrawan sejak ia dirawat disini.


“Hm, andai saja dia benar-benar putriku” gumam Hendrawan pelan.


“Maksud bapak?” Angel dapat mendengar apa yang diucapkan Hendrawan, dan berpikir dengan keras apa maksud lelaki paruh baya itu.


“Tidak ada” jawaban singkat Hendrawan membuat Angel semakin penasaran, apa yang sebenarnya terjadi.


Bersambung..

__ADS_1


 


 


__ADS_2